
" Tigaaaa.... "
Sebuket mawar putih metalik kini tengah melayang di udara, beriringan dengan suara riuh orang-orang yang siap berebut untuk menyambutnya.
Elin dan Daniel dengan cepat memutar kembali tubuh mereka, untuk melihat ke tangan siapa bunga pengantin mereka itu mendarat.
Tidak ada yang tidak tertawa ketika melihat manusia-manusia cantik dan tampan, kini berubah menjadi seperti kumpulan anak ayam yang memperebutkan makanan yang di hamburkan untuk mereka. Persis seperti itu suasana yang terjadi saat ini. Hanya bedanya ini bukan memperebutkan makanan tapi hanya seikat mawar putih metalik yang tampak jauh lebih berharga dari kepingan emas sepuluh gram yang menjadi souvenir di acara malam ini.
" Aku yang dapatkan " teriak Hannah gembira dan penuh bangga, setelah menggenggam erat kuntum bunga pengantin.
" Maaf Nona. Tapi aku yang dapatkan " kata Jerry menyela. Yang kini juga menggenggam bunga pengantin. Bedanya dia memegang erat pada semua tangkai yang terikat.
Menyaksikan itu semua orang semakin tertawa.
" Tapi aku yang lebih dulu dapatkan Tuan " kata Hannah tak mau mengalah.
Suasana tiba-tiba menjadi sengit. Di tengah gelak tawa yang tak kunjung berhenti, " aku juga ", seru Jerry yang tidak ingin mengalah sedikit pun, dan tetap memegang erat tangkai bunga dengan satu tangan kirinya. Di tengah tangan kanan yang tetap memegang erat sepasang heels dengan tinggi 12cm.
" Tolong mengalah Tuan. Aku sungguh mengharapkan bunga ini ", kata Hannah berusaha mengibah.
" Aku juga begitu ", balas Jerry.
Menyaksikan keadaan itu membuat Green terpingkal tertawa. Tak terkecuali semua orang yang berada disana, termasuk Meili.
" Sayang, berikan saja padanya ", titah Mike mendekat pada Hannah.
Tentu kalimat itu akan membuat Hannah melempar tatapan marah padanya," Tidak mau, aku sudah mendapatkannya Mike " serunya sangat kesal.
" Aku tidak akan mengalah bung ", ujar Jerry pada Mike. Padahal lelaki itu hanya melihat ke arahnya sebentar, bukan ingin memohon untuknya berbaik hati memberikan bunga itu pada kekasihnya.
" Apa kita perlu melempar ulang bunga pengantinnya ", seru Green tertawa.
" Tidaaak.. " teriak bersamaan Hannah dan Jerry. Dan itu kembali membuat suasana riuh oleh gelak tawa semua orang yang masih menyaksikan sebuket mawar putih yang hampir hancur, yang kini berada di antara dua tangan yang saling memegang erat pada ujungnya masing-masing.
Elin turun dari tempatnya. Ia harus cepat bertindak dalam hal ini, sebelum sahabat dan calon adik iparnya itu memilih bergelut hanya untuk memperebutkan bunga pengantinnya. Seiring langkahnya suasana sedikit menghening.
Kini ia berdiri tepat di hadapan buket yang masih di pegang erat. Di tatapnya dengan lamat kedua tangan yang memegang bunga itu.
Dan seperti menanti babak final, semua orang kini terdiam dan menunggu tidak sabar.
" Kita sahabat kan Elin ! " ujar Hannah dengan wajah yang mengibah, " please, kau harus memberikan bunga ini padaku ", pintanya memohon.
" Ingat, aku temanmu dari dulu Elin ", ujar Jerry tak mau kalah. Sementara Elin tetap diam dan berusaha tidak terpengaruh pada ucapan dua manusia di hadapannya, " itu tidak ada hubungannya saat ini", katanya tegas.
" Maaf Hannah. Tapi Jerry memegang lebih banyak tangkai ", katanya memberitahu dan dengan berat hati mengatakannya.
Hannah menatap penuh kecewa. Bukan pada Elin, tapi pada tangannya sendiri yang tidak memegang semua tangkai bunga itu.
" Berikan saja pada Jerry ya ", bujuk Mike lembut. Dan dengan berat hati ia melepas genggaman eratnya, menyisahkan kelopak-kelopak mawar putih metalik itu pada telapak tangannya.
Sementara Jerry, dengan bangganya mengangkat bunga pengantin itu ke udara, " aku yang dapatkan ", teriaknya Gembira. Tak ubah seperti orang yang berhasil menemukan koin dari dasar air. Namun beberapa saat ia merasa begitu malu dengan apa yang baru ia lakukan. Apalagi ketika menemukan Meili menatapnya dengan tertawa, " aku yang dapatkan ", katanya lemah, dengan warna pipi yang sedikit merona.
" Kau benar-benar akan menikah bung ", seru Rey menepuk pundaknya. Lalu tubuhnya di hantam oleh pelukan erat Deni, kemudian Willy. Sedikit apresiasi yang berlebihan memang, ketika menyadari hanya mendapatkan sebuket bunga mengantin yang hampir hancur, bukan sebuah medali emas. Tapi itu tak membuat suara tepuk tangan tak melambung ke udara.
" Maaf Nona " ucapnya pada Hannah yang kini terlihat penuh kecewa. Dan bersamaan suasana menjadi lebih terang. Lampu-lampu besar tiba tiba menyorot ke arah tempat mereka. Dan saat itu juga Amel mendekat ke arah Jerry. Membisikkan sesuatu hal yang membuatnya berhasil membalikan sikap kukuhnya beberapa menit yang lalu, " baiklah ",katanya tersenyum, setelah Amel menarik lebih jauh jarak bibir dari telinganya.
Suasana tiba-tiba kembali riuh, oleh teriakan histeris gemas hampir semua perempuan yang berada disana.
" Aku berikan untukmu ", kata Jerry pada Hannah. Sambil menyodorkan tangkaian bunga yang sudah terpisah dari kelopaknya.
Hannah yang tadi terlihat kecewa, kini berubah menjadi linglung. Bingung dengan keadaan yang tiba-tiba sedikit aneh. Tak cukup oleh bunga pengantin yang tiba-tiba di berikan lagi untuknya. Tapi ia juga menyadari orang-orang yang bergerak menjauh, dan hampir melingkari tempatnya berdiri saat ini.
" Sungguh aku berikan ini untukmu " kata Jerry mengulang.
Hannah menerima buket bunga itu dengan rasa kebingungan. Lalu menatap satu persatu wajah yang kini tersenyum padanya, " say yes, Hannah " pekik Vale di tengah kebingungannya.
Dan bersamaan juga tubuhnya di putar oleh Elin. Beberapa detik ia masih terdiam. Memahami dengan benar apa yang terjadi di hadapannya. Mike yang tengah bertekuk dengan memegang kotak kecil yang terbuka dengan sebuah cincin yang terselip di dalamnya.
" Will you marry me ", ucap Mike tersenyum, dengan senyum nervous yang memperlihatkan sederet giginya yang putih dan dengan bibir yang sedikit bergetar.
Di tengah menanti jawaban Hannah, Elin kembali ke tempatnya. Berada di dalam pelukan Daniel.
Senyumnya mengembang pada laki-laki itu, " kau membuat rencana Mika terlalu sempurna", kata Daniel memuji, sambil mengecup punggung tangannya, lalu berpindah pada ujung kepalanya, " menggemaskan", kata Elin pada tontonan di hadapannya.
" Aku melamarmu di hadapan semua rakyat kota New York sayang ", ujar Daniel, yang seperti tidak mau kalah dengan usaha Mike saat ini.
" Kau tahu, sebenarnya itu perbuatan curang " kata Elin membalas.
Daniel kembali membalas tatapan kebingungan dengan tuduhannya, " curang ? ".
" Hemm.. "
" Kau pasti yakin. Di hadapan begitu banyak orang itu, aku tidak akan mungkin mempermalukanmu dengan menolak lamaran itu ", tandas Elin, dan Daniel langsung tertawa mendengar itu, " tidak salah aku memilihmu menjadi istriku. Kau terlalu pintar dalam hal menebak " katanya dengan kembali mengecup ujung kepala Elin.
Sementara di tengah objek yang menjadi tontonan gemas semua orang. Kini tengah menghening sesaat, dan pecah ketika Hannah tiba-tiba terisak. Dengan kedua tangan yang mendekap wajahnya. Dan saat itu juga suasana gemas berubah menjadi haru.
" Yess.. " ucapnya serak.
Mike tersenyum lebar atas penantian tak sia-sia dengan berjongkok di hadapan wanita itu. Dan tak menunggu lagi untuk menarik tangan Hannah dan menyelipkan cincin berlian yang baru saja ia beli tiga hari yang lalu. Tepat setelah Daniel memberitahu hari pernikahannya dengan Elin.
" Terimakasih " ucapnya pada Hannah. Di tengah teriakan histeris dari hampir semua perempuan yang berada di tengah taman bulgari hotel. Lebih histeris lagi ketika ia mendaratkan kecupan di bibir Hannah.
" Selamat dude " ucap Daniel, orang yang pertama memeluknya dengan erat. Menepuk bangga pundaknya. Suasana itu seperti hal yang mustahil akan terjadi, jika mengingat bahwa wanita yang baru saja ia lamar. Adalah perempuan yang pernah mereka rebutkan. Lebih tepatnya ia rebut dari laki-laki itu. Dan itu alasan yang kuat, kenapa kini ia berbalik memeluk tak kalah erat, " terimakasih... " ucap Mike menjeda sesaat untuk menelan ludahnya, " dan maaf " sambungnya dengan suara yang sedikit serak.
Daniel tersenyum, ia memahami kenapa kalimat maaf itu kini terlontar, " aku tahu kau merasa bersalah bung.. " katanya tertawa, yang kemudian menarik nafas, " buang rasa bersalah itu. Kesalahan yang kau perbuat, sudah impas kemarin " sambungnya yang kini tidak lagi tertawa. Namun tersenyum teduh, lalu melepas pelukannya.
Sesaat Mike masih menatapnya, seraya mencerna baik-baik maksud dari perkataannya itu. Dan beruntung, otaknya berpikir cepat. Mengingat kembali situasi buruk yang terjadi dua hari yang lalu pada mereka. Dan ia tersenyum ketika menyadari bahwa lelaki itu tengah mengungkit sesuatu yang ia lakukan. Yang ternyata itu sebuah hal besar yang ia perbuat untuknya.
Padahal mungkin semua orang akan melakukan hal yang sama, ketika melihat saudaranya akan terlempar ke atap pesawat, karena sabuk pengaman yang terlepas oleh hempasan kencang dari pesawat yang terlepas kendali karena kecepatan yang menurun tiba-tiba.
Ia hanya berusaha cepat menggapai tangan Daniel. Menarik dengan setengah mati tubuh tegap lelaki itu untuk tak terhempas, di tengah sabuk pengamannya sendiri yang hampir terlepas.
Jika satu menit lagi saja pesawat itu terus lepas kendali. Mungkin saja tubuhnya akan terbelah dua oleh sabuk yang mengencang erat di pinggangnya. Tapi Tuhan sangat baik, membuat pesawat yang membawa mereka kembali bisa di kendalikan. Meski tidak bisa terbang lebih tinggi dan harus mendarat di tempat yang bukan tujuannya. Tapi itu keberuntungan yang luar biasa terjadi, ketika mereka berpikir bahwa hari itu akan menjadi hari terakhir mereka di dunia. Tidak ada satu pun penumpang pesawat yang meragukan hal itu akan terjadi pada saat itu.
Dan yang Mike tahu. Ia masih berusaha melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan saudaranya sebelum nyawanya sendiri juga berakhir.
Lalu kemudian pesawat kembali terbang dengan jauh lebih tenang. Dan Daniel kembali ke tempat duduknya.
Dua keajaiban yang terjadi hari itu. Pertama pesawat yang tiba-tiba masih bisa kembali terbang meski dalam keadaan darurat. Kedua, kotak cincin yang masih berada di kantong celana Mike sampai mereka mendarat. Itu seperti sebuah hal yang mustahil di tengah guncangan hebat yang terjadi.
Mike kini tertawa, " sungguh aku tak melakukan itu untuk menebus kesalahan yang aku perbuat padamu ", katanya pada Daniel.
Daniel kemudian kembali tertawa, " terimakasih telah menyelamatkanku ", ucapnya begitu serius.
" Dan terimakasih karena telah memaafkanku " balas Mike.
" Yes, kita impas sekarang " kata Daniel dengan menjabat erat tangannya, lalu kembali memeluknya dengan erat.
Sementara Hannah, kini tengah menghadapi serangan pelukan dari Elin, Green, Amel dan juga Vale. Dan ucapan selamat dari semua perempuan yang berada disana, termasuk Zahra dan Stella. Yang baru di kenalkan oleh Green padanya beberapa menit yang lalu.
" Kau tidak ikut bergabung ? ", sebuah tanya yang mengejutkan Meili dari pandangan bahagianya. Ia menoleh sejenak, lalu kembali melihat pada Hannah yang tengah terhimpit di tengah pelukan, " aku ingin menjadi orang yang terakhir mengucapkan padanya ", balasnya kemudian.
" Kau juga tidak mengucapkan selamat untukku "
Mendengar kalimat itu Meili kembali menoleh, " untuk ? ".
" Bunga pengantin yang begitu sulit aku dapatkan ".
Meili menahan untuk tidak tertawa mendengar itu. Namun bersamaan matanya terlihat sangat berbinar. Dan melihat matanya pada saat itu justru jauh lebih membuat hati Jerry bahagia dari ucapan selamat yang sebelumnya ia harapankan di ucapkan dari perempuan itu untuknya.
" Aku suka matamu ", ucapnya tiba-tiba.
Garis senyum Meili langsung memudar sekita. Dan berganti dengan warna pipi yang memerah yang tidak bisa lagi di tutupi oleh warna blush on yang ia gunakan.