
Elin mengusap wajahnya di dalam cahaya remang. Lampu kamar tidurnya sudah dimatikan sejak dua jam yang lalu, Dan Daniel sedang tertidur begitu lelap disisinya, dengan tangan yang merengkuh erat pinggangnya yang tipis.
Jam di atas sudah menunjukan pukul dua pagi, dan Elin masih belum tertidur barang sepejam pun. Setiap memejamkan matanya, ia kembali terpikir pada kejadian beberapa jam yang lalu. Kejadian pada makan malam di taman kecil di rumahnya sendiri, dan matanya, masih sembab karena hal itu.
Hatinya masih hancur saat memikirkan perpisahannya bersama ke dua sahabatnya. Green benar, semua ada fasenya dan saat ini, mereka sampai pada fase itu. Dan ia juga menyampaikan itu, sebelum makan malam yang di buat sebagai pelepasan ke pindahan ke New York itu di tutup.
Sebenarnya dirinya tak lagi kuat saat itu. Dan ia juga tak ingin membuat malam sebelum ke pergiannya penuh dengan kesedihan, tapi kalimat yang keluar dari mulutnya, harus menjadi penutupan pada malam tadi.
Ia berdiri di ujung meja, dan semua orang memandangnya.
" Terimakasih Ayah, Ibu, karena sudah membuatkan malam ini untukku ", katanya mulai serak, " dan kedua adikku, terimakasih ", sambungnya pada Tama dan Seni, adik perempuan bungsunya, yang sepanjang acara hanya diam.
Tama tak bereaksi atas ucapannya, tapi lelaki itu, tidak lagi seberani sebelumnya untuk memandang ke arahnya saat ini.
Ia menatap sejenak pada Mala yang sudah menundukkan wajahnya, " ibu jangan menangis ", pintanya serak, tapi air matanya sendiri sudah menetes saat itu, dan Viona terlihat langsung mengusap punggung Mala.
Elin menjeda kalimatnya untuk menghela nafas, lalu kemudian kembali memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya, " Ibu, sudah menjadi Ibu terbaik, begitu pun Ayah ", ucapnya.
" Aku tidak tahu lagi harus mengatakan apa. ", katanya bergumam, wajahnya kembali menunduk dan air matanya kembali mengalir deras saat itu, " sejuta kali pun aku mengatakan terimakasih, itu tidak akan bisa menggantikan apapun yang sudah kalian lakukan untukku ",katanya kembali bicara. Bimo terlihat mulai menundukkan wajahnya.
" Tapi Ayah, Ibu. Saat ini hanya mengucapkan itu yang bisa aku lakukan. Terimakasih, terimakasih karena telah merawatku dengan sangat baik ", ucapnya dengan terisak, " demi sang Maha Besar, saat ini hatiku hancur, karena memikirkan akan benar-benar jauh dari kalian ".
Mala sudah mendekap wajahnya. Wanita itu sudah berusaha menghentikan tangisannya, tapi tetap tak bisa, bahkan untuk melihat pada putrinya sendiri ia tidak bisa, " Terimakasih untuk segalanya Ayah.. " ucap Elin sekali lagi, dengan suara yang sudah begitu serak, " Ibu ", sambungnya.
" Dan juga untuk keluarga besar Vernandes. Bunda, Ayah, kalian luar biasa ", ucapnya lagi, dan kali ini tangisnya mulai mereda. Ia mengucapkan kalimat itu dengan bersungguh-sungguh dan dengan senang hati," selama ini aku sering merepotkan kalian ", sambungnya dengan mata yang mulai berair. Ia kembali merasa terharu saat Wilna tersenyum dan menggeleng padanya.
" Aku begitu senang, saat mengetahui kalau aku, sudah kalian anggap seperti anak sendiri. Sungguh. Rumah kalian, seperti rumah kedua untukku ", ucapnya sepenuh hati. Banyu mengangguk dan membalas ungkapannya dengan tersenyum teduh padanya.
" Sekali lagi, terimakasih Ayah, Bunda. Aku harap, posisiku tidak akan pernah berubah sampai kapan pun ".
" Tentu ", sahut Banyu lantang, dan Wilna mengangguk, tapi saat itu, bibirnya tak sanggup berkata-kata, " kita keluarga ya Ayah ", pintanya lagi pada Banyu, dengan nada suara yang di dengar seperti permohonan,dan Banyu mengangguk dengan cepat.
" Dan dua kakak terhebatku, Terimakasih ", ucapnya di tunjukan pada Nathan dan Alfin, " ah sepertinya aku akan menangis lagi ",gumamnya mulai serak. Ia mendongakkan wajahnya ke atas. dan Bibir semua orang melengkung mendengar itu, tapi garis itu terlihat sangat hambar.
Elin menghela sejenak, " sungguh kalian tak kalah penting dari semuanya ", ucapnya bersungguh-sungguh. Kali ini Alfin tidak bersikap seperti biasanya. Yang selalu tiba-tiba menyeletuk untuk membuat orang tertawa. Kali ini dia tidak begitu.
Bahkan matanya mulai berair, saat Elin mulai mengungkap kata terimakasih untuknya dan Nathan.
" Selama ini aku selalu melewatkan kalian, tapi kali ini aku tidak ingin begitu.. " kata Elin mulai terisak, " aku memang tidak sering berterima kasih, tapi percayalah, aku mengetahui semua yang kalian lakukan untukku. Dan malam ini.... Malam ini aku ingin mengatakannya, Terimakasih kak Nathan, kak Alfin. Terimakasih karena sering mengalah pada istri kalian hanya karena mereka ingin bersamaku, Terimakasih karena selalu memperhatikanku walau secara tidak langsung, tapi aku juga tahu itu. Kalian selalu menanyakan bagaimana keadaanku pada Green dan Amel... "
Elin kembali menjeda kalimatnya untuk menghela, " aku sangat tahu bagaimana kalian khawatirnya padaku, saat pertama kali aku pergi ke New York", sambungnya. Saat itu Nathan sudah tak mampu lagi mengangkat kepalanya. Tangan kanannya terlihat terus bergerak mengusap matanya.
" Sebelumnya maafkan sayang, karena aku harus mengungkapkan hal ini ", katanya di tunjukan pada Daniel. Dengan tersenyum teduh, pria itu mengangguk.
Elin terdiam, tangannya bergerak cepat menyeka air mata yang terasa hangat mengalir di pipinya, " dulu saat aku kehilangan Gery.. " katanya kembali menjeda, dan bahkan kembali menghela. Lidahnya masih terasa sulit bergerak saat mengucapkan nama lelaki itu, " aku sangat hancur, bahkan kalian juga. Mungkin lebih dari yang aku rasakan. Tapi kalian tak pernah terlihat ingin berduka karena aku. Karena kalian tidak ingin membuat aku menangis. Kalian sembunyikan kesedihan kalian hanya demi agar aku kembali cepat pulih. Maaf karena selama itu aku begitu egois... "
" Aku hanya perpikir bahwa aku lah orang paling hancur pada saat itu. Dan setelah aku menyadarinya, bahwa seharusnya, kalian lah yang lebih hancur. Kalian yang sepanjang hari bersamanya, sementara aku, aku hanya melalui lima persen, dari hari yang kalian lalui bersamanya. Saat ini aku menyadari segalanya kak. Saat aku menyadari bahwa aku akan jauh dari sahabatku, aku begitu hancur, aku kacau dan aku bingung, bagaimana hariku karena jauh dari mereka, sementara kami.... " katanya, kembali lagi menjeda untuk menghela nafas, " sementara kami hanya terpisah oleh jarak. Jadi bagaimana kalian pada saat itu. Pada saat dia pergi dan kalian bertiga berpisah selamanya ".
" Maafkan aku karena sudah begitu egois kak ". ucap Elin terisak.
Nathan mendekap wajahnya saat itu. Semua orang mendengar tangisannya. Ia terisak tanpa bisa di cegah. Tangisnya seperti luapan dari perasaan sedih yang bertahun-tahun tertahan. Sambil menangis, Green memeluknya erat. Ia yang paling tahu, bagaimana lelaki itu menyayangi sahabatnya, dan seberapa sering lelaki itu masih menyebut nama sahabatnya. Meski sudah bertahun-tahun kepergian lelaki itu. Tapi Green orang yang paling tahu, orang yang satu-satunya pernah melihat suaminya tidak bisa tertidur karena merindukan sahabatnya.
Apa yang Elin katakan memang benar. Selama ini mereka bukan tidak hancur, hanya saja mereka tidak menangis. Tapi kali ini, air mata yang terbendung bertahun-tahun akhirnya pecah.
Alfin memang tidak menangis seperti Nathan. Tapi menatap padanya tidak jauh lebih pilu. Lelaki itu hanya menunduk, dengan air mata yang menetes di celananya tanpa henti. Meski berulang kali menyekanya, tapi bulir kristal itu tak ingin berhenti menetes.
Dia lelaki yang humoris, lelaki yang selalu memecahkan keheningan dan merubahnya menjadi gelak tawa. Dia tidak senang melihat orang lain bersedih.
Tapi malam ini semuanya berbalik, lelaki itu menangis, menangis tanpa suara. Dan itu terlihat jauh lebih menyakitkan.
Terlebih untuk Wilna. Wanita paruh baya itu bukan mendekat pada Nathan, putra kandungnya, melainkan pada Alfin. Lelaki yang memiliki tempat yang sama di hatinya seperti anak kandungnya sendiri.
Hatinya hancur saat melihat putra humorisnya itu kini menangis. Menangis tersendat tanpa suara.
Hatinya tersayat, saat teringat kembali akan kenangan lelaki itu bersama Gery.
Kedua pria itu, adalah pasangan yang bisa membuat rumah megahnya menjadi hingar bingar oleh suara tawa. Mereka berdua lelaki yang selalu bercanda, dan Nathan adalah sosok yang paling serius dari antaranya.
Ia teringat, rumahnya begitu sunyi setelah lelaki itu pergi. Tidak ada lagi suara gelak tawa lepas dari Alfin. Lelaki itu seperti kehilangan keseimbangan. Tawanya tak pernah sepecah dulu, seperti saat Gery masih hidup.
Tidak ada yang lebih merasa kehilangan antara Nathan dan Alfin. Mereka mempunyai kenangan yang berbeda pada laki-laki itu, dan semuanya membuat mereka sama-sama hancur. Bahkan, semua itu dapat terlihat dari cara mereka menangis saat ini.
Tidak ada yang menjadi lebih hancur saat melihat tangis Nathan, begitu pun sebaliknya. Melihat tangis mereka sama-sama menyayat hati. Hanya saja, terlalu menyayat saat melihat tangisnya orang humoris.
" Bunda tahu, selama ini sesungguhnya kau lah orang yang paling sedih ", kata Wilna memeluk tubuh Alfin, " Kau menahannya, demi kekasihmu dan demi pacar sahabatmu. Kau tidak mau memperlihatkan kesedihanmu, karena tidak ingin mereka semakin rapuh. Bunda tahu itu nak... ".
Semua yang di katakan Wilna benar. Lelaki itu menahan segalanya, demi Amel, adik dari sahabatnya itu. Ia tidak boleh rapuh, karena harus menguatkan perempuan itu. Dan juga demi Elin.
Jika semua orang bersedih karena kenangan yang di tinggalkan lelaki itu, tentu semuanya tak lebih darinya. Hal apa lagi yang lebih menyakitkan dari kepergian seseorang, selain kenangan tawa yang ia tinggalkan, Dan Alfin adalah orang yang selalu tertawa bersama pria itu.
Ia mendekap erat tubuh Wilna, ia menangis tersendat seperti anak kecil yang kehilangan sesuatu yang menjadi kesayangannya, " aku merindukannya Bunda ", ucapnya serak, dan begitu sakit saat di dengar semua orang.
Meili kini menyeka matanya. Ia memang tidak berada di antara mereka, ketika hari kesedihan itu terjadi. Tapi dia tahu, dia mengetahui Elin yang kehilangan kekasihnya. Mengetahui jika pria itu adalah bagian dari orang-orang di hadapannya. Tapi dia tidak tahu. dia tidak tahu kalau lelaki itu meninggalkan kesedihan yang luar biasa. Bahkan ia yang tidak tahu, bisa merasakannya, merasakan kesedihan yang di rasakan oleh Nathan dan Alfin, dan ia ikut menangis karena itu.
" Oh Tuhan, aku sendiri saja tidak kuat, bagaimana mereka ", gumamnya memeluk Viona yang berada disisinya. Dan Viona yang juga sama dengannya, sama-sama tidak berada disana ketika kesedihan itu, justru ia lebih dulu meneteskan air mata dari pada putrinya itu.
" Maafkan aku ", ulang Elin, " maafkan aku yang baru menyadarinya saat ini ", sambungnya penuh sesal. Dan ia semakin menyesali itu, setelah melihat tangis Nathan dan Alfin selama ini. Ternyata apa yang baru saja ia pikirkan benar. Dua pria itu lebih hancur darinya dan selama ini menyembunyikannya dengan sangat baik, " maafkan aku ", ucapnya sekali lagi.
" Aku sungguh menyayangi kalian berdua, sungguh.
Aku mendapatkan sosok kakak laki-laki dari kalian berdua. Sungguh bagiku kalian bukan hanya pasangan sahabatku, tapi kakakku sendiri. Aku berjanji, kalau seandainya nanti kalian bertengkar, aku tidak akan memihak pada Green dan Amel. Tidak juga pada kalian berdua. Sungguh aku akan adil ", ungkapnya bersungguh-sungguh, tapi hal itu terdengar lucu di tengah suasana haru yang sedang terjadi, dan berhasil membuat Nathan mengangkat kembali kepalanya, meski matanya masih berair saat itu.
Elin kembali menghela, dan terdiam sejenak. Hidungnya memerah dan mata sembabnya kembali berair, " Aku pikir, hanya aku yang membongkar foto-foto lama sepanjang hari tadi. Ternyata mereka juga ", ucapnya tersenyum hambar, namun, nada bicaranya terdengar jelas, kalau ia sedang menahan tangis.
" Rasanya aku sulit sekali untuk bicara", gumamnya tersendat. air matanya sudah mengalir tanpa persetujuannya. Ia kembali mengadah ke langit, mencoba membuat dirinya tidak terlalu cengeng. Tapi air matanya lolos tanpa bisa di cegah.
" Membayangkan akan jauh dari mereka benar-benar membuat hatiku kacau ", katanya, yang di maksudkan untuk Amel dan Green.
" Green benar, kami saling bergantung, kami saling membutuhkan....".
" Dan seperti Green bilang... " katanya terhenti, nafasnya tercekat karena isak tangis, " aku begitu bodoh ", katanya melanjutkan, " apa yang dia katakannya memang benar. Aku bukan apa-apa jika tidak ada mereka saat itu.. ".
" Mungkin, orang lain melihat kami orang-orang yang begitu beruntung. Semua orang menyangka, kami berteman karena harta orang tua yang kami miliki. Kami gadis-gadis kaya, kami gadis-gadis cantik. Tapi sungguh tidak seperti itu, persahabatan kami tidak di mulai karena hal beruntung itu... " katanya dengan menggeleng, dan air matanya masih mengalir.
" Kami bertemu saat kami saling putus asa... " katanya menjeda sesaat, dan memandang pada Bimo, " maaf Ayah, mungkin Ayah akan berkecil hati dengan apa yang akan aku ceritakan. Tapi sungguh maksudku tidak seperti itu. Aku menceritakan ini, supaya kalian semua tahu, kenapa kami bertiga saling terikat, kenapa kami begitu saling membutuhkan, kalian harus tahu penyebabnya.. " katanya pada Bimo, dan lelaki paruh baya itu, mengangguk mengijinkan.
Kini Green kembali tak sanggup mengangkat kepalanya untuk memandang pada Elin, begitu pun Amel. Bahkan perempuan itu, terlihat sudah rapuh sejak tadi, saat hampir semua orang menangis karena mengenang kisah kakaknya.
" Dulu.. " kata Elin kembali bicara, dan menjeda sejenak, " seperti yang aku bilang, saat itu kami saling putus asa, kami bertemu dalam keadaan hancur karena masalah masing-masing. Aneh memang, umur sebegitu kecilnya tapi punya masalah... " katanya dengan tertawa hambar.
" Green putus asa karena desakan Papinya. Amel sedang hancur, karena perceraian orang tuanya saat itu. Dan aku.. Aku selalu menjadi bullyan teman sekolahku, hanya karena.... " Elin terisak perih saat itu, " hanya karena aku anak angkat di keluargaku ", sambungnya.
" Mereka mengucilkan aku. Tak sering aku mendengar mereka, menyebutku tidak tahu diri, menyebutku tidak tahu terimakasih. Padahal, aku tidak pernah menyakiti siapa pun. Dan memang apa salahnya menjadi anak angkat ", racaunya, ia terlihat paling hancur saat mengatakan tentang itu. Selama ini, tidak pernah sekali pun ia mengungkapkan hal itu pada Bimo dan Mala.Ia tidak pernah menceritakan, bagaimana sulitnya dia selama ini, " aku tidak pernah meminta untuk menjadi anak angkat", sambungnya terisak. Dan Kali ini Viona benar-benar menangis. Rasa bersalah yang teramat besar, muncul di hatinya.
" Sungguh aku tidak bermaksud apapun, aku tidak bermaksud menyakiti Ayah dan Ibu, atau juga Mami. Aku hanya ingin bercerita apa yang sudah kami lalui dari persahabatan kami, sungguh hanya itu ".
Ia kembali menghela, untuk kembali bicara, " Dan saat itu hanya mereka yang menerimaku. Hanya mereka yang tidak pernah mengungkit statusku. Dan mereka, mereka selalu marah ketika ada orang lain mulai meyinggung hal itu ".
" Aku merasa terlindungi karena mereka. Itu sebabnya kenapa mereka begitu berharga untukku. Aku selalu merasa aman ketika bersama mereka. Aku selalu yakin, kalau aku akan bisa melakukan apapun bersama mereka. Seperti Green bilang, aku ini hanya gadis bodoh, yang kemudian mereka lengkapi. Jadi bagaimana aku tidak hancur, saat menyadari, aku akan jauh dari mereka".
" Tapi Green benar, semua ada Fasenya, semua ada masanya. Aku hanya takut..., Aku takut semuanya tak lagi sama saat aku kembali ".
" Aku takut, tempatku tergantikan suatu hari nanti", katanya lagi.
" Itu tidak akan mungkin terjadi Elin ", ucap Amel menimpali, dengan suara seraknya ia bicara dan dengan sisa tenaganya ia memberanikan diri untuk menatap wajah perempuan itu.
" Persahabatan kita tidak serendah itu. Ikatan kita abadi dan Kita selamanya. Tidak ada yang bisa menggantikan tempat kita satu sama lain. Tidak akan ada yang bisa ", ucapnya lantang, meski kata-katanya tersendat.
Daniel bergerak mendekati istrinya, merengkuh tubuh perempuan itu begitu erat, dan berulang kali mencium puncak kepalanya, " aku pernah berjanji bukan. Tidak akan ada yang berbeda sayang. Kapan pun kau mau, kapan pun kau ingin, kau bisa bertemu mereka ", ucapnya, pada Elin yang sudah tersedu-sedu di dalam pelukannya.
Begitu pun Green. Dia yang selalu bisa menguatkan dirinya dan orang lain. Kali ini pun hancur. Kenangan yang sudah mereka lalui, benar-benar berhasil menghancurkan benteng kerapuhannya. Ia tidak bisa tegar, ketika itu tentang perpisahan mereka bertiga. Tubuhnya yang sudah melemah karena air mata yang tidak berhenti mengalir, kini terkulai di dalam pelukan Nathan.
Sesak di dadanya karena perpisahan ini, membuat lidahnya tercekat untuk kembali bicara. Hanya air mata yang terus keluar, bahkan ia tak lagi punya kekuatan untuk memeluk Elin lebih erat.
Acara makan malam ini, di tutup oleh Reymond, satu-satunya orang yang masih terlihat tegar. Bahkan si kecil Naina yang seharusnya tidak mengerti, dengan apa yang sedang terjadi, juga ikut menangis karena melihat orang-orang di dekatnya menangis.
Reymond menutupnya dengan mengucapkan maaf dan terimakasih pada semuanya.
" Sampai bertemu besok ", ucap Viona dan semua mengangguk lemah. Tidak ada satu pun yang terlihat ceria seperti sebelum acara itu di mulai. Bahkan tidak ada tawa untuk menutup acara itu.
Semua orang menjadi rapuh karena ulasan kenangan yang di ungkapkan. Dan tidak ada yang berniat untuk merubah suasana itu, meski malam ini menjadi yang terakhir, sebelum mereka terpisah oleh jarak yang jauh.
" Boleh aku meminta sesuatu ", kata Elin tiba-tiba. Semua orang yang mulai ingin beranjak, kini menghentikan gerakannya, " aku ingin kita berfoto bersama ", katanya mengutarakan keinginannya, " kita tidak mempunyai itu ", sambungnya. Semua seperti tersadar, " ayo ", ajak Wilna tidak sabar.
" Aku akan membingkai gambar ini dengan sangat besar ", tambahnya.
Meski dengan mata yang sembab, tapi tidak ada yang ingin menolak permintaan itu. Semua bergerak mengatur posisi mereka masing-masing.
Elin mengambil posisi paling tengah, dan saat itu, Green langsung datang menghimpit tubuh bagian kirinya dan Amel menghimpit bagian kanan. Mereka berdua seperti tak peduli jika saat ini, adalah sebuah foto keluarga.
Daniel tak ingin egois, untuk memisahkan ketiga perempuan itu. Dia mengambil tempat di belakang tubuh istrinya, dengan memeluk pinggang perempuan itu. Begitu pun Alfin, dia langsung mengambil posisi di sebelah Amel, dan Nathan, sambil menggendong putrinya, menghimpit pada sisi bagian kiri tubuh Green.
Tama berdiri di sebelah pria itu, kemudian Seni, Mala,dan paling ujung Bimo.
Sedangkan dari sebelah Alfin, ia berdiri berdampingan dengan tubuh tegap Reymond. Meili yang berada di tengah, antaranya dan Viona. Sedangkan Tuan dan Nyonya besar Vernandes, menjadi menutup dari bagian ujung sebelah kiri.
Foto keluarga itu begitu penuh, tapi terlihat sangat mengesankan. Memang tidak ada senyum ceria disana. Tapi semua mata yang membengkak, menunjukkan bahwa mereka semua saling menyayangi dan mereka semua adalah KELUARGA.