Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Secepatnya Aku akan Kembali


" Sayang mau kemana kita, nanti ibu dan ayah akan mencariku " seru Elin di sela langkah kakinya mengikuti langkah Daniel. Dan tiba-tiba saja langkah besar lelaki itu terhenti, lalu berbalik dan kembali berjalan menuju keramaian orang yang masih berkumpul di ruang keluarga.


" Ayah " panggil Daniel sambil berjalan ke arah Bimo dengan tangan Elin yang terus berada di genggamannya.


" Ya nak !, Ada apa ? ".


" Emmm.., ada sesuatu yang ingin kami bicarakan berdua. Mungkin akan sedikit lama, biar nanti Elin pulang bersamaku saja Ayah " jelasnya.


Mendengar itu Bimo kemudian tersenyum, " yang terpenting harus di kembalikan ya nak ".


" Tentu Ayah " balas Daniel.


" Yah... " panggil Elin sedikit malu.


" Ya pergilah bersama calon suamimu, Ayah sudah percaya padanya " ucap Bimo dan Elin mengangguk, " berhati-hatilah saat pulang nanti " ucapnya dan bergantian kini Bimo yang mengangguk.


" Jangan pulang terlalu malam "


" Iya Ayah " sahut Elin, lalu kembali pergi bersama Daniel.


" Kenapa kesini ? " tanyanya lagi saat mereka tengah berjalan di dalam taman rumah keluarga Vernandes.


Daniel menatapnya dengan tersenyum, " tidak apa-apa, aku hanya ingin berdua denganmu " ucapnya sedikit manja.


" Ceh " decih Elin, " seperti lama saja kita tidak bertemu " sambungnya sedikit tertawa.


" Tapi lama kita tidak berdua " tepis Daniel, lalu menarik tangan Elin menuju bangku taman. " orang-orang akan mencari kita sayang " ujarnya sambil bergerak duduk mengikuti Daniel.


" Mereka akan mengerti " sahut Daniel seraya merentangkan tangannya ke sisi sandaran bangku, lalu menepuk pundaknya, " sini " katanya meminta Elin menyandarkan kepala di pundaknya.


" Kenapa jadi begitu manja " seru Elin tersenyum.


" Karena aku merindukanmu " jelas Daniel tegas dan itu membuat Elin tertawa geli. " sebenarnya ada apa denganmu sayang ? ".


" Tidak apa-apa. Apa salah merindukan calon istriku hemm "


" Tidak, hanya saja ini terlihat sedikit berlebihan sayang, hampir setiap hari kita bertemu "


" itu tak pernah cukup untukku "


" Ya ya ya " ujar Elin sambil mengangguk, " memang baiknya adalah kita menikah " sambungnya. Mendengar itu bibir Daniel langsung merekah, " apa kau mau besok ? " sergahnya pada Elin.


Mendengar itu Elin tertawa, " oke " sahutnya tegas, kini mata Daniel membesar mendengar itu, " sayang apa kau serius mau ? " tanya tak percaya, dengan wajah tampannya yang bercampur lugu. dan itu cukup membuat Elin semakin tertawa.


" Jangan konyol, aku mau saja kita menikah besok tapi itu akan terlihat aneh di mata semua orang ".


" Kenapa aneh ? " potong Daniel.


" Ya aneh kenapa menikah begitu tiba-tiba sayaang, lagi pula itu sedikit tidak mungkin, ada begitu banyak yang harus di urus sebelum menikah ".


" Jangan khawatirkan hal itu, aku sangat bisa membuatnya begitu mudah " sahut Daniel dengan wajah yang begitu bangga, " jangan pakai kekuatanmu, ini bukan New York " tepis Elin berdelik dan bergantian kini Daniel yang tertawa begitu keras, " kemarilah lebih dekat " pintanya pada Elin untuk menggeser kepalanya semakin dekat dengan lehernya.


Sesaat suasana menghening dengan Daniel yang terus merengkuh tubuh Elin ke dalam pelukannya.


Di elusnya jari jemari Elin dengan begitu lembut dan sesekali mengecup punggung tangan kecil perempuan itu.


" Ada apa ? " tanya Elin memotong keheningan.


" Hemm.. "


" Apa yang sedang kau pikirkan ? " sambungnya, dengan menatap begitu lamat pada sorot mata Daniel.


" Tidak "


" Jangan berbohong, aku tahu bagaimana dirimu Daniel. Katakan apa sebenarnya yang kau pikirkan ? "


Daniel kembali terdiam lalu menghela nafas, " tidak apa apa sayang " katanya tersenyum. Namun Elin sangat tahu bagaimana laki-laki itu, seperti apa dia tersenyum ketika ia tidak menyembunyikan apapun, " jangan menutupi apapun dariku " ucapnya begitu tegas.


" Sungguh bukan sesuatu yang begitu penting, hanya saja sepertinya aku akan kembali ke New York dekat dekat ini " jelas Daniel dengan tenang.


" Apa terjadi sesuatu disana ? "


" Ada sedikit masalah memang, tapi jangan di pikirkan " balasnya tersenyum.


" Tidak Daniel, aku juga tidak sedang bercanda. Kapan kau akan pergi ? " tanya Elin lagi, tatapan seriusnya tidak berpaling dari lelaki itu, " ntahlah sayang, aku juga sedang menunggu kabar dari Reza. Jika semuanya begitu rumit mungkin besok pagi aku akan berangkat "jelas Daniel, yang mengatakannya dengan begitu berat.


Elin kini terdiam, mendengar itu membuat detak jantungnya kini tak lagi berdetak dengan normal, " semua pasti akan baik-baik saja " ucapnya lembut, seraya memegang lembut tangan Daniel.


" Ya aku juga sangat yakin. Hanya saja memikirkan berpisah denganmu, sedikit membuatku tidak tenang " tukas Daniel dengan begitu jujur, sebenarnya hal itu juga sama di rasakan oleh Elin. Namun ia memilih untuk tidak mengutarakannya.


" Kau akan cepat kembali, bukan ? " ujarnya tersenyum kaku, seharusnya bukan itu perkataan yang keluar dari mulutnya.


" Tentu sayang, bahkan secepatnya aku akan kembali " sahut Daniel, sambil mengecup puncak kepalanya.


Tanpa ia sadari, kini tangannya merengkuh erat tubuh Daniel dengan melingkarkan sepenuh tangannya pada tubuh tegap milik lelaki itu, " pokoknya setelah urusanmu selesai kau harus cepat kembali " pintanya yang justru terdengar seperti perintah pada Daniel.


Melihat tingkah itu, membuat Daniel begitu gemas. Di balasnya rengkuhan itu tak kalah erat, " nanti aku akan bicara pada ke dua orang tuaku " ucapnya tiba-tiba.


Elin menarik tubuhnya dari pelukan lelaki itu, " bicara ? " tanyanya serius.


Daniel mengangguk, " hemm.., aku ingin membicarakan kapan waktu pernikahan kita " jelasnya.


" Bukankah sudah di bicarakan ?".


" Ya, sepertinya aku ingin mempercepat pernikahan kita. Setelah aku kembali dari New York aku ingin kita segera menikah " ucapnya serius.


Elin terdiam sesaat, Namun juga tersenyum, " memang berapa lama kamu di New York , hemm ? ".


" Satu atau dua minggu "


Elin menghela nafas pelan, " ternyata cukup lama, aku kira kau hanya akan pergi beberapa hari " katanya mengeluh.


" Aku pasti akan mempercepat semuanya sayang "


Mendengar itu Elin justru menjadi sedikit kalang kabut, " aku hanya bercanda " ucapnya tersenyum, " selesaikan semuanya urusanmu, setelah itu baru kau kembali. Aku tidak akan kemana-mana, mau seberapa lama pun kau disana ".


" Tidak akan lebih dari dua minggu " potong Daniel, " bahkan akan lebih cepat dari itu " lanjutnya.


" Jadi setelah kau kembali kita akan langsung menikah ? "


" Hemm.., mau ku begitu. Aku sungguh tidak ingin lagi menundanya, bukannya pertemuan Meili dengan perjodohannya sudah selesai, jadi kita menunggu apa lagi ? "


" Kau terlihat tidak sabar Daniel " seru Elin tertawa.


" Sangat tidak sabar " sahutnya begitu serius, membuat tawa Elin perlahan memudar, " kau terlihat sedikit menakutkan " cercahnya.


" Apa kau mau ? " tanya Daniel kembali serius.


" Tentang ? "


" Sayang kita baru saja membicarakannya ? "


" Banyak hal yang baru saja kita bicarakan sayang, jadi katakan dengan benar padaku " sahut Elin yang sengaja ingin menggoda Daniel.


Lelaki itu kembali menghela nafas dan terlihat sedikit kesal, " kita akan menikah setelah aku kembali, apa kau siap ? ".


Elin kembali terdiam sejenak, lalu menatap dalam pada sorot mata Daniel, " emmm.. ba... ? ".


" Aku sungguh tidak ingin mendengar penolakan " potong Daniel.


" Baiklah " jawab Elin dengan melipat bibirnya, mendengar itu mata Daniel membesar, " kau serius ? " .


" Tentu Daniel, aku tidak akan bercanda dalam hal seperti ini " sahut Elin tegas dan tanpa menunggu Daniel kembali merengkuh erat tubuhnya, " sebaiknya bicarakan dulu pada kedua orang tua mu " tambah Elin dan Daniel mengangguk.


" Aku akan meminta Mami menyampaikan pada kedua orang tuamu, dan mempersiapkannya. Jadi setelah kembali kita akan langsung menikah " ucapnya begitu bahagia, Elin yang masih berada dalam rengkuhannya kini tersenyum dengan hati yang menghangat, " aku sangat berharap tidak ada hambatan untuk rencana ini " ucapnya dan Daniel mengangguk, " begitu pun aku sayang ".


" Jaga dirimu baik-baik selama aku pergi " tambahnya dan bergantian kini Elin yang mengangguk, " tentu ".


" Jangan lagi kemana-kemana kalau itu tidak begitu penting " lanjutnya dan Elin kembali mengangguk dan juga tertawa bersamaan, " ini terdengar agak posesif sayang " tukasnya, membuat Daniel tertawa, lalu kembali menatap serius, " aku hanya ingin tidak ada sesuatu yang bisa menghalangi pernikahan kita " ucapnya.


" Tidak akan terjadi apa-apa denganku disini " potong Elin, " justru kau yang harus berhati-hati disana, jaga kesehatanmu dan selesaikan dengan baik semua pekerjaanmu baru lah setelah itu kau kembali, seberapa lama pun kau pergi setelah kau kembali kita pasti akan langsung menikah " tambah Elin, yang kini berbalik menatap serius pada Daniel.


Cup


Tidak ada alasan untuk Daniel tidak melayangkan ciuman pada bibir Elin setelah pembicaraan yang membuat dirinya begitu bahagia, " aku pastikan secepatnya aku akan kembali " ucapnya lagi, lalu kembali ******* bibir ranum perempuan di hadapannya dengan lebih lama, dan Elin tidak akan menolak ciuman manis itu.