
Ruangan besar apartemen itu terlihat begitu hening meski ada dua orang di dalamnya.
Daniel tidak bisa duduk dengan tenang , ia terus memutar balik langkahnya dan merasa begitu cemas untuk menunggu kekasihnya itu pulang , " Daniel bisakah kau duduk dengan tenang , kepalaku menjadi sakit karena melihatmu " ucap Meili kesal dengan jari yang memijat lembut pada pelipisnya.
" Bagaimana bisa aku tenang Meili , kau lihat sudah berapa lama kita disini dan dia tidak kunjung pulang " teriak Daniel yang tidak lagi bisa menahan emosinya ," kau yang membuat semua ini terjadi , seharusnya kau bisa mengontrol perbuatanmu " balas Meili.
" Sekarang aku tanya dan kau jawab dengan jujur " sambungnya begitu serius pada Daniel , membuat laki laki itu terdiam dan membalas tatapan adiknya , " apa kau masih mencintai Hannah ? " tanya Meili.
" Apa kau gila ? " teriak Daniel.
" Untuk apa kau menanyakan sesuatu yang mustahil Meili " lanjutnya , " jawabannya hanya iya atau tidak Daniel " ucap Meili menatap tajam .
" Tentu tidak , dia sudah begitu mengecewakanku "
" Kecewa " ulang Meili tersenyum , " ya sekarang aku paham dan jangan menyalahkan siapapun jika Elin memilih untuk mengakhiri hubungan kalian "
" Apa yang kau katakan " teriak Daniel tidak terima.
" Kau sendiri sangat tahu bukan , bagaimana sakitnya di kecewakan "
" Apa yang aku lakukan tidak sebanding dengan apa yang dilakukan oleh Hannah padaku "
" Kecewa tetap kecewa Daniel dan dia merasa kau juga telah mengkhianati cintanya , aku sungguh tidak akan mencegah jika Elin benar ingin berpisah darimu "
" Itu tidak mungkin , aku tidak bisa kehilangan orang yang aku cintai untuk kedua kalinya" ucap Daniel begitu lirih , " jika kau mencintainya seharusnya kau bisa menjaga sikapmu Daniel "
" Aku hanya berusaha untuk membantu Hannah , dan kau sangat tahu dia tidak memiliki siapa.."
" Itu bukan lagi urusanmu " potong Meili , " kau tahu , semua orang yang melihatmu saat itu akan berpikir kalau kau masih begitu mencintai Hannah , Daniel bahkan kau lupa dengan keberadaannya "
" Tapi tidak seperti itu kenyataannya Meili "
" Sebaiknya kau pikirkan dengan baik , bagaimana hatimu dan siapa yang sebenarnya kau cintai "
" Bahkan mulai hari ini aku meragu dengan perasaanmu pada Elin " ucap Meili tanpa ampun membuat Daniel benar benar terdiam.
" Tidak Meili , aku benar benar mencintainya , aku sangat menyadari itu " ucap Daniel begitu yakin namun dengan sorot mata yang begitu sendu , " aku sungguh hanya mengkhawatirkan keadaan Hannah , tidak lebih " sambungnya lagi.
" Pulanglah , biar aku yang menunggunya disini "
" Tidak , aku tidak mungkin bisa tenang jika belum bertemu dan menjelaskan padanya "
" Tapi Meili dimana dia ? , ini sudah hampir tengah malam dan dia belum kembali " lanjut Daniel , membuat meli terperanjat dari duduknya saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 25 menit menuju tengah malam " kita tidak boleh tinggal diam seperti ini Daniel , kerahkan orang orangmu sekarang juga " sambungnya begitu khawatir , tanpa menjawab Daniel sudah sibuk dengan benda pipih miliknya dan segera menghubungi orang kepercayaannya yang tidak lain adalah. Reza.
****
" Apa tidak apa apa aku menggunakan pakaian ini bibi Jamie ? " tanya Elin sambil memegang piyama tidur dengan bahan yang begitu lembut di hadapannya , " tentu " sahut Jamie tersenyum.
" Kau bisa mencobanya nak dan ada banyak pakaian lagi jika kau tidak nyaman menggunakannya " sambungnya lagi.
" itu tidak mungkin bibi " kata Elin tersenyum dan berjalan menuju kamar mandi yang berada di dalam ruangan tidur.
" Menakjubkan , pakaian tidur sederhana itu begitu cocok di tubuhmu " ucap Jamie saat Elin telah keluar dari dalam kamar mandi dan membawa kembali pakaian yang tadi ia gunakan.
" Aku sungguh begitu lancang menggunakan pakaian anak kalian " ujar Elin sungkan , " tidak , aku yakin dia juga mengijinkannya " sambung Jamie yang masih menatap kagum pada Elin dengan pakaian yang ia belikan.
" Maaf bibi , emm..paman sudah menceritakan tentang anak kalian padaku dan pakaian ini... " katanya dengan terbata-bata , " ya dia sudah pergi begitu lama " ucap Jamie menghela nafas.
" Maafkan aku bi , aku tidak bermaksud mengungkitnya , maafkan aku " ucap Elin merasa begitu bersalah , " tenanglah nona , aku sudah menerimanya , hanya saja dadaku masih sedikit sesak jika mengingatnya kembali " sambung Jamie menatap kearah Elin dan tersenyum begitu teduh , lalu melangkah menuju lemari pakaian ," kemarilah " ajaknya pada Elin.
" setiap tanggal ulang tahunnya , aku selalu membeli pakaian sesuai umurnya dan aku selalu merasa dia menyukai setiap baju yang aku belikan untuknya dan ia datang kedalam mimpiku dengan menggunakan pakaian itu " lanjut Jamie bercerita namun dengan wajah tanpa kesedihan , seolah ia sedang menceritakan pengalaman yang begitu indah , " dan aku bahagia melakukannya , bukan karena belum merelakan kepergiannya tapi lebih ke menghargai kehadirannya , dengan begitu aku selalu merasa dia masih bersama kami walau di tempat yang berbeda " lanjut Jamie.
" Maaf aku terlalu banyak bercerita " ucapnya pada Elin.
" Tidak , justru aku sangat tertarik mendengar ceritamu "
" Benarkah , tapi banyak orang yang mengatakan kalau aku sudah gila " katanya tertawa , " tidak , mereka mengatakan itu karena tidak memahami perasaanmu " ucap Elin membuat Jamie memudarkan senyumannya , " tidurlah " ucapnya begitu lembut , " apa kau mau pergi ? "
" Tidak , aku akan disini sampai kau tertidur " sahut Jamie membuat Elin tersenyum.
" Apa kau sudah memberi tahu orang terdekatmu , kalau malam ini kau tidak akan kembali ? "
Elin terdiam sesaat bayangan wajah Daniel secara sempurna hadir di dalam pikirannya , " tidak akan ada yang mencariku " ucapnya begitu lirih bersama helaan nafas yang terdengar begitu berat.
" Tidurlah " ucap Jamie dan Elin mengangguk lalu segera memejamkan kedua matanya.
" Jangan pikirkan apapun yang sudah terjadi hari ini , selama kau tertidur jangan pernah kau membawa masalah duniamu kedalam mimpi, setidaknya untuk alam itu biarkan kau sendiri yang mengatur takdirnya " ucap Jamie yang sengaja mengucapkan kalimat menenangkan untuk perempuan yang tertidur di hadapannya , meski ia tidak menceritakan masalahnya , namun kecewanya benar benar tidak bisa ia sembunyikan.
" Terimakasih bi " ucap Elin sebelum akhirnya ia tertidur dengan begitu nyaman.
Jamie terdiam menatap wajah tidur Elin , " terimakasih Tuhan , akhirnya aku bisa merasakan menemani anak perempuanku sampai tertidur "ucapnya , ia menyadari dengan betul bahwa di hadapannya ada perempuan muda yang baru saja ia temui , namun hati Jamie di buat begitu nyaman dengan kehadirannya , mungkin karena perasaan emosi kehilangan yang sama-sama pernag mereka rasakan , membuat mereka terasa begitu dekat walau baru saja bertemu.
Sebelum kembali , Jamie masih menyempatkankan untuk menyelimuti tubuh Elin yang tertidur dan ia terlihat begitu bahagia saat mengambil pakaian kotor Elin , " akhirnya aku benar benar melakukan ini , mengambil pakaian kotor putriku saat dia tertidur " gumamnya lagi.
" Aku mencarimu " ucap Larry yang tiba tiba datang , " aku baru saja menemaninya hingga tertidur " kata Jamie menjelaskan dengan bibir tersenyum , " kau terlihat begitu bahagia " ujar Larry berjalan mendekat pada istrinya.
" ya , itu karena hadiah yang kau bawakan untukku "
" Pie ? " tanya bingung Larry karena yang ia tahu dia hanya membawakan makanan itu untuk istrinya , " Dia " jelas Jamie menunjuk Elin.
" Saat menemani dia tidur , aku merasa seperti menemani Alessa " lanjutnya dengan bahagia saat menyebut nama putri satu-satunya yang telah pergi , " mungkin jiwa Alessa ada di tubuhnya karena aku pun begitu , merasa begitu nyaman dengan anak perempuan ini " sambung Larry.
" Ayo , kau juga harus istirahat " ajaknya pada Jamie , " aku harus mencuci pakaian ini terlebih dahulu "
" Lakukan itu nanti , ada begitu banyak pakaian Alessa yang bisa ia gunakan jika pakaian itu masih basah " ucap Larry , " dan kita akan mengganggu tidurnya jika terus berada disini " sambungnya lagi membuat Jamie dengan cepat menyetujuinya , karena ia sangat tidak ingin membuat tidur nyaman perempuan muda itu terganggu.
****
" Bagaimana bisa kalian tidak bisa mencari keberadaan satu perempuan di kota ini huh " teriak Daniel begitu murka serta pikiran yang teramat kacau.
Jam sudah menunjukkan waktu menjelang subuh namun kekasihnya tidak kunjung datang dengan nomor telepon yang masih terus tidak aktif , " Kami sudah berusaha mencarinya Tuan , tapi tidak ada satupun tanda tanda keberadaannya "
" Saya tidak mau tahu , cari dia sampai kalian menemuinya " teriaknya lagi.
Ia masih tidak pernah beranjak selangkah pun dari apartemen Elin ,
Khawatir , panik , prustasi semua menjadi satu.
Di hempaskan tubuh gagahnya di atas soffa , dengan pikiran yang begitu kacau , ia benar benar di buat kalah oleh perempuan itu.
Kesalahannya terasa begitu fatal dan yang membuatnya begitu khawatir kemana perempuan itu pergi , tidak ada tempat yang bisa ia singgahi selain apartemennya ini.
" Oh God , tolong kembalikan kekasihku " erangnya dengan tubuh yang terlihat begitu kacau , tidak ada lagi jas rapi di tubuhnya hanya meninggalkan kemeja yang begitu kusut menyerupai pikiran pemiliknya.
jangan lupa vote , like dan coment🤗
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚