
" Tuan terimakasih "ucap Reza di seberang layar ipad yang di tegakkan di hadapan Daniel. Mereka baru saja menyelesaikan meeting online tepat pukul setengah satu malam di tempat Daniel, dan jam enam sore di tempat Reza saat ini.
" Apa nyonya sudah tidur ? " tanyanya lagi. Daniel menoleh ke arah ranjang, dan menemukan nyonya itu disana. Tidur menghadap ke arahnya, dengan wajah yang sangat tenang. Ia tersenyum memandang wajah itu.
" Hemmm, dia pasti tertidur ".
" Oh dari tadi Nyonya sedang menunggu ".
" Dia ingin menunggu " kata Daniel meralat, lalu kemudian tertawa, " tapi sepertinya dia sangat mengantuk " sambungnya.
" Ah maafkan aku nyonya " balas Reza ikut tertawa, " jadi tuan kapan akan kembali ? ".
" Mungkin dua atau tiga hari lagi ".
Reza mengangguk, " Nyonya pasti akan sangat berat hati kembali meninggalkan orang tuanya " katanya, dan Daniel hanya tersenyum hambar mendengar itu. Karena ia sendiri cukup yakin akan hal itu, dan itu normal.
" Baiklah Tuan, selamat istirahat "
Daniel mengangguk, " kau juga " balasnya lalu mengakhiri panggilan itu, kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Berdiri sejenak untuk merenggangkan otot-ototnya yang hampir kaku. Hampir tiga jam ia berada di hadapan ipadnya, sampai wanita yang semula ingin berbaring di atas tempat tidur akhirnya menyerah, dan tertidur.
Daniel mendekat, memandangi wajah istrinya yang tertidur. Deru nafasnya tenang, setenang hatinya saat ini. Menyadari perempuan itu kini resmi menjadi miliknya, dan ia mempunyai seseorang yang menunggunya di atas tempat tidur.
Di belainya rambut hitam pekat Elin. Dan melayangkan kecupan tepat di dahi perempuan itu.
" Kau sudah selesai ? " kalimat yang keluar dari suara serak bangun tidur.
" Hmmm " balasnya tersenyum, " tidurlah" pintanya.
Elin mengusap mata merahnya, " jam berapa ini ? ".
" Satu ".
Pupil mata Elin membesar, " aku kira, aku hanya tertidur satu jam ", ujarnya tak percaya dan Daniel tertawa melihat mimik wajah di hadapannya, " kau lapar ? " tanyanya lagi.
" Kau lapar ? " Daniel berbalik bertanya.
Elin cepat menggeleng, " aku takut kau yang lapar " ucap Elin. Suasana sedikit canggung. Ini kali pertamanya mereka berinteraksi selayaknya suami istri di tengah malam. Karena malam-malam sebelumnya mereka habiskan dengan tertidur dan kelelahan.
Sesaat mata mereka saling bertemu, dan jantung Elin berdebar saat ini.
Ia masih berbaring di atas tempat tidur, ketika bibir Daniel menyentuh bibirnya. ********** dengan begitu lembut.
" Boleh ? " tanya lelaki itu, suaranya mulai berat dan mata kelabu lelaki itu, kini menatap sendu.
Elin menarik nafas dan mengangguk. Meski saat itu, bayangan peristiwa tadi pagi memenuhi otaknya.
" Aku akan sangat lembut " katanya kembali, dan terdengar seperti merayu. Sebelum ia kembali menyesap bibir Elin, lalu berpindah ke tempat-tempat sensitif lainnya. Yang berhasil membuat perempuan itu tidak berhenti melenguh.
" Sayang hentikan " kata Elin memohon, suara seraknya kini berubah sangat berat, " aku sudah tidak tahan .. " racaunya, ia menggigit jarinya saat itu.
" Sayaaang... " serunya dan bersamaan ia melenguh sangat panjang.
Daniel mengangkat wajahnya dari hadapan ************ perempuan itu. Menatap mata bulat yang kini menatapnya dengan sendu.
Ia tersenyum, lalu mengecup singkat bibir ranum di wajah itu. Membuka tidak sabar pakaiannya sendiri, dan beberapa detik kemudian Elin kembali melenguh panjang.
" sakit ? " tanya Daniel sejenak. Dengan mata yang semakin sendu, perempuan itu menggeleng. Di saat itu Daniel masih sempat tersenyum, sebelum ia bergerak memompa lembut tubuh yang sudah tanpa busana di hadapannya.
Kamar hotel dengan tipe penthouse yang di isi oleh sepasang pengantin baru itu, kini menghening. Hanya suara lenguhan demi lenguhan yang saling bergantian. Desah nafas yang saling memburu dan gerakan yang membuat tempat tidur besar dan kokoh itu kadang berderit.
Mereka melenguh panjang bersamaan. Lalu Daniel merengkuh erat punggung Elin, dan merebahkan kepalanya di sana, " aku sampai sayaang.. " bisiknya dengan nafas yang tersengal. Lalu mengecup punggung telanjang perempuan itu tanpa henti.
Elin sudah tidak bisa lagi membuka mata, setelah terakhir kali ia melenguh sangat panjang. Ia bahkan mengabaikan tubuh tak berpakaiannya sendiri. Tubuhnya terlalu lelah untuk bangun dan mencari pakaian yang ntah sudah berserakan kemana.
Yang ia sadar sebelum matanya terpejam.Saat itu Daniel membersihkan dirinya, layaknya seperti bayi yang baru lahir. Kemudian Merengkuhnya dengan begitu hangat, lalu menutupi tubuh mereka berdua dengan selimut tebal.
Elin tersenyum di sela matanya yang memejam. Dan hal terakhir yang juga ia sadari sebelum tertidur, bahwa dirinya adalah wanita paling beruntung di dunia ini.
~
Meili berbaring dengan gusar di atas tempat tidur. dan teringat pada bayangan punggung yang pergi tanpa pamit padanya.
" Harusnya aku mengabaikan telepon itu ", katanya geram, dan mengingat kembali kejadian yang terjadi tiga jam yang lalu.
Semua orang siap beranjak dari meja makan, setelah saling mengucapkan selamat istirahat.
Jerry menghampiri Nathan, mengecup pipi cubby gadis kecil yang berada di dalam gendongan lelaki itu, " nanti kita main lagi yaa " katanya tersenyum, dengan mata yang mengantuk gadis kecil itu mengangguk.
Lelaki itu saling melempar pelukan pada semua orang, kecuali Meili.
Malam ini, malam terakhir pertemuan mereka di Bali, dan ia juga harus meninggalkan hotel, tempat beberapa hari ini mereka tinggal bersama. Karena pukul lima pagi, ia harus berangkat ke bandara untuk penerbangan tujuan kalimatan, demi proyek kecil yang tadi ia katakan pada Daniel.
Letak hotel itu terlalu jauh dari kantornya, dan ia juga belum menyiapkan semua berkas yang akan ia bawa besok pagi. Jadi untuk tetap tidur disana, adalah hal yang akan mempersulitnya nanti.
" Sampai bertemu di Jakarta Jer " ucap Nathan, Green dan semua orang, kecuali Daniel. Lelaki itu mendekapnya cukup lama, " kabari jika kau sudah selesai dengan kontrak proyekmu ini " katanya dan Jerry mengangguk.
Tidak ada ucapan perpisahan dari lelaki maskulin itu. Tapi yang Jerry mengerti, bahwa mereka akan menjalin hubungan yang lebih baik setelah pelukan itu, dan malam itu bukan menjadi terakhir kali mereka berkomunikasi.
" Kau harus pulang ke Jakarta sebelum kami kembali ke New York " bisik Elin, ketika dari pelukan suaminya kini berpindah padanya. Jerry terdiam sejenak, " kapan ? ".
" Mungkin dua atau tiga hari lagi " kata Elin memberitahu.
" Jer sampai bertemu di Jakarta " seru Green sekali lagi, lalu kemudian mulai beranjak. Amel melambaikan tangan ke arahnya.
" Sampai bertemu lagi Bro. Jangan di tinggal terlalu lama.. " seru Alfin tertawa.
Dan kemudian mereka semua pergi, meninggalkan dirinya, dan satu perempuan yang masih berdiri di sampingnya.
Jerry mengatur debur jantungnnya, sebelum menoleh pada perempuan itu, " apa kau sudah ngantuk ? " tanyanya tersenyum.
Perempuan itu menggeleng.
Jerry memilih mengajak anak kedua keluarga Remkez berjalan di pesisir pantai tanpa alas kaki. Menikmati butiran pasir yang memenuhi telapak kaki jauh lebih baik, dari pada mengajak perempuan itu berbincang dia atas kursi taman. Semula suasana menghening. Hanya suara debur ombak bergantian dan semilir angin. Sampai tiba-tiba perempuan yang berjalan disisinya itu berteriak kegelian, " apa, apa yang kau injak ? " tanyanya khawatir.
" Sepertinya hewan kecil " sahut Meili.
" Kau baik-baik saja ? "
Belum sempat pertanyaan itu mendapat jawaban, Meili kembali berteriak, " dia... " katanya terbata-bata, " dia naik ke.. ka.. kii.. ku Je.. rryyy " pekiknya menjerit ketakutan.
Dengan cepat Jerry mencari benda pipihnya, lalu mengarahkan sinar senter dari benda itu ke kaki Meili. Ia tersenyum ketika hanya menemukan hewan kecil yang berbentuk seperti kepiting disana, " sudah " katanya, setelah mengambil hewan kecil itu dari betis putih Meili.
Meili menarik nafas legah saat itu.
" Apa kau mau duduk saja ? "tanya Jerry dan dia menggeleng," Aku suka berjalan disini " sahutnya.
" Nanti kalau ada hewan lagi di kakimu, bagaimana ? ".
" Kan ada kamu ? " jawabnya tertawa, dan setelahnya, suasana menghening. Meili membungkam cepat bibirnya. Sementara Jerry terdiam, karena mencoba untuk membuat dirinya tidak tersipu saat itu.
" Aku senang berada disini " ujar Meili memulai pembicaraan. Jerry langsung memandangnya, " disini aku bisa bergerak dengan tenang. Tanpa takut ada media yang akan meliput " sambungnya, yang kemudian tertawa hambar dan Jerry masih diam.
" Mungkin aku akan memilih tinggal di pulau ini nanti"
Pupil Mata Jerry membesar mendengar itu, jantungnya berdebar, dan ada senyum yang ia tahan di bibirnya.
" Atau mungkin Lombok. Kami punya mension disana. Disini juga ada, tapi aku belum pernah mengunjunginya " katanya tertawa.
" Aku hanya berandai-andai... " ucap Jerry tiba-tiba dan menjeda sesaat. Meili langsung menatapnya saat itu, " ini seandainya saja " sambungnya ragu, dan terdiam sejenak ketika menyadari sepasang mata biru memandang bingung padanya.
" Tidak jadi .. " katanya tersenyum kaku.
" Apa !, lanjutkan Jerry ".
" Tidak tidak, itu tidak penting " katanya menghindari tatapan perempuan itu. Namun, ia menyadari perempuan itu tidak mengalihkan tatapannya. Dan ketika ia menemukan mata biru itu. Pandangannya semakin tajam, " baiklah " katanya menyerah.
" Ini hanya seandainya... " katanya kembali dan ia cukup ragu untuk melanjutkan.
" hmmm. Seandainya kita.... emmmm.. kita memang berjodoh ", katanya cengengesan. Sungguh ia tak percaya diri saat mengatakan itu. tapi sepasang mata di hadapannya memandang serius, " kenapa kalau kita berjodoh " titah perempuan itu.
Jerry menelan ludah, lalu mengumpulkan keberanian untuk melontarkan kalimat yang sudah berada di ujung lidahnya, " maukah kau memulai semuanya dari awal " katanya memberanikan diri.
Sesaat menghening. Meili tidak menjawab perkataannya, tapi juga tak terlihat seperti mengabaikan.
" Abaikan saja " kata Jerry tertawa, lengkingan suara tawa itu terdengar sangat hambar, meski bercampur suara ombak.
" Aku justru menginginkan hal itu " ucap Meili tiba-tiba. Tapi matanya tak lagi menatap ke arah Jerry. " Meski nanti suamiku pasti bekerja di perusahaan keluargaku, aku sungguh ingin membangun semuanya dari awal. Dari kerja kerasnya.. " lanjutnya, dan saat mengatakan kalimat terakhir, ia kembali melihat pada Jerry.
" Apa kau tidak keberatan jika tinggal di sebuah rumah biasa, bukan di mansion seperti rumahmu "
Meili menggeleng untuk pertanyaan itu.
" Tidak ada banyak pelayan untuk menyiapkan, pakaianmu, menata rambutmu dan menyambut tasmu ketika pulang "
Meili kembali menggeleng, lalu menatap lebih dalam bola mata Jerry, " aku mungkin akan kesulitan untuk beradaptasi " katanya tersenyum, lalu menjeda sejenak. Jerry menyadari saat itu, Meili menarik pelan nafasnya, " aku sungguh hanya menginginkan rumah yang hangat... " sambungnya, nadanya terdengar sedikit lirih saat itu. Sorot matanya menerawang ke tengah lautan, " tak apa tak besar, asal saatku terbangun tengah malam, aku menemukan suamiku merengkuh tubuhku. Dan pertama kali memandangnya, ketika aku terbangun pagi hari " saat bergumam hal itu, sekelibat ia teringat dengan ibunya.
" Aku memang hanya bisa menjanjikan hal itu " kata Jerry menimpali perkataannya. Dan berhasil membuat Meili berpaling dari ingatan tentang ibunya sendiri. Lalu tersenyum pada lelaki itu, " itu terdengar jauh lebih menyenangkan dari pada kau berjanji akan memberikan aku mansion yang besar " kata Meili.
" Kau tentu tidak akan kekurangan dengan hal itu " balas Jerry, " walau aku ingin, tapi aku tidak akan pernah berjanji untuk melakukannya ".
Meili melempar tatapan penuh tanya padanya.
" Ya, aku tak percaya diri. Mansion yang aku berikan, pasti tidak akan pernah sebesar milik keluargamu " jelasnya. Mendengar itu, Meili tertawa begitu saja, " Ya jangan menjanjikan apapun padaku, Kecuali sesuatu yang sederhana "katanya.
Bergantian Jerry yang tertawa, " Dunia memang sangat lucu. Di saat orang lain menginginkan kemewahan, justru kau menginginkan kesederhanaan.. ".
" Karena aku sudah memiliki semua kemewahan.. " sahut Meili kembali tertawa.
Angin semakin berhembus kencang, sampai Meili tanpa sadar mengusap tubuhnya.
" ayo kita pergi dari sini. Kau sudah kedingingan " ajak Jerry dan Meili tak menolak.
Di tengah langkah mereka menuju bangku taman, Jerry menambatkan jasnya pada tubuh Meili, " kau juga kedinginan Jerry " kata perempuan itu berusaha menolak.
" Bajuku masih panjang " sahutnya, memperlihatkan lengan kemejanya yang panjang. Meili tersenyum, dan merapatkan jas itu ke tubuhnya, " terimakasih " katanya pelan. Handphone di tangannya tiba-tiba berbunyi, menampilkan rentetan pesan yang muncul di layar benda itu.
Sejenak, Meili memandang ke layar, lalu menutupnya kembali, mengabaikan pesan-pesan itu tanpa terbalas. Tapi selang beberapa detik benda itu justru berdering.
Meili menelan ludah, " jawab saja. Mungkin itu penting " titah Jerry tersenyum. Tapi tidak dengan Meili, wajahnya gusar saat itu.
" Ya " katanya singkat, setelah ia memilih untuk menjawab panggilan di handphonenya.
" Kau bersamanya. Kau pasti bersamanya sekarang. Meili kau tidak bisa membuat aku seperti ini.. " kalimat itu terdengar nyaring meski panggilan itu tidak berada di mode speaker. Meili menelan ludah dan melihat pada Jerry, yang kini terdiam.
" Kita bicara nanti Brian.. "
" Tidak, jangan matikan teleponnya Meili. Atau aku akan berangkat kesana sekarang juga ".
Meili menghela nafas, ia benar-benar sedang berada di ujung ke bimbangan.
" Bicaralah padanya " ucap Jerry. Bibirnya sedikit tersenyum saat itu, tapi yang tak Meili sadari, senyum itu tak seringan biasanya.
Meili tersenyum hambar, lalu kemudian pergi membawa handphonenya yang masih tersambung pada panggilan telepon. Ia tak mengatakan apa pun sebelum itu pada Jerry. Tak meminta lelaki itu untuk menunggu, atau minimal mengatakan sebentar saat itu,Dan itu kesalahan yang akan dia sesali nanti.
" Brian please. Jangan mendesakku saat ini " kata menahan emosi.
" Jangan mengabaikan aku Meili " balas prustasi dari seberang panggilan, " apa kau memilihnya sekarang ? "
Meili terdiam saat itu, kemudian ia menoleh. Dan jantungnya berdebar saat matanya tak lagi menemukan Jerry disana. Hanya samar bayangan punggung yang sudah menjauh. Kakinya ingin bergerak berlari, tapi ia tak cukup memiliki keberanian untuk menghentikan langkah itu. Dan ia hanya bisa berdiri dan memandang penuh sesal pada tubuh yang sudah menghilang.
" Meili, kau masih disana ? "