
" Apa dia begitu sibuk " gumam perempuan yang untuk ke berapa kalinya memeriksa handphone pagi ini , ia kembali menghela nafas setelah memastikan tidak ada satu pesan pun yang masuk " menunggu memang menjengkelkan " gumam Elin dan meletakkan benda pipih miliknya di atas meja.
" Apa yang salah dengan roti ini ? " katanya lagi dengan mulut yang masih mengunyah roti coklat favoritnya.
" Bodoh , kenapa aku bisa lupa " umpatnya ketika menyadari roti gandum dengan olesan slai coklat tanpa di panggang, " ternyata bukan lidahku yang tidak beres tapi otakku " geramnya pada diri sendiri.
" Sebaiknya aku mandi " katanya lagi setelah melihat jam dinding dengan jarum jam yang menunjukan pukul sembilan pagi , hari ini ia harus ke perpustakan kota mencari buku desain sebagai paduannya untuk memperbaiki hasil desain yang di kembalikan oleh Mr. Louis kemarin .
Elin beranjak dari meja makan menuju kamar mandi yang terletak di dalam ruang kamar tidurnya , ia tidak lagi peduli dengan roti coklat yang masih tersisa begitu banyak bahkan ia juga meninggalkan benda pipih yang sejak tadi terus ia gengam .
~
" Selamat beristirahat Tuan " ucap Reza sambil berlalu menuju kamar hotel yang berada di sebelah kamar Daniel
Laki laki dingin itu hanya mengangguk dan masuk ke dalam kamar hotel jenis Presidental Suit yang sudah di persiapkan untuknya " selamat menikmati waktu istirahat anda Tuan " ucap pelayan hotel setelah meletakkan koper berukuran sedang milik Daniel.
Daniel kembali mengangguk dan menggerakkan satu tangannya pada pelayan hotel yang berpamitan untuk meninggalkan kamarnya , sedangkan sebelah tangannya sudah menggenggam handphone yang ia arahkan pada telinga.
Garis dahi dan kedua alis Daniel saling bertautan setelah beberapa kali mengulang panggilan telepon tapi tidak kunjung ada jawaban.
" Dimana ? " tulis pesan yang langsung di kirim pada Elin.
" Pagi hari " ucapnya sambil menatap pada alroji di tangannya untuk memastikan waktu bagian Amerika di tempat Elin berada.
ting " suara pesan masuk pada aplikasi chatt handphone Daniel
" Apartemen " isi balasan pesan masuk yang begitu singkat membuat Daniel meyipitkan kedua matanya dengan perasaan sedikit kesal , ia tidak lagi bisa menunggu , dengan cepat ia kembali mengarahkan handphonenya ke telinga dengan bunyi sambungan telepon yang sudah menunggu untuk di jawab " emmm .. " jawaban dari seberang.
" Dimana ? " tanya Daniel
" Apartemen "
" Apa kau sibuk " tanya Daniel kembali , "sedikit " jawab Elin begitu singkat.
" Ada apa ? " tanya Daniel yang bingung kenapa tiba tiba perempuan di dalam sambungan teleponnya ini begitu dingin
" tidak ada apa apa "
" Benarkah ? "
" emm.. " jawab Elin
" Jangan seperti ini please " ucap Daniel , Elin terdiam di balik telepon , " sayang " panggil Daniel begitu lembut karena tidak ada jawaban dari perempuan itu.
" Sayang " ulang Elin
" iya sayang " jawab daniel , Elin tersenyum dari balik telepon , " aku tidak memanggilmu dan juga siapa yang kau panggil sayang " kata Elin yang berusaha untuk tetap dingin walau di balik telepon ia terus mengulum bibirnya
" kamu , siapa lagi ? " jawab Daniel begitu santai , Elin benar benar di buat tidak bisa berkilah dengan bibir yang terus tersenyum.
" Ada apa ? " tanya Elin mengalihkan.
" Ada apa ? " ulang Daniel dengan kedua alis yang kembali bertautan.
" ya , ada apa menelepon " jelas Elin " kenapa harus ada pertanyaan itu ? "
" Kenapa begitu dingin " lanjut Daniel.
" Kau menyebalkan " jawab Elin "menyebalkan " ulang Daniel.
" ya menyebalkan , aku sudah menunggu kabarmu sejak bangun tidur dan kau tidak ada menghubungiku sama sekali " lanjut Elin tanpa sadar namun segera ia menepuk bibirnya setelah menyadari ke cerobohannya , sekarang Daniel yang di buat tersenyum dari balik telepon.
" Maafkan aku , aku baru saja tiba di sini dan pertama yang aku lakukan adalah menghubungimu " jelas Daniel dengan begitu lembut dan membuat hati Elin menjadi menghangat " hallo " panggil Daniel dan memastikan pada layar handphonenya kalau telepon masih tersambung pada Elin.
" emm.. ya "
" Apa kau mendengarku " ucap Daniel " ya , aku mendengarmu , aku tidak tuli Daniel "
" Kau tidak bicara "
" Istirahatlah kau pasti sangat lelah " kata Elin yang tidak lagi bicara dingin " ya aku lelah "
" Kalau begitu istirahatlah "
" Aku lelah karena harus menahan rindu padamu " jelas Daniel dengan serius " ceh , itu tidak lucu "
" Aku memang tidak lagi bercanda " sahut Daniel
" Terserahlah "
" Tadi kemana saja , aku sudah berapa kali meneleponmu " tanya Daniel
" Aku meninggalkan handphoneku di meja makan jadi tidak mendengar saat tadi kau meneleponku " jelas Elin " kau membuatku cemas , jangan lagi dingin seperti tadi , aku benar benar tidak menyukainya "
" itu karena tadi kau menyebalkan , sebelum aku tahu alasanmu "
" Bukan karena aku yang menyebalkan tapi karena kamu yang merindukan aku "
" Kau terlalu percaya diri tuan Daniel " kilah Elin " tidak , aku sangat yakin , kau sendiri yang mengatakannya "
" Kapan , aku tidak pernah mengatakan aku rindu " bantah elin , " tapi kau kesal karena aku belum menghubungi lalu apa lagi itu kalau bukan rindu "
" emmmmmm... itu karena aku cemas "
" Cemas dan rindu perbedaannya begitu tipis , tapi ya aku mengerti , perempuan memang selalu seperti ini terlalu gengsi untuk mengatakan rindu "
" Aku merindukanmu , apa sekarang kau puas " ucap Elin tiba tiba membuat bibir dari tersenyum begitu lebar dari balik telepon "tidak , aku kecewa harusnya kau mengatakan ini sejak tadi "
" Kau yang tidak peka Daniel "
" Tidak , kau yang terlalu gengsi untuk mengatakannya "
" tapi aku sudah mengatakannya tadi "
" tapi itu sudah terlambat"
" Kita bukan mau melakukan penerbangan Daniel , tidak ada kata terlambat untuk mengatakan rindu " jelas elin
" Baiklah , aku mengalah "
" Kenapa harus mengalah ? "
" Kau sangat berlebihan , seperti pergi lama dan tidak akan kembali " ujar Elin dengan tertawa kecil " ya aku juga menyadarinya dan memang sedikit memalukan , tapi mau gimana lagi , setiap orang akan seperti ini jika sedang jatuh cinta " kata Daniel yang terdengar sedikit menghela nafas.
" Itu tidak memalukan , sungguh " bantah Elin cepat.
" Benarkah ? "sahut Daniel
" Apa kau sudah sarapan ? " tanya Daniel .
" Sudah , tapi aku tidak begitu menikmati sarapanku pagi ini"
" Kenapa ? "
" ntahlah , pagi ini mood-ku tiba tiba menjadi tidak baik "
" Itu karena kau merindukan aku " timpal Daniel tertawa " ya , mungkin kau benar " jawab Elin " emm.. bukan begitu maksudku " katanya lagi dengan gelagapan setelah terlepas dengan ucapannya.
" Jangan lagi berkilah nona Merlinda , rindu itu wajar dan tidak memalukan seperti katamu tadi "
" ceh , apa kau sedang membalasku"
" Tidak , malah aku yang sedang menunggu balasanmu " sahut Daniel " balasanku " ulang Elin dan kedua alis yang ikut bertautan karena begitu bingung dengan ucapan Daniel .
" Aku sudah membalas pesanmu " katanya lagi , jika ada Amel dan Green mungkin mereka akan langsung memukul dahi perempuan telmi ini.
" ya , tapi yang aku maksud bukan pesan " jelas Daniel
" Lalu "
" Hatimu , aku sedang menunggu cintaku yang belum terbalas olehmu " jelas Daniel
" Apa sekarang kau sudah lelah menunggu ? "
" Itu tidak mungkin " bantah Daniel
" Aku hanya mengingatkan , supaya kau tidak lupa jika ada hati yang sedang menunggu " lanjut Daniel menjelaskan , dan di balik panggilan itu ada dua pipi yang sudah merona karena begitu malu.
" Berhenti menggodaku Daniel "
" Kenapa menggoda , aku mengatakan yang sebenarnya "
" ya ya , baiklah tuan Daniel sekarang aku harus pergi "
" Pergi ? " ulang Daniel
" emm.. " jawab Elin sambil membereskan segala keperluan yang akan ia bawa.
" Pergi kemana dan bersama siapa kau akan pergi " tanya Daniel dengan begitu teliti dan perasaan yang tiba tiba menjadi cemas.
" Kau begitu posesif tuan" ucap elin tertawa
" Aku harus ke perpustakaan dan pergi sendiri , apa sudah jelas tuan " sambung Elin menjelaskan , yang tanpa di sadari kalau dirinya sedang mencoba untuk membuat Daniel tidak salah paham.
" Minta Meili menemanimu "
" Tidak , aku bisa sendiri dan aku tidak suka merepotkan orang lain "
" Dia bukan orang lain , dia temanmu dan akan menjadi saudaramu nanti " ucap Daniel yang ingin elin menuruti permintaannya , sesaat Elin terdiam karena ucapan Daniel terlebih pada kata saudara.
" Saudaraku " ulang Elin
" Apa kita saudara ? tapi seingatku, aku tidak memiliki keluarga di New York " kata Elin kebingungan , " Bukan seperti itu maksudku sayang " kata Daniel yang tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tertawa.
" Maksudku dia akan menjadi saudara iparmu , seperti Green dan Amel " lanjut Daniel
" oh begitu , aku pikir kita benar benar saudara " sahutnya dengan santai " itu tidak mungkin , bagaimana aku akan menikahimu jika kita saudara " bantah Daniel
" Menikah " ulang Elin yang sedikit syock dengan kata yang begitu sakral itu.
" Ya , kita akan menikah dan memiliki keluarga yang bahagia " jelas Daniel begitu enteng.
" Sepertinya kau sangat lelah Daniel , istirahatlah , aku harus segera pergi " kata Elin mengalihkan dengan pipi yang kembali bersemu merah.
" sekarang , padahal aku masih begitu merindukanmu " ucap Daniel lemah
" Laki laki ini benar benar akan membuatku terkena serangan jantung " gumam Elin dengan suara yang begitu kecil sambil memegang dada kirinya , selama berbicara di sambungan telepon bersama daniel jantungnya terus berpacu dengan cepat bahkan ia sulit untuk mengontrol detak jantungnya sendiri.
" Kita melanjutkannya nanti , aku pergi dulu , istirahatlah "
" Kau sungguh ingin pergi sendiri "
" Ya , kau tidak ada disini , berarti pilihannya aku harus pergi sendiri bukan , apa kau ingin aku pergi bersama Mike " kata Elin tertawa
" Jangan mengujiku nona , tidak ada yang bisa menghalangiku jika aku ingin kembali ke New York sekarang juga " ucap Daniel begitu serius.
"Aku hanya bercanda Daniel , aku pergi dulu "
" Apa aku bisa memegang ucapanmu " tanya Daniel memastikan
" Tentu , aku tidak akan mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya " jelas Elin yang tidak main main dalam ucapannya
" baiklah , maafkan aku , aku hanya..."
" aku mengerti , istirahatlah " potong Elin
" ya , kabari aku nanti "
" iya "
" Aku menunggu " Lanjut Daniel
" Iya Daniel , sekarang aku sudah terlambat "
" iya pergilah hati hati dan jangan lupa untuk mengabariku nanti "
" Kau begitu cerewet " sahut Elin tertawa " Bye " ucapnya lagi sebelum menutup panggilan telepon yang terus membuat kedua pipinya merona.
jangan lupa vote , like dan coment🤗
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚