
\~
" Silahkan di nikmati Tuan " ucap pelayan sambil menunduk setelah meletakkan tiga cangkir kopi di atas meja di hadapan tiga pria yang sedang bercengkrama di tengah hawa dingin setelah hujan dan udara menyambut malam.
" Terimakasih " ucap Nathan dan Alfin bersamaan , sedangkan Daniel nampak sedang fokus dengan benda pipih di tangannya , " apa kau sedang sibuk ? " tanya Alfin , membuat laki-laki itu sedikit mengalihkan pandangan ke arahnya , " tunggu sebentar " sahutnya yang kembali melihat ke layar handphone.
" Apa hari ini bunda menelponmu ? " tanya Alfin lagi yang kini beralih kepada saudaranya , " tidak padaku , tapi Green " jelas singkatnya.
" Ya begitu juga denganku , aku pikir setelah kita memiliki keluarga , bunda tidak lagi peduli dengan kabar anaknya yang terpenting menantu dan cucunya baik-baik saja "
" Kau tahu itu kenapa ? " timpal Daniel yang ternyata ikut menyimak perbincangan kedua sahabatnya , " ceh , bisa-bisanya kau bekerja dan menyimak obrolan orang lain secara bersamaan " ujar Alfin tertawa dan Daniel ikut berdecih sebelum melanjutkan penjelasannya , " di sebuah keluarga ujung tombaknya itu terletak pada istri , jika istri baik-baik saja maka semua urusan keluarga itu terkendali dan suami di pastikan baik-baik saja, itu sebabnya bunda selalu bertanya pada istri kalian , bukan pada kalian ".
" Kau terlihat paling paham urusan keluarga , padahal kau sendiri belum berkeluarga " ujar Nathan dan Daniel menyeringai , " aku selalu bisa memahami sesuatu hal dengan cepat , tanpa harus berada di pemahaman itu Daniel " urainya dengan semakin tertawa.
" Ya aku akui kau lebih cerdas dariku "
" Yess " sahut Daniel begitu bangga.
" Tapi sebentar lagi kau juga akan menikah dan memiliki keluarga seperti kami " sambung Alfin.
" Ya , walau aku merasa sedikit gugup tapi aku sungguh bahagia menanti hari itu"
" yah , itu terlihat jelas dari wajahmu " ucap Nathan , membuat wajah laki-laki blaster itu sedikit bersemu merah , " karena dalam hal ini kalian senior jadi berikan wejangan padaku untuk membangun sebuah keluarga " .
" Tidak banyak , yang terpenting kau menyimpan stok sabar dan memiliki rasa cinta yang besar untuk istrimu " jawab nyeleneh Alfin yang membuat Nathan langsung tertawa , " itu benar " tambahnya membenarkan dengan menutup mulutnya yang masih terbuka karena tertawa.
" Itu pasti "
" Kau tidak bisa memastikan itu sekarang teman , dunia pernikahan sungguh berbeda " ucap Nathan yang sekarang terlihat serius dengan perkataannya , " sebenarnya ini tidak bisa di samakan , setidaknya kau lebih beruntung karena menikahi Elin di umurnya yang tepat "
" Sekarang aku paham " sambung Daniel langsung , yang kini berbalik tertawa.
" Kau pasti sangat kerepotan saat itu , Green pasti sangat egois di awal pernikahan kalian "
" Masih sampai saat ini " tandas Nathan dengan wajah pasrah , membuat Alfin dan Daniel semakin tertawa keras , " tapi kelebihannya aku benar-benar seperti menikmati mawar segar saat di awal pernikahan , dia masih begitu harum dan menawan "
" dan duri yang siap menusuk tanganmu " timpal Alfin , yang kini membuat Nathan ikut tertawa , " ya itu benar " ucapnya.
" Maka pastikan kau memiliki cinta yang besar untuk Elin , karena perempuan akan benar-benar menjadi manusia yang menyebalkan saat menjadi seorang istri dan sangat-sangat egois , sedangkan kita tidak memiliki pilihan selain menurutinya ".
" Aku sudah sangat siap dengan hal itu " ucap Daniel begitu yakin.
" Ceh ,aku pastikan untuk satu tahun pertama , setelahnya aku tidak yakin kau akan berkata demikian "
" Aku rasa enam bulan " tambah Alfin meragukan.
" Kalian membuatku menjadi ragu "
" Jangan-jangan kita hanya memberikan gambaran , tidak menikah pun kita tidak akan terhindar dari masalah , justru menikah itu menyenangkan karena memiliki hidup yang berwarna dan penuh tantangan "
" Yang terpenting itu , kau hanya butuh stok sabar dan cinta yang luar biasa saat menikah nanti " tambah Alfin yang kini sedikit lebih serius , " dan dari ketiganya Elin yang paling lembut , jadi aku rasa kau tidak akan terlalu banyak tertekan " tambahnya lagi.
" Mommy sudah merekam semuanya " ucap Viona tiba - tiba dengan tertawa , membuat tiga laki-laki itu tersentak , " mam please , kita hanya bercanda " ucap Alfin yang terlihat paling panik.
" Tapi tadi tertawamu paling keras "
" Mam sungguh itu hanya candaan " jelasnya dengan wajah prustasi membuat Viona tidak bisa menahan untuk tidak tertawa.
" Duduklah , Mommy tidak mungkin dengan sengaja membuat kalian bertengkar " jelasnya membuat tiga laki-laki itu menghela nafas legah , " tapi Daniel , apa yang di katan teman-temanmu benar , kau harus memiliki kesabaran yang luar biasa untuk menjadi kepala keluarga , dunia pernikahan tidak segampang yang kau bayangkan "
" Aku tidak lupa dengan apa yang pernah kita lalui mam , dan aku akan berusaha itu tidak akan terjadi pada anak-anakku nanti " ucap tegas Daniel membuat Viona tersenyum , " sekarang pastikan dimana keberadaan wanita kalian "
" Yah , membicarakan mereka membuat aku mendadak merindukan kecerewetan istriku " ujar Alfin sambil mengambil benda pipih miliknya di atas meja , " apa kalian akan menelpon mereka secara bersamaan " ujar Viona yang kembali menahan tawa saat melihat ketiga laki-laki itu bergerak untuk menghubungi wanitanya masing-masing.
" Karena tadi kekasihku yang membawa mobil dan ini wilayahku jadi aku pikir kalian harus mengalah " ucap egois Daniel dengan tangan yang terus bergerak untuk melanjutkan panggilannya pada Elin.
\~
Naina menatap secara bergantian pada tiga perempuan dewasa di hadapannya , " mommy kenapa kita berhenti ? " tanyanya heran.
" Hanya sebentar " ucap Green pada putrinya , " Lin kau bisa tidak menjawabnya , sekarang lanjutkan saja laju mobilnya "
Elin masih tidak bergeming , tatapannya tidak beralih dari sorot lampu mobil yang mengarah ke depan jalan , ia menghela nafas begitu dalam membuat Amel dan Green saling bertatapan " maafkan kami Lin , aku sungguh tidak bermaksud mengungkitnya " ucap Amel penuh sesal dengan mengusap pundak perempuan itu.
" Aku sungguh mencintai Daniel , tapi bukan berarti aku melupakan Gerry " ucapnya serak.
" Sungguh maafkan kami " timpal Green yang ikut mendekat , " lupakan pembahasan ini ya , sekarang kita lanjutkan mobilnya " tambah Green dengan begitu lembut dan ia menyadari kesalahannya.
Drrrttt
Drrrttt " suara getaran telepon di dalam tas sandang Elin terdengar , namun perempuan itu memilih tidak memperdulikan dan kembali melanjutkan laju mobilnya , " Lin sepertinya ada yang menelponmu " ucap Amel pelan dan sedikit hati-hati.
" Biarkan saja " sahutnya datar , Amel segera melihat kearah Green dan menatap penuh arti ,namun perempuan itu hanya mengangguk untuk memberi isyarat bahwa semua akan baik-baik saja dan Elin hanya perlu menenangkan dirinya sesaat.
Drrrtttt " suara dering handphone kembali terdengar namun dari tempat Green dan Amel yang bergetar secara bersamaan , " sepertinya semua orang sedang menunggu kita " ucap Green saat melihat ke layar handphone dengan panggilan Nathan disana.
" Ya sepertinya begitu " tambah Amel saat ikut memastikan bahwa handphonenya berbunyi karena panggilan telepon dari suaminya , " jawablah , katakan pada mereka kalau tadi kita sedikit terjebak macet " ucap Elin dari tempatnya , namun dengan wajah yang begitu datar , tidak ada senyum atau godaan darinya.
" Biar aku yang menjawab telepon mereka Green " ucap Amel dan Green mengangguk karena handphonenya juga sedang berada di tangan putrinya yang sedang asyik bermain game.
" Ya sayang " jawab Amel saat panggilan teleponnya tersambung.
" emm..kami masih di jalan menuju swalayan , sedikit terjebak macet tadi tapi jangan khawatir Elin sepertinya sudah sangat mahir di jalanan kota New york " jelasnya sedikit tertawa di dalam pembicaraan bersama Alfin.
" oh benarkah ? mungkin dia tidak tahu karena sedang menyetir , tapi katakan padanya calon pengantinnya baik-baik saja " lanjut Amel sedikit bercanda dan berusaha mencairkan suasana yang mulai terasa dingin di antara mereka , tapi Elin nampak tidak menggubris dan begitu fokus dengan laju mobil yang ia kendalikan , " handphone Green sedang bersama Naina " jelas Amel lemah saat melihat Elin tidak merespon guyonannya.
" Baiklah , sampai bertemu di rumah " ucapnya lagi sebelum menutup panggilannya bersama Alfin.
\~
" Aku kira kalian membeli satu tokoh swalayan " ujar Alfin tertawa saat melihat tiga perempuan yang di tunggu-tunggu sudah kembali.
" Maunya seperti itu tapi sayangnya mobil Elin tidak akan muat untuk membawanya " sahut Amel membuat semua orang tertawa.
" Grandma " teriak Naina saat melihat Viona yang sudah berdiri menunggu kepulangannya sejak tadi , " kau meninggalkan grandma terlalu lama "gemas Viona yang langsung membawa gadis kecil itu ke dalam gendongannya.
" Sayang kau baik-baik saja ? " tanya Daniel saat melihat ada yang berbeda dari wajah kekasihnya , " tentu Daniel , tapi sepertinya aku sedikit lelah"
" Maaf aku harus meninggalkan kalian , aku butuh istirahat sebentar saja " tambahnya dengan langsung beranjak menuju anak tangga di rumah megah itu.
" Lin " panggil Amel yang terlihat sedikit panik dan berusaha mencegah langkah kaki perempuan itu , " Mel biarkan dia istirahat , mungkin dia lelah setelah membawa mobil " cegah Green dan sedikit berusaha menutupi semuanya dari semua orang.
" Ada apa dengannya Green ? " tanya Daniel yang ikut khawatir.
" Tenang saja dia hanya lelah dan kurang tidur kak " jelasnya sedikit tertawa , namun saat kembali melihat ke arah punggung Elin yang hampir menghilang tatapannya kembali sendu dengan perasaan yang di penuhi rasa bersalah.
" Kita coba berbicara lagi padanya nanti " ucapnya pelan pada Amel dan perempuan itu mengangguk lemah , tanpa memalingkan tatapannya dari punggung Elin yang berjalan pergi.