Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Daniel dan Elin


" Sekarang kau sudah tidak bisa lepas " kata Elin dengan kedua tangan yang mencengkram pada lengan Daniel, " aku benar benar akan mematahkan tanganmu " lanjutnya , sedangkan Daniel hanya diam tanpa memberontak sedikit pun dan tersenyum memperhatikan tingkah Elin.


" Aku akan mematahkan tanganmu , apa kau dengar " ulang Elin , " lakukanlah " jawab Daniel begitu pasrah , Elin terdiam dan menatap tajam pada Daniel.


Tiba tiba Daniel menarik tangannya dengan begitu kuat , Elin yang masih mencengkram lengannya pun ikut terhuyung ke depan


" aku tahu kau tidak akan mungkin menyakitiku " ucap Daniel dengan jarak wajah yang begitu dekat dengan Elin.


" Kau terlalu percaya diri Tuan " sahut Elin tersenyum dan menggigit lengan Daniel tanpa permisi ,


Daniel tidak lagi bisa berteriak saat gigi Elin menancap begitu kuat pada lengannya


" rasakan pembalasanku " kata Elin tertawa lalu berlari meninggalkan Daniel yang sedang meringis kesakita.


Elin membalikan tubuhnya karena tidak ada pergerakan dari Daniel , laki laki itu terlihat begitu kesakitan dengan tangan yang menyentuh pada bekas gigitannya.


" Hey , apa itu terlalu sakit ? " tanya Elin khawatir dan kembali mendekat pada Daniel ,


" coba aku lihat " katanya lagi sambil menarik tangan Daniel yang menutupi bekas gigitannya , "Daniel , aku mau lihat " rengek Elin karena tangan dlDaniel tidak mau terbuka.


" Kena kau " kata Daniel dengan tangan yang bermain pada pinggang Elin , " Daniel hentikan " teriaknya sambil tertawa karena rasa geli pada pinggangnya, namun Daniel tidak peduli ia terus menggelitik pinggang Elin tanpa ampun membuat empunya menggelinjang ke sana kemari karena rasa geli yang tak kunjung berakhir , " Daniel , please hentikan Daniel " mohon Elin dengan terus tertawa.


" Apa sekarang kau menyerah ? " tanya Daniel dan Elin segera menganggukkan kepalanya.


Tuuck " suara tangan Daniel terhempas di ujung sofa karena Elin yang berhasil lolos dan mengibas ke dua tangan Daniel begitu lebar tanpa tahu kalau akan mengenai ujung sofa.


" Aku tidak akan lagi tertipu " kata Elin karena melihat Daniel yang kembali kesakitan bahkan ia sudah berjongkok dengan memegang tangannya , " apa kau punya obat ? " tanya Daniel dengan wajah yang sudah memerah menahan sakit.


" ada , di situ " tunjuk Elin pada laci kecil tak jauh dari Daniel , ia masih berpikir kalau Daniel sedang bercanda , " apa kau bisa membantuku mengambilkan air dingin dan handuk kecil " pinta Daniel setelah mengambil kotak obat dari dalam laci.


Elin berjalan dengan santai sambil membawa mangkuk besar berisikan air dingin dan handuk kecil sesuai permintaan Daniel " apa lagi yang akan kau lakukan ?" kata Elin sambil meletakan mangkuk besar itu di hadapan Daniel , " astaga tanganmu berdarah Daniel " teriak Elin yang begitu terkejut melihat darah yang kembali menetes dari tangan Daniel ,


" kenapa aku lupa kalau tanganmu sedang sakit " lanjut Elin yang sudah panik dan segera membersihkan tangan Daniel dengan haduk yang sudah di bahasi air dingin


" awwww " Daniel meringis karena rasa perih pada lukanya.


" Tahan sebentar ya " ucap Elin kembali lembut dan membersihkan tangan Daniel dengan begitu hati hati , Daniel tersenyum menatap kagum pada Elin yang sedang mengobati tangannya , " apa ini perih ? " tanya Elin yang sedang mengoleskan obat pada luka tangan Daniel , " sedikit " jawab Daniel yang sebenarnya ingin berteriak karena rasa perih yang luar biasa , " awwww " teriak pelan Daniel karena tidak mampu lagi menahan rasa perih akibat obat yang sudah bereaksi.


" Tahan sebentar ya " kata Elin sambil meniup lembut pada tangan Daniel.


" Aku lebih suka terluka seperti ini " ucap Daniel.


" awww " teriaknya tiba tiba karena pinggang yang terasa perih akibat cubitan tangan Elin


" jangan mengatakan hal bodoh Daniel " ucap Elin kesal sambil mengambil gulungan kain kasa pada kotak obat.


" sungguh , aku lebih suka terluka seperti ini dan mendapat perhatian lebih darimu " lanjut Daniel.


" Tapi aku tidak suka " jawab Elin serius dan menatap pada Daniel.


" Kenapa ? " tanya Daniel namun Elin tidak menggubris ia terus mengobati tangan Daniel , menutup lukanya dan membungkusnya dengan kain kasa supaya tidak terkena debu dan kotoran ," besok , kau harus mengganti perban tanganmu ini " kata Elin sambil beranjak dan meletakan kembali kotak obat ke tempat asalnya.


" Kenapa tidak suka ? " tanya Daniel yang masih begitu penasaran dengan jawaban Elin ,


Elin menarik nafas dan kembali mendekat pada Daniel " aku tidak suka dan kau tidak perlu tahu alasannya dan jangan coba coba mengatakan hal bodoh itu lagi " jelas Elin lalu kembali berjalan menuju dapur dengan membawa mangkuk besar.


" Tapi aku ingin tahu alasannya " kata Daniel berjalan mendekat pada Elin yang sedang menyibukan diri, " aku rasa kau tidak bodoh Tuan Daniel " ucap Elin sambil terus melakukan aktifitasnya ," aku cukup bodoh dalam hal ini " jawab Daniel membuat Elin terdiam.


" Tidak ada orang yang suka melihat orang yang di cintainya terluka dlDaniel " jelas Elin dengan menatap begitu serius , Daniel tersenyum saat mendengar kata kata yang mungkin di ucapkan Elin tanpa sadar , " jadi sekarang kau sudah mencintaiku ? " tanyanya dan Elin segera merutuki ke bodohannya , " aku tidak pernah berbicara seperti itu " kata Elin mmebantah dan mengalihkan wajahnya yang sudah memerah karena malu ," ceh , kau masih saja tidak ingin jujur tapi jangan khawatir sampai kapan pun aku akan tetap menunggu " ucap Daniel yang membuat Elin tersenyum di balik wajah yang ia sembunyikan.


" Apa ada makanan ? " tanya Daniel tanpa malu , " kau lapar ? " tanya balik Elin dan Daniel mengangguk " tenagaku seperti sudah habis " ujar Daniel sambil menggerakan otot pundak yang mulai terasa sakit.


" Tidak ada yang menyuruhmu menjadi jagoan " ucap Elin yang kembali teringat pada kejadian Daniel memukul Mike.


" Aku tidak peduli kau mau menilaiku seperti apa , karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah rela melihat kau bersama laki laki lain terlebih itu Mike " jelas Daniel.


Elin begitu penasaran dan ingin bertanya kenapa Daniel begitu membenci Mike yang tidak lain adalah saudaranya sendiri , namun niat itu ia batalkan karena itu bukan menjadi urusannya untuk lebih tahu masalah orang lain , " Apa kau ingin nasi goreng ? " tanya Elin dan Daniel dengan senang hati menganggukkan kepalanya.


" Apa kau suka pedas ? " tanya Elin dan Daniel menggelengkan kepalanya , "perutku tidak bisa menerima makanan pedas" jelasnya.


" Selesai " ucap Elin dengan satu piring nasi goreng dan telur mata sapi.


" Aku tidak tahu bagaimana rasanya , tapi aku pikir ini tidak begitu mengecewakan " kata Elin sambil meletakan piring berisikan nasi goreng di hadapan Daniel , " nasi goreng sederhana ala cheff Merlinda " ucapnya lagi sambil tertawa.


" ada apa ? " tanya Elin karena melihat Daniel belum menyentuh nasi goreng buatannya ,


" aku tidak bisa makan dengan tangan kiri " kata Daniel sambil memperlihatkan tangan kanan yang sudah di perban, " kau benar benar merepotkan " ucap Elin dan langsung mengambil alih sendok untuk menyuapi Daniel.


" Aku pernah mendengar kata kata bijak yang seperti ini " kau perlu merasakan sakit untuk mendapatkan kebahagiaan " dan hari ini aku membenarkan kata kata itu " ucap Daniel tersenyum.


" Kau terlalu banyak bicara Tuan " kata Elin yang kembali memasukan sesendok nasi goreng ke dalam mulut Daniel " enak ? " tanya Elin dan Daniel mengangguk ," harusnya kau tidak perlu bertanya " ucap Daniel.


" kenapa ? "


" Karena semua orang yang sedang jatuh cinta tidak akan lagi mengenal rasa lain , selain rasa enak dan rasa nyaman "lanjut Daniel sambil tertawa.


"itu tidak lucu " ucap kesal Elin.


Drrttt drttt " suara handphone Daniel yang tiba tiba berdering.


" Tunggu sebentar " ucapnya sambil mengambil benda pipih yang di simpan disaku celananya " ya Reza " jawab Daniel.


" Satu jam lagi pesawat kita akan segera berangkat dan saya sudah menyiapkan segala kebutuhan anda " sambung Reza ,


" Baiklah , kita bertemu tiga puluh menit lagi di bandara "


" Baik tuan " jawab Reza dan telepon yang langsung di tutup oleh Daniel.


" Apa kau akan pergi ? " tanya Elin setelah Daniel selesai menerima telepon dan Daniel mengangguk lalu kembali membuka mulutnya supaya Elin kembali menyuapinya


" Kemana ? " tanya Elin ingin tahu.


" Apa kau ingin ikut ? " tanya balik Daniel.


" Lupakan "ucap Elin kesal.


" Aku akan pergi ke Jepang "


"Jepang " ulang Elin dan Daniel kembali mengangguk ,


" kenapa begitu mendadak ? " tanyanya.


" Tidak , ini sudah di jadwalkan dari satu bulan yang lalu , bahkan aku sendiri hampir lupa karena otakku tidak lagi mengingat apapun kecuali kamu "


" Tidak lucu "


" Aku pun.memang tidak sedang bercanda " balas Daniel.


" Nerapa lama ? " tanya Elin begitu detail


" tidak lama , tapi cukup untuk membuat kau rindu , " jawab Daniel.


" Menyebalkan , aku bertanya serius Daniel "


" Tiga hari atau mungkin satu minggu "


Mendengar itu Elin menghela nafas


" syukurlah , aku kira akan lebih lama dari itu "


" Tentu tidak mungkin , mana bisa aku berlama lama untuk tidak bertemu denganmu " kata Daniel tersenyum.


" ceh "desis Elin dengan pipi yang sudah merona.


" Terimakasih untuk nasi goreng terbaik ini " ucap Daniel yang sudah beranjak dari meja makan , " apa kau sudah akan pergi ? " tanya Elin.


" ya , semua orang sudah menungguku" kata Daniel sambil berjalan menuju pintu karena dia benar benar sudah terlambat.


" emm jangan lupa untuk mengganti perbanmu "


" siap "


" dan jangan membawa beban terlalu berat karena tanganmu masih sakit "


" itu sangat tidak mungkin " sahut Daniel di dalam hati.


" Istirahat yang cukup dan jangan melupakan waktu makanmu "


" iya Nona , apa ada lagi ? " tanya Daniel dengan membalikkan tubuhnya menghadap Elin.


" emm.. tidak ada " ucap Elin malu karena telah memperlihatkan dengan jelas kekhawatirannya pada Daniel.


" Sekarang giliranku " ucap Daniel.


" Selama aku tidak ada , jangan menerima siapa pun di sini kecuali Meili atau teman perempuanmu , jaga dirimu dan jangan lupa untuk selalu memberi kabar "


" dan satu lagi jangan lupa untuk merindukan aku " lanjut Daniel.


" Pergilah " usir Elin.


Cup " Daniel mencium pipi Elin.


" Aku pasti akan merindukanmu " ucap Daniel begitu lemah.


" Pergilah kau sudah tidak punya banyak waktu "


" Bye , jaga dirimu " kata daniel dengan tangan yang mengusap lembut pipi Elin.


" ya , kamu juga " balas Elin.


" Kabari aku jika pesawatmu sudah tiba di Jepang " lanjutnya.


" Itu pasti " sahut Daniel yang sudah beranjak dari hadapan Elin dan berlari menuju lift , karena waktu yang sudah sangat terlambat.


" Bye " ucap Ein pelan dan kembali menutup pintu apartemen setelah tubuh Daniel menghilang di balik pintu lift .


jangan lupa vote , like dan coment🤗


dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚