Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Dua Ranjang di Dalam Satu Ruang


Semua orang berhamburan saat melihat lelaki dengan blazer berwarna putih keluar dari dalam ruangan, " gimana keluarga kami dok ? " tanya Green lebih dulu.


" Mereka hanya demam tinggi. Tidak ada yang serius " jelas dokter. Semua orang bernafas legah mendengar itu.


" Tapi untuk nona Merlinda.. " sambungnya menggantung.


" Ada apa dengan anak saya dokter ? " tanya Mala khawatir dengan jantung yang ikut berdebar, " Ibu. Ibunya nona Merlinda ? ".


" Ya Dokter "


" Temui saya satu jam lagi di ruangan saya ya bu. Ada sesuatu yang harus kita bicarakan " jelas dokter.


" Apa saya boleh ikut dokter ? " timpal Green yang ikut menjadi cemas. Lalu dokter itu mengangguk, " cukup berdua " pintanya dan mereka setuju.


" Apa sekarang kami boleh masuk ke dalam dokter ? " seru Green kembali bertanya.


" Tentu. Tapi sekarang mereka sedang tertidur karena pengaruh obat yang saya berikan. Dan lebih baikuntuk saat ini, biarkan mereka istirahat "


" Baik dok "


" Emm.., tapi apa boleh saya tahu apa hubungan mereka ? "


" Mereka sepasang calon pengantin yang saling rindu, lalu menahannya sampai demam dok " jelas Amel sekenanya, Mendengar itu Green tersedak karena menahan tawa.


" Oh pantas saja " ucap dokter seraya mengangguk kecil.


" Saya permisi dulu. Kalau mereka sudah bangun tolong beritahu saya " lanjutnya dan semua orang kembali mengangguk.


Semua orang kini masuk ke dalam ruang Vip dengan dua tempat tidur. Sesuai apa yang di minta oleh Green.


Di tengah kepanikan, ia masih sempat berpikir untuk mengerjai Elin.


" Aku yakin saat mereka terbangun nanti, mereka akan syok " seru Amel tertawa.


" Green apa kau sudah menghubungi orang rumah ? " tanya Amel dan Green akhirnya tersadar, " saking lucunya dengan keadaan ini. Aku sampai lupa memberitahu mereka " balas Green kembali terkekeh.


" Aku yakin semua orang masih kelimpungan. Sementara yang di cari tengah membuat miris di rumah sakit dengan kisah cinta yang romantis " sambung Amel.


Mala yang duduk di sisi ranjang Elin ikut terkekeh mendengar perkataan Amel. Begitu pun Tama, walau senyumnya sedikit kaku.


Bersamaan tiba tiba handphone Amel berdering, " sepertinya kak Alfin Mel " seru Green.


" Ya " balas Amel membenarkan saat melihat nama suaminya tertera di layar handphonenya, " jangan beri tahu dulu Mel. Kita dengar apa yang sedang terjadi disana ".


" Kau jahat sekali Green " ucap Amel. Namun, dengan tertawa.


" Ya sayang " jawabnya pada panggilan.


" Mel lospack " pinta Green pelan.


" Sayang bagaimana keadaan Elin ? " tanya Alfin yang terdengar begitu cemas, " kami sedang di rumah sakit. Elin demam tinggi dan tadi pingsan " jelas Amel, sambil sesekali melihat ke arah Green.


" Astaga " erang Alfin.


" Kami juga belum mendapat kabar tentang Daniel. Dan Bunda baru saja memberi kabar kalau Mami Viona sudah jatuh pingsan " lanjutnya. Amel menarik nafas, " datanglah kemari sayang " ucapnya pelan.


" Kami belum bisa kesana sayang. Aku dan Jo harus mencari tahu keberadaan Daniel dulu ".


" Kak Daniel disini " ucap Amel singkat. Sesaat suasana menghening.


" Sayang kita sedang panik, jangan bercanda ".


" Aku tidak bercanda Alfin. Kak Daniel disini dan sedang di rawat bersama Elin "


" Sayang jangan bercanda ? " tegasnya sekali lagi.


" Datanglah kemari jika kau tidak percaya " kata Amel pasrah.


" Jo kita ke rumah sakit sekarang " seru Alfin yang masih terdengar dari balik telepon, lalu panggilan itu berakhir.


" Aku yakin mereka akan kesal setengah mati setelah ini " seru Green tertawa.


Sebenarnya keadaan begitu menyedihkan. Dimana dua orang yang saling mencintai kini tengah tebaring di ranjang rumah sakit. Namun, dengan semua yang baru saja terjadi, tentu juga terasa amat lucu.


Tidak habis pikir jika di bayangkan, bagaimana bisa Daniel Remkez di temukan demam tinggi di bangku taman rumah kekasihnya.


" Jika ada wartawan New York yang mengetahui ini. Aku yakin ini akan menjadi berita besar di sana " seru Amel kembali terkekeh, sambil menatap berganti pada tubuh Elin dan Daniel yang masih terbaring di ranjang.


" Sebaiknya beritahu Bunda Green. Supaya mereka tidak lagi panik.


Hampir satu jam berlalu sampai pintu ruang rawat Elin dan Daniel tiba tiba terbuka oleh dua laki laki yang masuk dengan tergesa-gesa, " sayang " seru mereka bersamaan.


" Hei ini bukan di rumah " cercah Green emosi.


Mata mereka membesar, bahkan nyaris terkeluar dari tempatnya saat melihat orang yang mereka cari kini benar terbaring di ranjang rumah sakit, " sayang bagaimana bisa ini terjadi " seru Nathan yang langsung mendekat ke sisi tempat tidur Daniel.


" Kami juga tidak tahu apa yang sudah terjadi sayang. Tiba tiba saja satpam rumah Elin memberitahu kalau kak Daniel sedang terbaring sakit di bangku taman rumah itu ".


" Jadi... " seru Alfin menggantung, sambil menghela nafas begitu dalam.


" Jadi selama ini dia di rumah Elin " sambung Green tertawa keras. Lalu kemudian menangkup mulutnya, menyadari suara tawanya yang begitu keras.


" Kau benar benar gila Rem. Semua orang panik mencarimu sementara kau disana " kesal Nathan yang kemudian tertawa.


Dan tidak lama pintu kembali terbuka, dengan beberapa orang yang ikut masuk dengan tergesa-gesa, " bagaimana bisa ini terjadi nak ? " tanya Viona.


Green kembali menarik nafas. Kali ini tidak mungkin ia menjelaskan dengan tertawa, " kak Daniel ternyata di rumah Elin Mi. Ntah bagaimana ceritanya, sepertinya semalaman dia berada di bangku taman di hadapan kamar tidur Elin dan mungkin karena itu dia jatuh sakit " jelasnya dengan sesekali melipat bibirnya.


Semua orang menarik nafas legah, " syukurlah yang penting dia sudah di temukan " ucap Viona. Lalu matanya menatap pada tubuh Elin yang terbaring.


" Apa yang terjadi dengannya Green ? " tanyanya lemah. Ia begitu khawatir pada gadis itu Namun, langkahnya tak cukup berani untuk mendekat.


" Elin juga sakit karena dia tidak tidur semalaman dan tidak makan apapun Mam "jelas Green.


" Aku seperti merasa sedang melihat drama Remeo dan Juliette " timpal Amel seenaknya. Membuat Green berdelik padanya.


" Sebaiknya kita di luar. Dokter menyarankan untuk membiarkan mereka istirahat " ucap Green dan semua orang setuju, " tapi sayang. tidak terjadi hal yang begitu serius kan pada mereka ? " tanya Nathan. Dengan semua orang yang kini menunggu jawabannya.


" Tidak " sahutnya tersenyum. Untuk saat ini, ia tidak perlu membuat semua orang kembali cemas dengan mengatakan, kalau sebentar lagi dia dan Mala harus menemui dokter untuk membicarakan kondisi Elin.


" Huh syukurlah " ucap Wilna dan Viona bersamaan.


~


Sudah beberapa waktu berlalu, saat semua orang meninggalkan ruang rawat sepasang manusia yang belum terbangun oleh obat tidur.


Tubuh Elin menghela, bersama mata yang perlahan terbuka.


Mata bulat itu mengercap saat sorot terang dari lampu di langit langit ruang itu menerpa penglihatannya.


Sesaat iya tersentak, menyadari dirinya bukan lagi berada di kamar tidurnya. Terlebih saat melihat cairan infus yang tergantung dengan selang yang menjalar pada punggung tangan kirinya, " apa yang terjadi ? " gumamnya kebingungan.


" Apa tadi aku pingsan " sambungnya lagi.


Ia menarik nafas begitu dalam, berusaha untuk membuat fungsi saraf di tubuhnya kembali normal. Ia seperti merasa tidak lagi memiliki tulang oleh tubuh yang terasa begitu lemah, bersama kepala yang masih terasa begitu pusing.


Elin yang memang penglihatannya sedikit terganggu, semakin terkejut saat melihat sebuah tubuh juga sedang terbaring di ranjang tidak jauh darinya.


Mata minusnya mengamati setiap jengkal tubuh itu dan membesar saat pandangan buramnya menatap, tepat pada wajah yang kini masih terpejam.


" Daniel " katanya terkejut, serta begitu panik.


Ia terperanjat dari pembaringan. Namun kepala yang terasa masih begitu berat, tidak bisa membuat dirinya melakukan apa-apa.


" Kamu kenapa sayang ? " ucapnya tersendat.


Hatinya terasa pilu melihat lelaki yang di cintainya kini terbaring di ranjang rumah sakit, " apa kau begini gara gara aku " gumamnya lemah.


Di tengah tangisannya mata lelaki itu mengercap dan Elin menyadari itu. Dengan cepat ia mengakhiri tangisannya dan kembali memejamkan mata.


Telinga mendengar saat suara ranjang berderit.


" Sayang apa yang terjadi ? " ucap cemas dari lelaki di sampingnya. Namun, Elin tetap belum ingin membuka matanya.


" Awww.., Ssstttt " suara meringis Daniel. Dan itu spontan membuat Elin membuka matanya, " Apa yang kau lakukan Daniel ? " teriaknya saat melihat jarum infus sudah tergantun, Sementara darah sudah menetes di telapak tangan lelaki itu.


" Kenapa kau melepas jarum infusnya huh ? " cercahnya emosi. Ia lupa dengan kondisi dirinya saat ini.


" Aku mau menghampirimu " balas Daniel dengan wajah memelas.


" Dasar bodoh " umpat Elin kesal, " kau bisa menarik tiang infus itu kemari. Kenapa harus melepas jarumnya " cercahnya tiada ampun.


" Ambil kotak tissue itu dan bawa kemari. Aku tidak bisa bangun, kepalaku begitu sakit " ucapnya dan Daniel begitu saja menurut, menghampirinya dengan membawa kotak tisu. dengan sebelah tangan yang sudah di penuhi darah.


" Kemarikan tangannya " pinta Elin kesal.


Dengan tubuh yang masih terbaring ia menarik lembaran tissue, melipatnya. Lalu menekannya pada luka Daniel.


" Kenapa kau bisa memimpin perusahaan besar dengan kebodohan seperti ini " ucapnya tidak berhenti marah. Bukannya kesal dengan cercahan Elin. Daniel justru tersenyum.


Cup


Di kecupnya puncak kepala wanita itu, " Biar sakit kepalanya berkurang " ucapnya tersenyum, saat mata Elin kini menatapnya tanpa berkedip.