
Wilna berjalan cepat saat melihat Viona yang terlihat berjalan dengan tergesa-gesa menuju pintu utama rumahnya, " Viona... " panggilnya berteriak.
" Mau kemana ? " tanyanya lagi.
Viona menghentikan langkahnya, " aku harus mencari tahu yang sebenarnya Wil. Aku tidak bisa hanya dengan diam seperti ini ".
" Memangnya sekarang apa yang ingin kau lakukan ? " tanya Wilna semakin mendekat.
" Aku ingin bertanya langsung pada Ibu Elin " sahutnya dan Wilna dengan cepat menggelengkan kepalanya, " tidak. tidak jangan lakukan itu Viona. Kalau kau seperti ini, sama saja kau sedang ingin pergi membatalkan rencana pernikahan anak kalian ".
" Tapi aku juga tidak bisa diam seperti ini terus Wil. Aku ingin segera mengetahui kebenarannya "
Viona mendekap wajahnya dengan ke dua telapak tangan " Aku sungguh tidak bisa tenang Wil " sambungnya dengan kembali terisak.
" Kita akan menemui ibu Elin sekarang tapi dengan alasan ingin membicarakan rencana pernikahan anak kalian. Bukan untuk menanyakan perihal ini "
" Tapi wil.. ! "
" Biar nanti aku yang bicara " potong Wilna dan Viona hanya mengangguk lemah dengan menghapus sisa air mata di pipinya, " tunggu disini sebentar. Aku mengambil tasku, setelah itu kita langsung pergi " pintanya Wilna dan Viona kembali mengangguk.
****
Di sebuah Resort di pulau Lombok beberapa anak mudah kini tengah menikmati pesta kecil di pinggir kolam yang berjarak begitu dekat dengan tepian pantai.
Green adalah orang pertama yang membuat ide untuk pesta BBQ malam ini. lalu semua orang setuju dan akhirnya sekarang mereka berkumpul dengan kesibukan mereka masing-masing.
Mike mengambil alih sebagai Chef malam ini. karena ia memang mahir di dalam urusan masak memasak dan itu di setujui oleh semua orang yang sudah mencoba makanan hasil dari buatan tangannya.
Di temani Hannah. Mike begitu bahagia walau malam ini ia harus berdiri di hadapan sebuah tungku pemanggangan dan memutar balik daging di hadapannya hingga matang.
" Kau harus berjanji akan membawa aku kemari lagi " pinta Hannah sambil bergelayut di lengannya.
" Kau senang disini ? "
" Hemm.., sangat senang. Bahkan aku seperti tidak ingin kembali ke New York " kata Hannah lemah, " kau hanya merasa sepi ketika di New York. makanya kau ingin terus disini "
" Bukan. bukan karena itu juga. Disini aku seperti memiliki keluarga, itu yang membuat aku senang disini ".
" Apa kau tidak senang memiliki aku hemmm ? " potong Mike.
Hannah melepas pelukannya dan menatap pada dirinya, " kenapa kau bertanya seperti itu ?"
" Di New York kau masih memiliki aku. Seharusnya itu cukup untuk membuat kau merasa senang untuk tetap berada disana " ucapnya merajuk.
Hannah langsung saja tertawa, " kenapa kau menjadi begitu perasa huh. tentu disini aku juga senang karena ada kau Mike "
" Tapi tadi kau tidak terlihat seperti itu "
" Ceh ,apa kau tidak mendengar. Bahkan tadi aku mengatakan kalau ingin kau membawa aku kembali kesini. itu berarti aku juga ingin ada kau ".
" Menyebalkan. Ternyata kau tidak paham dengan ucapan kekasihmu sendiri " sambung Hannah yang berbalik merajuk.
" Tentu kita pasti akan kembali kemari sayang. Tidak mungkin kita tidak hadir pada hari pernikahan Daniel dan Mike " ujar Mike tertawa.
" Maksudku bukan hanya hari itu "
" Iya kita akan kemari, kapan pun kau ingin"
" Janji ? " tanya Hannah dengan mata yang berbinar karena begitu senang.
" Hemm.. " balas Mike mengangguk.
" Katakan dulu kalau kau berjanji Mike "Rengek Hannah.
" Janji Hannah sayang. Apa sekarang kurang puas ? " ucapnya dan Hannah tertawa dengan kembali bergelayut di lengannya.
" Tolong sekali kalian berdua juga jangan membuatku kesal malam ini. Aku sudah cukup muak berada di tengah manusia berpasang-pasangan " kata Meili yang tiba-tiba datang dengan menggerutu.
" Ada apa Meil ? " tanya Hannah bingung, begitu pun dengan Mike.
" Kalian lihat semua orang-orang disana seperti tidak punya perasaan padaku. Membiarkan aku duduk sendiri di antara mereka yang asik bercumbu " jelasnya sambil menunjuk pada tiga pasang manusia yang terlihat sibuk dengan tingkah mereka masing-masing.
Melihat itu Mike dan Hannah langsung saja tertawa, " Kalau aku jadi kau. Aku akan sangat menyesal karena datang kemari " kata Mike.
" Aku memang sedang merasakan itu sekarang. Tapi sayangnya aku tidak bisa melakukan apapun selain tetap disini. Jadi tolong hanya pada kalian berdua tolong sekali hargai kehadiranku " ucap Meili yang tidak berhenti membuat Hannah dan Mike tertawa.
" Ada apa ini ? " timpal Green yang datang mendekat dengan piring kecil di tangannya.
" Meili sedang kesal karena tidak memiliki pasangan disini " kata Hannah yang berhasil membuat wanita di dalam ucapannya itu berdelik padanya, " bukan karena tidak ada pasangan tapi aku kesal melihat kalian yang berpasangan-pasangan " katanya berkilah.
" Ya itu sama saja Meili " seru Mike, membuat Green ikut tertawa.
" Jadi masalahnya hanya karena kau tidak memiliki pasangan ? "timpal Green dan Meili dengan cepat menggelengkan kepala, " tidak aku biasa saja, tapi tolong hargai aku ".
" Tentu kami sulit melakukan itu. Justru yang mudah sekarang adalah aku mencarikan pasangan untukmu malam ini " sahut Green.
" Maksudmu ? " tanya Meili dengan alis yang saling bertaut.
" Iya datang dalam mimpi " sahut Meili melengos, sementara Green kini telah sibuk dengan benda pipih di tangannya.
~
Elin menggunakan dress berwarna biru muda malam ini, dengan kera berbentuk V yang jatuh begitu rendah untuk memperlihatkan punggungnya.
Ia termenung menatap debur ombak yang masih bisa terlihat oleh penerangan lampu taman dan menikmati angin pantai yang sesekali bermain pada anak rambutnya.
Perasaanya begitu damai dan tidak terganggu pada suara berisik oleh beberapa sahabatnya.
Cup
Tiba-tiba sebuah kecupan mendarat di pipi sebelah kirinya. membuatnya tersentak dan segera melihat pada siapa yang baru saja melakukan itu pada itu, " kau mengejutkan aku sayang " katanya dengan tersenyum setelah melihat Daniel di sisinya.
" Jangan termenung " ucap Daniel sambil ikut duduk disisinya.
" Aku hanya sedang menikmati suasana bukan termenung " sahutnya tertawa.
" Kau terlihat lebih baik dari pada saat tadi datang " ucap Daniel tiba-tiba, dengan mata yang memandang ke arahnya.
Elin terhenyak seketika dan ikut membalas tatapan kekasihnya, " benarkah ?, mungkin itu hanya perasaanmu sayang " katanya dengan barusaha untuk tersenyum.
Ia begitu tidak nyaman saat mengetahui kau ternyata Daniel menyadari sikapnya tadi siang.
" Tidak, aku tahu kau benar-benar tidak nyaman tadi siang dan aku juga tahu penyebabnya " ucap Daniel.
Mata Elin membesar sesaat, lalu dengan cepat mengalihkan pandanganya dengan kembali menatap pada tepian pantai.
" Tidak apa-apa sayang. Aku sangat mengerti menjadimu dan aku juga menyesali kenapa kita datang kemari " sambung Daniel.
" Maafkan aku " ucap Elin tiba-tiba dan kembali melihat ke arahnya dengan memandang penuh keteduhan, " aku bukan bermaksud untuk tidak menghargaimu ,tapi... "
" Aku mengerti " potong Daniel, bahkan tangannya bergerak membelai lembut wajah kekasihnya, " Aku sungguh memahamimu " katanya lagi, bahkan ia memberikan senyum di ucapannya.
" Kau benar-benar membuatku merasa bersalah " kata Elin dengan bergerak mendekap tubuhnya.
" Aku sungguh tidak apa-apa sayang. Kau pantas merasakan itu dan sangat mengerti menghilangkan ingatan tentang seseorang yang pernah ada di hidup kita itu adalah hal sangat sulit. Apa lagi saat kembali melihat tempat penuh kenganan bersamanya " .
" Bahkan tadi aku tahu kalau kau menangis di ujung pintu masuk " sambungnya.
Elin melepas dekapannya dan menatap pada mata Daniel, " kau sungguh tidak marah ? " tanyanya lemah dan Daniel menggelengkan kepalanya dengan tersenyum.
" Aku sudah mengatakan kalau aku mengerti sayang " ucapnya, lalu Elin kembali mendekap tubuhnya dengan menangis, " maafkan aku sungguh maafkan aku Daniel " katanya dengan penuh penyesalan.
" Sayang jangan menangis. Kau tahu aku sangat benci saat melihat air matamu terjatuh".
" Tapi kau sendiri yang membuatku menangis " ucap Elin lemah.
Daniel tersenyum, " kau selalu berhasil membuatku gemas" ucapnya.
" Tapi kau sungguh tidak marah ? " tanya Elin dengan kembali menatap pada wajahnya.
" Tidak sayang. asal kau jangan sering melakukannya" pintanya dan Elin mengangguk, " tapi maaf Daniel. Aku benar-benar tidak bisa menghilangkan dia dari pikiranku. sesekali aku masih mengingatnya terlebih pada saat seperti ini, pada saat aku harus kembali melihat tempat yang memiliki kenangan dengannya "
" Aku mengerti dan tentu aku tahu. Dia pasti memiliki tempat tersendiri di hatimu begitu pun aku "
" Dan yang membuatku tidak khawatir, karena walau kami sama-sama ada di hatimu tapi tempat kami jauh berbeda. Dia berada di masa lalumu dan aku berada di masa depanmu. Itulah hal yang paling aku yakini dan itu sebabnya aku tidak marah saat aku tahu hari ini kau menangis karenanya "
" Aku benar-benar mencintaimu Daniel " ucap Elin bersungguh-sungguh dan menatapnya dengan penuh penyesalan.
" Aku pun begitu sayang, aku juga sangat mencintaimu dan sangat takut kehilanganmu " ucapnya, sambil mengecup lembut puncak kepala Elin.
" Sayaang... " panggil Elin.
" Hemmm.. "
" Kau lihat " tunjuknya pada pasir dekat bibir pantai , " disana kita pertama kali bertemu " lanjutnya dan Daniel mengangguk dengan tersenyum.
" Aku bahkan sangat ingat saat itu kau terkejut karena aku tiba-tiba datang ".
" Hemm.. kau datang seperti hantu " ujar Elin tertawa.
" Aku benar-benar tidak menyangka jika pertemuan itu adalah awal dari takdir kita " sambungnya, " dan sekarang kita akan menikah. Aku selalu berdoa supaya tidak ada hambatan apapun untuk rencana ini " katanya lagi, sementara Daniel sudah terdiam menatap ke arahnya.
" Apa yang tidak bisa kau maafkan sayang ? " tanya Daniel tiba-tiba dan Elin dengan cepat menggelengkan kepalanya, " Aku tidak pernah tidak memaafkan apapun, semua kesalahan orang lain terhadapku selalu aku maafkan karena aku juga bukan manusia yang sempurna ".
" Tapi bagaimana jika kesalahan itu sangat fatal ? "
" Kenapa kau bertanya seperti itu sayang ? " tanya Elin yang menjadi heran.
Daniel tersenyum kaku, " aku hanya ingin tahu kesalahan seperti apa yang harus aku hindari " katanya berbohong.
" Emmm jika sangat fatal. Aku juga akan tetap memaafkan tapi aku juga akan pergi karena tidak mungkin aku bertahan pada sesuatu yang sudah membuatku kecewa " jelas Elin dan itu berhasil membuat Daniel benar-benar terdiam dengan hati yang merasa seperti teiris.