Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Bangku Taman


• Di malam sebelumnya.


Daniel tidak bisa duduk dengan tenang malam ini. hatinya gusar memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi pada hubungannya, " Ya Tuhan.. " erangnya begitu setress.


Ia melihat saat handphonenya berbunyi oleh panggilan telepon dari calon istrinya. Namun, ia tidak punya nyali untuk berbicara pada wanita itu. Kepanikan serta kegelisahan dalam dirinya, membuatnya lemah dan memilih menyendiri.


" Maafkan aku. Aku hanya takut tidak bisa menjawab apa yang akan kau tanyakan padaku " ucapnya lemah. sambil menatap pada layar handphone yang masih menyala di hadapannya.


Beberapa jam sudah berlalu dan selama ini Daniel terus dalam kegelisahan. Ia segera keluar dari dalam ruang tidurnya saat mendengar beberapa orang yang pergi ke rumah Elin. Kini telah kembali.


Namun, langkahnya melambat seiring pembicaraan yang ia dengar. Dan ia menyadari bahwa masih ada tangisan ibunya disana. Dan itu berarti keadaanya semakin buruk.


Daniel menghentikan langkahnya dan kembali ke ruang tidur, " Maafkan Ibuku lin. Aku tahu saat ini kau pasti sangat kecewa " ucapnya lemah.


" Dan aku tidak akan memaksa jika memang kau tidak bisa memaafkan kesalahan ini " sambungnya begitu putus asa.


Dimatikannya lampu di dalam kamar tidurnya, hingga tidak meninggalkan sedikit cahaya pun. Mungkin berada di dalam gelap akan membuatnya lebih tenang, begitu pikirnya.


Di baringkan tubuhnya yang rapuh di atas tempat tidur, dengan mencoba membuat dirinya terpejam. Namun, usahanya seperti sia-sia, setiap kali ia ingin memejamkan matanya setiap itu juga bayangan wanita yang begitu dia cintai akan hadir di dalam pikirannya, hatinya sakit membayangkan wanitanya menangis saat ini dan ia paling tidak menyukai hal itu.


" Ya Tuhan. Kenapa harus terjadi hal seperti ini pada hubunganku. Aku sungguh tidak ingin pernikahanku gagal hanya karena hal ini " erangnya lemah.


Klek " pintu kamarnya tiba tiba terbuka. Dan ia memilih tetap berdiam diri dalam kegelapan, meski menyadari ada seseorang yang kini berada di balik pintu kamar tidurnya.


" Meili " batinnya, mengetahui bahwa yang berada di balik pintu adalah adiknya.


Pintu sudah kembali di tutup, seiring itu juga pikirannya kembali kacau. Tidak ada yang lain di dalam pikirannya selain wanitanya saat ini. Bagaimana keadaannya. seperti apa kondisinya dan yang pasti, ia ingin berada disana menjadi pundak dan memberi ketenangan saat wanitanya menangis. Namun itu justru seperti hukuman untuknya. Bagaimana bisa dia memberi ketenangan. Sementara orang tuanya sendiri yang menyebabkan tangisan itu.


" Maafkan aku sayang. Maafkan orang tuaku " racaunya serak. Dengan dada yang terasa amat sesak.


Daniel beranjak dari pembaringannya. Ia tidak bisa hanya diam seperti ini. Namun, juga tidak bisa berbuat apapun. Namun, rasa rindunya pada Elin begitu besar, bahkan sangat besar.


~


Daniel terdiam sejenak, saat menyadari tubuhnya kini telah berada di hadapan sebuah rumah yang menjadi tempat tinggal calon istrinya.


Rasa cinta benar benar membuatnya lupa diri. Bahkan tidak menyadari apa yang sudah ia lakukan.


" Tuan Daniel " seru seseorang dari balik pagar rumah itu. Dengan cepat lelaki itu membukakan pintu pagar yang berada disisi gerbang. Lalu bergerak mendekati keberadaannya.


" Tuan. Ayo masuk. Kenapa berdiri disini " ucap Lelaki itu. Lelaki yang bekerja sebagai satpam dirumah Elin. Dan beruntungnya lelaki itu mengenali wajah laki laki yang akan menjadi calon suami nona mudah dirumahnya itu. Jika tidak mungkin saat Daniel sedang di curigai sebagai pencuri.


Daniel kebingungan saat ini. Apa yang akan ia lakukan, sementara dia masih ingin disana. Namun juga tidak mungkin masuk kedalam rumah itu. Atau lebih tepatnya tidak sanggup jika harus bertemu keluarga Elin, setelah baru saja membuat mereka kecewa. Dan ia tidak punya alasan untuk datang di waktu yang sudah larut seperti ini.


" Pak boleh aku minta bantuan anda " ucapnya pada satpam. Dan laki laki itu mengangguk, " Ada apa tuan ? ".


" Jangan katakan pada siapa pun kalau aku datang kemari " pintanya. Walau lelaki paruh baya itu nampak kebingungan tapi tetap menyetujui keinginannya, " baiknya tuan ".


" Lalu apa tuan akan tetap disini ? " tanya lelaki itu.


Dan Daniel akhirnya menyadari. Ia juga tidak mungkin terus berada disana, " aku hanya ingin melihat calon istriku pak " ucapnya.


" Aku hanya ingin disini sampai memastikan dia sudah tertidur " sambungnya.


" Mungkin tuan bisa menunggu disana. Jika lampu kamar itu sudah di matikan, berarti Nona sudah tertidur " jelasnya pada Daniel.


" Di bawah kamar itu juga ada bangku taman. Jadi Tuan bisa duduk disana sambil menunggu nona tertidur " sambungnya.


" Apa tidak apa-apa aku disana ? "


" Tentu tuan. Anda calon suaminya " sahut satpam.


" Baik terimakasih pak. Kalau begitu akan duduk disana sampai dia tertidur ".


" Ya terserah tuan sendiri. Mau sampai besok juga tidak apa apa " sahut lelaki paruh baya itu sekenanya.


Daniel berjalan masuk ke pekarangan rumah kekasihnya. Menuju tempat yang di maksudkan oleh satpam di rumah itu.


" Aneh aneh aja anak muda jaman sekarang. Atau emang percintaan orang bule seperti ini ya " gumam pak satpam sambil melihat tubuh Daniel yang terus berjalan menuju letak kamar tidur Elin.


Daniel masih duduk di kursi taman sambil menatap pada jendela yang masih terbuka dan terang oleh sinar lampu yang belum di matikan. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi pada wanitanya saat ini. Tapi yang pasti dengan apa yang sedang terjadi telah membuat wanitanya tidak bisa tertidur.


Hari semakin larut bahkan sudah menuju pagi, saat Daniel melihat alroji di tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Namun ruang yang ia tunggu belum juga gelap, " sayang kau pasti sangat kecewa sampai kau tidak bisa tidur " gumamnya cemas.


Udara malam semakin menusuk tulangnya. tapi tak membuat ia ingin beranjak dari tempatnya saat ini. Ia hanya memutuskan memasukan kedua tangannya di saku jaket yang ia gunakan saat ini, untuk membuat tubuhnya sedikit lebih hangat.


Matanya mulai mengantuk. Namun tetap ia paksakan terus terbuka sampai ruang tidur kekasihnya gelap. Tapi sayangnya tubuh lelahnya tidak bisa menahan rasa kantuknya dan perlahan Daniel mulai tertidur di bangku taman di hadapan kamar tidur kekasihnya.


****


Klek


Perlahan pintu terbuka. Memperlihatkan tubuh lemah dengan mata yang sembab.


" Elin " seru Green dan Amel bersamaan. Sementara Mala dengan cepat mendekat pada putrinya, " Kamu makan ya. Ibu sudah menyiapkan bubur kesukaanmu " seru Mala. Namun, Elin menggelengkan kepalanya.


" Elin tidak lapar bu " ucapnya lemah.


" Tapi kau harus makan Elin " bentak Green.


" Ada apa dengan Daniel ? " tanya perempuannya lemah.


Green dan Amel terdiam sejenak. dan perlahan menarik nafas, " Saat ini semua orang sedang mencarinya Elin. Semua jadi begitu kacau. Dia menghukum dirinya saat tahu kau seperti ini " ucap Green. Yang sengaja menambahkan sedikit kebohongan agar perempuan itu tidak terus menyakiti dirinya.


" Semua orang panik memikirkanmu dan juga dia. Sejak tadi malam sudah tak terhitung berapa kali Mami Viona tidak sadarkan diri. Dia juga begitu tertekan Elin. Sementara Meili terus menangis " tambah Amel dengan wajah yang ia buat sesendu mungkin. Walau sesekali matanya melirik pada Green.


" Maafkan kita Elin. Kita terpaksa melakukan ini " batin Green.


" Ibu siapkan saja makanannya. Elin akan makan " pinta Green pada Mala.


" Jangan memaksa Green. Aku sungguh tidak lagi ingin makan apapun "


" Tidak kau harus makan. Aku akan menyuapimu. Kau tidak boleh terus seperti ini Elin. Kalau kau terus seperti ini, kita semua tidak akan tahu, apa lagi yang akan terjadi pada keluarga Remkez. Semua orang di keluarga itu seperti menghukum diri mereka. Dan kak Daniel, sampai saat ini kita belum tahu dimana dia dan bagaimana keadaannya " ucap Green begitu sedih. Walau ada beberapa bagian yang sengaja ia buat semakin drama supaya wanita di hadapannya tidak semakin berlarut dalam kesedihan. dan membuatnya berpikir bahwa ada banyak orang yang ikut terpuruk dengan keadaannya, jika ia memilih untuk terus seperti itu.


" Sekali lagi maafkan aku Lin " batin Green.