
" Bagaimana ? " tanya cepat Mike setelah melihat Elin kembali , namun tanpa Meili bersamanya.
" Apa yang terjadi ? " tanyanya semakin panik karena Elin tiba-tiba kembali menangis , " Daniel mengalami Syok Hypovolemik " kata Elin menjelaskan dengan air mata yang semakin tidak bisa di hentikan untuk mengalir , Hannah segera menutup mulutnya karena begitu terkejut dan Mike yang terdiam dengan lidah yang tiba tiba menjadi keluh untuk kembali berbicara.
" Lalu dimana Meili sekarang ? " tanya Hannah .
" Dia masih berada di ruang dokter Albert " jelasnya , karena memang hanya itu yang ia tahu.
" Kau harus tenang ya , semua pasti akan baik-baik saja " ucap Hannah yang tidak lagi bisa menahan untuk tidak memeluk perempuan yang terlihat begitu terluka , " dan maafkan aku " sambungnya.
" Aku tahu ini bukan saatnya untuk mengatakan ini , tapi aku tidak bisa membiarkan kau terus salah paham padaku " lanjut Hannah dan Elin masih terdiam dengan mengusap sisa air mata di pipinya.
" Sungguh yang kau lihat kemarin bukan seperti apa yang ada dalam pikiranmu dan aku mengerti jika kau kecewa , tapi semuanya tidak lagi seperti yang terlihat Elin , tidak ada lagi perasaan lebih antara kami "
" Dia begitu mencintaimu dan aku juga tidak lagi memiliki perasaan apapun padanya , semua sunggu sudah berakhir , hatiku benar benar sudah memilih dimana dia akan di tempatkan walau ini terlihat begitu jahat , tapi akhirnya aku menyadari kalau ternyata aku mencintai Mike " jelas Hannah sambil melihat sekilas kearah laki-laki itu dan membuat mata Elin sedikit membesar , karena ia memang belum mengetahui kabar kembalinya hubungan sepasang manusia itu.
" Begitu pun Daniel , aku sangat yakin rasa khawatirnya padaku tidak lebih dari perasaan seorang teman " lanjutnya dengan menarik nafas begitu dalam " aku perempuan yang malang Elin , aku tidak memiliki siapapun di dunia ini dan karena itu dia begitu khawatir padaku " ucap Hannah dengan suara bergetar , " maafkan aku " ucap Elin ,dengan kembali memeluk tubuh Hannah.
" Kau tidak perlu meminta maaf , karena ini memang terlihat salah dan aku sungguh mengerti perasaanmu " jelasnya sambil mengusap lembut punggung Elin.
" Tapi satu hal yang harus kau tahu " ucap nya lagi dan melepas pelukan mereka lalu menatap begitu dalam pada bola mata Elin yang sedikit memerah karena tangisan , " Daniel begitu mencintaimu " ucap Hannah begitu serius.
" Sebenarnya ini begitu memalukan untukku , tapi kau harus tahu "
" Apa yang Daniel lakukan padamu tidak pernah ia lakukan padaku dan kau tahu Elin , hanya melihat dia menatapmu saja semua orang akan mengetahui kalau dia begitu mencintaimu dan kau tahu tatapan itu tidak pernah ia berikan padaku "
" Jadi aku mohon , jangan lagi meragukan perasaannya "
" dan pertemanan kita " lanjut Hannah dengan memberikan senyuman begitu teduh.
" Maafkan aku Hannah , aku sudah di butakan oleh rasa cemburu " ucap Elin lirih dengan wajah yang kembali menunduk.
" Itu sangat wajar , karena kau mencintainya dan aku akan melakukan hal serupa jika itu terjadi padaku dan yang berbeda aku tidak akan langsung pergi sepertimu .. " ucap Hannah menggantung dan tiba-tiba tertawa , " karena sebelum pergi , aku akan memukul mereka berdua terlebih dahulu " lanjutnya dengan terus tertawa.
" Apa sebaiknya aku melakukan itu sekarang " ucap Elin tiba-tiba dan Hannah langsung menghentikan tawanya , " Shiitt , kenapa aku begitu bodoh " umpatnya ketika menyadari kesalahannya berbicara.
" Baiklah , kau bisa memukulku dimana saja asal jangan di hidungku karena ini begitu mahal " kata Hannah dengan begitu pasrah sambil menyodorkan wajahnya kearah Elin.
" Kau benar-benar gadis yang luar biasa " ucap Elin tersenyum dan kembali memeluk tubuh perempuan itu , " Apa yang kau lakukan ? , bukankah kau ingin memukulku "
" Aku tidak pernah mengatakan itu , dan kenapa kau begitu bodoh huh , bagaimana bisa seorang teman menyakiti temannya "
" Kau benar-benar sedang membalasku nona " ucap Hannah tertawa.
" Maksudmu ? "
" emmmm..ucapanmu seperti menyindirku dan itu lebih menyakitkan dari sebuah pukulan "
" Benarkah ? , tapi sungguh bukan itu maksudku " kata Elin yang menjadi kalang kabut karena perkataannya sendiri , membuat Hannah tidak berhenti tertawa.
" Kau benar-benar begitu lucu Elin dan sangat langkah "
" Ya , itulah yang membuat kau tidak boleh menyia-nyiakan aku " sambung Elin , membuat dua wanita itu saling tertawa dan mengeratkan pelukan mereka.
" Begitu pun dengan masalahmu Hannah " balas Elin lalu melepas pelukan itu , namun sesaat ia kembali menatap Hannah dengan mata yang membesar , " ada apa ? " tanya Hannah bingung melihat tatapan Elin padanya , " Apa tadi kau tertawa Hannah ? " tanyanya begitu konyol.
" Ya , ada apa denganmu ? "
" Tidak , aku hanya tidak habis pikir denganmu "
" Maksudmu ? "
" Kau masih bisa tertawa dengan semua masalah yang baru saja menimpamu " jelasnya tidak percaya.
" Ceh, kau mengejutkan aku Elin " kata Hannah yang kembali tertawa , " itu memang keahlianku " katanya lagi sambil berbisiknya di telinga Elin.
" Ternyata kau begitu hebat " ucap Elin begitu serius.
" Dan sangat langkah " sambung Hannah dengan sisa tawanya.
Dan obrolan mereka tiba tiba terhenti saat melihat Meili kembali dengan begitu tergesa-gesa bersama dokter Albert dan beberapa perawat lainnya , dan dari arah pintu ruang rawat Daniel tiba- tiba saja terbuka oleh seseorang , " kita butuh persediaan darah yang lebih dokter " ucapnya.
" Persiapkan segalanya dengan cepat " ucap Dokter Albert dengan begitu tergesa-gesa , namun ia kembali memutar langkahnya menuju Meili.
" Kau harus mengatakan ini pada Nyonya Viona , nona " ucapnya pada Meili yang terlihat sudah menangis , " dan kami meminta doa kalian " ucapnya lagi pada Elin , Hannah dan juga Mike.
" Aku mohon dokter , lakukan yang terbaik untuknya " pinta Elin dengan kedua tangan yang bersimpu menandakan jika ia meminta dengan sepenuh hati , " Kami pasti akan melakukan itu nona " sahut Dokter Albert yang menjadi tersentuh dengan sikap perempuan di hadapannya , lalu dengan segera ia kembali kedalam ruang rawat Daniel dan beberapa perawat yang datang dengan tergesa-gesa sambil membawa berbagai macam peralatan rumah sakit .
" Apa yang terjadi Meili ? " tanya Mike yang ingin mengetahui apa alasan dari kepanikan semua orang , " detak jantung Daniel tiba-tiba melemah " jelasnya dengan tangisan yang tidak bisa tertahan dan bersamaan wajah Elin yang tiba-tiba memucat.
" Maafkan aku , ini semua salahku " ucapnya dengan bibir yang bergetar.
" Ini bukan saatnya untuk saling menyalahkan Elin , kita hanya perlu berdoa untuknya " ucap Meili yang berusaha untuk tetap memberi ketenangan pada kekasih kakaknya itu dan karena ia yakin , mendengar kabar ini tentu akan membuat hati perempuan itu tidak kalah terluka dari hatinya.
" Ya Elin , apa yang di katakan Meili itu benar , bukan saatnya untuk menyalahkan diri sendiri dan kau harus tetap kuat , Daniel sangat membutuhkan dukunganmu " ucap Hannah dan tidak beberapa lama pintu ruangan itu kembali terbuka , " Apa ada yang memiliki golongan darah B ? " tanya perawat yang keluar dari balik pintu , " saya dokter " jawab cepat Elin.
" Apa yang terjadi suster ? " tanya Hannah mendekat karena Meili tidak lagi bisa berbicara apapun selain menangis.
" Tuan Muda memiliki tekanan darah yang begitu rendah dan itu semakin menghambat detak jantungnya untuk berfungsi "
" Dan kami sedang tidak memiliki persediaan darah yang lebih , yang cocok dengan golongan darahnya " lanjut suster menjelaskan ," saya bersedia mendonorkan darah saya dokter " sambung Elin , membuat semua orang menatap kearahnya , " apa anda memiliki golongan darah B ? " tanyanya dan Elin mengangguk dengan lemah.
" Baik nona , saya akan mengantar anda menuju ruang pemeriksaan dan pengambilan darah "
" Apa kau yakin ? , tubuhmu sedang lemah Elin " ucap Hannah yang mengkhawatirkan kondisi sahabatnya , " Tidak Hannah , kau yang bilang aku harus kuat dan aku tidak bisa tinggal diam untuk ini "
" Dan hanya ini yang bisa aku lakukan untuk kesembuhannya " ucap Elin dengan menarik nafas begitu dalam, " ayo suster " ajaknya sambil beranjak.
" Terimakasih Elin , Daniel begitu beruntung karena memilikimu " ucap Meili yang menyempatkan memegang tangan perempuan itu ,sebelum pergi bersama suster.
" Semua pasti akan baik-baik saja Meili " ucapnya begitu kuat , berbeda dengan dirinya beberapa detik yang lalu , yang terlihat begitu terpuruk dan lemah, dan ntah apa yang merubahnya menjadi wanita yang terlihat begitu tegar.
jangan lupa vote , like dan coment🤗
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚