Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Tenanglah


Daniel ikut bergabung ketika semua anak muda di rumah keluarga Vernandes kini tengah berada di ruang santai di dalam salah satu ruang di rumah mewah milik keluarga itu.


" Morning " sapa Hannah yang baru saja datang.


" Morning cantik " balas Green tersenyum , " kemari Hannah " serunya sambil menepuk tempat duduk di sampingnya , sementara Hannah mengangguk dan berjalan ke arahnya.


" Apa tidurmu nyenyak ? " timpal Amel.


" Tidak begitu " keluh Hannah dengan dahi sedikit berkerut.


" Kenapa ? , ada apa Hannah , apa tempat tidurmu tidak nyaman hemmm... ? " tanya Green beruntun dengan wajah sedikit panik.


" Tidak tidak tempat tidurnya sangat nyaman tapi ntah kenapa setelah melepas gumpalan rambut di kepalaku tadi malam rasanya setelah itu kepalaku begitu pusing " jelas Hannah mengeluh dan semua orang menjadi tertawa setelah mendengar penjelasannya , " ternyata kepalanya sakit karena menggunakan konde " ujar Amel dan Hannah mengangguk pelan membenarkan.


" iya kepalaku sakit karena itu " ucapnya dengan begitu kaku dan mata semua orang menjadi membesar karena begitu terkejut mendengar perempuan itu menggunakan bahasa Indonesia , " Hannah... kau sudah bisa bicara Indonesia ? " tanya Meili terkejut.


" Sedikit " jawabnya sedikit tertawa dan tanpa pamit Green langsung merangkul tubuhnya , " keren Hannah , kau begitu cepat paham dengan bahasa negara kita " pujinya begitu bangga.


" Hemm.. walau aku terlihat sedikit bodoh tadi malam sebenarnya aku sedang menyimak apa yang kalian ucapkan " kata Hannah dengan kembali menggunakan bahasa inggris dan semua orang kembali tertawa , " aku memang sedikit mengkhawatirkanmu tadi malam " ucap Meili tertawa.


" Hemm.. aku juga , dia hanya terus diam saat kita semua tertawa " sambung Green dan tertawa geli saat mengingat wajah tak mengerti Hannah tadi malam.


" Kau benar-benar hebat Hannah " kata Green kembali memuji.


" Terimakasih " balas Hannah tersenyum dan semua orang kembali syok dengan ucapannya.


" Aku jadi begitu menyukai negara ini karena kalian , aku seperti memiliki keluarga disini " sambung Hannah tersenyum hangat dan Green kembali merangkul tubuhnya , " kami semua adalah keluargamu , jadi kau memang mempunyai keluarga disini " ucapnya begitu lembut.


" Ya Hannah , kami semua keluargamu dan jangan ragu jika kapan saja kau membutuhkan kami " kata Amel menimpali.


" Thankyou , thankyou so much " ucap Hannah dengan bersungguh-sungguh bahkan kini matanya mulai sedikit berkaca-kaca oleh perasaan hangat yang menyentuh hatinya , " rasanya aku tidak ingin kembali ke New York " tambahnya tersenyum hambar.


" Kita harus kembali sayang dan akan kembali lagi kemari di hari pernikahan Daniel dan Elin " kata Mike , membuat semua orang menatap kearahnya , " kalian akan pulang ? , kapan ? " tanya semua orang bergantian.


" Mungkin lusa " kata Hannah menjawab , " hari itu aku harus kembali karena besoknya aku harus bekerja lagi "


" Serius ? , kenapa begitu cepat Hannah " pungkas Green.


" Hemm.. ya itu karena aku harus kembali bekerja Green , aku tidak bisa kembali kemari kalau aku tidak bekerja " balasnya tertawa.


" Ceh , padahal aku berharap kau lebih lama disini " kata Green kecewa ,


" seperti kata Mike aku akan kembali lagi nanti "


" Ya kau harus kembali "


" Itu pasti , mana mungkin aku tidak datang di hari pernikahan Elin " ucap Hannah kembali tertawa.


" Jadi apa rencana kita untuk menghabiskan waktu dua hari yang tersisa ini " ucap Meili bersemangat.


" Apa kau juga akan kembali ke New York bersama Hannah , Meili ? " tanya Green dan ia segera menggelengkan kepalanya , " bahkan aku berpikir aku tidak akan kembali lagi ke New York " sahutnya dengan sedikit menghela nafas dan semua orang kembali tertawa , " syukurlah , aku kira kau juga akan cepat kembali "


" Jadi Rem apa rencanamu ? " tanya Nathan pada laki-laki yang terlihat sibuk dengan benda pipih di tangannya , " emm.. apa ? " tanya untuk menyimak pertanyaan apa yang sedang di lontarkan kepadanya.


" Ada apa kau terlihat begitu semuringah Rem ? " tanya Nathan kembali saat melihat tingkah Daniel yang terlihat sedikit aneh sejak tadi , " tidak ada apa-apa aku hanya sedang chattan dengan calon istriku " jelasnya dengan begitu santai.


Namun justru ucapannya membuat semua orang yang berada di ruangan itu menjadi sedikit kepanasan , " baru pertama kalinya aku melihat Daniel begitu menggelikan " gerutu Meili dengan menatap pada kakaknya.


" Nanti saat kau akan menikah , kau akan tahu bagaimana rasanya jadi aku sekarang " ucap Daniel dengan mimik wajah yang menyebalkan , sementara Meili hanya melengos tanpa kembali membalas perkataan kakaknya.


" Jadi apa rencanamu Rem ? " ulang Nathan.


" Rencana apa ? " balasnya tak mengerti dan Meili langsung berdelik padanya , " semua orang sedang membicarakan liburan Daniel , apa dari tadi kau tidak menyimak pembicaraan kami disini huh " ucapnya begitu kesal.


" Aku begitu fokus dengan pesan-pesan dari calon istriku " jawabnya begitu jujur , " memangnya apa yang telah kalian bicarakan ".


" Untung saja calon istrimu sahabatku sendiri , kalau tidak sudahku hancurkan hubungan kalian " ucap Meili menggerutu , " kenapa kau ingin menghancurkannya ? "


" Karena kau benar-benar terlihat bodoh saat jatuh cinta Daniel " balas Meili dengan berteriak dan semua orang kembali tertawa.


" Kita sedang membicarakan Hannah dan Mike yang lusa akan kembali ke New York , dan untuk sisa dua hari ini kita punya rencana untuk liburan " kata Nathan kembali menjelaskan , " aku setuju " jawabnya cepat.


" Kami juga sedang membicarakan itu di pesan " sambungnya.


" Apa kalian berdua sudah punya rencana ? "


" Belum " sahut Daniel seraya menggelengkan kepalanya.


" Telepon Elin sekarang kak , biar aku yang berbicara padanya " ucap Green dan Daniel kembali berkutat dengan benda pipihnya.


sambung telepon pada Elin telah tersambung dengan semua orang yang kini menunggu telepon itu untuk terjawab , " ya sayang " jawab dari seberang telepon.


" Green ingin bicara padamu " ucap Daniel.


" emm ya .. berikan handphonemu padanya "


" Lin ini aku " ucap Green setelah handphone Daniel telah berada ditangannya.


" Ya Green , ada apa ? "


" Kita sedang membicarakan liburan , apa kau punya rencana "


" Aku baru saja ingin bertanya hal itu padamu " sahut Elin tertawa.


" Kita masih punya waktu dua hari sebelum Hannah dan Mike kembali ke New York , menurutmu kemana kita akan pergi "


" Astaga aku benar-benar lupa kalau Hannah dan Mike akan kembali secepat ini , aku sungguh tidak terpikirkan lagi dengan mereka " keluh Elin menyesal , " don't worry Elin " sambung Hannah yang sejak tadi ikut menyimak pembicaraan di dalam sambungan telepon itu.


" Maafkan aku Hannah " ucapnya lagi.


" Kau selalu berlebihan Elin " kata Hannah tertawa.


" Jadi apa rencanamu ? "


" Apa kita liburan di puncak " kata Amel memberi saran.


" Tidak tidak , suasana dingin bukan suatu hal yang aneh untuk mereka " sahut Alfin dan semua orang mengangguk setuju kecuali Mike dan Hannah.


" Tidak apa-apa Al , kami akan ikut saja kemana pun kalian mau " kata Mike.


" Tidak tidak , kita masih punya banyak pilihan selain ke puncak "


" Bagaimana Lombok " ucap Daniel tiba-tiba dan sesaat semua orang terdiam.


" Apa waktunya cukup ? " pungkas Green.


" Cukup jika kita pergi hari ini dan kita memiliki waktu dua malam di sana " sambung Alfin.


" Bagaimana menurutmu Lin ? " tanya Green karena tidak ada komentar dari seberang telepon , " Lin ... "


" Dan ya , Hannah pasti menyukai Lombok " tambahnya


" emm.. kita juga sudah begitu lama tidak kesana "


" Ya , aku ikut saja Green "


" Baiklah jadi kau setuju kita liburan ke Lombok ? "


" Ya Green "


" Baiklah aku akan kembali menghubungimu nanti "


" Emm.. Green tolong berikan handphonennya pada Daniel aku ingin bicara padanya "


" Tentu Calon nyonya Remkez " kata Green tertawa lalu memberikan benda pipih di tangannya pada pemiliknya.


" Ya sayang " ucap Daniel.


" Apa kau setuju dengan liburan ini ? " tanyanya lagi ,


" emmm ya tentu.. " sahut Elin dari seberang.


" Baiklah kalau begitu siapkan semuanya mungkin satu jam lagi kita sudah akan berangkat "


" Huh apa secepat itu ? "


" Tentu sayang kita tidak punya waktu lagi sementara Mike dan Hannah akan kembali lusa "


" Ya ya baiklah aku akan segera bersiap sekarang "


" Astaga Daniel aku tidak memiliki apa-apa untuk liburan " sambung Elin sedikit panik.


" Apa yang memang tidak kau punya ? , jika hanya pakaian kita akan membelinya disana jadi jangan membuatnya menjadi rumit , oke ?"


" Ceh " decih Elin.


" Kalau begitu sampai bertemu nanti sayang " ucap Daniel yang akan mengakhiri panggilannya.


" Tunggu sayang "


" Hemm... ada apa ? "


" Tolong tanyakan pada Mami apa hari ini dia punya waktu , ibu ingin mengunjunginya ? "


" Akan ku tanyakan sayang "


" Baiklah aku tunggu kabarmu "


" Hemm.. bye sayang "


" Bye sayang " balas Elin lalu menutup panggilan teleponnya.


" Jadi jam berapa kita akan berangkat ? " tanya Nathan dan semua orang begitu menunggu jawaban itu dari mulut Daniel , " aku pikir kalian sudah menentukannya " balasnya tertawa.


" Bagaimana kalau satu jam lagi ? "


" Huh , kau yang benar saja Daniel " gerutu Meili menjadi panik , begitu pun semua orang.


" Itu terlalu cepat Rem kita belum menyiapkan apapun " sambung Alfin.


" Memang apa yang harus di siapkan , jika hanya pakaian bukankah kita bisa membelinya disana dan lagi pula kita tidak perlu memesan tiket pesawat bukan , jadi jangan membuatnya rumit " katanya begitu enteng.


" Terlalu kaya ternyata juga salah jadinya terlalu menggampangkan " gerutu Nathan , sementara semua orang telah bergegas menuju kamarnya masing-masing.


" Green tunggu " panggil Daniel dan perempuan itu segera menghentikan langkah cepatnya, " ya kak "


" Apa kau tahu dimana Mami ? "


" Oh Mami dan bunda sepertinya sedang berada di taman belakang , ada apa kak ? "


" Tidak hanya ada sesuatu yang harus aku sampaikan pada Mami "


" Baiklah terimakasih Green " ucap Daniel lalu berangsur pergi menuju tempat dimana ibunya kini berada.


Bibir Daniel sedikit melengkung saat dirinya telah menemukan keberadaan ibunya , namun senyumnya itu langsung memudar tak kalah dirinya melihat ibunya kini tengah menangis dengan Wilna yang berusaha menenangkannya.


" Mam.. " panggilnya dengan mendekat tapi ke dua wanita itu tidak menyadari kehadirannya.


" Lalu bagaimana jika itu kebenarannya ? , aku sungguh tidak tahu apa yang harus aku lakukan Wilna , Elin pasti tidak ingin melanjutkan pernikahan ini karena tahu aku adalah pembunuh orang tuanya " racau Viona di dalam tangisannya.


Deg


Daniel terdiam seketika dengan tubuh yang mematung , tiba-tiba saja dirinya merasa seperti tersambar petir oleh perkataan yang baru keluar dari mulut ibunya.


" Viona aku mohon tenang.. "


" Mam.. " panggilnya kembali dan mencoba menenangkan dirinya.


" Daniel.. " seru Viona dan Wilna bersamaan dan nyaris membuat ke dua bola mata mereka keluar dari tempatnya karena begitu terkejut.


" Mam , apa yang aku dengan tadi benar.. ? " tanya pelan dengan tubuh yang mulai bergetar.


" Daniel... emmm "


" Mam.. katakan apa itu benar ? " tanyanya begitu mendesak.


" Mam.. "


" Daniel tenang ini bisa saja masih keliru " pungkas Wilna , sementara Viona sudah menangis tanpa bisa lagi mengucapkan apa-apa dari mulutnya.


" Tapi bagaimana jika yang terjadi adalah kebenarannya bunda " ucap Daniel pelan dengan mata yang terpejam sesaat ," nak tenanglah ,jangan seperti ini jangan membuat ibumu semakin ketakutan "


" Kita cari tahu terlebih dahulu kebenarannya "


" Tenanglah " ucap Wilna yang terus mencoba membuat tenang dua manusia yang kini telah terdiam dengan ke khawatirannya masing-masing.


" Jika kenyataan itu benar , sepertinya pernikahan ini tidak akan terjadi " ucap Daniel dengan perasaan emosi yang ia tahan lalu berjalan pergi meninggalkan dua wanita paruh baya di hadapannya.


" Daniel jangan bicara seperti itu? " teriak Viona dengan air mata yang terus menetes.


" Memangnya apa lagi yang akan terjadi jika itu kebenarannya Mam , Elin tentu tidak ingin menikah dengan anak dari ibu yang sudah membunuh kedua orang tuanya " balas Daniel dengan sorot mata yang menatap tajam ada Viona , sementara Viona sudah terdiam dengan air mata yang semakin deras mengalir.


" Tenangkan dirimu Daniel , jangan seperti ini " ucap Mala.


" Tidak akan ada yang bisa tenang jika kondisinya sudah seperti ini bunda " sahutnya lalu benar-benar pergi meninggalkan Viona dan Mala yang masih duduk terdiam di bangku taman , " bagaimana ini Wil "


" Tenang Viona pasti ada jalan keluar dari masalah ini , tenanglah oke "