
Meili memilih duduk di salah satu kursi kosong di meja tamu, ketika betis kakinya mulai terasa pegal oleh sepatu Dior dengan hak 12cm yang ia gunakan.
Tangannya memijat kecil kaki putihnya. Sambil tertawa melihat sekumpulan orang yang sedang asik bergerak mengikuti alunan musik.
Salah satu hal yang membuatnya tersenyum adalah tingkah menantu dan anak tertua keluarga Vernandes. Yang berdansa begitu usil di tengah himpitan semua orang.
Udara semakin terasa dingin untuk tubuhnya yang hanya menggunakan gaun tanpa lengan hasil karya Valentino Garavani. Telapak tangannya tanpa sadar saling bergesek untuk membuat tubuhnya terasa lebih hangat. Namun matanya tak berhenti melihat pada pertunjukan menyenangkan di hadapannya, " Minumannya Nona ", kata seseorang menghampiri.
tanpa melihat, tangannya bergerak untuk mengambil gelas yang di tawarkan.
" Terimakasih " ucapnya dengan terus menatap objek yang membuatnya begitu tertarik untuk bergabung, tapi pergelangan kakinya yang sedikit sakit. Menghentikan niatnya untuk saat ini.
" Kakimu sakit ? ", tanya seseorang yang baru saja ia sadari telah duduk di sampingnya. Matanya kini teralih untuk melihat kesamping dan hal itu cukup untuk membuat lidahnya tercekat sementara untuk bicara, " kakimu sakit ? ", tanya sekali lagi.
" Aku tidak apa-apa ? " sahutnya cepat, menyadari lelaki di sampingnya kini telah mencondongkan tubuhnya ke bawah dengan mengamati sepasang kakinya.
" Aku sungguh tidak apa-apa Jerry ", titahnya dengan sedikit lebih lantang. Kalau saja suara musik tidak lebih besar dari suaranya. Mungkin semua orang akan melihat ke arah mereka saat ini.
"Kau yakin ?"
" Hmmm.. " sahutnya mengangguk dan jelas berbohong. Kenyataannya satu tangannya masih berada beberapa menit di kakinya, sebelum ia melihat tatapan tak percaya Jerry.
" Kau lelah ?", kata Jerry, berusaha kembali memulai pembicaraan.
" Sedikit ", singkat Meili menjawab. Ia cukup terlihat sedikit angkuh untuk orang-orang yang tidak tahu jika saat ini jantungnya berdegub lebih cepat. Berusaha sedikit menenangkan dirinya tanpa kembali berani melihat pada pria di sisinya.
Suasana kemudian menghening, di tengah suara pekikan di tengah pesta.
Dan saat ini suara musik tidak lebih besar terdengar dari suara jantung Meili. Dan keseruan di hadapannya tidak lagi semenarik tadi.
Ia menyadari jelas kalau saat ini Jerry mulai bangun dari duduknya, lalu tanpa di sadari, ia menatap cepat pada lelaki itu. Memandang bingung ketika ia pikir lelaki itu akan pergi. Namun nyatanya kini tengah bergerak membuka jas berwarna hitam yang digunakan.
Jerry tak banyak bicara saat mengaitkan Jas yang tadi ia gunakan ke tubuh Meili. Bahkan tak meminta izin untuk melakukan itu, " jangan menolak ", sergahnya, sebelum bibir Meili mulai bergerak dan ia semakin merapatkan lebih erat pakaian tebalnya itu ke tubuh wanita yang memandang penolakan pada perbuatannya, " kau kedinginan ! ", sergahnya cepat, saat menyadari tangan Meili mulai bergerak untuk melepas jas yang ia kenakan. Matanya memandang serius pada bola mata biru teduh yang kini terlihat lebih menyala oleh pantulan cahaya lampu.
" Tidak. Aku sungguh biasa saja " ucap Meili, tapi tangannya tidak lagi berusaha untuk melepas jas hitam itu dari tubuhnya. Bibirnya tersenyum kaku, menyadari mata Jerry masih menatapnya begitu lekat, " aku tinggal di negara yang bersalju, dude ", katanya lagi, dengan menarik lebih tinggi garis bibirnya. Tapi itu tak membuat mata Jerry berhenti menatap lekat.
" Kau berulang kali menggosok tanganmu Nona ", sergah Jerry yang kini menatap lebih serius.
Meili menelan ludah menyadari tatapan yang membuat jantungnya berdegub semakin rumit. Tidak, bukan karena tatapan tapi ada sesuatu yang sekejap ia sadari. Bahwa ternyata lelaki di hadapannya telah memperhatikannya dari tadi dan itu berhasil membuat rasa yang aneh, yang kini tiba-tiba hadir di dalam dirinya.
" Angin malam Indonesia tidak kalah menusuk dari angin malam New York ", sambung Jerry, " dan kau tidak lagi menggunakan Mantel dengan bulu domba saat ini ", katanya sambil bergerak memperat jaz hitamnya lagi, pada wanita yang kini terdiam dan menatapnya.
" Siapa ini Jer ? ", tanya seseorang, yang tanpa mereka sadari telah berada di antara mereka.
Jerry menelan ludah sekejap, lidahnya keluh untuk menjawab pertanyaan ringan. Namun berat untuk lidahnya bergerak.
Hanya mata yang bergerak menatap singkat pada Meili yang kini tengah tersenyum kaku.
" Rey, perkenalkan ini Meili ", katanya begitu kaku. Dan Rey menyadari begitu jelas hal yang tidak biasa padanya.
Mata Rey menatap singkat pada Jerry. Melemparkan pandangan penuh godaan, lalu kemudian tersenyum dan mengulurkan tangannya, " Rey ", katanya pada Meili.
" Meili ", ujar Meili membalas jabatan tangannya dengan singkat.
" Apa yang terjadi disini ? " tanya seseorang yang tiba-tiba ikut bergabung, lalu merangkul pundaknya. dan itu berhasil membuat Jerry menelan ludahnya lagi.
" Kau menyadari atmosfer yang aneh Den ", tukas Rey dengan menahan senyum.
Jerry menarik nafas, saat Deni menatap lekat padanya lalu menatap lagi pada Meili, " kau pasti pacar bajingan ini ", tukas Deni tanpa bisa menahannya, lalu mengulurkan tangannya pada Meili, " aku Deni, kami teman sekolah bajingan ini " katanya memperkenalkan diri dengan bahasa inggris dan tanpa memperdulikan sikap Jerry yang semakin salah tingkah.
" Meili " ucap Meili kembali menyebutkan namanya. Ntah ia kini menyadari atau tidak, mata Jerry yang kini memandang penuh tekanan padanya.
" Ada apa denganmu bung ", sergah Deni yang menyadari sikap salah tingkah Jerry. Sementara Rey sudah tidak bisa menahan untuk tidak tertawa, " kau membuatnya takut Den. Dia takut kau akan membuat wanita ini pergi ", ujar Rey di sela tertawanya.
" Tunggu, apa kalian baru berkenalan " tuduh Deni.
" Sepertinya " sambung Rey, " makanya kau jangan menghancurkan usahanya ".
" Nona, walau dia bentuknya seperti ini tapi dia sungguh lelaki yang baik " kata Deni pada Meili dengan berusaha untuk tidak tertawa.
" Jangan menggodanya Den ", kata Jerry yang tiba-tiba bicara dan itu sedikit berhasil membuat mata Meili melihat sebentar ke arahnya.
" Kau cemburu ? ", tuduh Deni tertawa.
" Dia mengerti bahasa indonesia ", jelas Jerry, membuat Deni dan Rey cukup terkejut, setelah dari tadi terus berbicara bahasa inggris pada perempuan itu.
" Kalian akan membuatnya risih ", sambung Jerry, yang berpikir bahwa kini Meili tengah merasa tidak nyaman pada guyonan dua temannya.
" Dia adik ipar Elin ", katanya kembali menjelaskan.
Ia harus membuang jauh-jauh harapan bahwa perempuan itu akan menjawab pertanyaan Deni, mengatakan bahwa dia adalah tunangannya. Tapi saat ini, ia menyadari itu angan yang terlalu jauh, mengingat tidak ada yang spesial di antara mereka, kecuali rasanya yang bertepuk sebelah tangan dan perjodohan yang tidak di inginkan oleh perempuan itu sendiri.
Ia mengalihkan pandangannya. Menarik nafas dan berpikir cepat untuk menjawab pertanyaan yang lebih sulit dari soal logaritma, " pertanyaanmu membuatnya takuu.. ".
" Aku tunangannya " ucap Meili tiba-tiba. Hal itu terdengar seperti suara guntur di siang bolong di telinga Jerry. Mengejutkan tapi membuatnya ingin mendengar lagi. Kembali ia melihat pada perempuan itu, memandang tak percaya pada apa yang baru dia katakan.
" Kau tunangannya ? " kata Rey mengulang tak percaya, dengan menunjuk ke arah Jerry, yang kini terlihat lebih tak percaya, " ya, aku tunangannya ", kata Meili tersenyum kaki, tapi tidak terjadi pada Jerry yang tiba-tiba terasa linglung dan jika saja keberadaan dokter THT, lebih dekat saat ini. Ia akan berlari untuk datang ke tempat itu dan mempertanyakan pendengarannya, apakah tidak sedang bermasalah saat ini.
" Kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi Jer " seru Deni kecewa.
" Tunggu, tadi kau bilang dia adik ipar Elin bukan. Jadi .. ",
" Jadi Jerry dan Elin akan menjadi saudara ipar teman-teman ", ujar Green menyambung, yang tiba-tiba ada disana, dan mungkin sudah menyimak sejak tadi.
" Oh astaga ", pekik Rey tertawa, " ini mengejutkan. Kenapa kau merahasiakannya huh " sambungnya mencercah Jerry yang saat ini masih terdiam, " aku baru saja ingin mencarikanmu pacar ", sambungnya lagi sambil memukul dada bidang Jerry.
" Sama, aku pikir selama ini dia terlalu sibuk bekerja sampai tidak punya pacar ", kata Deni menyambung.
Green tertawa, " kalian akan benar-benar terkejut jika tahu ceritanya ".
" Ceritakan kalau begitu ", sergah Willy yang tiba-tiba juga telah berada disana.
" Aku tidak punya waktu untuk itu sekarang dan itu urusan Jerry, jadi kalian teror saja nanti dia untuk menceritakannya ".
" Ceritakan sekarang ", tandas Rey tak sabar pada Jerry.
" No, lakukan itu nanti " kata Green menyela, " karena saat ini sudah waktunya pelemparan bunga " sambungnya sambil mendorong tubuh Rey, Willy dan Deni ke arah tagar tempat Elin dan Daniel berdiri saat ini, " kami tidak akan melakukan hal itu Green ", protes Deni.
" Kenapa tidak, kalian belum menikahkan ", sahutnya sambil terus mendorong tubuh ketiga laki-laki itu yang kini tidak lagi mempunyai alasan untuk menolak.
" Hei, apa kalian akan tetap disini ? " teriaknya pada Jerry dan Meili yang kini saling berdiri dengan kaku.
" Tidak, aku juga akan ikut ", balas Meili, yang sedikit bernafas legah karena bisa keluar dari zona yang membuat aliran darahnya mengalir tidak normal, seperti membeku pada bagian-bagian tertentu.
" Tunggu " titah Jerry menarik tangannya.
Ia tak berusaha untuk tetap melanjutkan langkahnya, meski setelah memberhentikan geraknya, justru kini Jerry yang bergerak menjauh dan beberapa detik kemudian kembali dengan membawa sepasang sandal hotel yang di ambil dari seorang pelayan.
Kemudian ia berjongkok tepat di hadapan Meili, " Sementara gunakan ini " pintanya, dengan sambil memegang heels yang Meili gunakan untuk di lepas.
Dan kali ini tidak ada usaha untuk penolakan atas perbuatannya. Perempuan itu mengangkat kakinya, Namun kemudian berhenti.
" Berpegang disini ", ujar Jerry yang langsung memahami situasi. Dan menarik kedua tangan Meili untuk berpegang pada pundaknya. Dan lagi-lagi perempuan itu tidak menolak.
" Maaf hanya ada sandal hotel ", katanya ketika benda itu terpasang di kaki putih Meili.
" Ini jauh lebih baik ", jawab Meili tersenyum. Ia benar-benar tersenyum, senyuman yang bahkan pertama kali di lihat oleh Jerry.
" kau nyaman menggunakannya ? ".
" Hmmm.. " sahutnya lagi di sertai dengan anggukkan.
" Hei kalian berdua, cepatlah kemari " seru Green yang kembali berteriak.
" Ayo " ajak Jerry mulai bergerak.
" Tunggu "
" Ada apa ? "
" Apa kau akan terus memegang sepatu itu ? " tukas Meili, menatap pada tangan Jerry yang kini membincang heels dengan kilatan kristal miliknya, " memangnya kenapa ? ",
Mata Meili membesar mendengar pertanyaan berbalik itu, " letakan saja itu disini Jerry. Kau tidak perlu membawanya ", katanya sambil ingin mengambil alih sepasang benda mahal itu. " memangnya kenapa kalau aku terus membawanya ?".
" Itu terlihat tidak lucu " jawab Meili sekenanya, dengan bergerak menjangkau sepatu yang di tinggikan oleh Jerry, " lebih tidak lucu kalau sepatu ini hilang disini " tukasnya dan tanpa menunggu, ia menarik tangan Meili untuk berjalan lebih cepat menuju semua orang yang kini tinggal menunggu kehadiran mereka berdua.
" Cepat Meil, aku sudah tidak sabar ingin menyambut bunganya " seru Hannah tidak sabar, " Lin, pastikan kau melempar ke arahku " pintanya tertawa, di tengah orang-orang yang sepertinya juga berharap besar untuk menyambut bunga pengantin Elin.
Bahkan Jerry kini sudah melepas tangan Meili demi mengatur posisi untuk bisa leluasa merebut bunganya nanti. Begitu pun Deni, Rey dan Willy yang tadi menolak.
Semua orang berada bersemangat untuk merebut lemparan bunga pengantin, kecuali Dua pasang anak menantu keluarga Vernandes.
Daniel dan Elin saling tersenyum dan saling berpegang pada buket bunga mawar putih metalik yang menjadi bunga pernikahan mereka, " berjanjilah untuk terus bersamaku " ucap Daniel dengan suara yang sedikit parau dan Elin mengangguk dengan yakin.
" Satu... " teriak pembawa acara, " Dua..., tii.... " belum habis dia memberi aba-aba untuk waktunya bunga di lemparkan. Suara teriakan histeris para penanti bunga sudah menggema di taman Bulgari hotel.
" Tiga.. "