
Wilna berjalan tidak sabar menuju pintu utama rumahnya saat mendengar suara beberapa mesin mobil yang berhenti di halaman rumahnya.
" Selamat datang Nyonya Besar " ucapnya tersenyum senang menyambut kedatangan orang-orang yang sudah ia nanti sejak tadi.
" Bagaimana kabarmu ? " tanya Viona tak kalah bersemangat sambil berjalan ke arahnya dan segera memeluk tubuhnya dengan begitu erat , " tentu sangat baik Viona , hidupku sudah begitu sempurna dengan dua menantu di sisiku " ucapnya bangga.
" Ya kemarin hal itu benar-benar membuatku iri tapi sekarang tidak lagi karena aku juga akan segera memiliki menantu sepertimu " balas Viona tak mau kalah ,dan ucapan itu berhasil membuat mereka semakin mempererat pelukannya , " tapi aku tetap lebih unggul darimu karena aku sudah memiliki cucu " tambah Wilna tertawa.
" Daniel Elin kalian dengar , ibu kalian telah di remehkan olehnya jadi setelah menikah tolong bekerja keras untuk membuat cucu untuk Mommy " ucap Viona yang membuat semua orang berhasil tertawa.
" Tanpa disuruh pun aku pasti akan bekerja keras bahkan sangat keras mam " sahut Daniel sambil sedikit menoleh pada Elin yang kini telah menatapnya dengan kedua mata yang membesar.
" Green nanti berikan jamu andalanmu pada Elin " sambung Amel menggoda , membuat semua orang tidak hentinya tertawa.
" Sudah-sudah ayo masuk " ajak Wilna pada semua orang.
" Wil kau benar-benar sangat cocok dengan menantu-menantumu " ujar Viona di sela langkah mereka.
" Itu sebabnya aku begitu bahagia Viona " balas Wilna tersenyum hangat , " Calon menantumu juga begitu , dia sangat baik dan pasti akan menghormatimu nanti "
" Semoga seperti itu "
" Tidak semoga tapi pasti seperti itu , aku sudah menganggap mereka seperti putriku sendiri Viona jadi aku sangat tahu seperti apa sifat-sifat mereka dan itu alasan kenapa aku begitu bersemangat saat mengetahui kalau putramu akan menikah dengan Elin ".
" Dia gadis yang baik dan akan cocok menjadi menantu untuk wanita yang baik sepertimu "
" Aku juga sudah mengetahui itu tapi perkataanmu benar-benar membuatku legah wil "
" Hemm.. aku akan bertanggung jawab jika perkataanku salah " ucap Wilna tertawa , sebelum akhirnya menyadari bahwa ada sesuatu yang ia lewatkan.
" Apa dia putrimu ? " tunjuknya pada Meili dan Viona mengangguk.
" Ya dia putri manisku yang sering aku ceritakan " jelas Viona dan berhasil membuat wajah lesu Meili menjadi tersipu sebelum akhirnya berjalan mendekat ke arah Wilna untuk mencium punggung tangan wanita paruh baya itu , " ia sedikit terlihat berbeda dengan rambut pendek seperti ini " ucapnya tersenyum lalu memeluk tubuh Meili.
" Selamat datang dirumahku nak "
" Iya bibi "
" Tolong anggap juga aku ibumu " kata Wilna sambil mengelus lembut punggung meili.
" Tentu " balas Meili tersenyum hangat lalu menyudahi pelukan mereka.
" Dan ini Hannah " kata Viona memperkenal Hannah pada Wilna , " oh aku tahu dia siapa " ucap Wilna tertawa penuh arti.
" Jangan mencoba mengungkitnya Wil "
" Tentu tidak " sahutnya dengan masih tersenyum.
" Selamat siang bibi " ucap Hannah mendekat lalu mengikuti sikap Meili untuk mencium punggung tangan wanita itu meski ia melakukannya dengan sedikit kaku , " selamat datang dirumahku nak , anggap saja ini seperti rumahmu sendiri dan orang-orang disini seperti keluargamu "
" Terimakasih bibi , anda begitu baik "
" Kau juga begitu cantik " balas Wilna , yang kemudian segera melihat pada Elin.
" Aku harap kau tidak cemburu " ucapnya , membuat Elin langsung tertawa lalu segera berjalan ke arahnya dan mendekap tubuhnya dengan begitu erat , " dia memang cantik bunda , dan aku juga " kata Elin pelan.
" Itu pasti dan kau pemenangnya " balas Wilna dengan berbisik dan membuat mereka tertawa begitu lebar , " hussh " kata Elin dengan segera mengatup mulutnya yang tertawa.
" Aku sangat merindukanmu nak "
" Aku juga bunda , bahkan aku sangat-sangat rindu padamu " kata Elin yang kembali memeluk tubuh Wilna dengan begitu erat.
" Aku begitu bahagia saat tahu kau akan menikah "
" Hemm.. benarkah "
" Tentu nak , kau kira aku tak khawatir memikirkanmu hidup sendiri di tempat orang lain hemm.. "
" Aaahhh , bunda kau membuatku terharu "
" Aku mencintaimu sama seperti ke dua menantuku "
" Ya , aku yakin jika bunda punya anak satu lagi pasti dia akan menikahkannya padamu lin " timpal Green yang membuat semua orang kembali tertawa terkecuali Daniel.
" Itu berarti Elin tidak akan menjadi istriku " sambungnya yang ternyata sejak tadi terus menyimak drama pertemuan di hadapannya , " yap " lanjut Green membenarkan sambil menahan tawa.
" Tidak-tidak , tidak seperti itu jodoh Elin sudah di takdirkan untukmu dan lagi pula kau juga putraku bukan " ucap Wilna yang berhasil membuat Daniel bernafas legah , " ya aku hampir lupa kalau aku juga putramu " ucapnya tertawa dan kini bergantian memeluk tubuh wanita paruh baya itu , " bagaimana kabar bunda ? " tanyanya di sela pelukan erat mereka ,
" Menjadi sangat baik saat bunda tahu kau akan akan menikah dengan Elin "
" Tolong do'akan semoga semuanya di lancarkan bunda "
" Ceh , bunda memang terbaik " ucap Daniel tersenyum puas sebelum akhirnya mengkhiri pelukan mereka , dan kini bergantian Mike yang menyapa , " aku selalu bersemangat melihat pemuda-pemuda tampan seperti ini " ucap Wilna yang membuat orang-orang tersenyum geli kecuali Hannah dan Mike yang tidak mengerti dengan ucapannya.
" Bagaimana kabarmu Bi ? "
" Tentu baik nak , apalagi saat melihatmu " balasnya tertawa.
" Anggap rumah ini seperti rumahmu dan seperti yang lain anggap juga aku ini ibumu sendiri "
" Tentu bibi dan terimakasih "
" Sama-sama tampan " balasnya dengan masih tersenyum geli.
" Bunda... " tegur Nathan dengan tatapan sedikit tajam pada ibunya.
" Kau memang tidak bisa melihat ibumu ini bahagia Nathan " ujarnya sedikit kesal, sebelum akhirnya mempersilahkan pada semua orang untuk beristirahat di kamar masing-masing yang sudah di siapkan.
~
Setelah melakukan perdebatan yang cukup panjang bersama Daniel yang ingin ikut pulang dengannya, akhirnya Elin bisa tiba di halaman rumahnya , dan bibirnya melengkung saat kembali teringat dengan tingkah calon suaminya itu , " dia lelaki pintar tapi begitu bodoh saat jatuh cinta " gumamnya dengan masih tersenyum sebelum akhirnya ia keluar dari dalam mobil keluarga Vernandes yang sudah mengantarnya pulang.
Dan baru saja ia berpijak di tangga depan rumahnya , pintu besar di hadapannya langsung saja terbuka dengan sepasang manusia paruh baya yang terlihat dari balik pintu , " Ayah , Ibu " panggil Elin begitu bahagia saat melihat dua sosok manusia yang begitu ia rindukan kini tengah menyambut ke pulangannya dengan penuh bahagia , " selamat datang di rumahmu nak " ucap Bimo yang langsung memeluk erat putri sulungnya.
" Elin rindu Ayah "
" Ayah juga dan itu pasti "
" Ibu " panggilnya lirih pada Mala , lalu bergantian memeluk wanita paruh baya itu dengan tidak kalah erat , " aku merindukan ibu "
" Ibu juga nak "
" Ayo masuk , ibu sudah menyiapkan banyak makanan untukmu "
" Ibu memang terbaik "
" Seorang ibu memang akan melakukan hal yang terbaik untuk anaknya " ucap Mala yang berhasil membuat hati Elin terenyuh , " terimakasih Ibu " ucapnya terharu dan menahan air mata yang tiba-tiba terasa ingin menetes.
" Kenapa terimakasih , bukankah itu hal wajar seorang ibu lakukan untuknya "
" Emmm.. iya " sahutnya lirih yang akhirnya tidak bisa lagi menahan air matanya mengalir meski dengan cepat ia menghapusnya.
" Berjalanlah ke meja makan biar ibu yang membawa barang-barangmu ke kamar "
" Tidak Ibu , biar Elin sendiri "
" Welcome back my sister " ucap tiba-tiba dari suara besar yang tidak lain adalah Tama.
" Kalau begitu dia saja yang membawanya " ucap Mala .
" Tama bawa barang-barang kakakmu ke kamarnya "
" Ibu biar Elin saja "
" Tidak nak , kau sudah lelah jadi biarkan adikmu yang membawanya "
" Bu aku datang untuk menyambut kedatangannya bukan malah di suruh membawa barang-barangnya "
" Kau harus menjadi adik yang berguna untuk kakakmu " ucap Mala membuat Elin menjadi sedikit tertawa tapi bukan berarti ia membiarkan Tama melakukannya , " tidak apa-apa Ibu aku bisa membawanya sendiri " ucapnya sambil kembali membawa koper yang tadi ia bawa.
" Jangan membuatku seperti adik yang tidak berguna " kata Tama yang langsung mengambil alih koper di tangan Elin dan membawanya pergi menuju kamar perempuan itu.
" Kenapa dia menjadi begitu manis ibu " ucap Elin sambil terus melihat pada Tama yang sedang menaiki anak tangga dengan membawa barang-barangnya.
" Itu karena dia juga sangat merindukanmu "
" Rindu ? " ulang Elin tak percaya.
" Ya , dia pasti juga sangat merindukanmu "
" Bahkan kau tahu nak , dari dia lah kami tahu apa saja yang kau lakukan di sana "
" Dia benar-bebar memperhatikanmu " tambah Mala tertawa kecil , namun ucapan itu berhasil membuat hati Elin kembali terenyuh dan ia tidak menyangka jika adiknya yang terlihat cuek bahkan tak peduli padanya selama ini ternyata begitu memperhatikannya.
" Kenapa kau menangis nak ? " ucap Mala menjadi panik karena melihat mata Elin yang sudah berair , " ini air mata bahagia ibu "
" Aku benar-benar bahagia karena telah kembali kerumah ini "
" Bukan kembali tapi pulang " kata Bimo meralat.
" Ya maksudku pulang ayah " ucapnya membenarkan sambil menghapus sisa air mata bahagia dari seorang anak angkat.