
Elin menghela nafas sebelum memutar tubuhnya untuk melihat ke arah orang yang sedang menyapanya di waktu yang tidak tepat seperti sekarang ini , " sedang apa kau disini ? " tanya orang itu menghampiri.
" Oh hai Bim " sahutnya dengan senyum yang begitu canggung dan jantung yang berdegub begitu cepat.
" Ayo masuk " ajak laki-laki itu yang memang sedang berada di dalam mobilnya dan menghampiri Elin karena melihat perempuan itu berdiri disisi jalan , " terimakasih Bim , tapi aku sedang ingin berjalan kaki pagi ini " sahut Perempuan itu dengan cemas.
" Apa itu sebabnya kau minta di turunkan disini ? "
" Emmm...ya , aku sedang ingin menggerakkan kakiku " katanya berkilah.
" Kau sungguh tidak ingin naik ke mobilku ? " tanya Bimo memastikan dan perempuan itu lagi-lagi menggelengkan kepalanya.
" Terimakasih Bim dan sampai bertemu di ruangan kita" ucapnya ,
" baiklah, bye " sahut Bimo lalu kembali melanjukan mobilnya.
Elin menarik nafasnya karena sedikit merasa legah , " aku harap Bimo tidak curiga " gumamnya , lalu dengan setengah berlari ia melanjutkan langkahnya menuju gedung tempatnya bekerja ,karena sedikit lagi ia akan terlambat.
~
Bimo baru saja memarkirkan mobilnya dan segera beranjak karena waktu yang begitu sempit menuju jam masuk kerja , dengan langkah cepat ia beranjak menuju pintu lift yang berada di basement.
Namun ia harus memperlambat sedikit langkahnya saat melewati mobil sport berwarna merah muda, karena laki-laki bertubuh tegap baru saja keluar dari dalamnya , " selamat pagi tuan " ucapnya dengan kepala yang menunduk dan ia sedikit terkejut karena laki-laki itu membalas sapaannya , dan ini untuk pertama kalinya melihat lelaki dingin itu begitu ramah.
" Kenapa dia begitu ramah ? " gumamnya dengan begitu bingung lalu kembali melanjutkan langkahnya , namun tiba-tiba langkahnya kembali terhenti bahkan ia memutar cepat tubuhnya untuk kembali melihat kearah mobil sport yang baru ia lewati , " bukannya ini mobil ? " katanya sambil mengingat.
" Apa mungkin ??? " sambungnya dengan terus menerka-nerka di dalam pikirannya , namun setelah menyadari waktunya semakin sempit , ia kembali melanjutkan langkahnya dan berlari begitu cepat menuju pintu lift.
~
" Ada apa Bim ? " tanya Elin , karena menyadari jika laki-laki itu terus melihat kearahnya , " tidak " sahutnya dengan tersenyum begitu canggung.
" Apa ? katakan saja " sambung Elin yang langsung mengerti kalau ada yang ingin di tanyakan oleh laki-laki itu , " tidak Elin , kau hanya terlihat begitu cantik dengan warna tosca " kilahnya.
" Benarkah ? , sebagai ucapan terimakasihku , makan siangmu nanti akan aku traktir " ucap Elin tertawa.
" Sungguh ? "
" Tentu , bahkan kau bisa memilih apa saja "
" Kalau begitu aku akan lebih sering memujimu "
" Tidak , itu hanya berlaku untuk hari ini " sahut Elin sambil terus tertawa dan laki-laki itu hanya berdelik kesal lalu kemudian ikut tertawa ,sambil terus menatap begitu dalam dan penuh pertanyaan pada Elin.
" Kasih " panggil Elin ,karena sepanjang hari ini perempuan itu terus diam dan begitu fokus pada pekerjaannya , " Kas " ulangnya.
" oh hai " sahut perempuan itu.
" Ada apa ? " tanya Elin dan dia menggelengkan kepalannya.
" Aku hanya sedang menyelesaikan pekerjaanku yang tertunda kemarin ,ada apa ? "
" Tidak , aku hanya bingung kenapa kau terus diam "
" Ceh " desis Kasih lalu melihat ke alroji di tangannya , " apa kau lapar ? " tanyanya dan Elin langsung menganggukkan kepalanya , " ayo " ajak Kasih dengan langsung beranjak dari duduknya , " apa kalian tidak ingin makan siang ? " tanyanya saat melihat tidak ada yang beranjak dari meja kerja selain Elin.
" Aku akan menyusul " sahut David yang terlihat begitu sibuk , " kalian pergi dulu , aku ingin hanya menyelesaikan ini sebentar " tambah Bimo ,sedangkan Frans sudah beranjak dari duduknya.
" Baiklah , ayo Elin , Frans " ajaknya kembali.
~
Elin baru saja meletakan piring makanannya di meja , namun gerakannya tersentak oleh suara dering telepon yang tiba-tiba berbunyi dari saku blazer yang ia gunakan.
" Aku sangat yakin itu dari CE..." ucap Kasih yang terhenti oleh tatapan mata Elin yang langsung membesar ke arahnya , " maksudku Cendy " lanjutnya dengan asal , membuat Elin harus melipat sempurna bibirnya menahan untuk tidak tertawa , " tunggu sebentar , aku menerima teleponku dulu " pamit Elin dan langsung beranjak dari hadapan ke dua temannya.
" Hallo , ada apa ? " tanya Elin langsung , setelah menerima telepon dari kekasihnya , " apa harus ada alasan untuk aku meneleponmu " jawab di seberang , dengan nada yang terdengar sedikit kesal.
" Bukan seperti itu , hanya saja aku khawatir " jelasnya.
" Dimana ? " tanya Daniel.
" Siapa , aku ? "
" hemmm.. memang dengan siapa lagi aku berbicara "
" Kau seperti perempuan yang sedang datang bulan " ujar Elin tertawa , karena laki-laki itu terdengar terus emosi dalam bicaranya , " sayang aku tidak sedang bercanda " ucap Daniel serius.
" Baiklah-baiklah " sahutnya dengan berusaha menghentikan tawanya.
" Dengan siapa dan dimana ? " tanya Daniel dengan begitu posesif.
" Di kafeteria sayang , dimana lagi ! "
" Oke , baiklah " sahut Daniel yang terdengar puas menerima jawaban kekasihnya ,
" ada apa ? " tanya Elin menjadi bingung.
" Tidak lanjutkan saja makanmu , aku hanya ingin tahu apa yang sekarang sedang di lakukan oleh kekasihku "
" Ceh , itu terdengar sangat menggelikan Daniel "
" Baiklah , sampai bertemu nanti "
" Apa kau sudah makan ? " tanya Elin cepat sebelum lelaki itu menutup telepon mereka , " belum , tapi aku baru saja ingin makan siang bersama asistenku "
" Reza ? "
" Ya sayang ,memang dengan siapa lagi ? "
" Emm .. ya baiklah , selamat makan siang "
" Selamat makan siang juga sayangku " sahut Daniel dengan begitu lembut ,lalu segera mengakhiri sambungan telepon.
~
" Sudah selesai ? " tanya Kasih saat Elin sudah kembali bergabung di meja mereka , " emm " sahut perempuan itu dan langsung menyantap makanan yang sudah mulai sedikit dingin karena telah di biarkan.
" Hai " sapa Bimo yang tiba-tiba ikut bergabung dan mengambil tempat di sebelah Frans.
" sudah selesai ? " tanya Kasih dan laki-laki itu menganggukkan kepalanya.
" Dimana David ? " sambung Elin dan belum sempat Bimo menjawab laki-laki itu sudah muncul sambil membawa makanannya dan mengambil tempat duduk tepat di sebelah Elin , dan perempuan itu tidak ada alasan untuk menghindarinya , " apa bajumu baru Elin ? " tanya bimo tiba-tiba.
" Kenapa ? " tanya Elin cepat dengan wajah yang sudah memerah ," tidak , hanya saja aku sangat hafal dengan wangi pakaian baru " jelasnya.
" Dan aku tahu pakaian yang kau gunakan sangat mahal " tambahnya.
" Tentu , tidak mungkin kekasih Dan..."
" Awwwww .. " ujar Kasih yang tiba-tiba meringis karena kaki yang di injak oleh Elin.
" Maaf tadi aku melihat nyamuk di kakimu " ucap Elin tanpa rasa bersalah pada Kasih yang masih meringis sambil menyentuh bagian kakinya.
Dan tiba-tiba saja semua orang yang berada di kantin terlihat terganggu dalam menikmati makanan mereka dan itu membuat bingung orang-orang yang berada di meja Elin , namun Kasih yang duduknya menghadap ke arah pintu masuk langsung membesarkan matanya saat pria gagah dengan jas berwarna biru tua itu masuk ke dalam kantin bersama asisten dan beberapa petinggi perusahaan," lin " panggil pelan Kasih , namun perempuan itu terlihat tidak menggubris dengan terus menikmati makanannya ," lin " ulangnya dengan mata yang terus menatap kearah pintu masuk.
" Apa CEO kita kembali ingin makan siang di kantin ? " ucap Frans tiba-tiba , membuat Elin tersentak dan hampir saja tersedak , " Daniel ?" ucapnya tanpa sadar dan itu benar-benar terlihat lucu dari mata Kasih, berbeda dengan Bimo yang terus mengamati lebih dalam pada ekspresi wajah Elin.
" Kau terdengar sangat tidak sopan Elin " goda Kasih.
" Sepertinya dia sedang mencari seseorang " tambahnya dengan tersenyum dan membuat Elin semakin panik.
Kasih tiba-tiba saja beranjak dari duduknya , lalu berjalan menuju beberapa orang yang sedang berdiri di ujung deretan meja di kantin ," selamat siang tuan ,selamat siang pak Reza" sapanya dengan begitu sopan.
" Apa yang ingin dia lakukan " gumam Elin dari tempatnya dan terus melihat pada Kasih yang terlihat sedang berbincang bersama Reza
" Apa anda ingin makan siang ? " tanya Kasih lagi.
" Ya , apa ada meja yang kosong ? " tanya balik Reza dengan begitu cepat karena tidak mungkin membiarkan seorang Daniel Remkez untuk terus menunggu , walau beberapa orang terlihat bersedia mempersilahkan laki-laki itu menggantikan tempatnya.
" Tentu , di sana " tunjuk kasih pada meja yang berada disebelah mejanya.
" Baik , kita makan disana " sahut Daniel setuju dan langsung berjalan tidak sabar menuju tempatnya.
" Kasih kau benar-benar ingin mati " gumam Elin sambil menarik nafasnya.
" Ada apa ? " tanya David yang melihat perempuan itu begitu panik.
" Tidak ,lanjutkan saja makanmu " sahutnya , dan setelah itu matanya langsung membesar menyadari duduk laki-laki itu begitu dekat dengannya.
" Kali ini aku yang benar-benar akan mati " gumamnya begitu pasrah dengan perasaan yang semakin cemas.
jangan lupa vote , like dan coment🤗
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚