
Sepanjang perjalanan pulang bibir Daniel tak berhenti melengkung dengan sesekali melirik pada kekasihnya yang juga menyadari tingkahnya itu, " ada apa denganmu ? " tanya Elin tersenyum dan lelaki tampan itu hanya menggelengkan kepala dengan mengulum bibirnya.
" Aku hanya terlalu senang " balasnya kemudian seraya menggapai tangan Elin lalu menggenggamnya.
" Aku berharap tidak ada rintangan apapun untuk pernikahan kita " lanjutnya bersama mata yang menatap serius dan penuh permohonan.
" Aku juga begitu" sahut Elin tersenyum teduh sambil membalas genggaman tangan Daniel dengan tak kalah erat.
" Bagaimana dengan rencana Mami , apa kau setuju ? " tanya Daniel membuat Elin seketika berpikir , " tentang pindah ke rumahmu ? " tanya baliknya dan laki-laki itu mengangguk.
Elin terdiam sejenak seraya kembali berpikir untuk menyetujui atau tidaknya rencana calon mertuanya itu , " apa harus aku jawab sekarang ? "
" Tentu sayang , beberapa hari lagi kita akan berangkat ke Indonesia itu berarti setelah itu tidak ada lagi waktu untuk kita memikirkan tentang pindahan tapi tentang pernikahan kita , jadi kau harus menentukannya dari sekarang "
" Baiklah " jawab singkat Elin.
" Baiklah ? " ulang Daniel.
" Ya baiklah , aku akan pindah ke rumahmu " jelasnya dan itu membuat bibir Daniel melengkung dengan sempurna , " pilihan yang tepat sayang , kalau begitu aku akan meminta pelayan untuk memindahkan barang-barangmu ke rumahku ".
" Untuk barang-barang di kamarku , biar aku sendiri yang membereskannya "
" Kenapa kau harus repot-repot sayang , kita punya banyak pelayan "
" Aku tidak suka barang-barang pribadiku di sentuh oleh orang lain " jelas Elin , membuat Daniel terdiam dan mengangguk pelan , " baiklah " jawabnya setuju tanpa kembali berani untuk mencela.
" dan itu termasuk kamu " sambung Elin tersenyum sambil menatap dalam pada sorot mata Daniel , " ya ya aku tahu sayang dan aku juga tidak suka di sentuh oleh orang lain selain kamu " balasnya dengan senyum yang menggoda dan itu berhasil membuat Elin tertawa geli.
" Kalau begitu hari ini aku akan pulang ke apartemenku dulu "
" Kenapa ? "
" Aku harus membereskan barang-barangku sayang , bukankah tadi kau yang mengatakan kalau kita tidak mempunyai banyak waktu lagi "
" Ya ya , kalau begitu aku juga akan berada disana "
" Emmm , boleh aku sendiri hari ini ? " tanya Elin lembut dan begitu hati-hati , " aku hanya ingin menikmati saat-saat terakhir di dalam apartemenku " tambahnya lagi saat melihat kekasihnya seperti tidak akan menyetujui rencananya itu , " baiklah kalau itu keinginanmu " ucap Daniel ,
mendengar jawaban itu langsung saja ia girang lalu berhamburan memeluk tubuh kekasihnya , " terimakasih telah mengerti " ucapnya membuat Daniel ikut tersenyum.
~
Mobil Daniel baru saja tiba di Leonard Street di sebuah gedung dimana menjadi tempat tinggal Elin selama ini , " kau yakin tidak ingin aku ikut masuk ke apartemenmu ? " tanya Daniel sebelum wanitanya keluar dari dalam mobil , " hemm.." balas Elin menggangguk seraya tersenyum
" Baiklah , tapi kau harus menghubungiku jika membutuhkan sesuatu "
" Ya sayang " sahut Elin sambil mengecup singkat pipi Daniel.
" Telepon aku juga jika kau rindu " tambah Daniel dengan tertawa , " itu pasti " sahut Elin yang ikut membalasnya dengan tertawa.
" Aku akan masuk , berhati-hatilah " pamit Elin sambil keluar dari dalam mobil , " ya sayang , bye "
" Bye " balasnya lalu berjalan masuk ke dalam gedung apartemennya.
Drrttt drrrtt
Baru saja Daniel ingin meninggalkan gedung Leonard tiba-tiba saja handphonenya berdering oleh panggila Viona , " ya mam " jawabnya tanpa menunggu.
" Emm dimana kamu nak ? "
" Aku baru saja selesai mengantar pulang menantumu mam dan akan pulang ke rumah , ada apa ? "
" Mengantar pulang ? , apa dia tidak akan tidur disini malam ini ? "
" Tidak , dia harus membereskan barang-barangnya untuk pindah ke rumah kita " jelas Daniel dan terdengar helaan nafas legah dari seberang telepon , " baguslah , mami senang dia menyetujui untuk tinggal disini ".
" Ya aku juga senang mam " balas Daniel tertawa.
" Ya memang kau yang paling di senangkan di sini " sahut Viona yang berhasil membuat Daniel tertawa semakin keras.
" Cepatlah pulang ada yang ingin mami bicarakan padamu " sambung Viona.
" Oke mam , sampai bertemu di rumah " sahut Daniel lalu menutup teleponnya tanpa bertanya kembali apa yang akan di bicarakan oleh ibunya itu.
~
Elin baru saja masuk ke dalam apartemennya yang masih gelap tanpa sinar matahari yang masuk , sesaat ia terdiam sejenak menatap ke segala arah dengan suasana yang terasa amat sunyi , lalu bergerak menuju jendela dan membuka gorden besar-besar membuat sinar matahari sore di kota New York perlahan masuk menyinari ruangan apartemennya.
Ntah mengapa sore ini perasaannya menjadi amat gunda saat menyadari kalau dirinya akan menginggalkan apartemen yang sudah menjadi rumahnya selama di New York.
Kembali ia berjalan menuju dapur kecilnya , meletakan tas kerjanya di atas meja makan lalu mengambil cangkir dan mengisinya dengan bubuk capuccino instant kemudian menyiramnya dengan air panas , membuat ruangan sunyi itu kini di penuhi dengan aroma manis dari capucinno ,
kembali ia bergerak menuju jendela besar dan kini menatap suasana sore kota New York dengan secangkir capucinno di tangannya.
Kini dadanya mulai sedikit merasa sesak membuatnya harus menghela nafas lebih dalam , kembali ia teringat pada pertama kali ia datang ke kota ini dengan suasana sore yang sama , yang berbeda kini hanya tidak ada rintik hujan seperti saat itu,
meski begitu tapi suasananya dan perasaannya amat sama persis dan yang juga membedakan jika hari itu dia datang untuk memulai kehidupan yang baru maka hari ini ia juga akan meninggalkan tempat tinggalnya itu untuk hal yang sama.
Kembali ia menghela nafas dengan semburat senyum yang di paksakan sambil menatap suasana sore kota New York yang amat terlihat jelas dari tempatnya saat ini , " aku akan merindukan suasana ini " ucapnya yang terdengar lirih dan tiba-tiba ia tersentak oleh suara deringan telepon yang berbunyi dari dalam tasnya ,
membuatnya harus bergerak untuk mencapai benda pipih itu.
" Ceh " decihnya tersenyum saat melihat nama kontak pada layar teleponnya.
" Apa kau sudah rindu padaku sayang ? " ucapnya pada sambungan telepon yang baru tersambung , terdengar suara tawa disana , " ya sepertinya begitu , aku baru saja tiba di rumah tapi sudah begitu merasa sepi karena kau tidak disini " kata Daniel yang berhasil membuat Elin tersenyum geli.
" Aku benar-benar akan membunuhmu kalau saat sudah menikah nanti kau justru sering meninggalkanku " balas Elin tegas dan bergantian membuat Daniel yang tertawa begitu keras , " aku tentu akan membawamu kemana pun aku pergi " ucapnya dan kali ini terdengar begitu bersungguh-sungguh.
" Ya sayang "
" Sepertinya tidak setiap kau pergi aku akan terus mengikuti "
" Kenapa ? , bukankah tugas istri mengikuti kemana pun suaminya pergi "
" Ya , tapi jika hanya pergi ke toilet sepertinya tidak sayang " balas Elin tertawa.
" Astaga " geram Daniel yang menjadi kesal , namun akhirnya ikut tertawa , " sekarang apa yang sedang kau lakukan sayang ? "
" Hanya menikmati suasana sore kota ini dengan secangkir capuccino kesukaanmu "
" Perfect " balas Daniel.
" Tentu " sahut Elin sedikit tertawa.
" Suatu hari aku pasti akan merindukan suasana ini"
" Itu pasti dan kau tinggal datang kesana "
" Ceh ,mana mungkin aku akan datang kemari jika tempat ini sudah menjadi milik orang lain "
" Milik orang lain ? "
" Ya sayang , setelah ini aku akan membicarakan pada ayah untuk menjualnya , karena tidak mungkin tempat ini akan di kosongkan begitu saja ".
" Menjual ? pada siapa ? "
" Mungkin pada pemilik bangunan ini "
" Tapi pemiliknya suamimu sendiri sayang " balas Daniel santai dan Elin seketika terdiam sambil mencerna dengan baik perkataan yang keluar dari mulut Daniel , " maksudmu ? " tanyanya tak mengerti.
" Maksudku gedung apartemenmu adalah milikku "
" Jangan bercanda Daniel ? "
" Mana mungkin aku bercanda , bukankah aku sudah mengatakannya padamu dulu "
" ntahlah aku tidak lagi ingat , tapi bagaimana bisa kau membeli gedung ini Daniel ? "
" Bisa saja jika punya uang sayang " balas Daniel tertawa , " bahkan aku tidak membiarkan penghuni laki-laki menempati lantai yang sama denganmu " sambungnya dan berhasil membuat mata Elin membesar.
" Kau gila "
" Ya , aku memang gila jika sudah jatuh cinta "
" Ceh, menggelikan "
" Jadi kau tidak perlu khawatir tentang apartemenmu ya sayang , kau bisa kapan saja berada disana "
" Maksudmu aku tidak usah pindah ke rumahmu ? "
" Oh tentu tidak kau harus tetap pindah ke rumahku , hanya aku baru saja berpikir mungkin sebaiknya kau hanya membawa beberapa barang yang penting saja , selebihnya tetap biarkan berada disana"
" Kau yakin "
" Ya jadi kapan saja kau rindu tempat itu, kau tinggal datang saja "
" Dan aku juga tidak akan keberatan jika sesekali kita tidur di sana " sambungnya lagi , membuat Elin tersenyum begitu senang.
" Kau benar-benar lelaki terbaik "
" Tentu sayang , kalau begitu lanjutkan saja pekerjaanmu "
" Ya sayang "
" Ingat telepon aku jika kau membutuhkan sesuatu "
" itu pasti "
" aku mencintaimu Elin "
" Aku juga Daniel " balas Elin begitu lembut dan dengan sepenuh hati.
~
Elin sudah berada di dalam kamarnya dan ia nampak begitu bingung akan memulai dari mana pekerjaannya sampai matanya menemukan beberapa laci dengan isi barang-barang pribadinya.
" Ya aku akan mulai darimu " ucapnya dengan berat hati sambil membuka penutup laci dan tiba-tiba saja jantungnya berdenyut oleh rasa perih saat matanya menemukan beberapa bingkai foto yang ia simpan di dalam sana , " apa aku harus membawanya " gumamnya pelan sambil menghela nafas kecil.
Jari jemarinya mengusap lembut pada gambar yang berada di dalam bingkai , sungguh hatinya tidak bisa untuk merasa baik-baik saja setiap kali menemukan seseorang yang kini berada dalam kenangan , " hai Gery " ucapnya pelan dan penuh sesak dalam dadanya.
" Saat ini aku benar-benar bahagia olehmu " sambungnya tersenyum namun dengan hati yang terasa perih , kembali ia menarik nafas begitu dalam dan tak membiarkan air matanya terjatuh kali ini meski setengah mati ia harus menahannya.
" Maaf aku harus membiarkanmu disini " ucapnya dengan berat hati sambil meletakan kembali dua bingkai foto di tempatnya semula ,
Matanya tertegun menatap dua gambar yang di penuhi dengan kenangan dengan bibir yang tersenyum saat melihat dirinya begitu bahagia disana dengan seseorang yang tidak bisa lagi ia lihat , " terimakasih pernah menciptakan hari ini Gery " ucapnya sesak dengan hidung yang sudah memerah karena menahan air mata yang tidak ingin kembali terjatuh.
" Kisah kita indah namun kini hanya tinggal Kenangan " ucapnya perih sambil mengusap lembut pada wajah yang tersenyum lebar di dalam gambar , " kita telah memulai kehidupan kita masing-masing Gery ,kau bahagia disana dan aku juga akan bahagia disini "
" Aku akan menyimpan dengan baik kenangan ini tapi maaf aku tidak akan membawanya Gery , aku harap kau tidak marah padaku " katanya dengan air mata yang tidak bisa tertahan untuk menetes meski dengan cepat ia menepisnya.
" Baik-baiklah " sambungnya sebelum dengan berat hari menutup kembali laci di hadapannya.