
" Silahkan duduk " ucap lelaki dengan blazer berwarna putih saat Mala dan Green masuk ke dalam ruangannya.
Mala terlihat begitu gusar, " Ada apa ya dok ? " tanyanya menatap khawatir.
" Dok bukannya tadi anda mengatakan tidak ada yang serius pada pasien Merlinda " kata Green menimpali.
Dokter, dengan nama Bima yang tertera di name tag blazernya itu tersenyum singkat, " memang tidak ada yang serius untuk saat ini... " ucapnya menggantung.
" Saya hanya ingin menanyakan sesuatu pada anda. Apa nona Merlinda pernah mengalami sebuah kejadian yang membuatnya trauma dimasa lalu ? "
Mala terdiam dengan menelan ludahnya.
" Saya menemukan PTSD (post traumatic disorder) di dalam diri nona Merlinda dan ini di situasi yang cukup gawat ibu " jelas Dokter Bima.
Mata Green membesar dan begitu terkejut.
" Apa belakangan ini sudah terjadi sesuatu hal yang membuat traumanya di masa lalu kembali ? "
Mala dan Green saling bertatapan, dengan tangan Mala yang meremas cemas jemari Green, " sesuatu memang baru saja terjadi dokter " sahut Green dengan menghela nafas. Dokter Bima mengangguk.
" Apa ini begitu serius dokter ? ".
" Sangat serius jika tidak cepat tangani. atau minimal dia harus dalam kondisi tekenanan emosi yang normal setiap waktu " jelas dokter Bima kembali, dengan menatap serius pada Green dan Mala.
"Tubuhnya drop, kemungkinan faktor utamanya karena PTSD dalam dirinya. Karena tubuhnya tak lagi cukup kuat menahan tekanan emosional dalam tubuh tersebut ".
" Lalu apa yang harus kami lakukan dokter ? " tanya Mala yang sudah menangis.
" Temui psikolog " jawab singkat dokter Bima.
" Tapi dia pasti tidak mau dokter. Bahkan mungkin dia tidak akan percaya dirinya mengalami PTSD " sambung Green menatap sendu.
Dokter Bima menghela nafas, " ajak dia untuk berdamai.. " ucapnya menggantung.
" Bawa dia ke tempat yang bisa membuat dirinya memaafkan masa lalunya. Apa saya boleh tahu kejadian masa lalu apa yang sudah terjadi padanya ? "
" Mungkin salah satunya kecelakaan orang tua kandungnya dokter. Atau kepergian mantan kekasihnya "
" Peristiwa mana yang dulu terjadi ? " tanya cepat dokter Bima.
" Kecelakaan orang tuanya, itu terjadi waktu dia masih umur dua tahunan " jelas Mala.
" Apa dia juga ada disana ? " tanya dokter Bima kembali dan Mala mengangguk lemah.
" Apa dia sering menangis ? " tanyanya lagi dan kali ini Mala menggelengkan kepalanya.
" Berarti traumanya benar-benar serius " ucapnya penuh pekanan. Bahkan tarikan nafasnya sedikit dalam saat ini.
" Saat seseorang tidak banyak menangis atau tidak pernah menangis lagi, itu berarti di dalam hatinya ada luka yang menganga begitu besar dan itu yang di katakan trauma. Jadi setiap ada hal hal kecil yang menyakitinya itu tidak akan mengganggunya lagi, atau lebih tepatnya indra perasanya dengan emosional dalam dirinya sudah tidak saling bekerja dengan baik dan itu sudah sangat buruk ".
" Apa lagi semisal, ia pertama kali trauma karena kehilangan orang tua yang dia cintai ,setelah itu ia kembali kehilangan orang yang di cintainya lagi. Itu membuat luka di hatinya menganga begitu lebar atau lebih tepatnya dia tidak lagi akan menggunakan perasaannya dengan baik. Lalu menjalani semuanya dengan logika atau pikiran. dan justru hal itulah yang membuat keadaanya semakin buruk "
" Semua apa yang dia rasakan berkumpul di dalam pikirannya, membuatnya setres tanpa ia sadari. Sementara pikiran adalah kunci dari kesehatan dalam organ tubuh manusia. Jadi bisa dibayangkan bagaimana kondisi nona Merlinda yang sebenarnya bukan " jelas dokter Bima begitu rinci.
Mendengar itu bukan hanya hati Mala yang hancur tapi juga Green, air matanya menetes mengetahui kondisi sahabatnya.
" Dua hal yang paling membantu selain bertemu psikolog. Dia harus jatuh cinta atau berdamai dengan masa lalunya ".
Dokter Bima menghela nafas dengan sedikit tersenyum, " syukurlah. Itu berarti traumanya saat ini tidak lagi semenakutkan yang saya bayangkan ".
" Berarti sekarang buat dia berdamai dengan masa lalunya "tambahnya.
" Apa yang bisa kami lakukan untuk itu dokter ? " sambung Green.
" Bawa dia ke makam orang tuanya. Karena itu awal dari rasa traumanya terjadi. Biarkan dia disana untuk beberapa waktu, dan lebih baik jika tidak memberitahunya jika kalian akan membawanya kesana. Supaya sebelum sampai disana pikirannya tidak kacau dan dengan begitu dia bisa menumpahkan semua emosinya saat berada disana nanti".
" Baik dokter " balas Green dengan mengangguk lemah.
" Kalau begitu terimakasih dok. Kami permisi " pamit Green dan Mala.
~
Tatapan mata Elin menajam, " siapa yang menyuruhmu menciumku " ucapnya kesal.
" Kenapa harus menunggu di suruh, jika hanya ingin mencium calon istriku " sahut Daniel santai, seraya memberi senyum dengan garis bibir yang di tarik ke atas hingga membuat pipinya mengembung.
Namun, senyum itu perlahan memudar, saat ia teringat kembali apa yang sedang terjadi di antara mereka.
" Biar aku yang pegang " katanya mengambil alih tangan Elin yang masih menekan pada punggung tangannya, " istirahatlah " tambahnya lagi, lalu kembali membawa tubuhnya menuju ranjang pembaringannya tadi.
Elin terdiam oleh perubahan Daniel. Di tatapnya punggung yang perlahan menjauh dari pembaringannya dan bersamaan terdengar suara pintu di buka.
" Elin kau sudah bangun " seru Amel begitu senang, lalu ia keluar lagi dari ruangan dan kembali dengan beberapa orang yang ikut masuk bersamanya.
" Lin kau sudah bangun " ulangnya lagi.
Elin hanya tersenyum singkat, pandangannya teralih pada Viona yang tidak ikut masuk ke dalam ruangan, lalu kembali melihat pada Daniel yang kini memejamkan diri di atas tempat tidur.
" Mel, panggilkan dokter " pintanya lemah.
" Ya kami memang akan memanggil dokter karena kamu sudah bangun " sahut Amel seraya berjalan menuju tombol yang di buat untuk memanggil dokter.
Elin menggoyangkan kepalanya, " Tangan Daniel terluka dan jarum infusnya sudah lepas dari tangannya " ucap Elin. Membuat semua orang kini mendekat pada lelaki itu.
" Apa yang terjadi ? " seru Nathan, sambil menatap pada Elin. Namun, ia hanya diam.
Dan tiba tiba pintu kembali terbuka dengan Green dan Mala yang kini masuk, " kau sudah bangun nak " seru Mala senang, sambil buru buru mendekat pada ranjang putrinya begitu, pun Green.
" Syukurlah kau sudah bangun " ucap Green tenang, serta mata yang menatap sendu pada sahabatnya.
" Green katakan pada Mami untuk masuk " pintanya tiba tiba dan itu cukup membuat semua orang terkejut.
" Biar aku yang memanggilnya " sambung Alfin yang langsung bergerak keluar ruangan.
Viona menunduk saat masuk ke dalam ruangan, di ikuti Reymond yang berjalan sambil memegangi tubuhnya.
" Apa sebaiknya kita keluar " seru Nathan pada istri dan saudaranya.
Alfin mengangguk begitu pun Green dan Amel.
" Tidak kak. Kalian tetap disini " ucap Elin, lalu ke empat orang itu menghentikan langkah mereka dan tetap berada di ruang itu.
" Mam kemarilah "pintanya lemah pada Viona. Dengan semua orang yang kini memandang begitu serius.