
" Oh good Morning " ucap Vale saat melihat Hannah berjalan ke arahnya.
" Morning " jawab Hannah setengah ragu karena matanya menemukan seseorang yang asing dari penglihatannya , " Apa dia tidak mengenaliku ? " tanya Billy pada Vale.
" Sepertinya " sahut Vale tertawa.
" Apa kau lapar ? " tanya Vale lagi dan Hannah mengangguk.
" Apa kau tidak mengenaliku Nona Hannah ? " ucap Billy karena Hannah terus menatapnya begitu asing dan melempar pandangannya pada Vale , " Dia billy , teman pesta kita tadi malam , apa kau sungguh tidak ingat ? "
" Maaf , sepertinya aku benar benar mabuk tadi malam " ucap Hannah begitu sopan.
" Aku mengerti , memang seperti seharusnya , hanya dia yang tidak normal " sambung Billy lalu menunjuk ke arah Vale.
" Itu lebih baik dari pada tidak mengingat apapun " sahut Vale tertawa , " apa kau sedang menyindirku " timpal Hannah.
" Hannah " ucapnya mengulurkan tangan pada Billy , " Kau serius kita harus berkenalan lagi ? " kata Billy tertawa.
" Ya , aku sungguh tidak mengingatmu "
" Billy , kau harus mengingatnya setelah ini " kata Billy tertawa.
" Apa dia masih tidur ? " tanya Vale tiba tiba , mata Hannah membesar sedikit terkejut , " Kau tahu dia disini ? "
" Tentu , hanya kau yang tidak mengingat apapun , itu benar benar sangat buruk " sahut Vale.
" Duduklah Nona " ucap Billy pada Hannah.
" Apa dia kekasihmu Vale ? "
" mungkin calon kekasih lebih tepatnya " sahut Billy tertawa ," jangan gila Hannah , kita baru mengenalnya tadi malam " potong Vale namun matanya melirik sebentar ke arah Billy.
" Tapi dia sudah lebih cocok menjadi Tuan dirumah di sini "
" Apa kau sedang menyindirku ? " balas Billy , " sedikit " sahut Hannah tertawa.
" Aku memang sedikit tidak tahu malu tapi itu hanya ketika aku menyukai sesuatu " ujar Billy tertawa.
" Rumah atau pemiliknya ? " tanya Hannah ambigu , " Kau sangat pintar membuat pilihan , " Rumah " jawab Billy begitu yakin.
" Karena ? "
" Karena setelah itu kau akan begitu penasaran siapa pemiliknya " jelas Billy , Hannah tersenyum begitu puas , " mulai hari ini kita berteman " ucapnya.
" Asal kau tidak lupa lagi namaku " sahut Billy.
" Kalian begitu cepat akrab " sambung Vale membawa satu cangkir teh panas dan roti coklat di atas nampan , " Ya , karena kami sama sama menyukai rumah " sahut Hannah tertawa.
" Bawa ini untuknya " ucap Vale memberikan nampan yang ia bawa pada Hannah.
" Tidak usah , aku akan segera membangunkannya "
" Jangan begitu jahat , dia sudah menjagamu sepanjang malam " kata Vale menatap Hannah , " Bahkan dia tidak beranjak sedikitpun dari tempat tidurmu dan merawatmu dengan sangat baik " lanjutnya.
" Jangan menghukumnya , kau juga ikut bersalah dalam hal ini "
Hannah masih terdiam dan menatap begitu lama pada Vale , " Bawa ini , dan biarkan dia tertidur lebih lama lagi " lanjut Vale kembali memberikan nampan di tangannya pada Hannah.
" Orang tulus tidak datang dua kali dalam hidup kita " ucapnya lagi dan memutar tubuh Hannah untuk segera kembali menuju kamarnya.
" Apa kau sedang mengusirku agar tidak menganggumu ? " kata Hannah yang kembali memutar tubuhnya ke arah Vale , " Ya harusnya kau mengerti " sahut Vale tertawa.
" aku juga lapar dan kau hanya memberikan satu potong roti ini , lalu menyuruhku pergi , kau benar benar tega Vale "
" Ini untukmu dan sekarang pergilah " kata Vale memberikan satu piring macaroni keju ,
" kau sungguh tidak sabar nona " ucap Hannah tertawa lalu segera beranjak menuju kamarnya.
Ia masih berdiri di hadapan pintu kamarnya menatap wajah Mike yang masih tertidur , rasanya begitu canggung saat kembali hanya berdua dalam satu ruangan bersama Mike , laki laki yang pernah berselingkuh dengannya .
Tubuh Mike menggeliat dan mengeratkan selimut pada tubuhnya ,
Hannah melihat kearah jam dinding yang sudah menunjukan pukul sebelas siang waktu New York dan kembali melihat kearah Mike.
" Apa dia tidak akan pulang ? " ucapnya sambil berjalan mendekat pada sofa tempat Mike tertidur.
" Mike , bangunlah " panggilnya sambil menggoyang pelan tubuh laki laki itu , namun setelah itu matanya membesar dan segera menyentuh dahi Mike , " Astaga dia demam " ucapnya terkejut karena suhu tibuh Mike yang begitu panas.
Ia segera beranjak keluar kamar dan kembali menuju dapur , " Ada apa ? " tanya Vale yang begitu bingung melihat Hannah begitu tergesa gesa , " tubuh Mike sangat panas " jelasnya sambil mengisi air dingin di dalam mangkuk besar.
" Kenapa kalian begitu romantis " ucap Vale tersenyum.
" Romantis katamu "
" Jangan gila Vale " lanjut Hannah melempar tatapan kesal karena ucapan Vale.
" Kenapa harus gila , tidak ada yang lebih romantis , selain saling merawat ketika sakit " jelas Vale.
" Semalam dia merawatmu dan sekarang bergantian kau merawatnya , sangat romantis bukan "
" Terkadang memang harus ada kesalahan untuk mencari hasil yang benar " ucap Vale tersenyum sambil terus menatap punggung Hannah yang sudah pergi.
****
Sepasang manusia sedang berada di meja makan , mata Elin menatap ke segala penjuru ruangan apartemen mewah milik Daniel ," Ada apa ? " tanya Daniel sambil menyodorkan garpu yang tertancap salad dan menyuapkan kedalam mulut Elin.
" Apa kau tinggal sendiri ? " tanya Elin setelah menerima suapan dari tangan Daniel.
Daniel mengangguk , " Akan berdua jika kita sudah menikah " jelasnya begitu enteng namun membuar Elin terbatuk .
" Apa kau begitu terkejut dengan ucapanku ? " tanya Daniel tertawa sambil mengarahkan ujung gelas pada mulut Elin , " kau memperlalukan aku seperti anak kecil " ucap Elin seraya mengambil alih gelas dari tangan Daniel.
" Kita baru memiliki status beberapa jam yang lalu dan Kau sudah membicarakan hal yang sangat jauh " lanjut Elin sedikit tertawa.
Daniel terdiam sesaat dan menatap dalam wajah Elin , " Apa kau tidak serius dengan hubungan ini ? " tanyanya tiba tiba.
" Jangan menanyakan hal bodoh Tuan Daniel " sahut Elin yang masih sedikit tertawa , namun tidak dengan Daniel iya masih menatap begitu serius pada Elin.
" Tentu aku serius " jelas Elin dan membalas tatapan Daniel.
" Lalu kenapa kau berbicara seperti itu ? , seperti begitu tidak yakin dengan hubungan ini "
" Astaga sayang , apa kau begitu tersinggung dengan ucapanku ? " kata Elin yang menjadi panik , " maafkan aku , maksudku ... " ucapnya menggantung karena bingung.
" Maksudku sangat lucu jika kita sudah membahas hal yang begitu sangat serius di saat usia hubungan kita yang baru beberapa jam " jelasnya mencoba membuat Daniel mengerti.
" Itu tidak lucu sedikit pun , bagi seorang pria membicarakan sebuah pernikahan sangatlah tidak mudah kecuali dia sudah begitu serius " jelas Daniel tanpa menurunkan sorotan matanya pada Elin.
" baiklah Maafkan aku " ucap Elin yang memilih mengalah namun Daniel terlihat masih diam , " Sayang , apa kau ingin merusak hari pertama kita dengan pertengkaran emm.. "
" Aku sungguh tidak suka saat kau menganggap sepele hubungan ini "
" Astaga bukan seperti itu maksudku , baiklah maafkan aku "
" Aku benar benar tidak menyukai saat kita berdebat "
" Kau yang memulainya " gumam Elin begitu pelan.
" Kau mengatakan apa ? " tanya Daniel yang sedikit mendengar gumaman dari bibir Elin.
" Tidak , aku menyukai wajah cemberutmu " kata Elin berkilah , namun membuat bibir Daniel kembali tersenyum " Dan menyukai senyummu ini " lanjutnya menunjuk bibir Daniel.
Cup " Bibir Daniel mencium singkat bibir Elin sambil beranjak dari kursi.
" Kau selalu melakukannya tanpa permisi " geram Elin yang masih terkejut saat Daniel mencium bibirnya.
" Aku ingin menciummu " ucap Daniel tiba tiba dan segera mencium bibir Elin tanpa menunggu pemiliknya berbicara , ia begitu bersemangat untuk mengabsen rongga mulut Elin pagi ini dengan menyapuhkan lidahnya serta sesekali menyesap lembut lidah elin membuat pemiliknya melakukan perlawanan dengan membalas lumatan bibirnya.
Mereka masih terbuai dalam ciuman dan saling ******* begitu lama , tidak ada aliran darah yang memanas , hanya gairah rasa cinta yang menggebu-gebu yang berharap tidak ingin dipisahkan ,
Daniel tersenyum setelah puas menyesap bibir seksi milik Elin , " Sarapan Dan ciuman , benar benar hari yang indah " ucapnya dengan wajah kasmaran.
Elin masih terdiam dengan nafas yang sedikit tersengal , ia masih belum terbiasa dengan ciuman bibir seperti ini bahkan masih sangat malu setelah melakukannya.
Perempuan liar namun begitu polos , seperti itulah Elin , memiliki hidup yang bebas tapi tidak melupakan ke hormatannya sebagai wanita .
Ia menyentuh bagian bibir yang terasa kebas karena gigitan kecil Daniel , dan tanpa sadar pipih putihnya kembali memerah , " Kau bisa memintanya jika menginginkannya lagi " goda Daniel yang tersenyum.
" ceh " desis Elin yang ikut beranjak menyusul ke tempat Daniel berdiri.
" Biar aku yang mencucinya " kata Elin merebut spons dari tangan Daniel.
" Tidak sayang duduklah "
" Kau yang duduk , aku yang mencuci piring seperti itulah cara kerja dalam rumah tangga " jelas Elin , bibir Daniel melengkung sempurna ke atas.
" Aku lebih suka kita saling membantu " ucapnya dengan berdiri di belakang tubuh Elin dan menggabungkan tangannya bersama tangan Elin , " ini bukan membantu , tapi merepotkan " ucap Elin tertawa sambil menatap kearah Daniel .
" Tapi ini sangat menyenangkan , aku menyukainya "
" Benarkah ? "
" Apa kau pernah melakukannya bersama Hannah ? " tanya Elin tertawa.
" Sayang please , jangan merusak hari bahagia ini " ucap Daniel sedikit kesal karena harus ada nama Hannah di hari sempurnanya.
Cup
" Aku benar benar menyukai wajah cemberutmu " ucap Elin setelah tanpa sadar mencium bibir Daniel.
" Aku suka saat kau sudah lebih berani " kata Daniel tersenyum dan wajah Elin kembali memerah bahkan sangat memerah karena begitu malu dengan Daniel yang menatap begitu dekat wajahnya.
jangan lupa vote , like dan coment🤗
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚