
Daniel mengerang panik, saat berulang kali menghubungi nomor telepon istrinya, tapi tak sekali pun ada jawaban.
Ia baru bisa memegang handphonenya kembali setelah selesai dari pertemuannya bersama klien, yang juga di temani Nathan.
" Rem " panggil Nathan khawatir, ia mendapati wajah panik lelaki itu, sambil menatap layar handphonenya, " Elin sudah meneleponku puluhan kali ", katanya memberitahu, wajahnya berubah semakin kusut saat itu, dan Nathan memilih diam dan memperhatikan.
" Dia belum juga mengangkat teleponmu ? " kali ini Nathan memilih kembali bertanya. Daniel menggeleng, " apa yang sebenarnya terjadi " gumam Daniel prustasi.
" Bisa kau bantu aku telepon orang rumahmu Jo. Mungkin istriku ada disini ", pinta Daniel. Nathan mengangguk, lalu kemudian dia terdiam sejenak, " tapi istriku juga tidak sedang di rumah Rem. Green pergi ke kampusnya bertemu dosen " kata Nathan memberitahu.
" Bunda dan Mamimu juga pergi dari tadi pagi " Tambahnya.
" Meili, Amel ? " kata Daniel. Nathan mengangguk cepat, " ya sepertinya mereka yang sedang berada di rumah. Telepon adikmu Rem ".
" Dan aku akan menelpon Amel " tambahnya.
Daniel segera mengalihkan panggilannya, pada kontak Meili. Menunggu tidak sabar, adik satu-satunya itu mengangkat teleponnya, " apa Amel sudah mengangkat teleponmu ? " tanyanya tidak sabar pada Nathan, yang juga sedang melayangkan panggilan pada saudara iparnya. Lelaki itu menggeleng, " Amel pasti tidak sedang memegang hapenya ", katanya mengingat, kalau perempuan itu memang sangat jarang berada dekat dengan handphonenya.
" Meil " panggil Daniel cepat, setelah panggilan teleponnya terjawab.
" Ya kak ".
" Kakak iparmu ada disana ? ".
" Elin ?, tidak, dia tidak pernah kemari ".
" Ada apa ? " tanya Meili penasaran.
" Dia pernah menghubungimu hari ini ? "
" Tidak kak, ada apa ? " tanya balik Meili, yang kini ikut menjadi panik.
" Dia tidak menjawab teleponku sejak tadi " kata Daniel menjelaskan. Meili terdengar tertawa saat itu juga, " dasar pengantin baru. Mungkin dia sedang tidur Daniel ", serunya geram. Tapi tidak ada nada legah dari seberang telepon, " sebelumnya dia menelponku puluhan kali Meil ", katanya lemah dan saat itu Meili kembali panik.
" Kau sudah menelpon Ibu Mala. Atau Ayah Bimo ".
" Mereka tidak di rumah. Kalau Papi belum pulang, berarti Ayahnya juga pasti belum pulang".
" Benar juga " gumam Meili.
" Coba telepon Ibunya ".
" Aku tidak punya nomor teleponnya ".
" Shiit Daniel. Menantu seperti apa kamu ini " pekik Meili geram, " aku belum sempat menyimpan nomornya Meili " kata Daniel memberi alasan, " adiknya ? ".
" Tidak juga ".
" Hari ini aku bilang kau sangat bodoh Daniel ", kata Meili semakin geram.
" Ada apa Meil ? " tanya Amel mendekat, suara itu terdengar dari tempat Daniel, " Meil berikan handphonenya pada Amel " pintanya.
" Daniel ingin bicara " ucap Meili yang terdengar.
" Ya kak ".
" Mel, apa Elin pernah menghubungimu ? " tanyanya cepat. Nathan menoleh padanya saat itu.
" Tidak kak, ada apa ? " Kata Amel yang kini ikut panik, terlebih karena suara prustasi lelaki itu, dan juga wajah tak tenang Meili, " eh aku juga tidak tahu karena handphonenya ada di kamar " sambungnya tersadar, " tapi kalau ada hal yang sangat penting padaku, dia pasti juga sudah menelpon Meili ", katanya menebak, " ada apa kak ? " katanya kembali bertanya.
" Tadi Elin menelponku puluhan kali, dan sekarang dia tidak mengangkat teleponku lagi Mel ".
Amel terdiam sejenak untuk berpikir, setelah mendengar hal itu, "kalau tertidur, dia tidak mungkin tidak terbangun kalau handphonenya berbunyi " gumamnya bicara sendiri, " apa kakak sudah menghubungi Ayah dan Ibu ? ".
" dia tidak punya nomor telepon mertuanya " timpal Meili, wajahnya begitu kesal saat mengatakan itu. Dan Daniel terdiam di balik panggilan.
" Tunggu, aku akan mencoba menelpon, telepon rumahnya " titah Amel, lalu memberikan handphone di tangannya kembali pada Meili.
Beberapa detik ia menunggu, sampai gagang telepon yang berada di telinganya itu mendapat jawaban, " Hallo " sapanya, setelah mendengar ada jawaban dari seberang.
" Mba ini Amel, apa Elin ada di rumah ? " tanyanya, dan setelah itu matanya langsung membesar menatap ke arah Meili, " tidak ada ".
" Pergi ".
Meili mulai mendekat padanya.
" Kapan dia pergi ? "
" Dengan siapa ? "
" Sendiri "
" Setelah menerima telepon ".
" Telepon dari siapa mba ? "
" Dia tidak memberitahumu ? "
" Astaga baiklah. Terimakasih mba " katanya terakhir, sebelum meletakan kembali gagang telepon.
Wajahnya berubah tak tenang saat itu, " Elin juga tidak ada di rumah " katanya pelan pada Meili. Dan sayangnya itu masih terdengar jelas di telinga Daniel, yang kini sudah mengerang karena semakin panik.
" Meil kita harus pergi ke rumahnya " ajaknya, dengan langsung beranjak dari tempat duduknya.
" Kau yakin kuat ? " tanya Meili tak yakin, tapi dia mengangguk dengan pasti, " katakan pada kak Daniel kita pergi ke rumahnya sekarang " katanya meminta pada Meili dan perempuan itu mengangguk.
" Kabari aku kalau kalian sudah sampai disana " ucap Daniel langsung, sebelum Meili sempat memberitahunya.
" Ya. Kau belum bisa pulang sekarang ? ".
" Aku pasti akan pulang sekarang. Tapi tidak akan lebih cepat dari kalian " sahut Daniel.
" Baiklah sampai bertemu disana. Hati-hati Daniel " ucap Meili, " Jangan terlalu khawatir ", tambahnya, mencoba sedikit memberi ketenangan pada kakaknya itu. Daniel tidak menjawab, deru nafas paniknya justru semakin terdengar, " beritahu ini dengan Mami Meil dan kabari ini juga dengan Daddy" pintanya lemah.
" Itu pasti " sahut Meili, dan telepon itu ia akhiri.
" Mba tolong siapkan jus Kiwi untuk saya dan masukkan ke dalam botol " pinta Amel pada salah satu pekerja di rumah keluarga Vernandes, " Baik Nyonya " jawab perempuan setengah baya.
" Pastikan batu es nya sangat banyak. Terimakasih " katanya memberitahu, " dan tolong beritahu penjaga depan untuk menyiapkan mobil untuk kami ", katanya lagi ,dan setelah itu dia bergegas menuju ruang bermain Naina, " Dia tidur ? " tanyanya pada perempuan muda yang menjadi pengasuh putri cantik Green. Perempuan itu mengangguk.
" Kau sudah menghubungi Bunda Meil ? " tanyanya setelah kembali bertemu dengan perempuan itu, ia hanya sempat menggunakan hoodie untuk menutupi perutnya yang mulai buncit, ntah sejak kapan, perutnya itu mulai cepat mengembang. Ia .engambil tas tangannya dengan menyambar handphonenya yang berada di atas tempat tidur kamarnya. Dan setelah itu kembali bergegas menuju lantai bawah, tempat dimana Meili sudah menunggu. bahkan ia tak sempat untuk memoles bibir pucatnya dengan pewarna bibir.
" Aku sudah menelpon Mami " jawab Meili, " mereka juga akan langsung pergi kesana " tambahnya dan Amel mengangguk, lalu mengambil botol isi jus, yang sudah di siapkan untuknya, "ayo " ajaknya cepat pada Meili, tapi sebelum itu, dia masih sempat menyesap jus Kiwinya ke dalam mulut, " My ion " katanya.
" Kau yakin bisa membawa mobil Mel ?" tanya Meili tak yakin. Perempuan itu mengangguk, " aku sudah sangat bertenaga sekarang " sahutnya, sambil menyalakan mesin mobilnya.
" Aku bisa membawanya. Kau cukup memberitahu saja dimana jalannya " kata Meili memberi saran. Amel menggeleng, kita sudah tidak punya waktu lagi untuk itu " katanya sambil memasangkan seat bell ke tubuhnya. Begitu pun Meili. dan setelah itu dia mulai bersiap melajukan mobil Range Over milik suaminya.
Namun tiba-tiba handphonenya berbunyi, " Green " katanya memberitahu Meili siapa yang tengah menghubunginya, " aku baru saja ingin meminta Meili menghubungimu ".
" Nathan sudah memberitahuku " ucap Green langsung. Suaranya terdengar begitu panik, " kalian sekarang dimana ? ".
" Kami baru saja ingin pergi ke rumahnya " jawab Amel, sembari mulai melajukan mobil, " kau kuat ? " tanya Green.
" Aku sudah membawa sebotol besar jus Kiwi ".
" Baiklah, aku juga sudah selesai, dan akan langsung pergi kesana " kata Green memberitahu.
" Ya sampai bertemu disana " sahut Amel, hendak mengakhiri panggilan mereka.
" Mel " panggil Green kembali.
" Ya ".
" Kau pasti yang membawa mobil ? "
" Hemm "
" Jangan kebutan, ingat kau sedang hamil " katanya memberitahu, dan Amel sedikit tertawa mendengar itu, " Ya ,ya baiklah " sahutnya, lalu telepon itu di akhiri oleh Green.
Selang beberapa detik, setelah telepon Green berakhir, handphone Amel kembali berdering. Dan kali ini suaminya yang menelpon, " astaga aku lupa memberitahunya " katanya tersadar, setelah melihat siapa yang kembali menghubunginya.
" Ya sayang "
" Kau dimana sayang ? " tanya Alfin, yang terdengar juga sangat panik.
" Aku sudah di jalan menuju rumah Elin".
" Bersama Meili " tambahnya.
" Kenapa tidak menungguku huh. Astaga sayang, kau membuatku jauh lebih panik " cecar Alfin. Amel menyeringai hambar pada Meili yang duduk memperhatikannya dan sesekali melihat ke arah jalan. Untuk memastikan laju mobil mereka berada di jalur yang tepat.
" Aku baik-baik saja. Aku juga sudah membawa jus Kiwi ku, jadi kau tidak perlu khawatir " kata Amel berusaha menenangkan Alfin, " jangan lagi seperti ini. Kau juga tidak memberitahuku ".
" Maaf maaf sayang, aku sungguh buru-buru tadi. Tapi sungguh aku baik-baik saja dan aku pastikan anakmu juga aman " kata Amel mencoba merayu.
Alfin terdengar menghela nafas, " Baiklah. Kau memakai seat belt mu ? ".
" Ya sayang ".
" Jangan terlalu kencang membawa mobil "
" Ya sayang".
" Hati-hati ".
" Ya sayang ".
" Ingat jangan terlalu kencang ".
" Iya sayaaaaaang ".
" Baiklah, sampai bertemu disana " kata Alfin lagi, setelah semua cercahannya pada Amel.
" Kau juga akan kesana ? ".
" Tentu, mana mungkin aku hanya akan berdiam diri di situasi seperti ini " ucapnya.
" Baiklah sayang, kau juga hati-hati dan sampai bertemu disana " balas Amel, lalu mengakhiri panggilan mereka.
Kedua bola mata Meili membesar, karena kecepatan mobil yang di bawa oleh Amel, " Mel ingat, semua orang memberitahumu jangan terlalu kencang ".
" Ini tidak kencang Meil " sahutnya, sambil menekan lama tombol klakson, karena mobil di hadapan mereka yang berjalan lambat, " Meil hati-hati ".
" Aku sudah hati-hati ".
" Jangan terlalu kencang Mel, ingat kau hamil " kata Meili, mencoba mengulang ucapan Green. dan Saat itu Amel langsung memperlambat laju mobilnya, " aku lupa aku hamil ", katanya tersadar.
" Maafkan mama nak. Tantemu membuat mama sangat khawatir " katanya sambil mengelus perutnya sendiri.
" Lin , sebenarnya pergi kemana kamu " gumam nya prustasi dan lebih prustasi karena tidak bisa melajukan cepat mobilnya, karena itu bukan seperti dirinya ketika memegang stir.
~
" Tama " panggil Elin. Adiknya itu menoleh, " aku tantang kau, siapa yang lebih cepat sampai ke rumah " katanya.
Tama tersenyum, " apa hadiahnya kalau sampai lebih dulu ? ". Elin terdiam sejenak, " terserah, siapa yang kalah harus menuruti keinginan pemenang " ucapnya.
" Oke, Deal " balas Tama setuju.
" Di mulai dari gerbang depan " seru Elin dan Tama kembali mengangguk, sambil bergerak cepat menuju mobilnya.
Begitu pun Elin, yang segera masuk ke dalam mobilnya. Ia begitu bersemangat sampai tak ingat untuk menyalahkan handphonenya yang sejak tadi tertinggal di mobil. Ia membiarkan benda itu tetap tergeletak di atas dasbor, demi lebih cepat menyusul mobil Tama yang sudah bergerak menuju gerbang keluar.
Tama membuka kaca mobilnya ketika sudah sampai di gerbang, begitu pun Elin.
" kau sudah sudah siap ? " tanyanya dan perempuan itu mengangguk.
Satu
Dua
Ti..ga " seru Tama dan saat itu mobil yang mereka bawa langsung melaju cepat di jalan padat Jakarta.
Elin terlalu fokus menatap ke depan, tak sadar kalau handphonenya saat ini berbunyi, " aku sudah di jalan pulang sayang " serunya, yang berpikir itu panggilan telepon dari Daniel. Padahal yang tidak ia ketahui ada lebih dari dua ratus panggilan tak terjawab pada benda pipih itu, dan puluhan pesan masuk. dan yang juga tidak ia tahu adalah, kalau dirinya sudah berhasil membuat semua orang sangat panik.