
Saat ini kaki Elin terasa sulit untuk melangkah karena semua otot dalam tubuhnya yang tiba-tiba terasa berat dan kaku seiring perasaan yang begitu gugup,
" Hei senyumlah " ucap Amel dengan melipat bibirnya menahan untuk tidak tertawa.
" Berikan senyum terbaik untuk calon suamimu " timpal Green.
Semua mata kini tertuju pada mereka yang tengah berjalan menuju kerumunan orang yang memang sudah menunggu kehadiran mereka , " aku benar-benar gugup " lirih Elin di sela langkah mereka dan tanpa berani melihat pada semua orang.
" Coba kembali tarik nafas pelan-pelan " kata Amel dan Elin mengikuti , " lagi " tambahnya.
" Ceh , kau benar-benar membuatnya seperti ingin masuk ke ruang bersalin " kata Green menahan tawa ,
" berhasil ? " tanya Amel dan Elin mengangguk , " sedikit lebih baik ".
" Sekarang waktunya angkat kepalamu " pintanya lagi dan Elin perlahan memberanikan diri untuk perlahan menatap pada semua orang.
Deg
Jantungnya berdebar saat pandangan matanya tertuju pada satu orang yang kini juga sedang menatapnya , membuat warna pipinya semakin memerah karena malu dan ia kembali menundukkan pandangannya , " kenapa dia menjadi sangat menggemaskan " gumamnya pelan.
" Kau lihat calon istrimu begitu cantik malam ini " bisik Viona pada Daniel yang masih tidak berkedip menatap pada wajah Elin.
" Wah sepertinya mempelai laki-laki begitu terpesona dengan kecantikan wanitanya " ujar laki-laki yang malam ini di tugaskan sebagai pemandu acara pada Lamaran Elin dan Daniel.
Mendengar itu semua orang yang berada di sana langsung tertawa , membuat bergantian kini wajah Daniel yang terlihat sedikit memerah karena malu dan Elin melihatnya dengan ikut tersenyum.
" Baiklah karena permaisuri yang ditunggu-tunggu sudah tiba sebaiknya kita mulai acara ini " sambung si pemandu acara , lalu mempersilahkan dari pihak keluarga mempelai laki-laki untuk berbicara dan Viona mengambil alih kesempatan itu.
" Ehmmm " ia berdeham sebelum mengeluarkan kalimat yang ingin ia ucapkan.
" Selamat malam " ucapnya tersenyum dan menunduk pada saat menatap kepada kedua orang tua Elin , " terimakasih telah menerima kedatangan kami dengan sangat baik " katanya dengan begitu hormat.
" Saya mungkin harus memperkenalkan diri terlebih dahulu " sambungnya dengan sedikit tertawa , " Nama saya Viona dan saya adalah ibu dari tuan Daniel Remkez " jelasnya dengan masih terus tertawa.
" Emm dan disini saya juga mewakilkan suami saya yang tidak bisa hadir dan karena hal itu saya mohon maaf dengan sebesar-besarnya " ucapnya dengan kembali menunduk , lalu menegakkan kembali wajahnya , " sebenarnya sekarang ini saya cukup gugup " katanya terhenti , " tapi demi untuk meminta gadis cantik di hadapan saya ini untuk menjadi menantu saya , saya memberanikan diri untuk bicara "
Mendengar kalimat itu semua orang tersenyum , tak terkecuali Meili yang kini menatap ibunya dengan penuh kagum bercampur haru ,
" Saya bingung bagaimana mengatakannya " katanya kembali terhenti.
" Kepada kedua orang tua Elin saya merasa begitu terhormat untuk datang kemari dan meminta putri kalian untuk menjadi menantu saya ,
kalian orang tua yang hebat membesarkan seorang putri yang begitu cantik dan sangat baik "
" Terimakasih Nyonya Viona " balas Bimo dengan tak kalah hormat.
" Jangan berterimakasih dulu pak , aku belum memberikan apapun sebagai ganti dari anak kalian " katanya kembali tertawa dan di ikuti oleh sebagian orang yang juga ikut tertawa.
" dan saya membawa sedikit sogokan malam ini " ucapnya tertawa , lalu beberapa orang mulai bergerak mengambil kotak-kotak kaca yang sudah di hias dengan begitu manis dengan isi barang-barang mewah di dalamnya .
" Nyonya apa ini tidak berlebihan " ucap Bimo yang begitu terkejut karena sudah ada begitu banyak kotak kaca di hadapannya dan itu masih belum berakhir.
" Tentu tidak Tuan , ini tidak ada apa-apanya di banding putri kalian " bantah Viona kembali tertawa.
" Jadi mohon terimalah sogokan saya ini " ucapnya kembali tertawa.
" dan juga tolong terima putra saya sebagai menantu kalian " sambungnya dan kali ini ia begitu bersungguh-sungguh dengan ucapannya , " dia mungkin terlihat sempurna di luar tapi sebenarnya ia masih begitu banyak ke kurangan " katanya kembali tertawa.
" Dia lelaki yang cukup egois , dingin dan begitu cuek " lanjutnya dan itu membuat Daniel langsung melihat padanya dengan memberi pandangan tidak terima oleh ucapannya , " tapi dia lelaki yang bertanggung jawab dan sangat penyayang " sambungnya dengan senyum teduh dari bibirnya.
" Dan dia sangat mencintai putri kalian , aku rasa itu adalah alasan yang tepat untuk kalian menerimanya "
Elin kembali menatap pada Daniel dengan bibir yang tersenyum , begitu pun Daniel sebaliknya , " kenapa ? " tanyanya tanpa suara.
" Kau sangat tampan " balas Elin , membuat garis bibir lelaki itu merekah dengan sempurna.
" kalian melihat sendiri bukan bagaimana mereka begitu jatuh cinta " ucap Viona tiba-tiba yang ternyata sejak tadi mengamati tingkah sepasang manusia itu.
Semua orang kembali tertawa , berbeda dengan dua manusia yang kini hanya bisa terdiam dengan pipi yang bersemu merah , " sepertinya mereka sangat tidak sabar untuk menjadi sepasang suami istri oleh sebab itu kepada orang tua Elin tolong jangan tolak lamaran ini " sambung Viona membuat ruangan itu benar-benar tidak berhenti oleh suara tawa semua orang.
" Hanya itu yang bisa saya katakan malam ini " ucapnya kembali serius.
" Semua masih penuh dengan kekurangan dan belum bisa pantas untuk mengambil Nona Merlinda untuk menjadi menantu kami , Tapi Pak.. bu... , sekali lagi saya minta tolong terima lamaran kami ini , aku mungkin tidak bisa menjanjikan apa-apa di kemudian hari tapi yang pasti aku sungguh akan menyayanginya seperti anaku sendiri dan aku berjanji... " katanya kembali terhenti dengan sedikit menarik nafas.
" Sungguh saya akan berjanji memberikan kebahagian padanya , sekali pun itu sulit saya sungguh akan benar-benar mengusahakannya karena hal yang terpenting adalah putri kalian bahagia bersama kami " ucapnya bersungguh-sungguh dan penuh emosi membuat suara gelak tawa kini berubah menjadi tatapan penuh haru.
" Terimakasih atas kesempatannya berbicara " tutupnya lalu kembali duduk .
Kini bergantian Bimo yang mengambil alih pembicaraan , " Apa saya juga masih harus memperkenalkan diri " katanya sedikit tertawa , dan berhasil kembali mencairkan suasana.
" Terimakasih Nyonya , terimakasih telah datang dengan maksud yang baik dan kami sangat terhormat untuk itu " ucapnya kemudian.
" Seperti yang anda lihat seperti inilah keluarga kami , keluarga yang sederhana " katanya tersenyum dan Viona terlihat kembali ingin menyela , namun terhenti saat dirinya kembali ingin bicara , " derajat keluarga kita mungkin sangat jauh berbeda ,tapi Nyonya... "
" Saya begitu percaya diri untuk memberikan putri pertama saya yang begitu saya sayangi ini untuk menjadi istri dari putra anda , aku pastikan tidak ada yang kurang darinya " katanya kembali tertawa.
" Ayah... " protes Elin lemah.
" Dia gadis yang cantik , kuat dan begitu mandiri " ucapnya yang kali ini menatap pada putrinya , " dia tidak pernah merengek apapun yang ia inginkan , tidak pernah mengeluh dan tidak pernah sekali pun ingin merepotkan kami " sambungnya dengan cairan bening yang mulai hadir di pelupuk matanya , " jadi aku yakin dia tidak akan merepotkan saat menjadi menantu di keluarga kalian nanti Nyonya " katanya kembali tersenyum.
Sementara Elin sudah tertunduk dengan mata yang mulai berair , ia begitu tersentuh oleh ucapan ayahnya dan ini untuk pertama kalinya ia mendengar kalimat itu keluar dari mulut laki-laki yang telah membesarkannya.
" Anda benar Nyonya yang membuat saya bisa menyerahkan putri saya pada kalian adalah karena rasa cinta putra anda terhadap putri saya "
" Saya yakin dengan begitu putra anda akan menjaga putri saya dengan baik " katanya lalu berhenti sesaat untuk kembali menarik nafas , " selama ini saya tidak begitu memperhatikannya dengan baik karena ia tidak pernah mengeluh dan tidak pernah mengatakan apa yang sebenarnya dia inginkan pada saya , bahkan saya tidak yakin apakah selama ini saya sudah membuat putri saya bahagia " ucapnya dengan kembali menghela nafas bersama pelupuk mata yang kembali berair , " saya mohon kepada anda Tuan Daniel , tolong jangan lakukan demikian , tolong jika sudah menjadi suaminya tanyakan padanya apa yang dia inginkan dan apa yang menjadi keluhannya , karena tanpa kau tanya dia tidak mungkin mengatakannya , yah dia memang seperti itu selalu tidak ingin membuat dirinya menjadi merepotkan untuk orang lain "
" Baik Ayah " balas Danie tersenyum.
" Ini terdengar egois tapi aku sungguh mengharapkan kebahagian putriku padamu " sambung Bimo bersungguh-sungguh.
" Aku berjanji akan membahagiakannya " balas Daniel tak kalah bersunguh-sungguh dengan mata yang menatap pada wanitanya , lalu kemudian menggelengkan kepala , " jangan menangis " pintanya tanpa suara, membuat Elin segera menepis air mata haru yang mulai akan terjatuh.
" Aku mencintaimu " ucapnya kemudian dengan tatapan yang begitu lembut , bahkan kali ini ia tidak lagi peduli jika ada orang lain yang melihat tingkahnya.