
Daniel terus mengalihkan wajahnya setiap kali Elin bertanya dimana letak pakaian yang akan ia gunakan.
Sebagai laki-laki yang normal pagi ini ia merasa begitu di uji , bagaimana tidak tubuh basah yang hanya terbalut sehelai handuk terus berjalan kesana kemari di hadapannya , " sayang apa tidak ada celanamu yang bisa aku gunakan ? , baju ini terlalu pendek " ujar Elin seraya berjalan mendekat ke arahnya.
" Emmm tunggu sebentar " balas Daniel tanpa berani melihat lebih lama pada kekasihnya , lalu kemudian berjalan kearah tempat dimana penyimpanan pakaian untuk mencari sesuatu yang bisa di gunakan oleh wanitanya itu.
Tiba-tiba saja gerak Daniel terhenti oleh sepasang tangan yang tiba-tiba melingkar di pinggangnya , " sayang aku sedang mencari pakaian untukmu " protesnya , namun Elin seolah tak mendengar dengan tidak melepas pelukannya justru menjadi semakin ia pererat ," aku begitu merindukanmu " ucap Elin begitu manja seraya menyadarkan dengan lembut wajahnya di punggung bidang Daniel.
" Ceh aku rasa kau masih mengantuk sayang , bagaimana bisa kau rindu padaku setelah setiap hari kita bersama ".
" Tapi aku sungguh merindukanmu sayang , bagiku semenit saja tidak melihatmu aku sudah begitu rindu " balasnya begitu manja , walau sebenarnya ia sendiri cukup merasa geli saat mengatakannya , " sayang jangan menggodaku " kata Daniel tiba-tiba yang kini telah memutar tubuhnya , membuat mereka saling berhadapan.
" Menggoda ? " ulang Elin bersama puppy eyes yang membuat Daniel kembali menelan paksa ludahnya , " emmm.. "
" Aku hanya mengatakan aku rindu bukan sedang menggodamu sayang "
" Kecuali aku seperti ini.. "
Cup " tiba-tiba Elin mendaratkan ciuman di bibir merah Daniel lalu menyesapnya dengan begitu lembut hingga membuat Daniel tanpa sadar telah memejamkan matanya untuk menikmati ciuman yang terasa begitu bergairah ,namun tiba-tiba saja Elin menghentikan ciumannya menyiratkan kekecewaan di mata sendu Daniel dengan nafas yang mulai menderu.
" Rasakan pembalasanku " bisiknya di telinga Daniel lalu berlari dengan tertawa begitu puas.
Dan akhirnya Daniel tersadar jika saat ini dirinya sedang di kerjai oleh kekasihnya sendiri , " kau begitu nakal ya " katanya yang ikut tertawa lalu ikut berlari mengejar Elin yang sudah berlari kesana kemari , " kau kira aku tidak tahu kalau tadi kau mengerjaiku huh " teriak Elin membuat Daniel semakin tertawa sambil terus berlari.
" Kau pikir aku masih begitu polos untuk kau kerjai Daniel , noooooo " racaunya di tengah tubuhnya yang terus kesana kemari untuk menghindari tangkapan tangan besar Daniel , " tapi kali ini jika aku bisa menangkapmu itu akan benar-benar terjadi "
" coba saja weeekkkk " balas Elin yang terus berlari dan tanpa sadar membuka pintu kamar Daniel dan keluar dari dalam sana lalu kemudian berlari menuju kemana saja tempat yang membuatnya aman dengan Daniel yang terus mengejarnya.
Pandangan semua orang yang sedang berada di meja makan tiba-tiba teralihkan oleh suara ribut yang datang dari arah tangga , " mam tolong selamatkan aku " pinta Elin sambil terus berlari menuju tempat duduk Viona dengan tidak menyadari mata semua orang kini tengah menatap mereka tanpa berkedip , " Ayo sekarang coba tangkap aku kalau berani " godanya pada Daniel dengan tubuh yang bersembunyi di belakang tubuh Viona.
" Jangan kira aku akan menyerah sekali pun kau bersembunyi di belakang tubuh Mami " balas Daniel dengan menarik tangan Elin untuk kembali membawanya ke dalam kamar.
" Naina tutup matamu nak " pinta Green pada putrinya , membuat Elin dan Daniel seketika menghentikan tingkahnya berdua lalu menyadari mata semua orang yang kini tengah melihat pada mereka , " oh astaga " ucap Daniel tersadar kalau dada telanjangnya masih belum tertutupi sehelai benang pun.
" Apa kalian sedang menyajikan drama romance untuk kami " ujar Alfin tertawa.
Wajah Elin memerah seketika dan merasa begitu malu dengan ulahnya sendiri , " woww.. apa telah terjadi sesuatu yang panas tadi malam " tambah Amel dengan tertawa yang kemudian di ikuti oleh semua orang.
" Hentikan Mel , sungguh tidak terjadi apa-apa pada kami "
" Kalau pun iya juga tidak apa-apa , aku rasa mami juga sudah begitu tidak sabar ingin mempunyai cucu , iyakan mam " timpal Nathan dan Viona mengangguk dengan tersenyum.
" Padahal dari tadi aku sudah menutupinya dari mami dan ternyata mereka sendiri yang membukanya " protes Green membuat semua orang kembali tertawa kecuali Elin dan Daniel dengan wajah yang sudah memerah karena merasa begitu malu , " sungguh , sungguh tidak terjadi apapun pada kami " kata Elin membantah tentang pikiran semua orang pada mereka.
" Tapi sepertinya Daniel lupa untuk kembali mengenakan bajunya " ujar Alfin yang membuat semua orang lagi-lagi kembali tertawa , " kenapa papa Daniel tidak pakai baju ? " tanya Naina .
" Itu karena papa Daniel dan Mama Elin baru saja selesai membuat adik untuk Naina " jelas Nathan pada putrinya , " husssh " timpal Green
Daniel dan Elin benar-benar di buat tidak berkutik pagi ini , untuk protes sekali pun sepertinya itu tidak akan berguna setelah semua orang terus menggoda mereka , " padahal tinggal sebentar lagi tapi sepertinya putra mami sudah begitu tidak sabar " tambah Viona yang kembali membuat wajah Elin semakin memerah.
" Ya mam , aku yang memang sudah begitu tidak sabar " balas Daniel sambil menatap penuh mengoda pada Elin yang kini sudah membesarkan kedua matanya.
" Hentikan Daniel " protesnya.
" Duduk dan sarapanlah , supaya tubuh kalian kembali punya energi " pinta Viona tersenyum membuat ruang makan itu benar-benar di penuhi oleh gelak tawa.
" Sepertinya sekarang kita yang sedang di kerjai Daniel " ujar Elin dengan wajah memelas dan Daniel yang mengangguk setuju.
~
# Keesokan harinya
Elin terperanjat dari tidur lelapnya saat menyadari pagi ini kedua sahabatnya akan pulang ke Indonesia ,
segera ia bangun lalu berjalan keluar untuk melihat situasi di luar kamar tidurnya tanpa berniat untuk mencuci terlebih dahulu wajahnya.
" Kau sudah bangun ? " tanya Green yang ternyata sudah rapi dan berjalan melewatinya.
" Kalian benar-benar akan pulang hari ini ? " tanyanya dan Green mengangguk , " apa kau tidak melihat pakaianku sudah begitu rapi hemmm "
Elin menghela nafasnya saat melihat beberapa koper yang sudah siap untuk di bawa , " apa kau tidak akan pergi mengantar kami ? " tanya Green.
" Kalau begitu mandilah cepat , sebentar lagi kami sudah harus menuju bandara " jelas Green dan Elin mengangguk lalu kembali ke dalam kamar tidurnya tanpa banyak protes.
Sepanjang jalan menuju bandara Elin benar-benar tidak banyak bicara , ia hanya diam dan terus memeluk tubuh Naina yang kini duduk di pangkuannya sampai mobil yang membawa mereka akhirnya tiba di bandara , " ah rasanya baru kemaren kita tiba disini dan sekarang kita sudah harus pulang " ujar Amel seraya keluar dari dalam mobil di ikuti semua orang.
Kini kedua keluarga kecil itu akan segera masuk ke dalam pesawat pribadi milik keluarga Vernandes yang siap membawa mereka kembali ke Indonesia dan sampai saat itu Elin masih tidak bicara sepatah kata pun sambil terus membawa Naina di dalam pelukannya.
" Mami terimakasih untuk jamuannya dan terimakasih telah menjaga putriku " pamit Green pada Viona yang memang ikut mengantar mereka ke bandara , di peluknya tubuh wanita paruh baya yang akan menjadi calon mertua sahabatnya itu ,
" Dia juga cucuku Green " balas Viona dan memeluk tak kalah erat.
" Sampai bertemu di Indonesia mam " ucapnya dan Viona mengangguk , lalu bergantian Amel yang kini berpamitan pada Viona.
" Kami semua menunggu di Indonesia " ucap Nathan saat memeluk tubuh Daniel , " ya doakan semuanya berjalan lancar "
" Itu pasti "
" Maaf aku terlambat , aku kira kalian masih dirumah " ucap tiba-tiba seseorang dengan nafas yang tersengal karena berlari.
" Kemana saja kamu Meili ? " tanya Viona saat akhirnya melihat putrinya , " mam lanjutkan marahmu di rumah nanti , oke " balasnya sambil berjalan menuju Green dan Amel.
" Sampai bertemu lagi dan maaf tidak memberi yang terbaik selama disini " ucapnya sambil memberikan paperbag kecil pada ke dua nyonya muda Vernandes.
" Apa ini ? " tanya Green dan Amel bersamaan.
" Hanya kenang-kenangan " balasnya tertawa.
" Kenapa kau begitu repot-repot , padahal malam itu kau sudah menciptakan kenangan yang luar biasa selama kami disini "
" Husssh , jangan ungkit lagi hal itu "
" Apa itu sebabnya kau tidak berani pulang ? " tanya Amel tertawa dan Meili mengangguk dengan ikut tertawa , " sampai bertemu di Indonesia " ucap Green memeluk Meili yang kemudian bergantian dengan Amel.
" Berikan jamuan yang terbaik saat aku disana nanti " kata Meili tertawa
" Tentu Nona muda Remkez " balas Amel.
" Untung saja aku tidak terlambat " ucap Hannah yang baru saja tiba bersama Mike , sesaat ia terdiam untuk mengatur nafasnya karena telah berlari agar bisa secepat mungkin sampai ke tempat itu.
" Kami kira kau tidak akan datang " ujar Green dan Hannah menggelengkan kepalanya , " itu pasti sangat tidak sopan " balasnya lalu kemudian memberikan satu persatu bucket mawar putih pada Amel dan Green , " maaf hanya bisa memberikan ini , aku begitu bingung memikirkan apa yang akan aku berikan pada kalian ".
" Ini begitu manis Hannah " balas Green tersentuh lalu memeluk tubuh model cantik itu , " terimakasih dan kita benar-benar teman Hannah ".
" Ceh " balas Hannah Tertawa, " apa kau baru menganggap itu sekarang padahal aku sudah menganggap kita teman dari pertama bertemu "
" Aku juga , hanya saja maksudku kapan saja kau membutuhkan bantuan kau bisa menghubungi kami " jelas Green membuat Hannah mengeratkan pelukannya , " terimakasih telah mau berteman denganku ".
" Tentu dan terimakasih telah menjaga sahabat kami Hannah "
" Dia juga sahabatku Green "
" Ya ya baiklah " balas Green tertawa lalu pelukan itu berpindah pada Amel , " aku hanya akan mengucapkan terimakasih padamu Hannah dan berjanjilah jika nanti kau akan ikut bersama Elin ke Indonesia " kata Amel di dalam pelukannya dan Hannah mengangguk , " itu pasti " balasnya.
" Kalau begitu sampai bertemu di sana " ucap amel lalu mengakhiri pelukannya.
Mata semua orang kini tertuju pada Elin yang masih diam tanpa bicara dan menunggu tidak sabar untuk melihat keharuan yang akan segera terjadi , " Naina kita akan pulang , apa Naina sudah pamit dengan mama Yin ? " tanya Green pada putrinya lalu gadis kecil itu kemudian memeluk erat tubuh Elin yang masih menggedongnya , " mama yin Naina pulang ya " pamitnya begitu lucu dan penuh haru bersamaan.
Tidak ada kata balasan yang keluar dari mulut Elin selain air mata yang tiba-tiba mengalir deras dan mendekap tubuh mungil itu dengan begitu erat , " mama yin sayang Naina " ucapnya di dalam tangisan.
" Naina juga sayang mama yin " balas gadis kecil itu sebelum akhirnya ia berpindah ke dalam gendongan ayahnya.
" Jangan menangis , sebentar lagi kita juga akan kembali bertemu " ucap Green yang sebenarnya kini setengah mati menahan diri untuk tidak menangis , berbeda dengan Amel yang sudah menangis sejadi-jadinya dengan memeluk tubuh Elin begitu erat , " maafkan aku , aku tahu kalau ucapanku telah melukai hatimu kemarin tapi sungguh aku tidak bermaksud Elin , maafkan aku " racaunya di dalam tangisan
" Sedikit pun aku tidak marah padamu Amel , jaga diri kalian dan sampai bertemu lagi " balas Elin , namun tanpa berani mengangkat wajahnya.
Pertahanan Green akhirnya musnah, air mata yang ia tahan tidak bisa untuk tidak menetes ketika akan kembali meninggalkan salah satu orang yang ia cintai , " cepat selesaikan urusanmu disini , aku sungguh begitu tidak sabar untuk kita kembali berkumpul di Indonesia " ucapnya seraya memeluk tubuh Elin begitu erat lalu mereka menangis sejadi-jadinya , " aku selalu benci ketika kita akan kembali berpisah " ucap Amel membuat semua orang ikut terharu tak terkecuali Hannah yang sudah menepis air mata yang mengalir di pipinya karena menyaksikan perpisahan antara sahabat yang begitu mengharukan, berbeda dengan Alfin yang terlihat hanya menarik nafas saat melihat adegan haru antara istri dan kedua sahabatnya , " padahal aku sudah bosan melihat adegan seperti ini tapi saat melihatnya kembali ternyata rasanya masih begitu menyedihkan , emm maksudku sedih " ujarnya yang berhasil membuat orang lain yang semula terharu jadi tertawa karena lontarannya termasuk ketiga sahabat yang masih saling berpelukan .
" Sampai bertemu Elin " ucap bersamaan Green dan Amel sebelum akhirnya menyudahi pelukan erat itu.