
Drrrtttt drrrttt " Handphone yang di letakkan di atas nakas kembali berbunyi , membuat tidur Elin kembali terganggu.
Ia segera membuka matanya setelah menyadari suara dering yang terus berbunyi berasal dari benda pipih miliknya.
" David " gumamnya dengan sedikit membesarkan matanya setelah melihat nama panggilan telepon yang tertera pada layar handphone , sebelum menjawab panggilan itu ia masih menyempatkan untuk melihat kearah Daniel , memastikan jika laki-laki itu masih tertidur.
" Hallo " jawabnya pelan , sambil menjauh dari ranjang tempat dia dan Daniel tidur.
" Kau dimana ? , Apa kau masih sakit ? " tanya dari seberang telepon yang terdengar begitu khawatir.
" Tidak ,emmm..maksudku iya ,tubuhku kembali tidak enak , mungkin karena aku kurang tidur " jawabnya berkilah , " kenapa tidak menjawab teleponku padahal aku terus menghubungimu sejak tadi , dan emm..apa aku meminta bibi Jamie datang ke tempatmu "
" Maaf , aku tidak mendengar suara handphoneku berdering , dan jangan lakukan itu David ,aku sungguh tidak separah itu , emm..aku hanya sedikit pusing dan besok akan kembali bekerja "
" Sungguh ? "
" Tentu , itu bukan perusahaan milik keluargaku hingga aku harus berbuat seenaknya " ujar Elin tertawa.
" Ya, yang aku khawatirkan adalah kau akan di pecat jika besok kembali tidak masuk " sahut David yang ikut tertawa di balik telepon.
" Dan semua orang sedang mengkhawatirkan keadaanmu " lanjutnya lagi.
" Benarkah ? , aku memang lupa memberi kabar pada Kasih " ucap Elin dengan penuh penyesalan , " bisakah kau sampaikan pada mereka kalau keadaanku baik-baik saja "
"Aku bisa menyampaikannya tapi besok kau akan terus mendengar semua orang yang berada di ruangan itu akan menggoda kita "
" Kau benar David "
" Baiklah , biar nanti aku yang menghubungi Kasih "
" Terimakasih David ,sampai bertemu besok " ucapnya lagi.
" Apa kau sudah makan ? " potong David sebelum telepon itu di akhiri,
" emm..sudah "
" oh baiklah , kalau begitu sampai bertemu besok"
" Ya David " jawab Elin, lalu segera menutup panggilan itu sebelum seseorang menyadari keberadaannya yang tidak lagi berada di atas tempat tidur.
" Ternyata sudah begitu siang " gumamnya setelah melihat jam yang menunjukan pukul 11.23 am.
" Astaga " ucapnya begitu terkejut setelah memutar tubuhnya untuk kembali dan menemukan Daniel sudah berdiri tegak di hadapannya dengan berpegangan pada tiang infus ," Kau sudah bangun ? " tanya dengan begitu ketakutan.
" Siapa yang meneleponmu ? " tanya balik Daniel dengan wajah dinginnya.
" emm... teman kantorku "
" Apa dia laki-laki ? " tanyanya lagi , membuat jantung Elin nyaris keluar dari tempatnya.
" Ya , tapi sungguh dia hanya menanyakan alasan kenapa aku tidak kembali masuk " kata Elin menjelaskan dengan telapak kaki yang terasa begitu dingin karena perasaan yang begitu takut,
" kenapa harus pergi ? " tanya Daniel yang menatap dalam kedua bola mata Elin.
" emm..aku hanya takut mengganggu tidurmu , kau bisa memeriksanya jika tidak percaya " kata Elin yang langsung memberikan benda pipih miliknya pada Daniel.
" Ceh , ternyata kau begitu takut kalau aku akan salah paham " ujar Daniel tersenyum , membuat Elin menautkan kedua sisi alisnya , " apa kau tidak marah ? " tanya dengan hati-hati dan Daniel menggelengkan kepalanya.
" Aku akan percaya padamu ,sampai aku tidak menemukan hal yang mencurigakan " ucapnya.
" Aku memang tidak melakukan kecurangan dalam hubungan kita , dan sungguh ini hanya panggilan telepon dari seorang teman kerja " katanya kembali menjelaskan.
" Ya , tapi tidak ada yang menjamin tentang itu "
" Aku jaminannya " sahut Elin tertawa , membuat Daniel ikut tertawa dan mengecup gemas bibir seksi milik wanitanya itu.
" Ada apa ? " tanya Elin setelah melihat Daniel tiba-tiba terdiam dengan wajah begitu kaku sambil menatap tanpa bekerdip kearah belakang tubuhnya.
Ia segera memutar tubuhnya lalu mengikuti arah pandangan mata Daniel , dan dirinya ikut tertegun saat melihat laki-laki paruh baya yang sedang berjalan dengan begitu gagah kearah mereka , di ikuti beberapa orang bertubuh besar.
" Untuk apa dia datang kemari " gumam Daniel dengan wajah yang terlihat sedikit memerah dan rahang yang sudah mengeras ,
matanya semakin menatap tajam setelah laki-laki tua itu berada begitu dekat di hadapannya.
Dan Elin menatap tidak berkedip melihat dua orang dengan wajah yang begitu mirip namun dengan umur yang jauh berbeda.
" Ada apa anda datang kemari ? " tanya Daniel begitu dingin , sambil menarik tangan Elin untuk berada di belakang tubuhnya.
" Kau terlihat begitu baik " ucap suara berat yang suaranya juga terdengar sama persis dengan suara berat yang di miliki oleh Daniel , dan yang berbeda suara itu sedikit lebih serak.
" Tentu, seperti yang anda lihat aku sangat baik-baik saja "
" Apa mami yang memintamu untuk datang ? " lanjutnya , memberikan pertanyaan yang membuat lelaki paruh baya itu sedikit mengeraskan rahang tegasnya ,
" dalam keadaan seperti ini , kau masih saja terlihat begitu angkuh padaku " ucapnya membalas dengan tatapan tajam yang terus menatap kearahnya , " persilahkan dia masuk Daniel " ucap Elin pelan dari balik punggung kekasihnya.
" Tidak perlu sayang , dia hanya berada sebentar disini " sahut Daniel tanpa menurunkan tatapan tajamnya.
" Seperti yang kau lihat keadaanku sudah baik-baik saja , jadi pergilah , tidak ada lagi yang harus kau pastikan disini "
" Dan emm.. jangan pernah datang jika itu hanya untuk melihat keadaanku " lanjutnya , yang tidak lagi peduli dengan ucapan yang terdengar begitu tidak sopan.
" Apa kau sudah merasa begitu hebat huh ? , apa kau lupa ? , kau masih mengenakan nama belakangku pada namamu dan semua orang tahu kalau kau putra dari Reymond Remkez , jadi bertingkahlah sedikit sopan padaku " balas laki-laki paruh baya di hadapannya.
" Aku rasa aku sudah lebih sopan dengan tidak mengusir anda dari sini " ucap Daniel tanpa ampun.
" Kau ? " ucap meninggi Reymond dengan tangan yang hampir saja melayang pada wajah Daniel namun masih bisa ia tahan, " Kau benar-benar anak yang tidak tahu di untung , kau pikir siapa yang memberikan kehidupan mewah ini padaku huh "
" Kau begitu di hormati oleh semua orang itu karena aku , karena Reymond Remkez ayah Daniel Remkez dan seluruh dunia mengetahui itu " ucapnya dengan memperjelas setiap perkataannya.
" Ayah " ucap Daniel dengan tertawa kecil.
" Menjijikan " lanjutnya dan kembali menatap begitu tajam pada Reymond
" Kau benar-benar anak yang tidak tahu terimakasih " geram Reymod yang tidak lagi bisa menerima perkataan tidak sopan dari putranya.
Plaakk " suara tamparan yang mendarat begitu keras.
Brukk " suara tubuh yang terhempas di lantai.
" Mami " teriak Daniel begitu terkejut , setelah Viona menghadang tubuhnya untuk menerima pukulan Reymond dan itu terjadi begitu cepat.
" Viona " ucap Reymond yang tidak kalah terkejut.
" Jangan sentuh ibuku " teriak Daniel dengan mata yang sudah memerah karena begitu emosi dan tanpa sadar ia sudah melepas jarum infus yang terpasang pada punggung tangannya.
namun Reymond tidak peduli , ia segera mengangkat dan membawa tubuh wanita yang masih berstatus menjadi istrinya itu kearah ruang UGD yang terletak di ujung keridor rumah sakit , " maafkan aku " ucapnya dengan begitu menyesal karena melihat Viona yang tidak lagi sadarkan diri karena pukulannya.
jangan lupa vote , like dan coment🤗
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚