Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Sangat Menakutkan


" Apa dia begitu sibuk ? " gumam Daniel saat melihat benda pipih miliknya tidak mempunyai satu pun pesan atau panggilan masuk , padahal selama berada di dalam ruang meeting ia sudah begitu gusar karena tidak sabar untuk saling bertukar kabar pada kekasihnya , namun yang ia dapatkan hanya kecewa karena tak sesuai harapannya.


" Reza "


" Ya , tuan " sahut asistennya sambil berjalan mendekat.


" Apa karyawan kantor cabang begitu sibuk ? " tanyanya , yang membuat satu alis Reza sedikit terangkat , " kantor cabang ? " ulangnya , sambil memutar otaknya untuk memikirkan perusahaan cabang yang mana yang di maksud oleh tuannya itu , " oh ya , aku rasa memang seperti itu tuan, karena beberapa hari lagi kita akan mengadakan meeting besar setiap tahunnya " jelasnya.


" Ada apa Tuan ? " tanyanya dan Daniel segera menggelengkan kepalanya dengan dahi yang masih sedikit berkerut , " 20 menit lagi kita akan kembali meeting tuan " lanjut Reza , membuat Daniel membalikkan cepat tubuhnya , " meeting lagi ? " ulangya dengan mata yang sedikit membesar , " ya tuan , bahkan masih tersisa 4 kali pertemuan lagi untuk hari ini "


" kenapa beberapa hari ini begitu banyak meeting ? "


" Itu karena semuanya sudah tertunda selama beberapa hari anda tidak bekerja tuan "


" Aku akan benar-benar kembali sakit kalau seperti ini " gerutunya kesal , walau sebenarnya bukan itu alasan kuat dari kemarahannya , " dan Reza , bagaimana kabar tentang ruang kerja baru saya ? " tanyanya lagi.


" Hampir selesai tuan , saya pastikan untuk beberapa hari ini semua sudah siap dan anda sudah bisa menggunakannya "


" Kenapa begitu lambat huh ? " tanyanya dengan sedikit berteriak.


" Kami sudah berusaha melakukannya dengan sangat cepat Tuan " sahut Reza dengan begitu takut sambil menundukkan kepalanya , " bisakah kau tidak menjawab Reza " teriaknya lagi , membuat laki-laki berkaca mata itu menarik nafasnya untuk meredam emosi karena tingkah menyebalkan dari bossnya itu.


" Yang saya tahu di hari meeting besar nanti ruangan itu sudah siap "


" Baik Tuan " jawab Reza tanpa berani membantah , " dan pindahkan semua barang-barang penting saya disana "


" Apa anda akan menetap disana tuan ? "


" Bisa kau tidak balik bertanya Reza " ucap Daniel dengan sorot mata yang begitu tajam , " maaf tuan " ucap Reza dengan melipat bibirnya.


" Dia seperti perempuan yang sedang menstruasi " gerutu Reza sambil menatap punggung Daniel yang sudah berjalan meninggalkannya.


****


" Kopi " teriak Bimo yang baru saja kembali dari pantry , sambil membawa box dengan beberapa cangkir kopi di dalamnya , " terimakasih bim , ini sangat membantu " ucap Kasih yang begitu bersemangat mengambil cangkir yang berisikan air panas itu dari tangan Bimo , " ini untukmu " lanjutnya pada Elin yang sedang memejamkan mata dengan tubuh yang bersender pada sandaran kursi , " terimakasih Bim , tapi aku tidak sedang menginginkan minuman hangat " jelasnya dengan tubuh yang terlihat begitu lelah.


" Astaga maafkan aku Elin , seharusnya aku bertanya terlebih dahulu padamu "


" Tidak apa-apa Bimo , kenapa kau harus setakut itu " sahutnya tertawa.


" Tunggu aku akan menukarnya " sambung laki-laki itu , " tidak, duduklah di tempatmu bim , aku bisa menukarnya sendiri nanti "


" Sungguh ? " tanya lelaki itu kembali memastikan dan Elin menganggukkan kepalanya dengan bibir tersenyum , " istirahatlah Elin " ucap Kasih tanpa melihat kearahnya.


" Istirahat " ulangnya dengan bingung dan perempuan berambut bop itu menganggukkan kepalanya , " kau terlihat begitu lelah " sambungnya sambil melihat kearah lawan bicaranya.


" Kau juga sangat lelah Kasih , semua pun begitu "


" Kami sudah terbiasa melakukan ini , dan ini pertama kalinya untukmu , jadi aku rasa tubuh dan otakmu benar-benar di buat terkejut dengan pekerjaan yang tak kunjung selesai ini " ujar Kasih tertawa , " istirahat , dan pulanglah jika sudah waktunya nanti "


" Tidak , itu sangat tidak adil , kita satu team dan berarti semua harus dengan lelah yang sama "


" Kau karyawan magang disini Elin " sambung Bimo , membuat semua orang menatap kearahnya , " maafkan aku " ucapnya saat ia sudah menyadari ada yang salah dengan bahasa dalam ucapannya , " maksudku , bukan membedakan hanya saja aku kasihan padamu Elin , kau hanya menjadi karyawan magang disini dan tentunya honor kita juga pasti berbeda , emm..maksudku kami sudah di bayar untuk ini , sedangkan kau sedang dalam pembelajaran , jadi akan sangat tidak adil jika kau harus bekerja keras seperti kami , maksudku seperti itu " jelas Bimo dengan sedikit gugup karena sudah salah menyampaikan maksudnya , " kau begitu sungkan Bimo , sungguh aku tidak salah paham dengan ucapanmu "


" Tapi yang dikatakan Bimo benar , sebaiknya kau istirahat saja " sambung David , membuat semua orang saling melempar pandangan dengan bibir yang menahan senyum.


" Aku rasa kalian memang ingin mengusirku " ucap Elin tertawa.


" Aku hanya bercanda " sambungnya lagi , saat melihat semua orang yang terlihat ingin membantah ucapannya , " baiklah jika kalian memaksa , aku aakn keluar mencari udara segar dan merenggangkan ototku sebentar , setelah itu aku akan kembali lagi "


" Tumpukan pekerjaan ini benar-benar sudah menghancurkan hidupku , membuatku kurang tidur dan tidak sempat lagi untuk menjaga penampilanku " gerutunya , membuat semua orang tertawa geli.


" Baiklah , aku tinggal sebentar " pamitnya dengan rambut yang sedikit dirapikan tapi tidak menambah apapun pada riasan wajahnya , " apa kau akan keluar seperti itu ? " tanya Kasih dan Eli menganggukkan kepalanya dengan pasrah , " tidak akan ada yang peduli dengan wajah hancurku " ujarnya sambil berjalan dengan langkah yang begitu lunglai menuju pintu.


"Bruukk "


" Eliin " teriak semua orang.


" Tenang tenang, aku tidak apa-apa " ucapnya sambil mengusap lutut yang sedikit memerah karena hantaman pada ujung meja kerja Bimo yang berada di ujung pintu masuk , " Sungguh kau tidak apa-apa ? " tanya David yang langsung mendekat dan Elin dengan cepat menganggukkan kepalanya , " aku memang begitu ceroboh " ujarnya dengan memaksakan bibirnya untuk tertawa.


" Tapi lututmu memerah " ucap David begitu khawatir dan ia tidak lagi peduli dengan teman kerjanya yang saling tersenyum melihat kekhawatirannya pada Elin.


" Tidak ini tidak sakit , aku sungguh tidak apa-apa David "


" Baiklah , kau bisa mencariku jika nanti kakimu merasa sakit " ucap David dan Elin kembali menganggukkan kepalanya.


~


Ujung lorong menjadi pilihan Elin untuk mengistirahatkan tubuhnya , dengan kursi yang menghadap kaca besar dengan pemandangan sebagian kota New York , " ah sangat melegahkan bisa melihat langit sore kota ini " ujarnya dengan menghela nafas dan menyenderkan tubuhnya.


" Aku jadi merindukan Daniel " ucapnya tanpa sadar dan segera menyadari bahwa ada yang kurang dengannya hari ini , " ah dia pasti akan kembali marah " gumamnya begitu takut dan membuka cepat layar handphonenya.


Matanya membesar saat melihat panggilan Daniel yang tak terjawab dan dengan cepat ia kembali menghubungi balik telepon kekasihnya , " apa dia marah " gumamnya saat berulang kali mengulang panggilan teleponnya , namun tak kunjung di jawab.


" Aku baru saja membuka handphoneku dan menemukan banyak pesan dan telepon masuk darimu , hari ini aku benar-benar begitu sibuk dengan pekerjaanku , aku harap kau mengerti dan tidak marah padaku, aku mencintaimu Daniel♥️ " tulis pesan yang ia kirim pada kekasihnya , " aku harap hari ini otaknya bekerja dengan baik " gumamnya dengan menghela nafas.


" Mungkin ini akan membuatmu lebih relax " ucap seseorang yang membuat Elin tersentak karena terkejut , " maaf " lanjutnya dengan tersenyum.


" Terimakasih dan maaf telah merepotkanmu David " ucap Elin sambil menyambut capucinno dingin dari tangan lelaki itu.


" ini tidak merepotkan " sahutnya.


Elin bergeres dan mempersilahkan teman kerjanya itu duduk .


Sesaat suasana hening , dua manusia itu sibuk dengan pikirannya masing-masing dan menatap pada langit sore yang begitu cerah.


" Enak ? " tanya David , membuat lamunan Elin


membuyar.


" Enak , bahkan sangat enak karena aku tidak perlu repot-repot membuatnya " jawab Elin tersenyum , membuat lelaki itu ikut tersenyum , " jika kau suka , aku akan terus membuatnya untukmu " ujar David tanpa melihat kearah lawan bicaranya , " terimakasih David , tapi itu sangat merepotkan "


" Tidak , aku melakukannya dengan senang hati " sahutnya , membuat Elin terdiam dan sedikit menatap lekat pada lelaki yang sesekali melihat kearahnya dengan tersenyum , " emmm.. apa aku boleh mengajakmu .. "


" Maaf David , aku harus meninggalkanmu sepertinya perutku sedang tidak bekerja dengan baik " potong Elin yang langsung beranjak dari duduknya , " aku akan mencari obat untukmu "


" Tidak , tidak , aku bisa melakukannya sendiri , dan emm..terimakasih untuk capucinnonya " ucap Elin dan langsung meninggalkan laki-laki itu tanpa kembali banyak bicara.


" Aku tidak bisa membiarkan dia melakukan banyak hal untukku "


" Dan akan sangat menakutkan jika Daniel mengetahui tentang ini " gumamnya dengan tubuh yang bergidik membayangkan sikap arogan kekasihnya , apalagi jika penyebabnya adalah cemburu , "Maaf David , Kekasihku sangat menakutkan " lanjutnya dengan terus berjalan menjauh dari laki-laki yang masih terus menatapnya.


jangan lupa vote , like dan coment🤗


dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚