
" Diam " gumam Elin pelan sambil meletakkan jari telunjuk di hadapan bibirnya , lalu kembali berkutat pada benda pipih yang masih berdering , " ya ayah " jawabnya pada panggilan telepon yang baru ia jawab.
" Bagaimana kabarmu nak ? " tanya Bimo dari seberang telepon.
" Baik ayah , bagaimana dengan ayah dan ibu ? "
" Alhamdulillah baik nak " jawab Bimo , lalu suasana menghening sesaat , " apa kau tidak ingin menceritakan sesuatu pada ayah ? " tanya kembali Bimo yang membuat Elin tersentak dan melirik pada Daniel yang kini ikut menyimak obrolan mereka.
" emmm.. maksud ayah ? "
" Sudah berapa hari ayah dan ibu menunggu telepon darimu "
" Oh maafkan aku ayah , beberapa hari ini aku memang begitu sibuk "
" Tidak memang sepertinya kau sudah melupakan ayah dan ibu disini " balas Bimo tertawa , " tidak ayah itu tidak mungkin " sahut Elin cepat.
Daniel yang masih berada disana hanya bisa diam dan terus menyimak dialog dalam telepon antara anak dan ayahnya itu dan menatap dengan lamat pada wajah yang terlihat sedikit panik bersama tutur kata yang begitu sopan.
Bibirnya kembali melengkung sambil mengusap lembut kepala kekasihnya , membuat si pemilik kepala menengok padanya sambil mengangkat kepala dengan dahi yang sedikit berkerut " ada apa ? " tanya Elin begitu pelan dan Daniel hanya menggelengkan kepala dengan masih tersenyum.
" Ceh " decih Elin ikut tersenyum pada tingkah tidak jelas kekasihnya lalu kembali fokus pada pembicaraan di dalam telepon , " sekarang ibu mu sedang merajuk padamu " lanjut Bimo
" Benarkah Ayah , kenapa ? kalau begitu aku ingin bicara dengan ibu "
" Ibumu juga disini bersama ayah "
" Bu , kenapa ibu tidak bicara ? "
" Ibu sedang marah padamu "
" Kenapa bu ? apa salah Elin ? " tanyanya begitu khawatir karena ia memang begitu takut jika wanita paruh baya itu marah padanya , " iya ibu marah karena kau tidak memberi tahu ibu dan ayah tentang kabar bahagiamu ? "
" Kabar bahagia ? " ulang Elin bingung , namun ingatannya kembali teringat pada malam Fashion Show ," apa ayah dan Ibu sudah mengetahui berita itu ".
" Ya adikmu Rama mengetahui lalu memberitahukannya pada kami , kenapa kau tidak menceritakannya pada kami nak ? " timpal Bimo , " padahal ibu dan ayah begitu bangga padamu " lanjutnya dan berhasil membuat mata Elin memerah oleh buliran kristal yang siap tumpah dari mata bulatnya.
" Benarkah itu ayah ? " tanyanya pelan dengan suara yang mulai serak.
" Tentu nak , apa alasan kami tidak bangga dengan prestasi yang telah kau buat dan kami berharap kau segera memberi kabar itu pada kami , tapi sayangnya..."
" Bukan begitu ayah ! .. " potong Elin.
" Aku hanya tidak percaya diri untuk begitu membanggakannya pada kalian "
" Kenapa ? "
" Aku pikir ini yang aku lakukan belum apa-apa.. "
" Itu sudah luar biasa nak , kau benar-benar membuat kami begitu bangga " ucap Bimo membuat air mata Elin tanpa bisa lagi tertahan untuk mengalir , " terimakasih Ayah , Ibu " ucapnya dengan menangis dan perasaan yang begitu bahagia.
" Lalu bagaimana dengan lelaki itu , apa kau juga tidak ingin menceritakannya pada Ayah dan Ibu hemm...? " tanya Bimo menggoda putrinya ,
Elin kembali terdiam sesaat dan melihat pada wajah laki-laki yang kini berada dalam pembicaraan.
" Aku kira ini akan menjadi surprise untuk ayah dan Ibu " balasnya tersenyum sambil terus menatap pada kekasihnya.
" Apa dia akan datang kemari untuk menemui ayah ? "
" emmm.. iya ayah " jawab Elin terbata-bata dengan jantung yang menjadi berdetak tak menentu menunggu reaksi selanjutnya dari lelaki itu , " Benarkah ? " tanya balik Bimo dengan nada tak percaya.
" Kalau begitu kita harus menyiapkan sesuatu bu , calon menantumu akan datang kemari " ujar Bimo bicara pada istrinya dan itu terdengar begitu menyenangkan di telinga Elin , " apa yang di katakan ayahmu itu benar nak ? " tanya Mala mengambil alih obrolan.
" Ya ibu , maaf aku belum sempat memberitahu ibu kalau beberapa hari lagi aku akan pulang ke Indonesia "
" Bersama laki-laki tampan itu juga ? "
" Emmm..ya , dan juga keluarganya "
" Tapi tunggu ibu , bagaimana ibu bisa tahu kalau dia tampan ? "
" Ceh kau ini , tentu ibu sudah melihat video saat dia melamarmu di atas panggung catwalk "
" Oh astaga , aku benar-benar tidak berpikir kalau berita ini akan sampai ke Indonesia " ujar Elin tertawa
" Ya kau hebat mencari calon suami , belum bertemu saja ibu sudah menyukainya " kata Mala yang terdengar begitu riang dari seberang telepon , " tapi ayah belum , jadi dia harus temui ayah dulu kalau benar-benar ingin bersama dengan anak ayah " timpal Bimo dengan tegas , namun justru membuat putri dan istrinya tertawa.
" Tidak ada alasan untuk kau menolak calon menantuku " kata Mala pada suaminya , " terserah tapi aku berhak atas putriku " sahut Bimo tak mau kalah.
" Sudah sudah ayah , ibu , Daniel pasti akan datang menemui ayah , bahkan ia akan datang bersama keluarga besarnya "
" Astaga , kapan kau pulang nak ? , kami tidak mungkin tidak menyiapkan apapun untuk kedatangan calon besan kami " balas Mala yang terdengar menjadi kalang kabut.
Baru saja Elin ingin melanjutkan bicaranya ,namun tiba-tiba saja hal itu di gagalkan oleh Daniel yang tiba-tiba mengambil alih benda pipih di tangannya , " selamat sore ayah dan Ibu Elin , aku Daniel kekasih putri kalian " ucapnya mengambil alih pembicaraan dengan bahasa yang begitu kaku ,
Elin yang semula ingin kembali mengambil handphonenya menjadi urung dan tertawa saat melihat wajah gugup Daniel.
" emm.. ya selamat sore tuan " balas Bimo yang terdengar sedikit gugup.
" Tidak ayah , jangan sebut aku seperti itu tapi , anda cukup memanggil namaku saja "
" Oh tidak tidak itu begitu tidak sopan tuan "
" Tidak ayah , akulah yang akan terdengar tidak sopan jika anda memanggilku dengan seperti itu , sementara aku hanya calon menantumu "
" Oh Tuhan kenapa calon menantuku begitu keren " kata Mala yang masih terdengar dari balik telepon dan itu membuat Elin tidak berhenti tersenyum dari tempatnya , " Baiklah jika anda ingin seperti itu , tapi apa benar kata putriku kalau anda dan keluarga akan datang kemari ? "
" Ya ayah , beberapa hari lagi kami akan kesana untuk meminta putrimu "
" Meminta putriku ? , tidak tidak itu tidak boleh putriku bukan barang yang bisa di pinta " sahut Bimo serius dan itu cukup membuat semua orang terkejut , " tapi jika kau datang meminta ijin untuk menikahinya maka mungkin aku memberikannya " sambungannya lagi dengan kali ini sedikit tertawa dan itu berhasil membuat Daniel menghela nafas legah setelah barusan di buat cukup terkejut.
" Ya aku datang memang untuk itu ayah " ucapnya Daniel gugup sambil sesekali melirik pada kekasihnya yang kini menertawakannya dengan begitu senang.
" Baiklah sampai bertemu disini nak "
" Ya ayah "
" Emmm tunggu apa anda ingin kami menyiapkan sesuatu disini ? " sambung Mala yang terdengar begitu bersemangat untuk menyambut ke datangan keluarga calon besannya.
" Tidak ibu jangan repot-repot , anda tidak perlu sungkan untuk ke datangan kami nanti "
" Tapi kami akan sangat tidak sopan jika tidak menyambut dengan baik kedatangan kalian "
" Baiklah kalau itu keinginan ibu , tapi kami sungguh tidak ingin meminta apapun untuk kedatangan kami nanti "
" Kau benar-benar keren nak , aku benar-benar menyetujui hubunganmu bersama putriku " ucap Mala yang membuat Daniel melipat bibirnya untuk tertawa , namun tidak bisa sembunyikan wajah yang sudah memerah karena tersipu.
" Tapi tunggu , bagaimana kau bisa berbicara bahasa Indonesia dengan begitu lancar ? "
" Ibuku asli keturunan Indonesia Bu , oleh karena itu aku bisa berbicara dengan bahasa Indonesia walau masih begitu kaku "
" Benarkah ? " tanya Mala tidak percaya , namun itu membuatnya begitu senang , " kalau begitu kalian memang sudah di jodohkan oleh takdir " sambungnya , membuat Daniel kembali tersenyum , " semoga memang seperti itu bu "
" Tentu nak , bagaimana bisa kita berada di belahan dunia yang berbeda namun dengan keturunan yang sama , apalagi kalau bukan karena takdir " jelas Mala dan Daniel mengangguk membenarkan.
" Baiklah sampai bertemu disini , sampaikan salam kami pada keluargamu " lanjutnya dengan begitu lembut.
" Iya ibu , sampai bertemu nanti " balas Daniel tersenyum lalu memberikan kembali benda pipih yang berada di tangannya pada Elin , " ya ibu " kata Elin mengambil kembali alih pembicaraan , " ibu benar-benar menyukai kekasihmu "
" Benarkah , baguslah jadi aku tidak perlu lagi merayu untuk mendapat restu kalian " balas Elin tertawa.
" Ceh , baiklah sampai bertemu disini dan terus beri kabar pada ibu jika calon mertuamu menginginkan sesuatu disini "
" Ya ibu , ibu terdengar begitu bahagia "
" Tentu nak , bagaimana bisa ibu tidak bahagia saat mengetahui kalau ibu mempunyai calon menantu yang begitu tampan "
" Sepertinya ibumu kembali ke masa pubernya nak " timpal Bimo yang terdengar kesal dengan perkataan istrinya , namun membuat Elin justru tidak berhenti tertawa , " baiklah ibu ayah , aku tutup teleponnya "
" Ya nak , sampai bertemu disini "
" Iya ibu , sehat terus ya "
" Kau juga nak , assalamualikum "
" Waalaikumsalam " ucap Elin lalu mengakhiri panggilan teleponnya.