Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Terimakasih telah Kembali


" Dokter Albert " panggil seseorang dengan begitu tergesa-gesa , Meili dan Viona segera beranjak dari duduknya setelah menyadari kalau suara itu berasal dari pintu ruang rawat Daniel , " Ada apa suster ? " tanya Meili mendekat.


" Dimana Dokter Albert ? " tanyanya tidak sabar.


" Dia sedang menangani pasien ? " jelas Meili ," Ada apa suster ? " tanya Dokter Albert yang baru saja datang dan segera mendekat.


" Pasien kembali normal Dokter " jelasnya dan tanpa menunggu dokter Albert segera masuk kedalam ruangan , sedangkan Meili dan Viona menghela nafas begitu legah setelah mendengar kabar yang begitu baik dan begitu tidak sabar untuk melihat keadaannya.


Selang beberapa menit Dokter albert kembali keluar dengan wajah yang begitu senang , " bagaimana keadaannya dokter ? " tanya Viona tidak sabar , " sangat baik nona , tiba - tiba semua kembali normal , termasuk detak jantungnya dan ini terjadi begitu cepat "


" Sepertinya donor darah dari Nona Merlinda sangat berfungsi dengan baik untuk tubuhnya " jelas Dokter Albert dengan tarikan nafas yang begitu legah karena bukan sesuatu yang mudah menangani pasien dalam keadaan kritis , terlebih karena tubuh itu di miliki oleh orang yang begitu penting di negeranya , dan itu sungguh membebankan.


" Apa kami sudah bisa melihatnya ? " sambung Mieli yang ikut tidak sabar.


" Tentu , tapi sekarang Tuan Muda masih tertidur karena pengaruh obat penenang " jelas Dokter Albert.


" Elin " gumam Meili tiba-tiba sambil menatap terkejut pada perempuan yang baru saja datang , membuat Viona dan Dokter Albert menghentikan pembicaraannya dan ikut melihat ke arah pandangan mata Meili.


****


" Aku juga sangat mencintaimu " ucap suara berat dengan terbata-bata , Elin terdiam sejenak dan pelan-pelan mengangkat kepalanya untuk memastikan jika suara yang ia dengar bukanlah halusinasi dari pendengarannya.


" Oh my God " teriaknya tertahan dan segera menutup mulutnya tidak percaya.


" Dokter , Dokter " teriak Elin , namun matanya tidak beranjak menatap kearah laki-laki yang masih terbaring di atas tempat tidur dengan mata yang sudah terbuka bahkan sedang tersenyum kearahnya walau terlihat begitu sulit untuk dia melakukannya.


" Dokter " teriaknya lagi.


" Ada apa Nona ? " tanya dokter Albert yang baru saja masuk di ikuti Meili dan juga Viona.


" Lihat , matanya terbuka " katanya dengan wajah yang tidak percaya sambil menunjuk kearah Daniel , dokter Albert mendekat dan segera memeriksa keadaan laki-laki itu.


" Darah anda seperti mukjizat Nona " ucap dokter Albert tersenyum namun tanpa menatap kearah Elin , " bagaimana keadaanya dokter ? " potong Viona mendekat.


" Sangat baik ,bahkan ini di luar dari standar pemulihan kami " jelas dokter Albert.


" Tapi anda harus tetap berada disini dulu Tuan , sampai kami memastikan kalau kesehatan anda sudah benar-benar pulih " lanjutnya pada Daniel.


" Kau benar-benar membuat mami takut Daniel " ucap Viona lirih yang kini sudah duduk di sisi ranjang sambil mengusap sisa air matanya , " maafkan aku " ucap Daniel begitu pelan karena tubuh yang masih begitu lemah.


" Jangan lagi seperti ini , aku sungguh tidak ingin mewarisi kekayaan keluarga seorang diri " ucap Meili mendekat dan mengucapkan dengan begitu serius walau terdengar seperti bercanda , ia segera memeluk tubuh tak berdaya kakak satu-satunya , " kau benar-benar membuatku takut " lanjutnya yang ikut mengusap air mata yang tiba tiba menetes karena begitu terharu, Daniel tidak berkata apapun namun tangannya mengusap pelan kepala adiknya.


" Bisa tinggalkan kami berdua " ucapnya lagi , semua orang akhirnya tersadar pada kehadiran perempuan yang sejak tadi tidak beranjak dari tempatnya dan masih menatap dengan penuh tidak percaya pada kenyataan yang baru saja terjadi.


Viona mendekat kearah Elin dan segera memeluknya , " Terimakasih telah menyelamatkan putraku " ucap Viona dengan menghela nafas legah, Elin masih tidak bisa berkata apapun karena otak yang masih belum bisa merespon dengan baik , " aku bersyukur , putraku bertemu dengan perempuan baik sepertimu " ucapnya lagi , dengan pelukan yang sudah ia lepaskan dan beralih memegang tangan Elin lalu mengusapnya dengan begitu lembut.


" Dokter , boleh aku minta air minum itu " tunjuk Meili pada gelas kaca yang berada di atas nakas yang juga berada tidak jauh dari dokter Albert.


" Minumlah , kau terlihat begitu syok " ucapnya mendekat pada Elin.


" Aku benar benar akan membunuhmu jika sekali lagi kau menyakitinya " ucapnya lagi namun mengarah pada Daniel.


" Dia sedang begitu lemah , inilah saat yang tepat jika kau ingin membalas perbuatannya " bisik Meili di telinga Elin , namun masih terdengar oleh orang lain.


" Meili jangan mengganggu kakakmu " ucap Viona dengan menarik tangan anak perempuannya itu untuk membiarkan sepasang kekasih itu berdua.


" Saya permisi dulu Tuan , Nona ,dan anda bisa memanggil saya jika ada yang di butuhkan " ucap Dokter lalu ikut meninggalkan ruang pasiennya


" Apa kau masih marah padaku " ucap Daniel pelan , karena Elin masih tidak beranjak dari tempatnya , " maafkan aku " ucapnya lagi dan Elin masih tidak menjawab , namun tiba-tiba ia berjongkok dan mendekap wajahnya dengan kedua tangan ,


samar-samar suara isak tangis mulai terdengar , " sayang aku mohon jangan menangis , aku tidak bisa melihatmu seperti ini " ucap Daniel begitu panik , namun ia tidak bisa melakukan apapun untuk menenangkan kekasihnya , karena peralatan rumah sakit yang masih terpasang pada tubuhnya , " sayang please , jangan menghukumku seperti ini " lanjutnya dengan hati yang begitu perih melihat wanitanya menangis , " kau sungguh menyebalkan Daniel " teriak Elin , namun suaranya terhadang oleh tangan yang masih menutupi wajahnya.


" Ya , kau bisa memukulku jika ingin meluapkan kekesalanmu "


" Bahkan sekarang aku benar benar ingin membunuhmu " ucap Elin dengan tangan yang sudah ia buka dari wajahnya , " kau bisa melakukannya , asalkan kau bisa memaafkan aku dan tidak lagi menangis " ucap Daniel yang terlihat begitu serius dengan ucapannya.


" Kau begitu bodoh , bagaimana bisa aku melakukannya , sementara aku begitu mencintaimu " ucapnya tanpa sadar sambil mengusap sisa air mata di pipinya.


Bibir Daniel tersenyum , perempuan itu selalu bisa membuat dia bahagia dengan tingkahnya ," kemarilah , please " ucap Daniel memohon pada Elin.


Pelan pelan Elin mendekat kearah ranjang dengan mata masih tidak ingin menatap kearah Daniel ," Terimakasih telah kembali " ucap Daniel begitu pelan namun mampu meluluh lantakan hati Elin , " aku sungguh tidak ingin hidup jika kau tidak ada " lanjutnya.


" Jangan berbicara bodoh Daniel " ucap Elin menjadi emosi dan tanpa sadar matanya menatap kearah Daniel yang masih terlihat begitu pucat , sesaat ia tertegun dengan hati yang merasa begitu perih karena melihat laki-laki yang ia cintai dengan kondisi yang begitu lemah ,


tidak ada lagi wajah tegas yang terlihat , hanya menyisakan tatapan senduh yang di penuhi dengan penyesalan.


" Kau benar benar membuatku takut " ucapnya , dan tanpa sadar memeluk tubuh Daniel dengan air mata yang kembali menetes , " jangan lagi seperti ini , aku mohon "


" Maafkan aku " ucap Daniel dan membalas pelukan itu.


" Aku sungguh tidak ingin kembali merasakan kehilangan " lanjut Elin yang masih menangis , bahkan kini tangisannya terdengar begitu pilu, " Aku berjanji , itu tidak akan pernah kembali terjadi padamu " sahut Daniel sambil mengusap lembut kepala wanitanya.


Elin masih terus menangis untuk mencurahkan rasa ketakutannya lewat air mata , rasanya memang begitu legah setelah mengetahui kalau kini keadaan laki-laki di hadapannya sudah kembali membaik , namun rasa trauma karena kehilangan benar benar telah membuatnya begitu terpuruk dalam ketakutan hingga begitu sulit untuk menyadari mukjizat yang baru saja ia terima.


" Aku mohon berhentilah menangis , aku sungguh tidak bisa melihatmu seperti ini " ucap Daniel memohon , " tapi kau yang selalu membuatku menangis " ucap Elin mengangkat tubuhnya sambil berusaha menghentikan tangisan.


" Ada apa ? " tanyanya saat melihat Daniel yang tiba-tiba terdiam , " sebaiknya memang aku tidak hadir di dalam hidupmu " ucap Daniel pelan.


" Apa sekarang kau sedang menyesalinya huh " tanya Elin dengan meninggikan suaranya , " Kau memang selalu membuatku menangis tapi aku akan terus menangis jika kau tidak hadir di dalam hidupku " lanjutnya begitu marah.


" Kau benar benar menyebalkan " geramnya begitu kesal , namun tiba-tiba tubuhnya terhuyung kearah ranjang oleh tarikan tangan Daniel , " jangan lagi menghilang , kau yang mengatakan kalau semua permasalahan harus kita bicarakan " ucap Daniel yang menatap begitu dalam pada sorot mata Elin yang berjarak begitu dekat pada wajahnya , " aku sungguh tidak ingin kehilanganmu " ucapnya dengan sepenuh hati dan mengecup lembut bibir Elin.


" Aku sungguh mencintaimu lebih dari apapun " ucapnya dengan begitu dalam ,


" aku mohon percayalah padaku , kau benar-benar segalanya , aku tidak pernah mencintai orang lain melebihi dari diriku sendiri dan itu sudah aku lakukan padamu " lanjutnya dengan air mata yang menetes dan berulang kali mencium tangan Elin yang terus ia genggam begitu erat dengan kedua tangannya.


" Apa kau menangis ? " tanya Elin tidak percaya , rasanya begitu tidak mungkin ia akan melihat air mata dari laki-laki gagah di hadapannya ini ,


Daniel mengangguk pelan , " aku menangis karena aku begitu mencintaimu " ucap Daniel begitu dalam dengan telapak tangan Elin yang yang dekapkan pada wajahnya , " aku begitu mencintaimu " ulangnya dengan mata yang terpejam dan air mata yang kembali terjatuh.


" Maafkan aku telah meragukannya " ucap Elin yang ikut menangis dan kembali memeluk tubuh Daniel , " aku sungguh menyesali perbuatanku , kalau saja aku tidak pergi mungkin kau tidak akan seperti ini " lanjutnya dengan terus menangis.


" Ssssssttttt , jangan menyalahkan kesalahanku padamu , ini sungguh kesalahanku dan aku sungguh bersyukur karena kau benar-benar tidak meninggalkan aku " ucap Daniel menghentikan perkataan Elin.


" Itu tidak mungkin terjadi , aku tidak akan mungkin meninggalkanmu " kata Elin dengan menatap pada Daniel.


" Terimakasih " ucap Daniel tersenyum dengan penuh rasa syukur.


Cup " suara bibir yang saling bersetuhan yang terjadi tanpa di sadari oleh pemiliknya , dan ciuman itu terus berlanjut dengan begitu mesra karena hati yang saling merindukan rasa cinta yang begitu dalam , membuat dua insan manusia itu lupa dengan keberadaan mereka yang sedang berada dirumah sakit


jangan lupa vote , like dan coment🤗


dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚