Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Bukan Kembali tapi Pulang


Wilna berjalan tidak sabar menuju pintu utama rumahnya saat mendengar suara beberapa mesin mobil yang berhenti di halaman rumahnya.


" Selamat datang Nyonya Besar " ucapnya tersenyum senang menyambut kedatangan orang-orang yang sudah ia nanti sejak tadi.


" Bagaimana kabarmu ? " tanya Viona tak kalah bersemangat sambil berjalan ke arahnya dan segera memeluk tubuhnya dengan begitu erat , " tentu sangat baik Viona , hidupku sudah begitu sempurna dengan dua menantu di sisiku " ucapnya bangga.


" Ya kemarin hal itu benar-benar membuatku iri tapi sekarang tidak lagi karena aku juga akan segera memiliki menantu sepertimu " balas Viona tak mau kalah ,dan ucapan itu berhasil membuat mereka semakin mempererat pelukannya , " tapi aku tetap lebih unggul darimu karena aku sudah memiliki cucu " tambah Wilna tertawa.


" Daniel Elin kalian dengar , ibu kalian telah di remehkan olehnya jadi setelah menikah tolong bekerja keras untuk membuat cucu untuk Mommy " ucap Viona yang membuat semua orang berhasil tertawa.


" Tanpa disuruh pun aku pasti akan bekerja keras bahkan sangat keras mam " sahut Daniel sambil sedikit menoleh pada Elin yang kini telah menatapnya dengan kedua mata yang membesar.


" Green nanti berikan jamu andalanmu pada Elin " sambung Amel menggoda , membuat semua orang tidak hentinya tertawa.


" Sudah-sudah ayo masuk " ajak Wilna pada semua orang.


" Wil kau benar-benar sangat cocok dengan menantu-menantumu " ujar Viona di sela langkah mereka.


" Itu sebabnya aku begitu bahagia Viona " balas Wilna tersenyum hangat , " Calon menantumu juga begitu , dia sangat baik dan pasti akan menghormatimu nanti "


" Semoga seperti itu "


" Tidak semoga tapi pasti seperti itu , aku sudah menganggap mereka seperti putriku sendiri Viona jadi aku sangat tahu seperti apa sifat-sifat mereka dan itu alasan kenapa aku begitu bersemangat saat mengetahui kalau putramu akan menikah dengan Elin ".


" Dia gadis yang baik dan akan cocok menjadi menantu untuk wanita yang baik sepertimu "


" Aku juga sudah mengetahui itu tapi perkataanmu benar-benar membuatku legah wil "


" Hemm.. aku akan bertanggung jawab jika perkataanku salah " ucap Wilna tertawa , sebelum akhirnya menyadari bahwa ada sesuatu yang ia lewatkan.


" Apa dia putrimu ? " tunjuknya pada Meili dan Viona mengangguk.


" Ya dia putri manisku yang sering aku ceritakan " jelas Viona dan berhasil membuat wajah lesu Meili menjadi tersipu sebelum akhirnya berjalan mendekat ke arah Wilna untuk mencium punggung tangan wanita paruh baya itu , " ia sedikit terlihat berbeda dengan rambut pendek seperti ini " ucapnya tersenyum lalu memeluk tubuh Meili.


" Selamat datang dirumahku nak "


" Iya bibi "


" Tolong anggap juga aku ibumu " kata Wilna sambil mengelus lembut punggung meili.


" Tentu " balas Meili tersenyum hangat lalu menyudahi pelukan mereka.


" Dan ini Hannah " kata Viona memperkenal Hannah pada Wilna , " oh aku tahu dia siapa " ucap Wilna tertawa penuh arti.


" Jangan mencoba mengungkitnya Wil "


" Tentu tidak " sahutnya dengan masih tersenyum.


" Selamat siang bibi " ucap Hannah mendekat lalu mengikuti sikap Meili untuk mencium punggung tangan wanita itu meski ia melakukannya dengan sedikit kaku , " selamat datang dirumahku nak , anggap saja ini seperti rumahmu sendiri dan orang-orang disini seperti keluargamu "


" Terimakasih bibi , anda begitu baik "


" Kau juga begitu cantik " balas Wilna , yang kemudian segera melihat pada Elin.


" Aku harap kau tidak cemburu " ucapnya , membuat Elin langsung tertawa lalu segera berjalan ke arahnya dan mendekap tubuhnya dengan begitu erat , " dia memang cantik bunda , dan aku juga " kata Elin pelan.


" Itu pasti dan kau pemenangnya " balas Wilna dengan berbisik dan membuat mereka tertawa begitu lebar , " hussh " kata Elin dengan segera mengatup mulutnya yang tertawa.


" Aku sangat merindukanmu nak "


" Aku juga bunda , bahkan aku sangat-sangat rindu padamu " kata Elin yang kembali memeluk tubuh Wilna dengan begitu erat.


" Aku begitu bahagia saat tahu kau akan menikah "


" Hemm.. benarkah "


" Tentu nak , kau kira aku tak khawatir memikirkanmu hidup sendiri di tempat orang lain hemm.. "


" Aaahhh , bunda kau membuatku terharu "


" Aku mencintaimu sama seperti ke dua menantuku "


" Ya , aku yakin jika bunda punya anak satu lagi pasti dia akan menikahkannya padamu lin " timpal Green yang membuat semua orang kembali tertawa terkecuali Daniel.


" Itu berarti Elin tidak akan menjadi istriku " sambungnya yang ternyata sejak tadi terus menyimak drama pertemuan di hadapannya , " yap " lanjut Green membenarkan sambil menahan tawa.


" Tidak-tidak , tidak seperti itu jodoh Elin sudah di takdirkan untukmu dan lagi pula kau juga putraku bukan " ucap Wilna yang berhasil membuat Daniel bernafas legah , " ya aku hampir lupa kalau aku juga putramu " ucapnya tertawa dan kini bergantian memeluk tubuh wanita paruh baya itu , " bagaimana kabar bunda ? " tanyanya di sela pelukan erat mereka ,


" Menjadi sangat baik saat bunda tahu kau akan akan menikah dengan Elin "


" Tolong do'akan semoga semuanya di lancarkan bunda "


" Ceh , bunda memang terbaik " ucap Daniel tersenyum puas sebelum akhirnya mengkhiri pelukan mereka , dan kini bergantian Mike yang menyapa , " aku selalu bersemangat melihat pemuda-pemuda tampan seperti ini " ucap Wilna yang membuat orang-orang tersenyum geli kecuali Hannah dan Mike yang tidak mengerti dengan ucapannya.


" Bagaimana kabarmu Bi ? "


" Tentu baik nak , apalagi saat melihatmu " balasnya tertawa.


" Anggap rumah ini seperti rumahmu dan seperti yang lain anggap juga aku ini ibumu sendiri "


" Tentu bibi dan terimakasih "


" Sama-sama tampan " balasnya dengan masih tersenyum geli.


" Bunda... " tegur Nathan dengan tatapan sedikit tajam pada ibunya.


" Kau memang tidak bisa melihat ibumu ini bahagia Nathan " ujarnya sedikit kesal, sebelum akhirnya mempersilahkan pada semua orang untuk beristirahat di kamar masing-masing yang sudah di siapkan.


~


Setelah melakukan perdebatan yang cukup panjang bersama Daniel yang ingin ikut pulang dengannya, akhirnya Elin bisa tiba di halaman rumahnya , dan bibirnya melengkung saat kembali teringat dengan tingkah calon suaminya itu , " dia lelaki pintar tapi begitu bodoh saat jatuh cinta " gumamnya dengan masih tersenyum sebelum akhirnya ia keluar dari dalam mobil keluarga Vernandes yang sudah mengantarnya pulang.


Dan baru saja ia berpijak di tangga depan rumahnya , pintu besar di hadapannya langsung saja terbuka dengan sepasang manusia paruh baya yang terlihat dari balik pintu , " Ayah , Ibu " panggil Elin begitu bahagia saat melihat dua sosok manusia yang begitu ia rindukan kini tengah menyambut ke pulangannya dengan penuh bahagia , " selamat datang di rumahmu nak " ucap Bimo yang langsung memeluk erat putri sulungnya.


" Elin rindu Ayah "


" Ayah juga dan itu pasti "


" Ibu " panggilnya lirih pada Mala , lalu bergantian memeluk wanita paruh baya itu dengan tidak kalah erat , " aku merindukan ibu "


" Ibu juga nak "


" Ayo masuk , ibu sudah menyiapkan banyak makanan untukmu "


" Ibu memang terbaik "


" Seorang ibu memang akan melakukan hal yang terbaik untuk anaknya " ucap Mala yang berhasil membuat hati Elin terenyuh , " terimakasih Ibu " ucapnya terharu dan menahan air mata yang tiba-tiba terasa ingin menetes.


" Kenapa terimakasih , bukankah itu hal wajar seorang ibu lakukan untuknya "


" Emmm.. iya " sahutnya lirih yang akhirnya tidak bisa lagi menahan air matanya mengalir meski dengan cepat ia menghapusnya.


" Berjalanlah ke meja makan biar ibu yang membawa barang-barangmu ke kamar "


" Tidak Ibu , biar Elin sendiri "


" Welcome back my sister " ucap tiba-tiba dari suara besar yang tidak lain adalah Tama.


" Kalau begitu dia saja yang membawanya " ucap Mala .


" Tama bawa barang-barang kakakmu ke kamarnya "


" Ibu biar Elin saja "


" Tidak nak , kau sudah lelah jadi biarkan adikmu yang membawanya "


" Bu aku datang untuk menyambut kedatangannya bukan malah di suruh membawa barang-barangnya "


" Kau harus menjadi adik yang berguna untuk kakakmu " ucap Mala membuat Elin menjadi sedikit tertawa tapi bukan berarti ia membiarkan Tama melakukannya , " tidak apa-apa Ibu aku bisa membawanya sendiri " ucapnya sambil kembali membawa koper yang tadi ia bawa.


" Jangan membuatku seperti adik yang tidak berguna " kata Tama yang langsung mengambil alih koper di tangan Elin dan membawanya pergi menuju kamar perempuan itu.


" Kenapa dia menjadi begitu manis ibu " ucap Elin sambil terus melihat pada Tama yang sedang menaiki anak tangga dengan membawa barang-barangnya.


" Itu karena dia juga sangat merindukanmu "


" Rindu ? " ulang Elin tak percaya.


" Ya , dia pasti juga sangat merindukanmu "


" Bahkan kau tahu nak , dari dia lah kami tahu apa saja yang kau lakukan di sana "


" Dia benar-bebar memperhatikanmu " tambah Mala tertawa kecil , namun ucapan itu berhasil membuat hati Elin kembali terenyuh dan ia tidak menyangka jika adiknya yang terlihat cuek bahkan tak peduli padanya selama ini ternyata begitu memperhatikannya.


" Kenapa kau menangis nak ? " ucap Mala menjadi panik karena melihat mata Elin yang sudah berair , " ini air mata bahagia ibu "


" Aku benar-benar bahagia karena telah kembali kerumah ini "


" Bukan kembali tapi pulang " kata Bimo meralat.


" Ya maksudku pulang ayah " ucapnya membenarkan sambil menghapus sisa air mata bahagia dari seorang anak angkat.