Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Tidak Bisa Membencimu


" Ya , sekarang aku sudah baik-baik saja " ucap Elin dengan berusaha menyadarkan kesadarannya yang hampir melayang oleh aroma maskulin tubuh David.


" Apa kalian akan tetap seperti itu " ucap Jamie membuat dua manusia itu menjadi kalang kabut dan malu bersamaan , " apa ada lagi yang bisa aku kerjakan bi ? " tanya Elin berusaha mengalihkan rasa malunya.


" Duduklah , kau sudah begitu lelah hari ini "


" Tidak bi , aku begitu senang melakukannya " sahut Elin tersenyum , " duduklah nak , kau bisa mengobrol bersama David " kata Jamie membuat mata Elin melirik kearah pemuda itu dan kembali memutar bola matanya saat melihat pandangan mata laki-laki itu juga sedang melihat kearahnya.


" Bagaimana keadaan kantor hari ini ? " tanya Elin , berusaha memulai pembicaraannya bersama David , " cukup baik , namun Kasih begitu tidak bersemangat karena kau tidak ada " sahut David sambil membuka kemeja kerjanya , membuat wajah Elin yang melihat memerah seketika.


" Bibi , aku ingin mengganti pakaianku " teriak David karena Jamie sudah tidak lagi terlihat dimana keberadaannya.


" Carilah pakaianmu di tempat biasanya " balas Jamie dan David terlihat langsung berjalan menuju kamar dimana Elin tidur tadi malam ,


dan tidak lama dia sudah keluar dengan pakaian yang begitu santai , " apa paman Larry dan bibi Jamie adalah saudaramu ? " tanya Elin yang melihat David begitu dekat dengan sepasang suami istri itu.


" Bahkan aku sudah menganggap mereka lebih dari itu " sahut David sambil berjalan menuju soffa dan menghidupkan televisi , laki-laki itu terihat begitu leluasa dengan benda benda yang berada rumah Jamie.


" Lalu apa hubunganmu dengan mereka ? " tanya David pada Elin.


" Emm..aku hanya.."


" Dia juga ponakanku " sambung Jamie yang ntah sejak kapan ia kembali berada di sana ," tapi aku tidak pernah tahu dengannya " kata David dengan kedua alis yang saling bertautan.


" Aku bukan siapa-siapa David , aku hanya orang yang beruntung karena telah bertemu dengan paman Larry dan bibi " jelas Elin tersenyum , " tapi kau bukan lagi orang lain untukku " timpal Jamie cepat.


" Begitu pun aku Bibi , sejak pertama kita bertemu aku sudah menganggap paman dan bibi adalah keluargaku "


" Kau lihat David , dia begitu cantik dan sangat sopan " ucap Jamie memperlihatkan kekagumannya pada Elin , " kau sangat berlebihan bi "


" Tidak , bahkan ini untuk pertama kalinya aku bertemu perempuan sepertimu " jelas Jamie , " aku rasa David akan menjadi laki-laki bodoh jika tidak menyukaimu " sambungnya , membuat mata Elin sedikit membulat dan David yang menahan diri untuk tidak berteriak karena begitu malu dengan ucapan Jamie.


" Apa aku begitu terlambat " ucap seseorang yang baru saja datang , " paman " panggil Elin begitu terkejut saat melihat kehadiran Larry.


" Bagaimana kabarmu nak ? " tanya Larry yang kini sedang memeluk tubuh David , " sangat baik , maaf aku baru bisa datang hari ini " ucap David begitu merasa bersalah karena biasanya ia akan datang tepat di hari ulang tahun sahabat kecilnya yang tidak lain adalah puteri Larry dan Jamie.


" Tidak apa-apa nak , kami mengerti kau begitu sibuk " sahut Larry tersenyum.


" Aku sungguh bahagia kau masih ada disini nona " lanjutnya pada Elin.


" Paman kenapa pulang begitu cepat ? " tanya Elin , karena waktu masih begitu sore sedangkan tadi malam ia bertemu saat lelaki paruh baya itu sedang berkerja, " paman tidak mungkin melewatkan ini " jelas Larry , walau itu masih membingungkan untuk Elin.


" Jadi apa rencanamu hari ini sayang ? " tanya Larry pada istrinya.


" Aku ingin kita mengadakan pesta barbeqeu " sahut Jamie yang nampak sibuk dengan bahan makanan , " David bantu pamanmu menyiapkan pemanggangan dan Elin bantu bibi membuat saus barbeque " pinta Jamie dan semua orang sudah nampak sibuk dengan tugas mereka masing-masing , " Kau tahu Elin , hari ini bibi begitu senang " ucap Jamie tiba-tiba , Elin yang sedang sibuk membantunya sedikit memperlambat gerakannya untuk menyimak obrolan wanita itu, " ya , wajahmu mampu menjelaskannya " sambung Elin.


" Dia terlihat begitu dekat dengan kalian , bahkan aku mengira kalau ia juga anakmu "


" Dia memang sudah seperti anakku " sahut Jamie , " dia terus menemani kami setelah Alessa pergi , padahal dia hanya sahabat kecil puteri kecilku , namun ia terus datang kemari untuk melihat keadaan kami berdua bahkan memperlakukan kami seperti orang tuanya " jelas Jamie , membuat Elin mengalihkan pandangannya kearah David yang masih sibuk dengan pekerjaannya bersama Larry ,


" maaf aku begitu lancang , tapi apa aku boleh tahu apa yang terjadi pada puteri kalian ? " tanya Elin yang memang sudah begitu penasaran sejak kemarin ,


" maafkan aku bi , kau tidak perlu memaksakan untuk bercerita " sambungnya saat melihat Jamie menghela nafasnya begitu berat , " Puteriku gadis yang malang " ucap Jamie yang sekali lagi terlihat menghela nafasnya , " jangan di lanjutkan jika itu hanya akan melukai hatimu bi " ucap Elin memeluk tubuh rentah wanita paruh baya itu.


" Aku sudah menerimanya nak " ujar Jamie tersenyum namun tidak bisa menyembunyikan sorot mata sedihnya , " Dia korban dari tabrak lari " jelas singkat Jamie namun mampu membuat Elin begitu terkejut.


" dia sudah bertahan begitu lama untuk tetap bersama kami dan sampai akhirnya dia menyerah " lanjut Jamie sambil mengusap ujung matanya , " percayalah dia sudah bahagia di tempatnya saat ini " ucap Elin mencoba untuk menenangkan Jamie.


" Ya , dia memang terlihat bahagia saat meninggalkan kami , dan aku tahu , selama itu dia sudah begitu sulit untuk bertahan "lanjutnya dan tidak lagi mampu menyembunyikan air matanya , " maafkan aku " ucap Jamie merasa begitu malu.


" Kau tidak perlu menutupi kesedihanmu bi , semua orang pasti tahu , kau sangat sulit melaluinya "


" Ya , bahkan membuatku begitu terpuruk dan melupakan hidupku sendiri , tapi pamanmu begitu sabar untuk menemaniku dan akhirnya membuatku berpikir bahwa aku bukan hidup untuk diriku sendiri "


"Kau begitu beruntung memilikinya "


" Suatu hari kau juga pasti akan menemukan seseorang yang beruntung memilikimu " ucap Jamie , membuat Elin tersenyum dan menghela nafas bersamaan.


Kembali otaknya mengingat wajah seseorang yang telah menyakiti hatinya , namun itu tak cukup untuk membuatnya tidak merindukan laki-laki itu.


" Setelah apa yang terjadi , aku masih saja tidak bisa membencimu " gumamnya.


" Semuanya sudah siap " ucap Larry menghampiri dua wanita itu dan membuyarkan lamunan Elin.


" Ayo " ajak Jamie dan Elin mengikutinya menuju taman belakang .


" Kau menyulap ini paman ? " tanya Elin menatap begitu kagum pada lampion yang tergantung dengan indah , karpet yang teralas di atas rumputan dan pemanggangan yang siap untuk di gunakan , itu terlihat begitu sempurna untuk acara kecil yang baru saja di rencanakan.


" Bukan paman yang membuatnya tapi David " jelas Larry menunjuk laki-laki yang masih sibuk menggantungkan sisa lampion.


" Apa kau tidak menyadari Larry , anakmu terlihat begitu bersemangat hari ini " goda Jamie sambil melirik ke arah Elin.


" Kau hebat " ucap Elin mendekat pada David sambil tersenyum begitu manis dan mengarahkan kedua jempolnya , sesaat mata David tertegun menatap senyum manis perempuan itu , " aku begitu suka lampion " ucap Elin yang terus menatap kagum pada deretan lampu yang tergantung.


" Kau menyukai ini ? " tanya David dengan kedua alis yang sedikit bertautan karena itu terlihat begitu sederhana namun perempuan itu melihatnya seolah sedang melihat tower menara Eiffel , " kau begitu lucu " ucap David yang tanpa sadar tersenyum , karena menatap perempuan aneh di hadapannya namun juga terlihat mengagumkan.


jangan lupa vote , like dan coment🤗


dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚