Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Ada Apa ?


Drrrttt drrrtttt


Handphone dia dalam gengaman Daniel berdering ,


sekilas ia melihat pada layar benda itu untuk melihat siapa yang kini tengah menghubunginya.


Deg


Jantungnya berdegub seketika saat melihat nama kekasihnya di dalam layar benda itu ,matanya terpejam sesaat sembari menarik nafas yang terasa begitu berat saat ini , " ya sayang " jawabnya pada telepon dengan berusaha untuk tetap santai.


" Bagaimana apa kau sudah tanyakan pada Mami ? " tanya Elin dari seberang telepon.


Daniel kini semakin terdiam dengan jantung yang berdetak tak menentu , bahkan dirinya seperti tidak menyatu pada pikirannya saat ini , " sayang.. " panggil Elin yang merasa tidak ada jawaban dari kekasihnya.


" Emmm ya.."


" Bagaimana ? Apa Mami punya waktu hari ini ? "


"emmm.. Mami mengatakan dia sendiri yang akan menghubungi Ibu nanti " kata Daniel mengarang karena ia sudah tidak tahu apa yang harus ia jawab saat ini , " oh begitu , baiklah ... "


" Emm.. ya " sahut Daniel


Elin terdiam sejenak dari balik telepon tanpa mengakhiri panggilannya , " sayaang... " panggilnya pelan pada Daniel.


" Emm.. ya "


" Ada apa ? " katanya bertanya dan itu berhasil membuat jantung Daniel kembali berdetak tak menentu , dan ia masih terdiam dengan lidah yang tercekat untuk berbicara.


" Sayang.. . " ulangnya lagi.


" Emm.. tidak apa-apa sayang , aku baik-baik saja "


" Sungguh ? "


" Emm.. tentu "


" Tapi kau terdengar tidak seperti itu Daniel.. " katanya curiga , " dan ntah kenapa perasaanku tiba-tiba menjadi sedikit tidak enak " sambungnya lagi.


Daniel terdiam sejenak dan kembali menarik nafasnya dengan lebih dalam.


Pikirannya sungguh kacau saat ini, bahkan ia tidak lagi menyadari ke arah mana pembicaraan mereka , " Daniel.. " panggil Elin kembali dan kali ini ia meninggikan suaranya.


" Emm ya ,kenapa sayang.. ? "


" Ada apa denganmu ? " tanyanya semakin heran.


" emm tidak apa-apa ,apa kau sudah siap ? "


" Ya bukankah aku tidak perlu menyiapkan apapun "


" Emm.. ya benar , tunggu lah sebentar lagi aku akan menjemputmu.. " kata Daniel begitu datar dan Elin menyadari akan hal itu.


" Emm ya baiklah , sampai bertemu.... " ucap Elin yang terpotong oleh Daniel yang langsung mengakhiri panggilan telepon mereka.


Tok tok tok


Daniel menjadi tersentak saat tiba-tiba pintu kamar tidurnya di ketuk , namun ia masih tetap terdiam tanpa bergerak menuju asal suara.


Tok tok tok " pintu kamar itu kembali berbunyi.


" Daniel ini bunda.. " seru suara dari balik pintu , mendengar itu perlahan tubuh Daniel bergerak menuju pintu kamarnya.


" Ya bunda.. " katanya begitu lemah , sambil membuka pintu kamarnya lebih lebar dan ia kembali berjalan menuju jendela besar di dalam ruang tidurnya itu.


Wilna ikut berjalan masuk lalu menutup kembali pintu yang terbuka , " Pergilah berlibur dengan tenang nak dan jangan pikirkan hal apapun yang sedang terjadi saat ini.. " katanya begitu lembut.


" Bagaimana bisa aku melakukan itu bun, bahkan saat ini aku begitu takut "ucap Daniel begitu lemah, bahkan terlihat jelas kalau saat ini dirinya begitu prustasi " semua ini masih harus di cari tahu kebenarannya , sebelum semua itu benar kau tidak perlu khawatirkan apapun nak " kata Wilna mencoba kembali menenangkan.


" Semua orang sudah siap dan menunggumu " sambungnnya.


Daniel masih terdiam sambil terus melihat keluar jendela , " bun bagaimana jika semuanya benar... " ucapnya lirih.


Wilna menelan ludahnya , kalimat yang baru saja keluar dari mulut lelaki muda di hadapannya cukup membuatnya lidahnya tercekat , " bunda bilang jangan pikirkan itu dulu , bisa saja ini hany sebuah kebetulan... "


" Tapi bagaimana jika ternyata itu lah kebenarannya bunda " potong Daniel dengan tubuh yang bergerak berbalik menghadap ke arahnya , " bagaimana jika itu yang sebenarnya... " ulangnya dengan begitu lirih bahkan kini tubuhnya telah roboh ke lantai kamar.


" Aku tidak siap untuk menerima kenyataan bahwa pernikahanku akan di batalkan karena hal ini "


" Aku tidak siap bunda.. " ulangnya , wajahnya telah memerah menahan isak tangis.


Kali ini tidak ada lagi terlihat ke gagahan dari seorang Daniel Remkez , ia benar-benar rapuh oleh kenyataan pahit yang kemungkinan akan ia terima nanti.


Wilna segera berjongkok dan memeluk tubuh Daniel , " Bunda yakin semua akan baik-baik saja ".


" Percayalah ini hanya sebuah lobang yang mungkin harus kalian hadapi di dalam perjalanan menuju pernikahan " ucap Wilna , seraya mengelus lembut punggung Daniel.


" Berliburlah , tenangkan pikiranmu dan jangan pikirkan ini " katanya lagi sambil mencoba membawa tubuh Daniel untuk kembali bangun , " semua orang sudah menunggumu ".


Daniel menarik nafas dengan begitu dalam dan mencoba mengembalikan mimik wajahnya dengan normal , " percaya bunda , semua pasti akan baik-baik saja " kata Wilna dengan tangan yang menepuk lembut pundak Daniel.


Klek " pintu tiba-tiba kembali terbuka membuat Wilna dan Daniel terkejut.


" Daniel , ayooo.. " seru Meili dari balik pintu yang terbuka , dan ia terdiam ketika melihat ke wajah Daniel ," Ada apa ? " tanyanya dan perlahan masuk ke dalam kamar.


" Bunda ada apa ? , apa yang terjadi ? " tanyanya beruntun , ia menyadari ada sesuatu yang telah terjadi hingga raut wajah kakaknya tidak seperti biasanya.


" Tidak ada apa-apa nak , bunda kemari untuk memanggil kakakmu bahwa semua orang sudah siap " kata Wilna menutupi , namun Meili masih diam dan menatap lamat pada wajah kakaknya , " Daniel sungguh tidak terjadi apapun ? "


Wilna berjalan lebih dulu keluar dari dalam ruangan lalu perlahan Meili ikut menyusul , namun matanya terus melihat ke arah kakaknya dan langkahnya berhenti saat tepat berada di sisi pintu , " Daniel aku adikmu, kau sangat tahu bukan bahwa tidak ada seseorang yang lebih mengetahui dirimu dari padaku " ucapnya sebelum menutup pintu dan pergi.


" Bunda... " panggil Meili sembari mempercepat langkahnya mengejar Wilna yang berjalan lebih dulu.


" Ya nak.. "


" Bunda , aku tahu sesuatu pasti telah terjadi.. " katanya menebak , " apa aku belum boleh mengetahuinya..? " sambungnya, sementara Wilna telah terdiam.


" Aku harap ini bukan sesuatu yang begitu berat " ucapnya seperti berdoa dengan sedikit menghela nafas.


" Bunda , kenapa tiba-tiba aku menjadi begitu takut.."


" Hussshhh "


" Jangan seperti itu ,sungguh tidak terjadi apa-apa nak "


" Tidak bunda , aku sangat tahu seperti apa Daniel dan seperti apa wajahnya ketika ia sedang mengahadapi sesuatu yang sulit dan Mami , mami sampai saat ini tidak menampakkan wajahnya padaku... "


" Suasana ini persis seperti pertama kali keluarga kami mengetahui perselingkuhan papi , dan aku masih begitu mengingatkanya dengan jelas bun.... ".


" Sungguh tidak terjadi apa-apa , pergilah berlibur dengan tenang oke "


" tapi bun... "


" Mamimu sungguh baik-baik saja " potong Wilna tersenyum.


~


Dua mobil yang membawa beberapa pasang anak muda kini baru saja berhenti di sebuah market besar di daerah Batu Belayar kepulauan Lombok.


Semua orang segera turun dari dalam mobil untuk membeli barang-barang yang akan mereka butuhkan selama liburan mereka nanti , kecuali Daniel yang masih duduk di kursi mobil dengan Elin yang juga belum beranjak.


Daniel menoleh saat menyadari perempuan di sampingnya kini tengah menatapnya dengan lamat , " kenapa tidak turun ? " tanyanya begitu lembut ,namun Elin seperti tidak mendengar pertanyaannya dan terus menatap tajam ," Ada apa ? " tanyanya ketus.


" Tidak apa-apa ? " sahut Daniel tersenyum.


" Sejak tadi kau terus diam Daniel , ada apa ? "


" Tidak ada apa-apa sayang , aku hanya mengantuk "


" Sungguh ? "


" Hemmm.. " balas Daniel dengan mengangguk dan setengah mati menahan dirinya untuk tidak terbawa emosi dengan apa yang sebenarnya terjadi.


" Ayo turun , kau juga harus membeli pakaian bukan ? " ajaknya sambil menarik tangan kekasihnya yang masih melihatnya dengan cemberut , " astaga iya kau benar " kata Elin yang langsung bergegas keluar dari dalam mobil dan berjalan lebih dulu meninggalkan Daniel.


Namun tidak lama ia kembali mendekat , " hanya gara-gara mau membeli pakaian aku sampai lupa dengan calon suamiku " ujarnya sambil memeluk lengan Daniel.


Dan tingkahnya itu berhasil membuat Daniel yang sejak tadi diam menjadi tersenyum bahkan tertawa , " jangan menjadi istri yang durhaka ya sayang " katanya menggoda Elin.


" Siapa yang durhaka " kata Elin tidak terima.


" Ya kamu , hanya karena ingin belanja kau sampai lupa dengan calon suamimu sendiri "


" Siapa yang lupa , buktinya aku kembali lagi sekarang " kata Elin dengan mengeratkan pelukannya di lengan Daniel.


" Ceh " decih Daniel tersenyum.


" Cepatlah masuk sebelum pakaian di tokoh ini habis di borong oleh sahabat-sahabatmu " katanya tertawa , namun Elin terlihat masih santai dengan terus memeluk erat lengannya , " sayaang.. " panggilnya lagi.


" hemmm... "


" Kau sungguh akan kehabisan barang-barang yang kau butuhkan jika tidak bergegas sekarang "


" Itu tidak mungkin terjadi sekali pun itu terjadi aku hanya tinggal memintamu membeli tokoh ini untukku .. " kata Elin begitu santai dengan tertawa kecil.


" Apa kau sungguh mau? " tanya Daniel menjadi serius dan Elin terdiam sesaat , " kau selalu tidak bisa di ajak bercanda " gerutunya sambil melepas pelukannya pada lengan Daniel lalu berjalan dengan cepat menuju pintu tokoh.


" Sayang sungguh ! , apa kau benar mau aku membeli tokoh ini untukmu ? " seru Daniel seraya mengejar langkah Elin.


" Jangan gila Daniel "


" Kenapa Gila ? "


" Yang di jual barang-barangnya bukan tokohnya "


" Tapi kau yang bilang ingin aku membeli tokohnya "


Elin segera menghentikan langkahnya dan menyadari beberapa pengunjung tokoh yang melihat ke arah mereka , " aku hanya bercanda sayang... " ucapnya begitu lembut namun penuh dengan penekanan.


" tapi aku serius jika kau ingin aku bisa membeli tokoh ini untukmu " ucap Daniel.


Elin menarik nafas begitu dalam lalu kembali berjalan , " sayang aku serius " teriak Daniel.


" Hentikan Daniel "


" Apa kau sungguh tidak mau ? "


" Tidak "


" Sungguh ? "


" Iyaaaa..... " balas Elin berteriak dan menahan kekesalannya , " ternyata mempunyai kekasih terlalu kaya juga sangat merepotkan " gerutunya sambil berdelik menatap Daniel lalu kembali melanjutkan langkahnya untuk mencari keberadaan sahabatnya saat ini.