
" Bagaimana hari pertamamu ? " tanya Daniel sambil duduk menghadap ke arah Elin yang sedang sibuk dengan benda-benda dapur , " cukup buruk " sahut Elin dengan menghela nafas pelan , Daniel menegakkan posisi tubuhnya setelah tadi menyanggah dagunya dengan kedua tangan , " apa yang membuatnya cukup buruk ? , apa orang orangnya ,tempatnya atau cara kerjanya ? " tanyanya begitu detail.
" Tidak , semua yang kau tanyakan sangat baik bahkan aku sangat bersyukur mempunyai partner kerja seperti mereka terlebih pada Ms.Laurent , dia begitu baik padaku " jelasnya dengan menghentikan sesaat aktifitasnya , " memang apa yang telah dia lakukan hingga membuat kau begitu memujinya ? " tanya Daniel yang sebenarnya sedikit cemburu saat kekasihnya memuji orang lain , " tunggu sebentar " ucap Elin sambil berjalan menjauh dengan Daniel yang terus menatap kearah manapun Elin berjalan , " Dia memberikan ini padaku " ucap Elin sambil menunjukkan buku dengan lembaran begitu tebal yang di berikan oleh Laurent untuknya ," apa hanya karena buku ini kau begitu memujinya ? "
" Ya , buku ini sangat berharga untukku " jawab Elin dengan begitu polos yang tidak mengerti maksud dari pertanyaan kekasihnya yang demikian ," berharga ? " tanya Daniel tidak percaya , kekasihnya begitu kagum hanya karena sebuah buku yang terlihat sedikit lusuh ." aku bisa memberikan jauh lebih dari ini " ucapnya tiba tiba.
" Apa kau sedang cemburu ? " tanya Elin menatap kearahnya , namun laki laki itu tidak menjawab , ia hanya diam dengan wajah kesal yang tidak bisa ia sembunyikan , " astaga sayang , dia perempuan " ucap Elin sedikit tertawa , " tapi kau begitu memujinya , seolah dia telah memberikan dunia padamu "
Elin terdiam sesaat dengan menahan bibirnya untuk tertawa , " aku memang harus memujinya karena berkat dia aku bisa memiliki buku langkah ini , kau tahu hampir semua designer ternama dunia belajar dari ini , bagi pemula sepertiku yang baru mau masuk ke dalam dunia design mendapatkan buku ini seperti mendapatkan sebuah keajaiban ,sangat sulit bahkan aku tidak menyangka akan memiliknya " jelas Elin namun masih belum bisa di terima oleh akal seorang Daniel Remkez , " seharusnya kau mengatakan sejak awal padaku jika kau sedang mencari buku ini "
" ini sangat sulit di cari , bahkan aku sudah mencarinya di tokoh buku manapun di dunia namun tidak menemukannya dan aku sudah menyerah untuk mencarinya , sebelum akhirnya dia datang dengan sendirinya kepadaku " ucap Elin dengan senyum bahagia sambil memeluk erat buku tebal itu ke dalam pelukannya , " jika sejak awal aku sudah tahu maka tidak sulit untukku menemukannya "kata Daniel yang masih belum terima .
" Apa kau masih cemburu karena buku ini ? "
" Aku benci ketika kau begitu memuji pemberian orang lain " ucapnya begitu dingin , " aku juga selalu memuji pemberianmu "
" Tapi tidak pernah seperti tadi , kau sangat bahagia seolah mendapatkan dunia "
" Kau berlebihan sayang , bagaimana bisa aku merasa seperti mendapatkan dunia , sedangkan duniaku ada padamu " ucap Elin yang membuat garis bibir Daniel tiba tiba terangkat , " Darimana kau belajar merayu seperti ini huh ? " tanya Daniel dengan tangan yang bergerilya pada pinggang Elin , " sayang hentikan , aku tidak pernah berlajar apapun itu murni naluriku karena memiliki kekasih seperti anak kecil " teriaknya karena merasa begitu geli , " jadi kau mengatakan aku anak kecil ? " tanya Daniel dengan tanpa ampun menggelitik pinggang kekasihnya ," ampun , aku menyerah " teriak Elin dengan tertawa dan tubuh yang menggelijang kesana kemari , " menyerah ? " tanya Daniel menghentikan tangannya namun tanpa melepas pinggang ramping itu.
" jadi apa yang membuatnya buruk ? " tanyanya lagi setelah tubuh itu saling berhadapan , " hanya beberapa serangga " jelas Elin singkat lalu kembali berjalan ke dalam dapur , " serangga ? "
" Ya , hari pertamaku sudah berurusan dengan tiga perempuan yang ntah apa kedudukan mereka di sana " jelasnya lagi yang membuat Daniel menjadi begitu penasaran " perempuan ? " tanyanya dengan dahi yang bertautan , " iya , mereka tiga gadis yang menyebalkan " ucapnya dengan kembali kesal , " apa mereka mengganggumu ? "
" Sebenarnya tidak , tapi aku menentang tingkah mereka yang akhirnya membuat mereka menjadi kesal padaku "
" Ceh , mengingat mereka membuatku menjadi mengenang masa sekolah menengahku bersama Green dan Amel " ucapnya dan tiba tiba menjadi begitu rindu pada kisah Darma Bangsa.
Drrrrrt drrrttt " suara dering handphone yang membuat Elin terkesiap oleh lamunannya ,
" sayang bisa kau bantu mengambil handphoneku " pintanya pada Daniel , dan laki laki itu terlihat sudah beranjak menuju ke arah suara.
" Hay " sapa Daniel yang langsung menjawab panggilan itu tanpa meminta persetujuan pemiliknya , " astaga , apa kalian sedang bertukar handphone" teriak suara dari balik telepon yang terdengar begitu terkejut saat melihat wajah Daniel.
Elin beranjak setelah mengetahui siapa yang sedang menghubunginya hanya lewat suara yang begitu ia kenal , " Hay , panjang umur untuk kalian berdua , aku baru saja mengingat kalian " ucap Elin menerobos masuk ke dalam sorot camera , " jadi selama ini kau tidak pernah memikirkan kami huh ? " sambung Amel.
" Bukan seperti itu , maksudku aku baru saja mengingat masa sekolah kita dulu " jelasnya ," kau hanya berkilah "
" Bagaimana mungkin aku tidak memikirkan kalian berdua sedangkan kalian berdua sudah aku letakkan di dalam hatiku " jelasnya lagi ,
" sejak kapan kau menjadi pintar menggombal seperti ini ? " tanya Green yang menjadi geli dengan ucapan Elin , dan perempuan itu hanya tertawa tanpa bisa menjelaskan ke mampuan terbarunya itu , karena ia sendiri cukup bingung.
" Apa itu berarti aku berbagi tempat bersama mereka sayang ? " sambung Daniel.
" Sungguh menggelikan melihat kalian sudah sedekat ini " ucap Green tertawa.
" Harusnya kau bersyukur mak Comblang , perjodohanmu berhasil " ucap Elin berdelik , " aku hanya perantara dari Tuhan " sahut Green dengan tertawa.
" Jadi sayang bagaimana tempatku ? " tanya Daniel penasaran , " kau memiliki tempatnya sendiri yang tidak bisa di samakan dengan mereka " kata Elin menjelaskan , membuat dua orang dari balik camera menatap mereka dengan penuh geli , " apa kak Daniel yang membuat Elin seperti ini ? " tanya Amel dan Daniel mengangkat bahunya karena ia sendiri tidak mengerti , " karena cinta Mel " sambung Elin tertawa.
" Lin hentikan , kau benar benar membuatku merasa mual "
" Apa yang salah , apa yang aku katakan itu benar cinta mampu merubah segalanya " kata nya mengulang " ya seperti kau sendiri , yang kemarin terlihat biasa saja pada kak Daniel dan sekarang malah sebaliknya " sambung Green tertawa.
" Ya dia memang anak kalian dan aku hanya menjadi ibu perantara untuk melahirkannya "
" sepertinya begitu " sambung Elin tertawa , " dia sedang berada dirumah mami " jelas Green ," Benarkah padahal aku begitu ingin berbicara dengannya " sambung Daniel.
" aku akan kembali menelepon kalian jika dia sudah kembali nanti "
" Baiklah , emmm kapan rencana kalian kemari ? "
" Rahasia " sahut Amel.
" Apa kau lupa Nyonya muda Vernandes , tidak ada rahasia antara kita "
" dalam hal ini tidak bisa di samakan , anggap saja itu akan menjadi sebuah kejutan untukmu "
" Bukan membuat kejutan tapi kalian membuatku takut " sahut Elin membuat kedua sahabatnya tertawa.
" Bagaimana rasanya memiliki pacar bule tampan seperti kak Daniel ? " tanya Green.
" Apa kau harus menanyakannya disini ? " kata Elin dengan mata yang membesar ke arah camera , " baiklah ceritakan itu nanti "
" kalau begitu , Lanjutkan apa yang sedang kalian lakukan , kami akan menutup telepon ini " ucap Green , " kenapa begitu cepat ? "
" Kami hanya merindukanmu dan ingin tahu tentangmu setelah memiliki kekasih dan ternyata kau terlihat sangat baik " jelas Green dengan senyumanan begitu tulus , " aku juga sangat merindukan kalian , cepatlah kemari , New York akan benar benar indah jika ada kalian " ucapnya dengan wajah sendu , " itu pasti , hentikan wajahmu itu kau terlihat sangat jelek "
" Benarkah ? "
" Apa aku jelek sayang ? " tanya Elin begitu manja pada Daniel , " tidak , kau sangat cantik "
" Kalian berdua benar benar menggelikan , jangan lakukan itu jika kami berada di sana nanti " ucap Amel bergidik, membuat Elin dan Daniel tertawa.
" Sampaikan salam kami pada bunda " ucap Daniel dan Green mengangguk , " kami tutup telepon ini "
" Jangan lupa pakai pengaman Elin " sambung Amel tertawa dan berakhir meringis karena tangan Green lebih dulu menyentil dahinya , " tolong jaga sahabat kami kak " pinta Green dengan begitu serius pada Daniel , " tanpa kau minta pun aku pasti melakukannya "
" Aku begitu tenang setelah menyadari bahwa perempuan telmi ini sudah memiliki kekasih , terlebih karena kekasihnya itu adalah kakak " lanjut Green dengan tersenyum penuh arti , " kau bisa mempercayakannya kepadaku Green " ucap Daniel.
" Terimakasih kak "
" Kau tidak perlu mengatakan itu , karena ini sudah menjadi kewajibanku menjadi kekasihnya "
" Ya kau benar kak , maaf kami begitu posesif tapi itu semua karena kami begitu menyayanginya " jelas Green , " walau dia sedikit menyebalkan " sambung Amel , membuat mata Elin berdelik namun dengan perasaan haru bersamaan , " kalian membuatku terharu " ucapnya dengan mata berkaca kaca.
" Jangan menangis , kau benar benar sangat jelek dengan wajah itu " ucap Amel tertawa.
" Tidak apa apa aku jelek yang penting kekasihku tampan " sambungnya.
" Menjijikan , bye " ucap Green dengan sambungan panggilan yang langsung di hentikan olehnya.
jangan lupa vote , like dan coment🤗
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚