Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Reymond Remkez


Drrrtttt drrrttt " Handphone yang di letakkan di atas nakas kembali berbunyi , membuat tidur Elin kembali terganggu.


Ia segera membuka matanya setelah menyadari suara dering yang terus berbunyi berasal dari benda pipih miliknya.


" David " gumamnya dengan sedikit membesarkan matanya setelah melihat nama panggilan telepon yang tertera pada layar handphone , sebelum menjawab panggilan itu ia masih menyempatkan untuk melihat kearah Daniel , memastikan jika laki-laki itu masih tertidur.


" Hallo " jawabnya pelan , sambil menjauh dari ranjang tempat dia dan Daniel tidur.


" Kau dimana ? , Apa kau masih sakit ? " tanya dari seberang telepon yang terdengar begitu khawatir.


" Tidak ,emmm..maksudku iya ,tubuhku kembali tidak enak , mungkin karena aku kurang tidur " jawabnya berkilah , " kenapa tidak menjawab teleponku padahal aku terus menghubungimu sejak tadi , dan emm..apa aku meminta bibi Jamie datang ke tempatmu "


" Maaf , aku tidak mendengar suara handphoneku berdering , dan jangan lakukan itu David ,aku sungguh tidak separah itu , emm..aku hanya sedikit pusing dan besok akan kembali bekerja "


" Sungguh ? "


" Tentu , itu bukan perusahaan milik keluargaku hingga aku harus berbuat seenaknya " ujar Elin tertawa.


" Ya, yang aku khawatirkan adalah kau akan di pecat jika besok kembali tidak masuk " sahut David yang ikut tertawa di balik telepon.


" Dan semua orang sedang mengkhawatirkan keadaanmu " lanjutnya lagi.


" Benarkah ? , aku memang lupa memberi kabar pada Kasih " ucap Elin dengan penuh penyesalan , " bisakah kau sampaikan pada mereka kalau keadaanku baik-baik saja "


"Aku bisa menyampaikannya tapi besok kau akan terus mendengar semua orang yang berada di ruangan itu akan menggoda kita "


" Kau benar David "


" Baiklah , biar nanti aku yang menghubungi Kasih "


" Terimakasih David ,sampai bertemu besok " ucapnya lagi.


" Apa kau sudah makan ? " potong David sebelum telepon itu di akhiri,


" emm..sudah "


" oh baiklah , kalau begitu sampai bertemu besok"


" Ya David " jawab Elin, lalu segera menutup panggilan itu sebelum seseorang menyadari keberadaannya yang tidak lagi berada di atas tempat tidur.


" Ternyata sudah begitu siang " gumamnya setelah melihat jam yang menunjukan pukul 11.23 am.


" Astaga " ucapnya begitu terkejut setelah memutar tubuhnya untuk kembali dan menemukan Daniel sudah berdiri tegak di hadapannya dengan berpegangan pada tiang infus ," Kau sudah bangun ? " tanya dengan begitu ketakutan.


" Siapa yang meneleponmu ? " tanya balik Daniel dengan wajah dinginnya.


" emm... teman kantorku "


" Apa dia laki-laki ? " tanyanya lagi , membuat jantung Elin nyaris keluar dari tempatnya.


" Ya , tapi sungguh dia hanya menanyakan alasan kenapa aku tidak kembali masuk " kata Elin menjelaskan dengan telapak kaki yang terasa begitu dingin karena perasaan yang begitu takut,


" kenapa harus pergi ? " tanya Daniel yang menatap dalam kedua bola mata Elin.


" emm..aku hanya takut mengganggu tidurmu , kau bisa memeriksanya jika tidak percaya " kata Elin yang langsung memberikan benda pipih miliknya pada Daniel.


" Ceh , ternyata kau begitu takut kalau aku akan salah paham " ujar Daniel tersenyum , membuat Elin menautkan kedua sisi alisnya , " apa kau tidak marah ? " tanya dengan hati-hati dan Daniel menggelengkan kepalanya.


" Aku akan percaya padamu ,sampai aku tidak menemukan hal yang mencurigakan " ucapnya.


" Aku memang tidak melakukan kecurangan dalam hubungan kita , dan sungguh ini hanya panggilan telepon dari seorang teman kerja " katanya kembali menjelaskan.


" Ya , tapi tidak ada yang menjamin tentang itu "


" Aku jaminannya " sahut Elin tertawa , membuat Daniel ikut tertawa dan mengecup gemas bibir seksi milik wanitanya itu.


" Ada apa ? " tanya Elin setelah melihat Daniel tiba-tiba terdiam dengan wajah begitu kaku sambil menatap tanpa bekerdip kearah belakang tubuhnya.


Ia segera memutar tubuhnya lalu mengikuti arah pandangan mata Daniel , dan dirinya ikut tertegun saat melihat laki-laki paruh baya yang sedang berjalan dengan begitu gagah kearah mereka , di ikuti beberapa orang bertubuh besar.


" Untuk apa dia datang kemari " gumam Daniel dengan wajah yang terlihat sedikit memerah dan rahang yang sudah mengeras ,


matanya semakin menatap tajam setelah laki-laki tua itu berada begitu dekat di hadapannya.


Dan Elin menatap tidak berkedip melihat dua orang dengan wajah yang begitu mirip namun dengan umur yang jauh berbeda.


" Ada apa anda datang kemari ? " tanya Daniel begitu dingin , sambil menarik tangan Elin untuk berada di belakang tubuhnya.


" Kau terlihat begitu baik " ucap suara berat yang suaranya juga terdengar sama persis dengan suara berat yang di miliki oleh Daniel , dan yang berbeda suara itu sedikit lebih serak.


" Tentu, seperti yang anda lihat aku sangat baik-baik saja "


" Apa mami yang memintamu untuk datang ? " lanjutnya , memberikan pertanyaan yang membuat lelaki paruh baya itu sedikit mengeraskan rahang tegasnya ,


" dalam keadaan seperti ini , kau masih saja terlihat begitu angkuh padaku " ucapnya membalas dengan tatapan tajam yang terus menatap kearahnya , " persilahkan dia masuk Daniel " ucap Elin pelan dari balik punggung kekasihnya.


" Tidak perlu sayang , dia hanya berada sebentar disini " sahut Daniel tanpa menurunkan tatapan tajamnya.


" Seperti yang kau lihat keadaanku sudah baik-baik saja , jadi pergilah , tidak ada lagi yang harus kau pastikan disini "


" Dan emm.. jangan pernah datang jika itu hanya untuk melihat keadaanku " lanjutnya , yang tidak lagi peduli dengan ucapan yang terdengar begitu tidak sopan.


" Apa kau sudah merasa begitu hebat huh ? , apa kau lupa ? , kau masih mengenakan nama belakangku pada namamu dan semua orang tahu kalau kau putra dari Reymond Remkez , jadi bertingkahlah sedikit sopan padaku " balas laki-laki paruh baya di hadapannya.


" Aku rasa aku sudah lebih sopan dengan tidak mengusir anda dari sini " ucap Daniel tanpa ampun.


" Kau ? " ucap meninggi Reymond dengan tangan yang hampir saja melayang pada wajah Daniel namun masih bisa ia tahan, " Kau benar-benar anak yang tidak tahu di untung , kau pikir siapa yang memberikan kehidupan mewah ini padaku huh "


" Kau begitu di hormati oleh semua orang itu karena aku , karena Reymond Remkez ayah Daniel Remkez dan seluruh dunia mengetahui itu " ucapnya dengan memperjelas setiap perkataannya.


" Ayah " ucap Daniel dengan tertawa kecil.


" Menjijikan " lanjutnya dan kembali menatap begitu tajam pada Reymond


" Kau benar-benar anak yang tidak tahu terimakasih " geram Reymod yang tidak lagi bisa menerima perkataan tidak sopan dari putranya.


Plaakk " suara tamparan yang mendarat begitu keras.


Brukk " suara tubuh yang terhempas di lantai.


" Mami " teriak Daniel begitu terkejut , setelah Viona menghadang tubuhnya untuk menerima pukulan Reymond dan itu terjadi begitu cepat.


" Viona " ucap Reymond yang tidak kalah terkejut.


" Jangan sentuh ibuku " teriak Daniel dengan mata yang sudah memerah karena begitu emosi dan tanpa sadar ia sudah melepas jarum infus yang terpasang pada punggung tangannya.


namun Reymond tidak peduli , ia segera mengangkat dan membawa tubuh wanita yang masih berstatus menjadi istrinya itu kearah ruang UGD yang terletak di ujung keridor rumah sakit , " maafkan aku " ucapnya dengan begitu menyesal karena melihat Viona yang tidak lagi sadarkan diri karena pukulannya.


jangan lupa vote , like dan coment🤗


dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚