Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Kenapa Kau Begitu Polos


Kedatangan Daniel Remkez benar benar mengejutkan semua pengunjung Bar dan beruntungnya Ken lebih dulu waspada dengan memperketat penjagaan dan tidak membiarkan semua pengunjung mengambil gambar apapun selama Daniel masih berada di sana , Dan Meili sudah memerintahkan itu sebelum rencana suksesnya berjalan lancar.


Mike menatap begitu lama wajah Hannah , membuat pemilik tumbuh menunduk.


" Kita pulang " ajak Mike memegang pergelangan tangan Hannah , " Aku datang bersama Vale , bukan bersamamu " jawab Hannah angkuh.


" Apa kau bisa mengantar kami pulang ? " sambung Vale dengan setengah memejamkan matanya.


" Vale jangan bercanda , aku masih bisa mengendalikan mobil " teriak Hannah tidak terima.


" Kau yang sedang bercanda Hannah , untuk melangkahkan kakimu saja kau sudah tidak bisa , apa lagi harus mengendalikan mobil "


" aku tidak ingin mati konyol malam ini " sambung Vale.


" Kita bisa meminta bantuan Billy atau siapa saja asal jangan dia "


" Tidak Hannah , mereka harus segera pulang dan Vale benar , kalian tidak mungkin pulang berdua dengan keadaan seperti ini " sambung Meili dengan menahan bibirnya.


" Apa ini rencanamu Meili ? " tanya Hannah dan Meili tersenyum tanpa dosa " ternyata kau masih pintar walau dalam keadaan mabuk "katanya tertawa.


" Kau benar benar.."


Bruukk " tubuh mabuk Hannah ambruk di sofa .


" Kau datang di waktu yang tepat Mike " ucap Meili tertawa.


" Apa kau sungguh merencanakan ini ? " tanya Mike dan Meili mengangguk dengan pasti , " Aku saudara yang sangat baik bukan ? " katanya tanpa bersalah.


" Kau gila Meili " ucap Mike dengan menggelengkan kepalanya.


" Jangan tidak tahu terimakasih Mike , aku sudah membuka peluang untuk kalian kembali lebih dekat , manfaatkan sebaik mungkin "


" Sekarang pulanglah , bawa Hannah dan Vale ikut bersamamu " katanya lagi.


" Kau benar benar mengatur segalanya "


" Ya seharusnya kau berterimakasih padaku " ucap Meili bangga.


" Ayo Mike " teriaknya karena Mike yang terlihat ragu , " Kau tunggu apa lagi , cepat angkat tubuhnya , atau kau ingin teman temanku yang membawa Hannah "


" Kau benar benar luar biasa Meili " gumam Mike sambil mengangkat dengan lembut tubuh Hannah , " Billy tolong bantu Vale menuju mobilnya " pinta Meili pada temannya.


" Tidak aku bisa sendiri Nona Meili "


" Kau lihat jariku ada berapa Vale ? " tanya Meili sambil memperlihatkan jari telunjuk dan jari tengahnya pada Vale.


" empat "


" Bagus , sekarang jangan membantah , kalau kau tidak ingin hidung mancungmu ini patah karena terjatuh dari tangga " jelas Meili.


Billy segera membantu tubuh Vale yang tidak lagi bisa berdiri dengan benar dan membantu menopang tubuhnya untuk menuruni anak tangga ,


" Titip Hannah Mike , aku harap kau bisa menggunakan waktumu dengan baik " ucap Meili setelah Mike sudah beranjak dengan membawa tubuh Hannah di dalam pelukannya.


" Kerja bagus Meili " ucapnya pada diri sendiri.


" Terimakasih telah datang teman , sekarang kalian sudah bisa pulang " ucapnya pada beberapa orang yang masih tinggal di sana.


" Apa kau akan membiarkan wajahku hancur seperti ini " ucap Jacob sambil memegang ujung bibir yang sedikit berdarah.


" Tentu tidak , berikan nomor rekeningmu , aku akan mengirim $50.000 untuk kau mengobati lukamu nanti atau kau bisa sekalian mengubah bentuk bibirmu dengan uang itu "


" Itu berlebihan Meili " sambung Brian.


" Tidak , itu tidak seberapa di bandingkan dengan wajah Jacob yang aku korbankan malam ini " bantahnya dengan tertawa senang.


" Kau memang gila " ucap Brian sambil menarik tangan Meili , " tapi memang itu yang aku sukai " sambungnya dengan mata yang menatap begitu dekat pada wajah meili.


" Meil , apa aku aman , aku takut kakakmu akan membunuhku " ucap Danis tiba tiba , membuyarkan tatapan mata Meili yang sedang menatap balik mata Brian.


" Dia tidak akan melakukan itu " ucap Meili tertawa.


" Kakakmu benar benar mengerikan Meil , kalau aku tahu malam ini akan berurusan dengannya mungkin aku akan memilih tidur " lanjut Danis , " kau berlebihan Danis " sambung Ben.


" Tidak , kau tidak tahu bagaimana menyeramkannya wajah Daniel Remkez saat menatapku tadi " bantah Danis bergidik.


" Tenanglah tidak akan terjadi apa apa denganmu " ucap Meili , " apa aku bisa mempercayai ucapanmu ? "


" Tentu , aku yang akan bertanggung jawab " jelasnya.


" Baiklah , ayo kita pulang ? " ajak Jack pada teman temannya . " terimakasih Meil kami menikmati pestamu " sambung Ben yang ikut beranjak di ikuti Danis dan Jacob yang terus memegang bagian rahangnya yang masih terasa sakit.


" Apa kau tidak akan pulang Brian ? " tanya Danis karena melihat laki laki itu masih duduk dengan santai di atas sofa.


Meili ikut menoleh kearah Brian , " Aku tidak mungkin membiarkan dia pulang sendiri " ucapnya menatap kearah Meili.


Blussh " wajah Meili kembali memerah.


" Aku bisa pulang sendiri Brian " bantahnya.


" Terserah tapi aku tidak akan membiarkan itu "


" Ayolah , rahangku sudah mulai terasa kaku " ajak Jacob tidak sabar.


" Baiklah , ayo " sambung Jack.


" Meili terimakasih , kami pulang dulu dan kau Brian , jangan mencuri kesempatan " ucap Ben tertawa , lalu beranjak pergi meninggalkan Meili dan Brian yang masih tersisa di dalam ruangan.


" Ayo "


" Kita pulang ? " tanya Meili.


" Memang kau mau pergi kemana lagi ? , ini sudah hampir pagi , dan aku tidak ingin berurusan dengan kakakmu " ujar Brian tertawa.


" Kau memang tidak romantis " gumam Meili pelan , namun masih terdengar di telinga Brian.


" Ayo , apa kau ingin aku gendong seperti temanmu tadi " goda Brian tertawa.


" Lakukan kalau kau bisa "


" Astaga Brian lepaskan , aku sungguh hanya bercanda " teriak Meili saat tubuhnya di angkat oleh Brian seperti Daniel membawa Elin.


" Kau yang menantangku " ucap Brian tanpa ampun dan terus membawa tubuh Meili di atas pundaknya.


" Ken tolong bantu aku " teriak Meili saat melihat pemilik Bar tertawa ke arah mereka.


" Tidak , malam ini kau sudah hampir membuat kacau tempatku " bantah Ken tertawa.


" Baiklah , Kau lihat saja aku akan menutup Bar-mu ini " geram Meili terus berteriak membuat semua orang yang masih tersisa di sana menjadi tertawa.


****


Tuck


Awwww " teriak Elin saat kepalanya terbentur di ujung pintu mobil Daniel.


" Maafkan aku " ucap Daniel dengan segera menyentuh bagian kepala elin , " Apa kau ingin membunuhku " ucapnya kesal sambil terus mengelus kepalanya yang terbentur.


" Itu tidak mungkin sayang , aku sudah bilang jangan memberontak dan kau masih melakukannya "


" Apa sekarang kau sedang menyalahkan aku "


" Tidak sayang , ayolah aku sudah meminta maaf , sekarang duduklah dengan tenang " kata Daniel lembut sambil memasangkan seat belt pada tubuh Elin.


" Kepalaku sudah pusing semakin pusing , sepertinya aku akan benar benar gila setelah ini " gumam Elin menatap kesal pada Daniel dan tanpa sadar tangannya menyentuh tombol di sisi kursi , membuat sandaran kursi terhempas di ikuti tubuhnya , begitu pun Daniel yang ikut terhuyung karena masih memegang Seat belt tempat duduk Elin.


" Kenapa kau begitu tampan " ucap Elin tersenyum sambil memegang kedua pipi Daniel.


Daniel tak kuasa menatap wajah sendu Elin dengan tubuhnya yang menimpa tubuh perempuan itu.


" Mau kemana ? " tanya Elin , yang tidak melepas tangannya pada wajah Daniel.


" Aku harus bangun , kalau tidak , tulangmu akan patah karena ketimpahan tubuhku " jelasnya.


" Tidak apa apa , aku menyukai posisi ini " kata Elin tersenyum.


Mata Daniel membesar , mendengar ucapan nakal Elin.


Cup


Elin mencium bibir Daniel tanpa pamit , lalu memeluknya begitu erat.


" Aku merindukanmu " lirihnya di balik tubuh Daniel.


Daniel yang masih terkejut dengan perlakukan Elin , masih terdiam dengan nafas yang sedikit sesak karena pelukan erat Elin padanya , " Beruntung aku datang lebih cepat , kalau tidak kau pasti sudah melakukan ini pada teman Meili " kata Daniel kesal namun bercampur senang bersamaan.


" Setelah ini jangan pernah bermimpi untuk pergi ke pesta , apa lagi membiarkan kau pergi sendiri " ucap Daniel di balik tubuh Elin.


" Apa kau mendengar Nona Merlinda , aku tidak akan pernah mengijinkan kau berpesta seperti ini lagi "


" Hey , apa kau mendengarkan aku " ulangnya sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Elin.


" Astaga dia tertidur " ucapnya menatap wajah Elin yang sudah tertidur pulas dan membaringkanya dengan lembut di sandaran kursi yang sudah terbaring.


" Kau benar benar membuatku marah Nona Merlinda " geramnya dan kembali menatap wajah Elin lalu beranjak menuju kursi kemudi , dan melajukannya menuju apartemen Elin.


~


" Astaga " geramnya setelah menyadari kalau dirinya tidak mengetahui kode pintu masuk apartemen Elin , dan tidak mungkin membangunkan perempuan yang tertidur begitu lelap di dalam pelukannya.


" Apa aku harus membawanya pulang ke apartemenku " gumamnya menatap wajah tidur Elin , " ya , tidak ada pilihan lain " lanjutnya , lalu segera kembali menuju pintu lift dengan terus menggendong tubuh Elin.


dan beruntungnya jam masih menunjukan pukul empat pagi , dan apartemen tidak memiliki mengunjung kecuali beberapa orang petugas resepsionis yang terus melihat melihat kearahnya.


Namun Daniel tidak peduli , ia terus membawa tubuh Elin dan melangkah lebih cepat menuju mobilnya.


~


Elin menggeliat , matanya mengercap saat sinar matahari di sela gorden menerpa wajahnya.


Ia begitu sulit untuk membuka mata , kepalanya masih terasa begitu pusing karena pengaruh minuman alkohol yang begitu banyak masuk kedalam tubuhnya , " kenapa kepalaku begitu sakit " gumamnya sambil memegang kepalanya yang terasa berat.


Elin berusaha untuk merenggangkan ototnya yang terasa kaku , namun urung karena menyadari tubuhnya terkunci oleh satu tangan besar yang memeluk erat pinggangnya.


Matanya melebar , saat mengikuti arah tangan yang memeluknya dan menemukan Daniel yang tetidur begitu lelap tanpa baju hanya meninggalkan celana jeans yang melekat di tubuhnya.


" Astaga apa yang terjadi " ucapnya begitu terkejut , lalu segera menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya dan matanya semakin membesar saat melihat tubuhnya yang hanya terbalut baju kaos berukuran besar dan ia sangat yakin kalau itu bukan miliknya.


" Daniel bangun " teriak Elin panik dan menggoyangkan tubuh Daniel yang masih tertidur.


" Daniel " teriaknya lagi , " emmm.. "


" Bangun "


" Jelaskan padaku apa yang terjadi antara kita " tanya Elin semakin panik , Daniel hanya tersenyum dan berusaha mengembalikan kesadarannya.


" Daniel jawab "


Hueeekkkk


Elin berlari menuju kamar mandi , karena perut yang tiba tiba terasa mual.


Setelah puas mengeluarkan semua isi di dalam perutnya , ia kembali dengan tubuh yang begitu lemas.


Daniel yang sudah duduk di tepi tempat tidur , menelan ludahnya menatap kaki putih jejang milik Elin.


" Sekarang katakan padaku , apa yang telah terjadi , kenapa aku bisa berada di sini dan baju siapa ini " tanyanya tidak sabar dengan kaki yang sudah dingin karena menahan cemas.


" Aku rasa muntahanmu sudah membuktikan semuanya " jawab Daniel begitu santai.


" Maksudmu ? " tanya Elin dengan mata yang melebar dan jantung yang berdegub begitu cepat.


" Maksudku .. " ucapnya menggantung dan berjalan menuju Elin.


" Kita akan segera menjadi orang tua " bisiknya di telinga Elin dan tersenyum begitu nakal.


Mata Elin membesar sempurna , bahkan nyaris keluar dari tempatnya karena ucapan Daniel.


" Daniel jangan bercanda " katanya lemah.


" Untuk apa aku bercanda , apa perutmu masih terasa mual ? " tanya Daniel dan Elin mengangguk , " kepalamu pusing ? " tanyanya lagi dan Elin kembali mengangguk.


" Berarti semuanya sudah jelas kalau kita berdua akan segera menjadi orang tua " katanya dengan santai dan berjalan menuju kamar mandi.


" Ini tidak mungkin Daniel, aku tidak mungkin..." teriak Elin menggantung dan Daniel tertawa di balik pintu kamar mandi.


" Kau tidak perlu khawatir aku pasti akan bertanggung jawab " teriaknya dari dalam kamar mandi sambil terus menahan tawanya.


" Kau gila Daniel " Teriak Elin yang sudah menangis , pikirannya begitu kacau setelah mengetahui apa yang sudah terjadi antara dirinya dan Daniel.


" Apa yang harus aku katakan pada ayah dan ibu "


" Kenapa aku menjadi begitu murahan " lanjutnya dengan terus menangis , sedangkan Daniel masih menutup bibirnya di balik pintu kamar mandi , menahan mulutnya untuk tertawa lebih keras.


" Kenapa kau begitu polos " gumamnya sambil terus tertawa.


jangan lupa vote , like dan coment🤗


dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚