Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Peraturan Setelah Menikah


Mobil sport berwarna merah muda milik Elin baru saja tiba di area parkir Leonard Street , " kau serius ingin keluar dengan hanya menggunakan pakaian ini Daniel ? " tanya Elin dan laki-laki itu hanya tersenyum ,namun tidak lama terdengar suara ketukan dari kaca jendela mobil , " Kau datang tepat waktu Reza " ucap Daniel tersenyum , sambil membuka kaca jendela mobil.


" Terimakasih Reza " ucapnya bersemangat sambil mengambil kimono dari tangan laki-laki itu dan segera ia balutkan di tubuhnya , " kenapa hanya kimono ? " tanya Elin.


" Karena pakaianku ada banyak di dalam apartemen kita " jelas Daniel , mendengar itu ujung alis Elin terangkat , terlebih karena kata apartemen kita.


" Bagaimana keadaan kantor Reza ? " tanya Daniel sambil terus bergerak untuk memasangka pakaiannya , " baik-baik saja tuan , tidak ada penambahan masalah , hanya saja..."


" Bicarakan itu nanti Reza , saat ini Daniel harus istirahat " potong Elin begitu tegas , membuat Daniel dan Reza saling melempar tatapan,


" baik nona , kalau begitu saya permisi " pamit Reza.


" Terimakasih dan maaf telah merepotkanmu " ucap Elin ,setelah menganggukkan kepalanya Reza segera pergi meninggalkan sepasang manusia itu.


" Kenapa ? " tanyanya pada Daniel karena laki-laki itu terus menatap kearahnya.


" Tidak , aku hanya masih terkejut saat kau memotong ucapan Reza "


" Apa kau tidak suka aku seperti itu ? "


" Justru , aku sangat menyukainya " jawab Daniel cepat , membuat pipi putih milik perempuan itu kembali merona.


" Apa kita akan terus disini ? " ucap Elin , yang kemudian segera keluar dari dalam mobil.


" sayang bantu aku membawa ini " teriaknya saat sudah berada di sisi bagasi mobil bersama semua sisa makanan dan minuman mereka tadi, dan dengan langkah gontai Daniel berjalan kearahnya.


~


" Mandilah " ucap Daniel pada Elin , ketika mereka sudah berada di dalam tempat tinggal perempuan itu ,


" emm.. " sahutnya , dengan langsung berjalan menuju kamar tidurnya.


Daniel yang masih berdiri segera memegang dadanya yang berpacu begitu cepat karena melihat kaki jenjang milik kekasihnya yang terlihat begitu menggoda tanpa tertutup sehelai kain pun , karena kemeja yang ia kenakan hanya menutup sebatas paha , " sampai kapan aku harus menahannya " geramnya.


" Emm.. apa ? " tanya Elin yang langsung berbalik menatap pada Daniel.


" Tidak "


" Tapi aku mendengar kau berbicara "


" Tapi aku tidak berbicara apapun " katanya membantah.


" Benarkah , apa kupingku menjadi bermasalah karena terlalu lama berenang "


" Bisa jadi sayang " ucap Daniel membenarkan , namun dengan menahan bibirnya untuk tidak tertawa.


" Kalau begitu aku harus cepat mandi "


" Ya "


" lalu kau bagaimana ? " tanya Elin yang kembali berbalik.


" Aku bisa mandi disana " tunjuk Daniel pada kamar mandi yang berada di tidak jauh dari dapur , " baiklah , sampai bertemu nanti " ucap Elin yang kembali beranjak menuju kamarnya ,


" apa kau tidak berminat untuk kita mandi berdua " goda Daniel , membuat Elin kembali menghentikan langkahnya.


Sebelum perempuan itu memutar tubuhnya, Daniel sudah tersenyum lebih dulu untuk meredahkan amukan yang akan ia terima seperti yang biasa perempuan itu lakukan ,namun kali ini sepertinya Daniel salah , Elin memang memutar tubuhnya , namun tidak ada tatapan tajam seperti biasanya , " Ayo " ucap Elin tersenyum , membuat Daniel membulatkan matanya dengan sempurna.


" Kau serius sayang ? " tanyanya tidak percaya Dan Elin mengangguk sambil melangkah perlahan padanya , " emmm.. ya aku serius " ucap Elin dengan begitu lembut dan nada yang menggoda.


" Sayang jangan bercanda "


" Aku serius "


" Sayang " panggil Daniel dengan jantung yang kembali berdetak dengan cepat karena perempuan itu terus memberi tatapan menggoda padanya, " tapi setelah kita menikah " ucap Elin berbisik , lalu tertawa dengan keras sambil berlari meninggalkan Daniel yang terlihat begitu kesal , " kau benar-benar akan ku buat lemas nanti " geramnya , lalu ikut tertawa setelah menyadari bahwa dirinya sudah berhasil di kerjai oleh kekasihnya sendiri.


~


Elin baru saja selesai dari aktifitas mandinya setelah berlangsung hampir satu jam , " aku sudah berniat akan mendobrak pintu kamarmu kalau satu menit lagi kau belum keluar " ucap Daniel ,saat melihat kekasihnya sedang berjalan kearahnya , " ceh " desis Elin.


" Apa yang sedang kau lakukan " tanyanya pada Daniel yang terlihat sibuk dengan peralatan dapur , " menyiapkan makan malam untuk kita " jelasnya sambil mengarahkan sendok soup kearah bibir Elin , " coba , apa sudah pas ? " ucapnya sambil meniup beberapa kali supaya lidah perempuan itu tidak kepanasan saat mencobanya , " kau begitu romantis " ucap Elin tersenyum , lalu segera menghirup kuah soup yang dari aromanya saja sudah bisa di pastikan kalau rasa pasti sangat enak,


" Bisa kau bantu aku menyiapkan meja makan untuk kita " pinta Daniel dan Elin mengangguk.


" Tentu , aku sangat mahir di bagian table manner " ucap Elin sombong dan langsung beranjak dari duduknya menuju tempat di letakkannya peralatan makan.


~


" ah hari ini begitu menyenangkan " ucap Elin dengan tubuh yang tersandar di sisi kursi karena perut yang merasa begitu kenyang dengan makanan hasil buatan kekasihnya , " benarkah ? " tanya Daniel tersenyum.


" Ya , seharusnya aku yang menyenangkanmu hari ini , tapi justru sebaliknya "


" Aku juga sangat bahagia hari ini "


" Benarkah ? "


" Tentu , bahkan aku sangat berterimakasih karena kau benar-benar telah membuat aku lupa dengan masalah kantor yang sedang aku hadapi "


" Jangan membicarakan itu " potong Elin dan Daniel segera tersenyum , " aku hanya mengatakannya " jelas Daniel sambil menarik gemas dagu perempuan itu.


" Terimakasih untuk hari ini " ulang Daniel tersenyum sambil memegang lembut tangan Elin.


" Kau tidak perlu berterimakasih , ini sudah tugasku untuk menyenangkanmu "


" Kau memang perempuan yang keren sayang "


" Ya , sayangnya kau terlambat menyadarinya " sahut Elin tertawa , " dan aku sudah memutuskan satu hal " tambahnya , membuat Daniel menatapnya dengan serius.


Dengan tersenyum geli ia melanjutkan bicaranya , " ini tentang peraturan kita saat sudah berumah tangga nanti " jelasnya , membuat Daniel menarik nafas legah dan tidak sabar untuk menyimak kelanjutannya , " kita akan tetap seperti ini , kau yang memasak dan aku yang akan menyiapkan meja makan , lalu mencuci piring "


" Kenapa aku yang harus memasak ? "


" Karena kau tentu tahu , kalau kekasihmu ini tidak bisa masak kecuali nasi goreng dan mie instant " jelasnya ,


"Tapi nanti kita akan memiliki banyak pelayan sayang "


" Ya , tapi untuk di awal pernikahan aku ingin kita hanya hidup berdua di apartemen ini , emm..atau di apartemenmu "


" Kenapa begitu ? , mami pasti tidak akan setuju "


" Aku akan memohon pada mami nanti "


" Memangnya ada apa ? , apa kau tidak nyaman berada di keluargaku ? "


" Bukan seperti itu , aku hanya.. emm aku hanya ingin menikmati kehidupan awal rumah tangga kita " jelasnya dengan begitu malu , namun berhasil membuat Daniel tersenyum.


" Kalau itu alasannya , aku pasti akan setuju dan aku pikir itu juga rencana yang bagus , mengingat tidak akan ada yang mengganggu kita nanti "


" Mengganggu ? " ulang Elin dan Daniel mengangguk ," mengganggu kita memproduksi keturunan " jelasnya dengan tertawa.


" Kenapa pikiranmu begitu kotor Daniel "


" Aku hanya menambahkan rencanamu tentang rumah tangga kita nanti "


" Tapi bukan itu pembahasanku "


" Tapi kita juga harus membicarakan hal itu sayang , karena itu akan menjadi kewajibanmu nanti "


" Berhenti Daniel " teriak Elin sambil menutup kedua telinganya.


" Ya ya , sekarang cuci piringnya "


" Kenapa aku yang mencuci piring ? "


" Sayang , apa kau lupa dengan perkataanmu tadi , kalau aku yang memasak dan kau yang akan mencuci pir... "


" aku tahu " potong Elin , " tapi peraturan itu bukan untuk saat ini tapi untuk nanti saat sudah menikah "


" Tidak ada salahnya belajar dari sekarang sayang " ucap Daniel tertawa , dan Elin hanya bisa menghela nafas dan menyesali ucapannya sendiri.