
Sesi ikrar janji suci kini telah usai.
Tanpa peduli dengan apa yang sedang di ocehkan oleh pembawa acara, Daniel menarik tubuh Elin, merengkuh tubuh perempuan itu begitu erat ke dalam pelukannya.
Elin yang semula tersentak, kini terdiam sejenak di dalam pelukan Daniel. Dan bibirnya yang merona oleh lipstick perlahan melengkung, " kita sudah menikah " ucapnya tersenyum hangat dan mengusap lembut punggung lelaki itu.
Matanya sejenak melebar dan bersamaan Bibirnya semakin melengkung dengan sempurna saat menyadari ada isak tangis dari tubuh yang kini tengah merengkuhnya, " kau menangis ? " tanyanya, seraya ingin menarik tubuhnya dalam dekapan itu.
" Jangan di lepaskan ! " seru Daniel, " sebentar saja please " katanya lagi.
Elin menghela nafas, lalu kembali tersenyum, " kau membuatku takut " katanya lemah.
" Aku terlalu bahagia sampai aku menangis " balas Daniel, dengan suara yang parau.
Elin tidak lagi bicara. Namun jari jemarinya yang di hiasi hennah berwarna putih terus mengusap lembut punggung suaminya. Dengan bibir yang terus melengkung, " aku juga sangat bahagia " katanya begitu lemah. Dan bersamaan suara riuh langkah kaki mulai terdengeran.
" Kak Daniel, bisakah kita bergantian memeluk Elin. " pinta Amel , " Kau bisa melanjutkannya nanti " katanya lagi.
Mendengar itu Daniel segera mengusap matanya. Menghapus sisa air matanya yang sebenarnya masih ingin mengalir, " ya silahkan " ujarnya dengan berat hati melepas rengkuhannya pada Elin. Sementara perempuan justru tersenyum menatap ke arahnya.
" Kau menangis kak ? " seru Elin tak percaya. Membuat semua orang yang berada di antara itu kini melihat pada Daniel.
Dengan tertawa Nathan langsung merengkuh tubuh pangeran kota New York yang kini tengah tertunduk malu, " kau sangat keren Man " katanya memuji, lalu Alfin menimpali pelukan itu, " angkat kepalamu sobat. Hanya lelaki keren yang menangis di hari pernikahannya " tambahnya dengan bangga.
" Ceh " decih Amel, " seolah dia menyebut dirinya sendiri " katanya mengatai suaminya. Lalu kembali melihat pada Elin. Dengan tangan yang sudah merentang ia siap kembali merengkuh tubuh perempuan itu. dan kembali menangis karena terharu, " Eliiiiinn... " pekiknya, dengan bibir yang sudah mengerucut.
Dan bersamaan suara dengungan mikrofon terdengar.
" Bisakah, Groomsmen dan Bridesmaidnya minggir sebentar. Karena sekarang tiba sesi kedua mempelai untuk sungkeman kepada kedua orang tuanya " ujar pembawa acara, membuat Amel harus menutup kembali rentangan tangannya dan bergumam kesal, " nanti kau bisa memelukku sepuasnya Mel " kata Elin tertawa.
" Hemm... " sahut perempuan itu dengan wajah yang sudah di tekuk sambil turun dari lantai pelaminan.
Ke empat orang tua pengantin kini telah duduk berjajar. Dan disana Mala terlihat tidak berhenti mengusap tissue ke arah matanya yang sudah memerah karena tidak berhenti menangis.
Sedangkan Viona saat ini terlihat lebih tegar, Namun itu hanya sebentar, sebelum putranya duduk membungkuk di hadapannya, dan saat itu air matanya kembali menetes bahkan lebih deras mengalir dari sebelumnya.
" Silahkan kepada kedua mempelai untuk sungkem terlebih dahulu pada Ibunya masing-masing, lalu kepada ayahnya " perintah sang pembawa acara.
Suasana kembali sedikit menghening, dengan semua orang yang kini berdiam dengan tenang untuk menyaksikan moment kedua yang paling mengharukan dalam sesi sebuah pernikahan setelah mengikrarkan janji suci.
Dan kini Elin sudah tertunduk di hadapan Mala. Bahkan ia belum bicara sepatah kata pun. Namun tangannya sudah berulang kali bergerak untuk menyeka air mata yang mulai kembali menetes. Dan seolah tak sabar, Mala mengangkat tubuh perempuan berbalut kebaya itu, lalu merengkuhnya dengan begitu erat, " jangan mengucapkan terimakasih.. " katanya dengan terisak, " kau sudah menjadi anak yang sangat baik. Ibu lah yang harusnya berterima kasih padamu saat ini... "
Elin yang belum mengucapkan sepatah kata pun kini semakin terisak di dalam pelukan Mala, bahkan tangisannya kini mulai tersendat, " Kau putriku. Anak pertama di keluarga ini... " kata Mala terus menangis, " Jadi jangan katakan sesuatu yang seolah kau bukan siapa-siapa, kau putriku dan selamanya begitu. Sampai kau punya anak nanti dan bahkan sampai kau punya cucu nanti.. Kau tetap putriku " sambung Mala dengan tangisan yang kini mulai ikut tersendat.
Elin semakin mengeratkan pelukannya. Kini ia benar-benar tidak bisa mengatakan apa-apa lagi selain terus menangis, " Terimakasih Ibu " ucapnya pada Mala. hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulutnya saat ini, sebelum pelukannya berpindah pada Bimo.
dan saat ini Lelaki paruh baya itu terlihat sedikit lebih tegar dari istrinya, tapi air matanya juga tidak berhenti menetes. Di rengkuhnya dengan begitu erat tubuh Elin, " Kau tidak akan melupakan Ayah kan ? " ucapnya dengan lirih.
Mendengar itu Elin kembali menangis sejadi-jadinya, " itu tidak mungkin terjadi Ayah. Kenapa mengatakan hal seperti itu " kata Elin dengan menarik diri dari pelukan itu, lalu menatap dengan lamat wajah ayahnya.
" Aku hanya takut kau melupakan kami... " ucap Bimo dengan terisak dan wajah yang tertunduk. Tangannya bergerak mengusap air mata yang kini mengalir semakin deras pipinya.
" Ayah itu tidak akan mungkin. Sampai kapan pun kalian orang tuaku, tidak akan ada yang berubah ".
Adegan Ayah dan anak itu membuat semua orang kini menatap terharu. Bahkan sebagian dari mereka kini sudah ikut menangis.
Elin kembali memeluk tubuh ayahnya, bahkan mencium pipi lelaki paruh baya itu berulang kali, " Tidak akan ada yang menggantikan tempatmu ayah.. " ucapnya dengan sangat lembut, " Pulanglah jika suatu hari kami memintamu pulang. Rumah ini akan selamanya menjadi rumahmu, tempatmu kembali dan tempatmu ingin pulang... " ucap Bimo dan Elin mengangguk di dalam pelukannya.
" Kemana pun aku pergi. Disinilah aku akan kembali ayah " ucapnya, sebelum pelukan itu berakhir.
Sementara Daniel kini masih berada di dalam rengkuhan Viona. Lebih dari sepuluh menit wanita itu menangis tanpa bicara, " Mam... " panggil Daniel dengan lembut.
" Berhenti menangis. Aku sedang menikah, bukan berada di rumah sakit Mam " katanya dengan tertawa kecil.
" Ma..mi be..gitu ter..ha.ha.ru karena akhirnya ka..u menikah " Kata Viona dengan tersendat. Tangisnya benar-benar tidak bisa ia hentikan meski sebenarnya ia sudah berusaha melakukannya. Namun suasana haru dan rasa Emosional seorang Ibu dalam dirinya, membuat tangis itu tak ingin berakhir.
Melihat itu Daniel semakin tersenyum. Di kecupnya pipi wanita paruh baya itu dengan lembut, " berhenti menangis. Ingat wajahmu sekarang akan berada di dalam berita New York " bisiknya, membuat Viona terdiam sejenak, lalu kembali menangis, " aku tidak peduli " ucapnya.
Daniel semakin tertawa lalu menarik nafasnya sedikit panjang dan terdiam sejenak, " Mam aku mohon jangan menangis. Aku benar-benar bahagia hari ini... " katanya menjeda dan saat itu tangis Viona sedikit melamban, " jika melihatmu seperti itu, aku akan menjadi sedih " sambungnya, dengan mata yang kini menatap sendu.
Dengan cepat Viona mengusap air matanya, "lihat, lihat Mami sudah tidak lagi menangis " katanya dengan tangan yang terus bergerak menepis air matanya.
Daniel kembali tersenyum, " jangan menangis " ulangnya lagi. " tidak akan ada yang berubah Mam, selamanya aku akan menjadi putramu. Dan aku akan menjadi suami yang baik untuk menantumu dan akan menjadi ayah yang baik untuk cucumu nanti " kata Daniel dengan sedikit lantang, " jadi yakinlah padaku Mam. Anakmu akan menjadi pria yang bertanggung jawab... ".
" Aku hanya terharu... " kata Viona yang kembali ingin menangis.
" Please.. " pinta Daniel dengan memohon, " kau harus melepas anakmu dengan senyuman Mam, bukan dengan air mata "
Viona kini mengadah, bergerak mengusap kembali air mata yang ingin menentes, " Kau lihat mami tidak lagi menangis " katanya lagi, " sana pindah ke papimu " pintahnya dengan kepala yang masih mengadah.
Daniel kini kembali tersenyum. Namun belum berpindah.
Di peluknya kembali tubuh Viona dengan begitu erat, " terimakasih Mam. Terimakasih telah melahirkanku, membesarkanku, dan terimakasih karena aku seorang laki-laki yang terlahir dari lahirmu "
Dengan posisi yang masih sama Viona kembali terisak, " kau yang membuat Mami tidak berhenti menangis Daniel... " cercahnya, " cepatlah pindah pada papimu, atau mami akan terus menangis " katanya lagi. Dengan tertawa Daniel mengecup pipinya sekali lagi, lalu bergerak ke hadapan Reymond.
Tanpa menunggu lelaki gagah itu memeluk tubuhnya.
Tidak ada tangis terisak disana, hanya beberapa tetes air mata penuh haru dan bahagia yang keluar dari mata Reymond, " Jadilah pria yang bertanggung jawab nak... " katanya menjedah, " jangan mencontoh apapun dariku " sambungnya dengan sedikit terisak dan rasa penyesalan luar biasa yang tiba-tiba hadir di dalam benaknya.
" Kau tetap ayah yang luar biasa untuk aku dan Meili " ucap Daniel, dan saat itu lah tangis Reymond pecah. Hatinya seperti tersambar petir oleh ucapan putranya, " maafkan aku " ucapnya dengan tersendat.
" Tidak ada yang perlu di maafkan pap. Semua orang punya kesalahan... " kata Daniel, yang kini melepas dirinya dari pelukan Reymond, lalu memegang tangan lelaki itu dengan begitu lembut, " kau kembali, itu sudah lebih dari apapun " ucapnya lagi, membuat Reymond kini kembali tertunduk dengan terisak.
Sekarang bergantian Elin yang duduk membungkuk di hadapan Viona, " bagaimana aku bisa berhenti menangis kalau seperti ini " ujar Viona dengan air mata yang kembali meleleh saat menatap Elin di hadapannya. Namun itu nampak sedikit lucu di mata semua orang.
" Kemarilah, kemarilah peluk ibumu ini... " pintanya dan dengan tersenyum Elin merengkuh tubuhnya, " jangan menangis mam..." katanya sambil mengusap punggung Viona.
" Bagaimana mungkin aku bisa berhenti menangis, aku terlalu bahagia hari ini " cercah Viona dengan air mata yang kembali berlinang di pipinya, " Nak... " panggilnya begitu lirih.
" Mam... " balas Elin langsung memotong, " jangan mengatakan apapun, jika itu kata Maaf. Aku tidak ingin mendengar itu hari ini, bahkan selanjutnya juga tidak. Semua sudah berlalu dan berakhir Mam. Dan hari ini kita memulai kehidupan yang baru .. " cercahnya.
Sementara Viona kini semakin terisak, " mustahil aku akan berhenti menangis kalau seperti ini ".
" Tolong jangan segan memarahiku jika aku melakukan kesalahan nanti, dan tolong ajari aku menjadi istri yang baik dan sabar sepertimu Mam.. " pinta Elin, dan dengan air mata yang masih berlinangan Viona mengangguk, " bahkan aku akan menjewer kupingmu nanti " katanya, membuat Elin kini kini tertawa, sebelum akhirnya ia menarik nafas sangat dalam, " dan jangan berhenti menyayangiku " pintanya dengan lirih dan Viona dengan cepat mengangguk, " tanpa kau minta sekali pun... " ucapnya dengan kembali merengkuh tubuh Elin dengan begitu erat, " selamat datang Nyonya mudah " ucapnya dengan tersenyum.