
" Hai " sapa Elin sambil masuk dan duduk di dalam mobilnya , yang sudah ada seseorang yang lebih dulu berada disana dan langsung mengambil alih kursi kemudi.
" Hai sayang " balas Daniel dengan senyum manisnya , senyum yang berhasil membuat Elin mabuk kepayang.
" Bagaimana kau bisa tahu letak mobilku ? " tanyanya begitu polos , " apa kau lupa kalau kekasihmu pemilik gedung ini " sahut Daniel dengan begitu enteng sambil menjalankan mobil kekasihnya.
" Gawat " kata Elin tiba-tiba sambil menundukkan cepat tubuhnya , saat mobil mereka melewati beberapa orang yang mungkin sedang berjalan menuju letak mobilnya.
" Ada apa ? " tanya Daniel bingung dengan tingkah aneh kekasihnya , " apa kau tidak lihat , kita melewati beberapa orang karyawanmu " jelasnya.
" Lalu ? "
" Lalu " ulang Elin sedikit kesal , " mereka akan melihat kita dan besok semua orang di gedung perusahaan itu akan menggosipkan aku " jelasnya semakin kesal.
" Kalau begitu katakan saja yang sebenarnya " sahut Enteng Daniel , dan Elin tidak lagi ingin berdebat ia hanya melipat kedua tangannya didada dan menekuk wajahnya lalu menatap fokus kearah depan , " apa kau marah ? " tanya Daniel menggodanya.
" Sayang kenapa kau begitu takut , keberadaan kita tidak mungkin terlihat dari luar , mobil ini sudah di lapisi... "
" Aku tahu " potong Elin dengan perasaan yang begitu malu karena telah menyadari kebodohannya yang sudah melupakan kaca gelap mobil itu sudah di desain dengan sebegitu canggih ,
Daniel melipat bibirnya menahan untuk tertawa karena wajah Elin yang sudah memerah.
" Kita mau kemana ? " tanyanya tiba-tiba , saat menyadari arah laju mobil sedang tidak mengarah ke jalan apartemennya , " rumahku " jelas singkat Daniel.
" Tapi ini juga bukan arah jalan ke apartemenmu "
" Kita memang tidak ke apartemenku "
" Bukankah tadi kau yang mengatakannya , kalau kita akan... astaga tunggu dulu "
" Apa maksudmu kita pergi kerumah Meili ? " tambahnya dengan mata yang membesar.
" Mami mengundang kita untuk makan malam disana " jelas Daniel tanpa beban.
" Astaga kenapa kau baru mengatakannya sekarang Daniel " ujar Elin kembali kesal , " Oh my God, aku tidak menyiapkan apapun " lanjutnya dengan panik.
" Sayang tenang ,mami tidak mengharapkan apapun "
" Itu menurutmu " sahut Elin yang terlihat sudah sibuk dengan benda pipih miliknya , " sekarang kita harus mampir ke tokoh bunga , atau tokoh kue "
" Untuk apa ? "
" Turuti saja Daniel , bisakah kau tidak kembali bertanya " bentaknya kesal dan laki -laki itu hanya mengangukkan pelan kepalanya , " hanya kau ,orang yang berani membentak pemilik perusahaan tempat dimana kau bekerja " ujarnya pada Elin.
" Aku tidak akan berani jika pemiliknya bukan kekasihku sendiri " sahutnya semakin kesal , namun berbeda dengan Daniel yang tersenyum.
~
Mobil sport berwarna merah muda itu sudah tiba di halaman rumah yang begitu megah , " rumah keluarga Vernandes sudah begitu megah , ternyata rumahmu jauh lebih megah lagi dan aku rasa ini lebih tepatnya di sebut Kastil " ucap Elin yang menatap kagum pada bangunan rumah keluarga kekasihnya , " ayo " ajak Daniel sambil menyelipkan tangannya di sela jari-jari tangan Elin.
" Tunggu " pinta Elin , yang terlihat berulang kali menarik nafasnya lalu membenarkan pakaian kerja yang belum sempat di ganti , " apa kau gugup ? " tanya Daniel , dan ia mengangguk.
" Tentu ,ini pertama kalinya aku datang kerumah keluarga kekasihku dan ini benar-benar mendebarkan " ujarnya , membuat bibir Daniel kembali tersenyum dengan tingkah polos kekasihnya.
" Ayo , mami pasti sudah menunggu ke datangan kita " ajak Daniel yang langsung menarik tangan perempuan itu.
" Ini juga akan menjadi rumahmu " ucap laki-laki itu.
" Jangan bercanda , mana mungkin itu akan terjadi " jawabnya tanpa sadar , Daniel tiba - tiba menghentikan langkahnya , " apa kau tidak mau menikah denganku ? " tanyanya dengan wajah yang sedikit kesal.
" Kenapa kau menanyakan sesuatu yang sudah kau ketahui jawabannya "
" Ya atau tidak " ucap Daniel.
" Tentu ya Daniel , apa sekarang kau puas " geram Elin.
Pintu yang berada di hadapan mereka tiba-tiba saja terbuka , membuat Elin tersentak dan semakin membuatnya terkejut adalah saat melihat begitu banyak pelayan yang berjejer disisi pintu untuk menyambut ke datangan mereka , " apa ini kerajaan " ujarnya yang tidak henti-hentinya di buat terpukau.
" Elin " teriak perempuan dari dalam dan berlari kearahnya.
" Selamat datang dirumah sederhana kami " ucap Meili sambil menundukkan tubuhnya seperti gaya pelayan di sebuah istana , " kalau ini sederhana , berarti apartemenku pantas di sebut kamar mandi rumahmu " ujar Elin , membuat perempuan itu tertawa.
" Perkenalkan ini Nona Merlinda , yang akan menjadi Nyonya muda dirumah ini " ucapnya lagi memperkenal Elin pada pelayan yang masih berdiri dengan tegaknya di sisi pintu , " Meili kau berlebihan " ucap pelan Elin yang merasa begitu malu.
" Selamat malam nona " sapa semua pelayan bersama tubuh yang membungkuk.
" Ma..laaam " sahut Elin yang ikut membungkukkan tubuhnya , membuat Meili dan Daniel tersenyum melihat tingkah canggung perempuan itu , " ayo Elin , mami sudah menunggumu sejak tadi " ajak Meili dengan menggandeng tangan perempuan itu.
" Meili dia kekasihku " ucap Daniel , membuat Meili menghentikan gerakannya , " dia juga temanku dan calon kakak iparku , dan aku mempunyai dua alasan yang kuat untuk membawanya tanpa harus menunggu persetujuaanmu " kata Meili tidak mau mengalah.
" Hai nona cantik " sapa lembut wanita paruh baya yang baru saja datang di ikuti dua pelayan yang berjalan di belakangnya , " selamat malam Nyonya " balas Elin dengan menundukan kepalanya.
" Mami " ucap Viona sambil terus mendekat kearah perempuan yang terlihat begitu gugup , " apa ini untukku ? " tanyanya sambil menunjuk sebuket bunga anggrek di tangan Elin , " Emmm.. ya , ini untuk anda "
" Terimakasih ,ini begitu cantik sama seperti orang yang membawanya "
" Terimakasih Nyonya dan maaf aku tidak membawa apapun untukmu" jelas Elin dengan begitu sungkan ,
" ini lebih dari cukup " balas viona bersama bibir yang melengkung karena merasa begitu senang dengan tingkah sopan dari kekasih anak pertamanya itu , " Mami , mulai hari ini kau harus terbiasa memanggilku mami " pintaya pada Elin.
Perempuan itu masih tampak bingung dan hanya mengangguk lemah sambil melihat sebentar pada Daniel yang hanya tersenyum ke arahnya , " ayo menantu " ajak Viona menarik tangan Elin , membuat perempuan itu lagi dan lagi di buat terkejut.
Tangan Elin masih terus di pegang oleh Viona , dan ia sedikit bingung saat mereka berada di lantai yang sedikit tinggi dan sudah ada banyak pelayan yang berdiri di lantai yang sedikit lebih rendah dari tempat mereka , " Selamat malam semuanya " sapa Viona yang terlihat begitu senang.
" Malam seperti ini , apalagi yang ingin mami sampaikan kepada pelayan " gumam Meili yang ikut bingung dan Daniel hanya menunggu apa yang akan di katakan oleh maminya tentang kekasihnya kepada semua pelayan di rumah megah itu ,
" Saya hanya meminta waktu kalian sebentar untuk memperkenalkan wanita cantik yang berada bersama saya saat ini " katanya menggantung lalu melihat kearah Elin dengan tersenyum , " namanya Merlinda dan dia calon menantu dirumah ini " tambahnya , membuat Elin hampir saja pingsan karena begitu terkejut rasanya itu terlalu cepat untuk ia dengar ,
matanya kembali mencari-cari keberadaan Daniel , yang ternyata laki-laki itu sedang berjalan kearahnya.
" Dia calon istri saya dan akan menjadi nyonya muda kalian " tambah laki-laki itu sambil memeluk pinggangnya.
Kepala Elin semakin berat bersama pikiran dan pendengaran yang begitu terkejut , ini sungguh di luar pikirannya dan hari ini ia benar-benar di buat terkejut berulang kali oleh semua orang di keluarga ini , " Daniel " panggilnya pelan dan laki-laki itu melihat dengan tersenyum kearahnya.
" Aku seperti mau pingsan " sambungnya begitu lemah bersama tubuh yang sudah ambruk , namun beruntung tangan Daniel lebih dulu menyambutnya.
jangan lupa vote , like dan coment🤗
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚