Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Apa Yang Terjadi


Elin masih berdiri di sisi jalan setelah taksi yang mengantarnya pergi , ia masih terdiam dengan isi pikiran yang benar benar sulit ia cerna.


Drrrtttt Drrtttt " suara handphone di genggaman tangan Elin bergetar , matanya menatap begitu lama pada layar benda pipih miliknya dan membiarkan suara panggilan terus berdering tanpa berniat untuk menjawabnya.


elin berjalan dengan kaki yang sulit untuk melangkah , seakan tubuhnya sedang membawa beban yang begitu berat , ia tidak lagi peduli pada handphone yang terus berdering karena panggilan masuk dari Daniel .


Ia memutuskan untuk duduk pada kursi taman dengan satu lampion yang menerangi di sisi kursi , ia tidak menangis namun dadanya semakin sesak dan pikirannya masih begitu linglung untuk mencerna apa yang sebenarnya sudah terjadi antara dia , Daniel dan Hannah.


" Apa ini alasan Hannah tiba tiba pergi pagi itu " gumam Elin yang baru menyadari semua yang terjadi padanya akhir akhir ini , Elin kembali sibuk pada layar touch screen miliknya untuk mencari kontak Hannah dan segera menghubunginya " please jawab Hannah " gumam elin yang begitu prustasi menunggu sambungan teleponnya terjawab , namun panggilan itu lagi lagi di abaikan oleh pemilik nomor yang membuat Elin semakin panik , dirinya begitu merasa bersalah walau ia sendiri tidak mengerti dimana letak kesalahannya , yang ia tahu bahwa dirinya sedang berada di antara hubungan Daniel dan Hannah meski kisah itu sudah berakhir , tapi Elin yakin bahwa sekarang Hannah pasti sedang kecewa.


" Maafkan aku Hannah , aku sungguh tidak tahu kalau Daniel adalah lelaki yang sering kau ceritakan padaku " gumam Elin dengan suara yang bergetar.


****


Di tempat lain ada seseorang yang terlihat begitu kesal dengan rahang yang mengeras karena menahan emosi , ia begitu geram karena merasa di abaikan , setelah panggilan yang berulang kali tidak terjawab di tambah ia harus mendengar bahwa kontak telepon yang ia hubungi sedang berada dalam panggilan lain .


Daniel mengerang tanpa suara dan menggegam dengan kuat benda pipih yang berada di tangannya ,


ia sudah berusaha untuk menyingkat waktu meeting pagi ini sesingkat mungkin, demi bisa lebih cepat untuk menghubungi Elin karena tadi pagi ia tidak lagi bisa memberi kabar atau sekedar memegang handphone karena waktu mereka yang begitu mepet dengan jadwal meeting.


" Tuan " panggil Reza yang berjalan mendekat pada Daniel , ia sangat tahu kondisi Daniel sedang tidak baik ,wajah marah laki laki itu benar benar tidak bisa di sembunyikan.


" Tuan " ulang reza dengan begitu hati hati .


" Ada apa Reza , apa kau tidak melihat aku begitu sibuk " bentak Daniel yang tidak bisa menahan diri " maafkan saya tuan , tapi ada berita yang harus saya sampaikan pada anda " jelas Reza


" Katakan "


" Saya mendapat kabar kalau tadi malam nona Hannah mengadakan jumpa pers bersama media dan sudah menyampaikan bahwa hubungan dirinya dan anda sudah berakhir " jelas Reza , setelah mendengar itu fokus Daniel pada elin menjadi teralihkan "berikan padaku " pinta Daniel yang ingin Reza menunjukkan berita yang sedang ia ceritakan , Reza segera memberikan ipad di tangannya pada Daniel dan memperlihatkan video saat Hannah sedang berbicara di hadapan media , bahkan Daniel bisa melihat dan mendengar dengan jelas kalau Hannah membantah berita perselingkuhan dirinya dan berita tentang Elin yang di tuduh oleh semua orang sebagai orang ketiga.


"Kau memang wanita yang baik Hannah "ucap Daniel tersenyum karena merasa terlepas dari beban pemberitaan , terlebih karena akhirnya nama Elin tidak lagi di bawa bawa sebagai orang ketiga di dalam hubungannya bersama Hannah.


Reza menggeser layar ipad dengan berita selanjutnya ,


mata daniel melebar " apa ini benar ? " tanyanya pada Reza " saya masih berusaha mencari kebenarnya tuan , namun menurut orang yang melaporkan , kalau nona Hannah benar sudah meninggalkan manajemennya tadi malam " Kata Reza kembali menjelaskan.


Daniel terdiam dengan perasaan bersalah , matanya terus menatap pada halaman berita tentang keluarnya Hannah dari pekerjaannya sebagai Modelling dengan tanpa alasan yang jelas , namun Daniel sangat yakin ini pasti ada hubungannya dengan jumpa pers mendadak dari Hannah , perempuan itu pasti sudah memutuskannya dengan matang dan memilih mengorbankan kariernya , karena ia juga yakin kalau keputusan Hannah tadi malam pasti sangat bertentangan dengan Caren , Manager Hannah yang tidak memiliki hati nurani.


"Cari tahu lebih jelas " perintah Daniel dan Reza mengangguk mengerti , setelah menyampaikan semuanya pada Daniel dan memberitahukan jadwal selanjutnya , Reza ijin mengundurkan diri.


Daniel kembali sibuk pada benda pipih miliknya , mencoba untuk kembali menghubungi Elin walau sambungan telepon itu masih belum di jawab , bahkan pesan yang sejak tadi di kirim oleh Daniel belum di buka Elin sampai saat ini.


" Apa yang sebenarnya terjadi " Erangnya semakin kesal dengan tangan yang mengepal begitu kuat , daniel beralih pada kontak telepon meili dan segera menyambungkan sambungan telepon pada adiknya.


" Hallo meil , kau dimana ? " tanya Daniel begitu cepat setelah teleponnya tersambung pada Meili " Dirumah , ada apa , kenapa kau begitu panik ? " tanya Meili yang ikut menjadi panik,


" Apa kau bisa menghubungi Elin , sejak tadi dia tidak menjawab teleponku bahkan pesanku di abaikan " jelas Daniel , Meili menghela nafas ada sedikit rasa kesal pada kakaknya itu " ceh , kau benar benar membuatku takut , aku kira sudah terjadi sesuatu " gerutu Meili


" Mungkin dia tertidur seperti waktu itu , kau terlalu berlebihan Daniel " lanjut Meili sambil tertawa kecil.


" Apa yang sudah terjadi di antara kalian " tanya meili yang sekarang menjadi ikut panik


" Tidak ada , kami masih baik baik saja , bahkan tadi pagi dia masih mengirim pesan padaku " kata Daniel kembali menjelaskan , Meili tidak menjawab otaknya terus berpikir dengan hal hal yang wajar kenapa Elin mengabaikan Daniel , namun Meili benar benar tidak bisa menemukan alasan yang tepat karen selama dekat dengan Elin , perempuan itu tidak pernah mengabaikan orang lain.


" Apa kau sudah mendengar berita tentang Hannah " tanya Daniel memecah fokus Meili " Hannah " ulangnya dengan dahi yang berkerut.


" Ya , tadi malam dia sudah mengatakan pada media , kalau hubungan kami sudah berakhir , apa kau juga berpikir kalau ini ada hubungannya dengan Elin mengabaikan aku " jelas Daniel " Tentu , ini pasti ada hubungannya " sahut Meili cepat dan panik


" Maksudmu , apa sekarang dia sedang salah paham dengan hubunganku bersama Hannah " tanya Daniel yang memang tidak mengerti dengan kondisi sebenarnya.


" Itu mungkin , tapi yang pasti dia sedang terkejut sekarang "


" Maksudmu " tanya Daniel semakin bingung.


" Aku harus menemuinya "


" Ya , kau harus bantu aku menjelaskan pada Elin " ujar Daniel " kenapa begitu rumit dan kenapa dunia harus sesempit ini " gumam Meili yang sudah bersiap untuk pergi dengan panggilan telepon yang masih tersambung pada Daniel.


" Aku tutup teleponmu " pamit Meili " hubungi aku secepatnya " sahut Daniel.


" Tenanglah , kau bisa mempercayakannya padaku " Ucap Meili yang kemudian segera menutup sambungan telepon mereka dan bergegas keluar dari dalam kamar tidur.


" Kau mau pergi kemana Meili ? " tanya Viona yang baru keluar dari kamar tidurnya dan melihat Meili berjalan dengan tergesa gesa.


" Aku harus pergi mam , ada sesuatu yang harus aku jelaskan pada Elin " Sahut Meili yang memutar langkahnya menuju Viona.


" Apa tidak bisa besok saja , ini sudah malam Meili "


" Tidak bisa mam ini mendesak , dan ini demi kebahagian Daniel " jelas Meili


Cup "


Meili mencium pipi Viona " Aku hanya pergi sebentar mam " ucapnya dengan langkah kaki yang sudah beranjak dari hadapan viona yang masih berdiri dan menatap ke arahnya.


****


Elin memegang kepalanya yang tiba tiba menjadi pusing , ia tidak menyadari kalau wajahnya sudah terlihat begitu pucat , dengan tangan yang berpegang pada tangan kursi taman ia mencoba untuk berdiri dan memutuskan untuk masuk ke dalam apartemennya.


" Ada apa dengan penglihatanku " gumam Elin yang merasa penglihatannya menjadi sangat buram padahal dia masih menggunakan kaca mata minusnya , ia kembali membuka kaca matanya untuk membersihkan kaca yang mungkin sedang mengembun karena udara malam yang dingin , namun kepalanya tiba tiba menjadi sakit dengan pandangan yang menjadi gelap.


Brukkk " tubuh tidak sadar Elin terjatuh di atas rumput taman dengan semua barang barang yang ikut berserakan.


jangan lupa vote , like dan coment🤗


dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚