Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Berhasil


Green dan Nathan baru saja sampai di ruang tidur Daniel. Semua nampak kacau disana. Viona dan Meili yang sudah menangis dan semua orang yang nampak kebingungan. Begitu pun Amel yang kini berdiri di sisi ruangan dengan menatap tak mengerti pada keadaan di hadapannya, "Green ada apa ini ? " tanyanya kebingungan.


" Semua sedang kacau. Nanti akan aku jelaskan padamu dan sebentar lagi kita harus kerumah Elin " jelas Green singkat. Sambil berlalu ke arah Wilna, meninggalkan Amel yang kini terdiam dengan dahi yang sedikit berkerut. Namun, ia tak tinggal diam dengan cepat ia menyusul langkah Green.


" Bunda ada apa ini ? " tanya Green pada Wilna yang kini sedang mencoba menenangkan Viona yang tengah menangis tersedu-sedu.


" Daniel pergi nak. Tidak ada yang tahu dia kemana. Dia tidak membawa mobil dan handphonenya tidak bisa di hubungi " jelas Wilna.


Green menarik nafas, " kenapa semuanya semakin kacau " erangnya tertahan.


" Bunda.., aku dan Amel juga harus pergi kerumah Elin. Adiknya baru saja menelpon kalau dia belum keluar kamar dari tadi malam dan belum makan apapun "


Mendengar itu, Viona yang sedang menangis mengangkat kepalanya, " pergilah kesana nak. Tolong bantu Elin. Disini biar jadi urusan kami " pintanya pada Green dan wanita itu mengangguk.


" Kabari kami jika sudah mendapat kabar tentang kak Daniel " pintanya pada Wilna. Namun, sebelum pergi. Ia masih sempat mendekat pada Meili yang masih terisak, " Meil.. " panggilnya pelan, lalu memegang tangan gadis itu dengan lembut.


" Semua akan baik baik saja. Percayalah " ucapnya begitu yakin, sementara Meili hanya mengangguk kecil dengan air mata yang terus mengalir.


" Aku dan Amel harus pergi kerumah Elin " pamitnya lagi pada perempuan itu dan Meili kembali mengangguk, " tenangkan dia Green " pintanya lemah.


Green mengangguk, lalu mulai bergerak untuk beranjak dari semua orang, " ayo Mel " ajaknya pada Amel yang nampak masih linglung dengan keadaan di hadapannya.


" Sayang sepertinya hari ini aku tidak akan bekerja. Aku dan Alfin harus mencari Daniel " ucap Nathan panik, ketika Green menghampirinya untuk berpamitan, " ya sayang. Begitu pun aku dan Amel. Kami harus kerumah Elin untuk melihat keadaan disana " jelasnya.


Nathan mengangguk, lalu memeluk tubuh istrinya, " peran kita sebagai sahabat sangat di butuhkan dalam keadaan ini. Berhati-hatilah dan kabari suamimu segera jika terjadi sesuatu disana " ucapnya pada Green.


" Ya kau juga " balas Green seraya menarik nafas.


Sementara Alfin dan Amel yang belum paham dengan keadaan, hanya saling menatap kebingungan, " aku pergi dulu " pamit Amel pada Alfin. Setelah suaminya mengangguk dengan cepat ia menyusul langkah Green yang sudah lebih dulu keluar dari dalam ruangan.


" Jangan lupa beri kabar padaku " seru Alfin dan Amel mengangguk, sambil terus berlalu.


" Mel kita bertemu di garasi mobil sepuluh menit lagi " teriak Green dan Amel mengangguk setuju.


Sebelum kembali ke kamar tidurnya untuk bersiap. Green masih sempat untuk mencari keberadaan putrinya dan menemukan gadis kecil itu di ruang bermainnya.


" Mommy " teriak Naina begitu girang, saat melihat Green datang menghampirinya.


" Naina sudah sarapan ? "


" Sudah Mommy " sahutnya dengan memperlihatkan sederet gigi susu miliknya. Melihat itu Green menarik nafas lalu tersenyum, setidaknya menemui putrinya sebelum pergi adalah pilihan yang tepat.


Perasaannya yang kacau menjadi menghangat saat melihat senyum ceria putrinya. Tanpa gadis kecil itu mengerti jika kondisi di sekelilingnya kini tengah begitu kacau.


" Naina hari ini harus menjadi anak yang baik di rumah " pinta Green, membuat sepasang mata coklat putrinya kini menyorot lebih dalam padanya, " Naina terus jadi anak baik Mommy " balasnya.


" Hemm.., tapi hari ini harus lebih baik lagi. Oke " seru Green tersenyum dan gadis kecil itu mengangguk.


" Semua orang sedang sibuk. Jadi Naina tidak boleh rewel pada Oma atau pun Oma Viona. Daddy dan Ayah juga harus pergi, begitu pun Mommy dan Bunda " jelasnya. Dahi di wajah kecil itu berkerut karena bingung.


" Semua orang kenapa Mommy ? " tanyanya begitu heran.


Green mengangkat tubuh putrinya ke atas pangkuannya, " Seperti yang Mommy bilang, hari ini semua orang sedang sibuk jadi anak Mommy harus jadi anak yang baik dan tidak boleh.. ? "


" Rewel Mommy "


" Pinter " ucap Green seraya mencium pipi putri kecilnya.


" Kalau begitu Mommy pergi dulu ".


" Mommy mau pergi kemana ? " tanya gadis kecil itu, mimik wajah cerianya kini menatap sendu pada ibunya, " Mommy mau pergi ke rumah mama yin ".


" Memangnya mama yin kenapa Mommy ?, apa mama yin sakit ? "


Green mencium lebih lama pada pipi putrinya, " Mommy pergi ya. Ingat Naina harus jadi anak yang baik " ucapnya lagi, sambil mengangkat kembali putri kecilnya dari pangkuannya.


" Iya Mommy "


" Dada nak "


" Daa Mommy "


****


Amel tidak berhenti menghela nafas. Setelah mengetahui apa yang sudah terjadi pada Elin oleh cerita Green.


Duduknya semakin gusar karena tidak sabar untuk cepat sampai di rumah sahabatnya itu. Dengan suasana di dalam mobil yang memang menghening.


" Aku jadi sangat takut dengan kondisi Elin Green. Dia pasti sangat hancur " ucapnya cemas.


" Itu pasti, tapi aku yakin dia gadis yang kuat " balas Green.


Mobil yang di lajukan oleh Green akhirnya tiba di halam rumah Elin. Tanpa menunggu Amel segera keluar dari dalam mobil dan berjalan lebih dulu menuju rumahnya sahabatnya, begitu pun Green yang langsung menyusul.


Dan beruntung pintu rumah itu cepat terbuka oleh wanita paruh baya yang bekerja di sana, " ibu dimana bi ? " tanya Green pada wanita itu.


" Ibu masih di atas non. Dari tadi belum turun karena Non Elin belum mau keluar dari kamarnya " jelasnya pada Green dan Amel.


Dengan cepat Green dan Amel berlari menuju lantai dua rumah Elin. Dan langsung menuju letak kamar perempuan itu.


" Ibu " panggil Green dan Amel bersamaan. Saat melihat Mala berdiri disisi pintu kamar putri sulungnya, " Green , Mel " balasnya lemah.


" Tolong panggil Elin keluar nak. Dia belum makan apapun " sambungnya.


Green dengan cepat mendekat ke sisi pintu, " Lin ini aku Green dan Amel. Tolong buka pintunya " pintanya sambil mengetuk pintu kamar perempuan itu.


" Kami ingin melihatmu, jadi tolong bukakan pintunya ".


" Green aku ingin sendiri " sahut lemah dari dalam.


" Mau sampai kapan Lin. sudah seharian kau sendiri di dalam. dan kau belum makan apapun "


" Aku tidak lapar "


" Lin please. Semua orang sedang mengkhawatirkanmu. Tolong jangan seperti ini " sambung Amel. Namun, tidak ada jawaban lagi dari dalam.


" Liiin " panggil Green dan Amel semakin panik.


" Jangan membuat kita tak berguna sebagai sahabatmu Lin. tolong bukakan pintunya, kami memang tidak bisa mengubah apapun tapi kau bisa meluapkan perasaanmu pada kami " seru Green penuh emosi, " jangan menghukum dirimu sendiri.." lanjutnya begitu lemah.


Namun semua ucapan mereka seperti percuma, karena pintu di hadapan mereka saat ini belum juga terbuka. Bahkan kini tak ada lagi terdengar suara dari dalam.


" Tidak ada cara lain " ucap Green yang kembali menghimpitkan tubuhnya di sisi pintu.


" Liiinn.. " serunya kembali memanggil perempuan itu.


" Tolong jangan seperti ini. Kami semua sungguh kebingungan. Kau seperti ini, sementara kak Daniel telah menghilang dari tadi malam " ucapnya penuh penekanan.


Mala yang masih berdiri disana menjadi terkejut oleh ucapan Green, " nak apa itu sungguh ? " tanyanya.


" Ya ibu. Semua penghuni rumah tengah sibuk mencarinya. Nomornya tidak bisa di hubungi dan dia juga tidak membawa mobil " jelas Amel lantang. Ia sengaja melakukan itu supaya Elin yang berada di dalam kamar tidurnya mendengar.


Klek " pintu kamar tiba tiba berbunyi dan iitu membuat bibir Green dan Amel sedikit melengkung, " berhasil " gumamnya pelan.