
Sebuah meja bundar menjadi pilihan sekelompok orang untuk duduk dan merayakan hari yang melegahkan untuk pemilik perayaan , " sayang ini masih siang " ucap Daniel saat melihat kekasihnya kembali ingin meneguk minuman anggur di atas meja.
" Hanya beberapa gelas eemmm.. " mohon Elin dengan memberikan wajah memelas , dan ia tahu itu adalah kelemahan dari kekasihnya.
" Hanya beberapa gelas " peringat Daniel dan ia mengangguk setuju.
" Kenapa kau begitu posesif Daniel , biarkan saja kakak ipar menikmati perayaan ini , lagi pula cuaca sedang dingin " ujar Meili dan Hannah ikut mengacungkan tangannya setuju , " Daniel benar Meili , aku tidak boleh mabuk , ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan " keluh Elin begitu lemah.
" Apa kau begitu terbeban " sambung Daniel cepat dan ia segera menggelengkan kepalanya , " tidak , hanya saja aku terus kepikiran dan aku takut ini akan mengecawakan "
" Sayang kau yang bilang kalau yang terpenting adalah kita sudah mencobanya dan ini semua rencanamu "
" ya, tapi semakin kesini aku semakin tidak percaya diri "
" Ini sebenarnya ada apa ? " sambung Meili yang tidak mengerti , di ikuti tatapan semua orang yang juga ikut penasaran ," kalian pasti tahu , kalau salah satu perusahaanku sedang dalam masalah ! ".
" Ya , aku baru saja ingin menanyakan tentang itu padamu " sambung Mike.
" dan hampir saja aku tidak bisa menyelamatkannya " sambung Daniel , dengan nada yang begitu lemah dan tatapan yang penuh penyesalan , " aku yakin kau sudah memberikan yang terbaik " ucap Meili dengan memegang lembut tangan laki-laki itu.
" Tidak tunggu dulu , aku belum selesai bicara Meili " ucap Daniel , membuat semua orang tertawa , termasuk Elin.
" Kau harus berterimakasih pada calon kakak iparmu ini " tambahnya dengan menatap begitu bangga pada perempuan yang duduk di sisinya , " kau berlebihan sayang " ujar Elin malu.
" Tunggu dulu , sebelum kau melanjutkan bicaramu , tolong jelaskan berita apa yang sudah aku tinggalkan " ucap Hannah menatap curiga pada sepasang manusia di hadapannya , " kakak ipar ? " tambahnya , dan akhirnya semua orang mengerti apa yang sedang di bicarakan oleh perempuan itu.
" oohh itu , jangan dengarkan Meili, kau tahu dia orang yang paling asal-asalan dalam berucap " jelas Elin tertawa , membuat Daniel dan Meili segera melihat ke arahnya , " asal-asalan berucap " ulangnya Meili tidak terima.
" Ya sayang , apa yang di ucapkan Meili itu memang benar , bukankah kita memang akan segera menikah " timpal Daniel , membuat Elin terdiam dengan wajah yang memerah , " ini masih terlalu awal untuk di bicarakan dengan orang lain " ucapnya lemah
" Jadi kau menganggap aku orang lain ? " tanya Hannah menatap tajam.
" ah aku benar-benar kecewa " tambahnya dengan begitu sedih.
" emm..bukan , bukan seperti itu Hannah , emm.. aku hanya ..maksudku ini masih awal untuk di ceritakan padamu , bukan maksudku tidak menganggapmu , aku pasti akan memberitahunya jika semuanya sudah pasti " jelasnya dengan begitu gugup , membuat semua orang di meja tersenyum karenanya.
" Semua sudah jelas sayang , aku hanya tinggal menemui orang tuamu " sambung Daniel lembut.
" Ya , tapi maksudku jika waktunya sudah di tetapkan , ya seperti itu maksudku "
" Kau... " geram Hannah yang beranjak dari tempatnya dan berjalan mendekat kearah perempuan itu , " Hannah maafkan aku , aku sungguh tidak bermaksud begitu " ucap Elin yang berpikir kalau Hannah mungkin akan memukulnya , " selamat , aku benar-benar bahagia mendengarnya , sungguh " ucap Hannah sembari memberikan pelukan pada perempuan itu.
" Ucapanmu sungguh terlalu awal Hannah "
" Memang seperti itu seorang sahabat , dia orang yang akan paling awal memberi ucapan dan menjadi paling akhir di sadari kehadirannya " ucap Hannah tertawa.
" Kau benar-benar sedang menyindirku " ucap Elin ,dan lagi-lagi berhasil membuat semua orang tertawa.
" Ternyata memang sangat melegahkan saat melihat mantan dan kekasih akur " ujar Meili tertawa.
" Meili hentikan " sambung Daniel.
" Ceh , kau lihat dia benar-benar takut kehilanganmu Elin " ucap Meili yang tidak ada habis-habisnya membuat semua orang tertawa.
" Aku sangat yakin Daniel akan membahagiakanmu " tambah Hannah pada Elin , " ya aku juga sangat yakin " sahut Elin tersenyum dan menatap kearah laki-laki yang juga sedang menatapnya.
" Apa kau benar-benar ihklas mengucapkan itu Hannah " goda Meili , membuat Daniel kembali menatap tajam kearahnya , " aku hanya bercanda kakak " ucapnya dengan tertawa.
" Kalau begitu kita merayakan dua peristiwa hari ini , Daniel dan Elin yang akan segera menikah dan Hannah yang akhirnya terbebas dari nenek sihir itu " sambung Vale dan semua orang setuju , " akhirnya aku bisa dengan santai mengucap nama Daniel tanpa kata tuan " tambahnya, yang lagi-lagi berhasil membuat semua orang kembali tertawa.
~
Semua orang terlihat sibuk dengan pembicaraannya masing-masing , berbeda dengan Elin yang terlihat begitu menikmati setiap tetes minuman anggur di gelas terakhir yang sudah di batasi oleh kekasihnya.
" Ada apa Elin , kenapa terus menghela nafas ? " tanya Hannah yang ternyata sejak tadi terus memperhatikannya.
" emm.. aku masih khawatir dengan pekerjaanku "
" Ceritakanlah , aku mungkin tidak bisa membantu dengan action tapi mungkin bisa membantu lewat solusi " ujar Hannah tertawa dan Elin membalasnya dengan senyuman kaku , " aku merasa semua belum siap , sementara waktu begitu sempit untuk aku menyiapkan semua dan ini memang salahku "
" Coba jelaskan dulu dari awal " ucap Hannah yang belum mengerti.
" Aku memberanikan diri untuk bertanggung jawab pada Fashion show nanti , itu karena aku tidak bisa melihat perusahaan tempatku bekerja terpuruk begitu saja , terlebih itu karena milik kekasihku sendiri "
" dan kau tahu ternyata semua tak semudah yang aku bayangkan , ternyata menjadi perancang busana benar-benar tidak mudah , bahkan aku hanya baru menyelesaikan beberapa desain , sementara waktu tinggal tersisa beberapa hari lagi , dan yang lebih parah aku belum menyiapkan model yang akan menggunakan produk kita nanti " keluh Elin yang akhirnya keluar karena alam sadar yang hampir di kuasa oleh minuman beralkohol yang sudah beberapa gelas memasuki tubuhnya , " model ? " tanya Hannah dan perempuan itu menangguk.
" Apa aku boleh merekomendasikan aku sendiri untuk menjadi modelnya " ucap Hannah tersenyum dan Elin seperti tersadar dari mimpinya dengan langsung membesarkan ke dua matanya menatap pada Hannah , " aku rasa itu akan menjadi kaloborasi yang spektakuler di acara itu nanti " tambah Hannah tertawa.
" Maksudmu ? "
" Ya , aku memang terdengar cukup sombong tapi semua orang pasti akan sangat penasaran jika mendengar aku kembali menjadi model dalam produk Daniel dan aku rasa itu hal yang paling tepat untuk menjadi daya tarik semua orang "
" Idemu cemerlang Hannah " ucap Elin begitu girang , membuat semua orang menjadi melihat kearah mereka , " ada apa ini ? " tanya Meili yang menjadi penasaran.
" Sayang , Hannah memberikan ide yang cemerlang " ujar Elin pada Daniel , dan laki-laki itu menunggu tidak sabar untuk mendengar apa yang sudah menjadi rencana dua perempuan itu , " aku mengajukan diri untuk menjadi model busana kalian nanti " jelas Hannah.
" Kau serius Hannah ? " tanya Daniel dan perempuan itu mengangguk.
" Tentu , seperti yang aku katakan itu akan menjadi kaloborasi yang tepat "
" Ya Hannah benar , ini terdengar sangat menarik untuk semua orang , dimana Hannah akan menjadi model di produk mantan kekasihnya yang hampir bangkrut " tambah Meili dengan tertawa.
" Kau pasti bisa sayang " ucap pelan Daniel di sela tawa semua orang.
" ah ini benar-benar melegahkan " ujar Elin tersenyum Dengan Daniel yang menggenggam tangannya dengan begitu erat.