
Di New York.
Hannah tersandar disisi kursi setelah menyelesaikan langkah terakhirnya di lantai catwalk, " hampir saja tadi aku jatuh " ucapnya pada Vale yang kini tengah berjalan mendekat ke arahnya. Perempuan itu tersenyum, " aku tahu. Tapi aku yakin kau bisa mengatasinya " ucap Vale.
Hannah hanya tersenyum kecut sembari memejamkan matanya. Tubuhnya begitu lelah setelah melakukan jadwal kerja yang begitu padat. Bahkan akhir-akhir ini ia tidak punya waktu untuk menikmati kehidupan nyatanya. Dan beruntungnya hari ini jadwal terakhir ia bekerja sebelum kembali menjadi model untuk sampul majalah New York tiga hari lagi.
" Mike pasti begitu kesal " gumamnya dengan mata yang masih terpejam, sementara Vale tertawa mendengar itu, " kau benar-benar tidak punya waktu untuknya " sambungnya.
Hannah terperanjat dari sandarannya, " setelah kembali dari Indonesia aku benar-benar menjadi begitu sibuk" katanya, sambil mengingat apa yang terjadi padanya akhir-akhir ini.
" Itu karena jadwalmu begitu padat. Sepertinya setelah Fashion Show bersama Elin kemarin. Karirmu menjadi semakin bersinar Hannah, bahkan aku sampai kewalahan mengurus jadwalmu " kata Vale menimpali dan Hannah mengangguk, " aku juga menyadari itu " katanya membenarkan.
" Ngomong-ngomong bagaimana kabar dia sekarang ? " tanya Vale.
Hannah menghela nafas," bagaimana aku bisa tahu Vale, aku benar-benar tidak punya waktu bahkan untuk menghubunginya " katanya mengeluh, " tapi nanti aku akan menghubunginya " sambungnya lagi.
" Jangan ada yang menggangguku. Beberapa hari ini aku benar-benar ingin istirahat dengan tenang " cercanya pada Vale.
" Kau kira hanya kau saja. Aku juga tidak ingin di ganggu " potong Vale, " dasar bodoh kita ini sama, jika jadwalmu padat maka aku juga begitu... ".
" Dan kita sama lelahnya " potong Hannah tertawa, dengan Vale yang ikut tertawa, " aku benar-benar kesulitan untuk membuat kau libur " ucap Vale kembali serius, " kau benar-benar semakin terkenal Hannah ".
" ya ya aku juga menyadari itu " sahut Hannah tertawa, lalu kemudian tersenyum teduh pada Vale, " terimakasih Vale. Ini semua juga berkat kau " ucapnya dengan begitu lembut.
Bukannya tersanjung, mendengar itu membuat Vale menjadi geli, " jadi kau hari ini tidak akan pulang ? "
" Tidak, sepertinya aku akan berada di tempat Mike. Aku benar-benar harus membujuknya "
" Yah, padahal malam ini aku ingin menikmati Wine bersamamu ".
" Maaf " ucap Hannah dengan wajah memelas.
" Ceh, jangan perlihatkan wajahmu yang seperti itu padaku " cercahnya, membuat Hannah semakin tertawa, " aku harus menelpon kekasihku untuk menjemputku disini " gumamnya sambil bergerak merogoh ransel yang berada di meja di hadapannya, dan bersamaan benda itu berdering, " baru saja aku mau menghubunginya " ucapnya tersenyum dengan menebak bahwa handphonenya berdering karena telepon dari Mike.
" Eh Elin " pekiknya setelah melihat nama perempuan itu tertera di dalam layar. Mendengar itu, Vale yang semula tengah sibuk mengemasi barang-barangnya kini menghentikan aktivitasnya dan mendekat pada Hannah, " aku begitu penasaran dengan kabar calon Nyonya Remkez ini " ucapnya dan Hannah mengangguk.
" Hai Elin " sapanya pada panggilan Video yang baru saja berlangsung.
" Hai " sapa Elin dari seberang, " apa kau sedang bekerja Hannah ? " tanyanya.
" Hemm.., tapi baru saja selesai "
" Oh hai Vale, bagaimana kabarmu ? " sapa Elin lagi, " ah kebetulan kau juga disana " sambungnya sebelum sempat Vale menjawab sapaannya.
" Apa ada sesuatu yang serius ? " tanya Hannah yang kini menjadi penasaran setelah memperhatikan mimik wajah Elin.
" Emmm... "
" Apa kau baik-baik saja Elin ? " tanyanya lagi, sebelum kekasih Daniel Remkez itu menjawab pertanyaannya.
" Hannah Vale... " panggil Elin dengan wajah memelas, membuat Vale yang sedikit menjauh semakin merapatkan dirinya pada Hannah.
" Elin cepat katakan apa yang ingin kau katakan, jangan membuatku takut " cercah Hannah, dan Vale mengangguk, " apa kau membutuhkan sesuatu Nyonya muda Remkez ? " tanya Vale menimpali.
" Ya Elin, apa kau membutuhkan sesuatu ? " sambung Hannah.
Elin terdiam sejenak, lalu menarik nafas begitu dalam, " maafkan aku karena baru sempat mengatakan ini, semua begitu mendadak " katanya tersenyum kaku, dan itu berhasil membuat Vale dan Hannah semakin penasaran, " katakan dengan benar Elin " seru Hannah serius.
" Apa kalian bisa ke Indonesia ? "
" Kenapa ?, Apa ada sesuatu yang terjadi ?, apa kau membutuhkan sesuatu ? " cercah Hannah.
" Hannah tenang " seru Elin tertawa, " aku sungguh baik-baik saja, hanya saja... " katanya menggantung.
" Hanya saja apa Elin ? " pekik Hannah, " kau membuatku penasaran ".
" Aku sengaja " sahut Elin tertawa, lalu kemudian menatap serius, " aku sungguh ingin kalian berdua hadir di pernikahanku nanti, maaf begitu mendadak memberitahu, ini karena Daniel ingi.... "
" Tunggu-tunggu Elin " potong Hannah, " Biarkan aku mencerna ucapanmu dulu " sambungnya sambil berpikir, lalu kemudian matanya membesar, begitu pun Vale, " maksudmu kau akan menikah ? " tanya mereka tak percaya dan Elin mengangguk.
" Kapan ? ".
" Besok lusa " jawab Elin.
Mata Hannah benar-benar membulat, " bagaimana bisa kau baru memberitahuku sekarang huh " cercahnya.
" Ini mendadak Hannah, Daniel ingin mempercepat pernikahan kami. Apa kalian bisa datang hemm, aku sungguh ingin kalian disini... ".
" Vale chek jadwal penerbangan ke Indonesia " ucap Hannah tanpa basa-basi lagi dan itu membuat Elin yang berada di seberang panggilan tertawa, " kau memang terbaik Hannah " ucapnya begitu senang.
" Beruntungnya aku tidak mempunyai jadwal pekerjaan untuk tiga hari ke depan " ucap Hannah sambil menunggu Vale yang kini tengah berkutat dengan handphonenya.
" Ceh, kau berlebihan Hannah. Kalau begitu pernikahanku terjadi di waktu yang tepat, awalnya begitu khawatir karena kalian tidak bisa datang ".
" Itu tidak akan terjadi, sekali pun aku sudah mempunya jadwal. Aku akan memilih membatalkannya demi untuk ada di hari pernikahanmu "sahut Hannah.
" Ah Hannah, kau membuatku jadi ingin menikahimu " ujar Elin dengan bibir yang mengerucut gemas.
" Menggelikan " balasnya.
" Kau juga bisa datangkan Vale ? " tanya Elin pada perempuan yang kini masih begitu sibuk dengan benda pipihnya, " mana mungkin aku menolak undangan penikahan Calon Nyonya muda Remkez " balas Vale tertawa, dengan melihat sekilas pada Elin lalu kembali menatap pada layar handphonenya, " kau selalu berlebihan Vale " ucap Elin.
" Kapan kau ingin berangkat ? " tanya Vale pada Hannah.
" Jam berapa keberangkatan paling cepat ? "
" Nanti malam " sahut Vale dan Hannah terdiam sejenak, lalu melihat pada Elin, " apa kalian sudah memberitahu Mike ? " tanyanya.
" Aku tidak tahu, kalau dia belum memberitahumu sepertinya dia juga belum tahu. Mungkin Daniel ingin mengatakannya secara langsung "
" Memberitahu secara langsung ? " ulang Hannah tak mengerti.
" Hemm.., saat ini Daniel sedang di New York dan dia akan pulang besok "
" Benarkah ?, Apa kami datang bersama dia saja besok ? "
" Bukan ide yang buruk Hannah, itu justru lebih bagus. Aku akan memberitahu padanya kalau kalian akan ikut bersamanya nanti "
" Jadi kita tidak perlu mencari jadwal penerbangan lagi ? " timpal Vale, dengan cepat Hannah menggelengkan kepalanya, " jangan mempersulit diri jika ada yang mudah vale " sahutnya tertawa.
" Aku juga sudah menyiapkan pakaian untuk kalian di hari pernikahanku nanti " tambah Elin.
" Kau memang terbaik, kalau begitu sampai bertemu di Indonesia Nyonya muda " ucap Vale, membuat Elin berdelik lalu tertawa, " ya sampai bertemu disini ".
" Bye Elin, sepertinya aku akan kembali sibuk " gumam Hannah yang kini menjadi kalang kabut dan itu masih terlihat jelas dari tempat Elin, membuatnya tidak berhenti tersenyum.
" Apa ada after Party ? " tanya Hannah tertawa.
" Tentu " sahut Elin, " jadi bawa pakaian terbaik kalian untuk acara itu "
" Baiklah sampai bertemu di Indonesia Elin " ucap Hannah dan Elin mengangguk, " semoga perjalan kalian kemari menyenangkan, aku benar-benar tidak sabar menunggu kalian tiba disini ".
" Apa kau membutuhkan sesuatu untuk aku bawa kesana ? " tanya Hannah sebelum ia mengakhiri panggilan mereka.
Elin menggelengkan kepala, " aku hanya butuh kalian disini " ucapnya tertawa.
" Menggelikan " umpat Hannah, " Bye " tutupnya langsung tanpa pamit pada Elin yang masih tertawa di seberang layar.
" Kita tidak punya waktu untuk istirahat Vale " ucap Hannah tersenyum.
" Tapi ini terlihat lebih menyenangkan " ucap Vale.
" itu pasti " katanya. Lalu tersentak saat handphonenya kembali berdering, " Mike " ucapnya tersenyum, tanpa menunggu ia segera menjawab panggilan kekasihnya itu.
" Hai sayang, apa kau sudah tahu ? " tanyanya tanpa menunggu.
" Pernikahan Daniel dan Elin ? " sahut Mike dan Hannah mengangguk.
" aku baru saja ingin memberitahumu itu, ternyata kau sudah tahu " kata Mike tersenyum.
" Elin baru saja memberitahunya " jelas Hannah.
" Ya Daniel juga baru pulang dari sini "
" Kau bisa pergi ? " sambung Mike.
" Tentu sayang, kebetulan jadwalku kosong. Elin juga meminta Vale untuk datang jadi kita akan pergi bersama nanti "
" Baguslah, Daniel meminta kita untuk pergi bersama dengannya besok "
" Ya Elin juga bilang begitu "
" Kalau begitu sekarang aku dan Vale harus pulang dulu, ada banyak yang harus kami siapkan untuk keberangkatan besok " kata Hannah dengan tergesa-gesa.
" Yang akan menikah itu Elin sayang bukan kau " sergah Mike. Namu Hannah hanya mencebir tanpa peduli dengan ucapannya, " setelah selesai aku akan menghubungimu " katanya lalu menutup panggilan Mike tanpa pamit.
" Kau kejam Hannah " ucap Vale tertawa dengan tingkahnya.
" Kekasihku orang yang pengertian ? " sahutnya tersenyum, " Ayo Vale, temani aku mencari sesuatu untuk hadiah pernikahan Elin ".
" Oke, kebetulan juga aku ingin melakukan itu " sahur Vale sambil bergegas membereskan sisa pekerjaan yang tadi tertunda karena panggilan Video Elin.