Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Milikku


Elin baru saja tiba di area parkir , jantungnya masih berpacu begitu cepat setelah mengendarai mobil mewah dengan warna kesukaannya ini.


Drrrtt drrttt " handphone di dalam tas Elin tiba tiba berdering , membuat pemiliknya terkejut karena pikiran yang masih belum menyatuh pada tubuhnya.


" Hallo Meil "


" Kamu dimana Elin ? " tanya Meili dari seberang telepon .


" Area parkir " jawab Elin sedikit canggung , " oke , tunggu aku di sana " kata Meili yang langsung menutup panggilan teleponnya.


Elin duduk dengan begitu gusar menunggu kedatangan Meili , perasaannya benar benar di buat campur aduk hari ini , berulang kali ia mencubit atau memukul wajahnya sendiri untuk memastikan kalau yang terjadi pada dirinya sepanjang hari ini bukanlah hanya mimpi.


Tok tok " kaca mobil Elin di ketuk oleh perempuan yang sudah menyeringai di balik kaca.


" Kenapa kau bisa tahu aku di sini ? " tanya Elin terkejut setelah membuka pintu mobilnya , " karena ini mobil keluaran paling terbaru dan limited " jelas Meili begitu santai membuat Elin harus menelan paksa ludahnya " Limited ? " ulangnya dengan mata yang kembali membulat sambil melihat kembali ke arah mobilnya , ia kembali menghela nafas dengan mengusap dadanya , " sepertinya aku akan benar benar jantungan " gumamnya dengan menggelengkan kepalanya tak percaya.


" Ya limited , karena Daniel tidak akan mungkin memberikan sesuatu yang biasa saja pada kekasihnya "


" Kekasih ? dan emm.. kau tahu Meili kalau ini pemberiannya ? "


" Ya aku tahu segalanya , sekarang mari kita masuk " ajak Meili dengan merangkul tubuh Elin yang terlihat masih linglung.


" Meili jelaskan dulu dari mana kau tahu segalanya , apa Daniel memberi tahumu ? " tanya Elin dan Meili menggelengkan kepalanya , " satu Negara ini juga tahu kalau kau kekasih Daniel Remkez " jelas Meili sambil terus berjalan tanpa melepas rangkulan tangannya pada Elin.


" Maksudmu ? "


" Bisakah kau tidak kembali bertanya , mulai hari ini kau sudah harus terbiasa dengan segala kejutan yang di berikan oleh Daniel " jelas Meili yang membuat Elin semakin bingung , " jangan lagi bertanya , oke " lanjutnya tertawa.


Dahi Elin lagi lagi mengerenyit saat melihat semua orang seperti sedang melihat ke arahnya , " Apa ada yang salah denganku ? " tanyanya pada Meili sambil melihat ke arah tubuhnya ," tidak , kau sangat cantik " jawab Meili begitu enteng.


" Tapi kenapa semua orang seperti melihat ke arah kita ? "


" emm.. sudah aku bilang kau harus terbiasa mulai hari ini "


" Bisakah kau jelaskan lebih rinci maksudmu Meili , hari ini otak dan pikiranku seperti di buat tidak menyatu " ucapnya lemah , membuat Meili menjadi tertawa tanpa bisa tertahan.


" Kau benar benar perempuan polos " ucap Meili di sela tawanya.


" Tanpa aku jelaskan Kau akan mengerti nanti , sekarang apa kau ingin menemui Mr.Lois ? "


" Ya , aku harus mengambil berkas persetujuannya , tapi Meili apa kau sungguh sungguh tentang perusahaan magangku nanti ? "


" Tentu , berikan berkasnya padaku dan sampai bertemu lagi " jawab Meili melepas tangannya dari punggung Elin.


" Terimakasih Meili " ucap Elin tersenyum.


" Your Welcome kakak ipar " sahut Meili tertawa lalu segera beranjak menuju kelasnya.


****


" Bagaimana keadaanmu ? " tulis pesan yang masih menggantung , " apa ini berlebihan " gumam Hannah lalu kembali menghapus isi pesan yang masih belum terkirim dan kembali meletakan benda pipih miliknya , namun perasaannya masih mengganjal dan kembali mengambil handphonenya , " apa kau sudah sehat ? " tulisnya lagi dan tanpa berpikir panjang ia langsung mengirim pesan itu.


" Menyebalkan " gerutunya.


" Ada apa denganmu Nona ? " tanya Vale yang sejak tadi terus memperhatikan tingkah Hannah yang duduk di hadapannya.


Hannah menggelengkan kepalanya " ini sangat Enak " katanya berkilah sambil menunjukan piring makanan di hadapannya.


" Siapa yang mau kau bohongi Nona , tapi aku tidak akan memaksa jika kau memang tidak ingin mengatakannya " ujar Vale tersenyum , " bagaimana keadaan Mike ? " sambungnya , membuat Hannah tiba tiba terbatuk.


" Emmm.. sepertinya hal ini yang membuatmu gusar " sambung Vale tertawa , Hannah mengibas tangannya dengan mulut yang masih di penuhi air minum.


" Kau tidak perlu berkilah , aku sangat mengetahui bagaimana kau Nona Hannah " ucap Vale yang terus tertawa , " Apa dia membalas pesanmu ? " sambungnya dan tanpa sadar Hannah menggelengkan kepalanya membuat Vale harus kembali menahan bibir untuk tertawa.


" Kau bisa mengunjunginya langsung "


" Jangan gila Vale "


" Kenapa gila , bagaimana kalau terjadi hal yang serius padanya " sambung Vale membuat Hannah terdiam.


" Jadi aku harus mengunjunginya ? " tanya Hannah begitu polos dan Vale menganggukkan kepalanya , " Kau bisa membuatkan makanan untuknya , makanan buatan rumah sangat baik untuk orang sakit , terlebih buatanmu " jelas Vale.


" tapi aku tidak tahu makanan apa yang harus aku buat "


" ya kau benar , sepertinya bubur jamur sangat cocok untuk keadaanya "


" buatlah sekarang , sebentar lagi sudah waktunya makan siang "


" Maksudmu aku harus mengunjunginya siang ini ? "


" Ya , apa kau mau menunggu kabar sampai dia mati kelaparan baru kau akan mengunjunginya "


" Aku rasa sakitnya tidak separah itu Vale "


" Lebih cepat lebih baik Nona Hannah " potong Vale membuat perempuan itu tidak lagi berniat untuk membantah , " Kau harus membantuku " pintanya sambil beranjak dari tempat duduk , " Dengan senang hati Nona " sahut Vale tersenyum puas.


****


Elin baru saja keluar dari ruangan yang hampir seharian menahannya , begitu banyak urusan yang harus ia selesaikan sebelum memulai semester magangnya sebentar lagi , di renggangkan otot tubuhnya yang mulai kaku karena aktifitas yang harus kesana kemari sepanjang hari.


Drrrrttt drrttt " suara handphone di dalam tasnya kembali berdering.


" Mungkin Meili , aku benar benar lupa memberi kabar padanya " gumam Elin sambil tangannya merogoh kedalam tas mencari benda pipih yang terus berdering.


" Ya Meil maafkan aku , aku baru saja keluar dari ruangan Mr.Lois dan benar benar lupa untuk menghubungimu " ucapnya langsung dan seperti kebiasaanya menjawab telepon tanpa melihat siapa yang sedang menghubunginya.


" Siapa Mr.Lois ? " tanya suara berat di balik telepon , Elin segera melihat kelayar handphonenya dan memastikan suara berat yang ia kenal adalah benar pemiliknya.


" Hay " ucap Elin dengan senyum semuringah setelah melihat nama kontak Daniel di layar handphonenya.


" Jelaskan siapa Lois ? " tanya Daniel dengan begitu dingin.


" Dia dosen pembimbingku sayang " jelas Elin begitu lembut.


" Sungguh ? "


" Ya , dia sudah tua jadi kau tidak perlu khawatir aku akan tertarik padanya " jelas Elin tertawa.


" Kau terdengar begitu bersemangat ? " ucap Daniel.


" Ya , itu karena telepon darimu " jelas Elin yang tidak berhenti mengulum senyumannya.


" jangan menggodaku sayang , sekarang kamu dimana ? " tanyanya.


" Masih di Parsons dan baru saja ingin pulang "


" Kau dimana ? " tanya balik Elin sambil melanjutkan langkahnya menuju area parkir.


" Di depan pintu masuk Parsons School " jawab Daniel begitu santai , Elin menghentikan langkahnya karena begitu terkejut dengan ucapan Daniel " jangan bercanda Daniel " ucapnya tak percaya.


" Jika kau tidak percaya maka kemarilah "


" Baiklah , kalau kau berani membohongiku maka kau akan tahu akibatnya ..."


" tapi jika aku tidak berbohong kau yang akan menanggungnya sayang " sahut Daniel tertawa , " Cepatlah kemari , aku sungguh muak menjadi bahan pertontonan semua murid perempuan di kampusmu " lanjutnya lagi , membuat Elin semakin mempercepat langkahnya.


Dan setelah tiba di pintu masuk , matanya benar benar menemukan kerumunan perempuan yang hampir menutupi pintu gerbang besar Parsons School.


" Permisi " ucapnya begitu kesal dan memaksa menerobos kerumunan itu untuk memastikan kebenaran perkataan Daniel.


Matanya membesar saat melihat pemuda Gagah dengan pakaian formal yang sedang berdiri di sisi mobil dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya , mata Elin kembali melihat kearah sekitar dan menemukan mata semua perempuan yang sedang menatap kagum kepada sosok laki laki yang terlihat begitu gagah dan tampan yang berdiri di ujung jalan, sekejap hatinya memanas , ia sangat benci ketika miliknya di inginkan orang lain.


Elin berjalan begitu cepat menuju Daniel yang terlihat sedang sibuk dengan benda pipihnya , semua perempuan itu harus tahu kalau lelaki tampan yang kini sedang berdiri di hadapan mereka sudah memiliki kekasih.


" Apa kau sedang menebar pesonamu disini ? " ucap Elin kes membuat Daniel mengalihkan pandangannya.


" Hay sayang " ucap Daniel dan langsung menarik tangan perempuan itu untuk masuk ke dalam pelukannya , " aku benar benar merindukanmu " ucapnya lagi dan mencium puncak kepala Elin bersamaan.


Mata Elin melirik ke arah kerumunan perempuan yang belum beranjak dan ia tersenyum begitu puas saat melihat wajah kecewa dan marah mereka yang sedang menatap ke arah dirinya dan Daniel , " Aku juga merindukannmu sayang " ucap Elin yang ikut membalas pelukan Daniel begitu erat dengan senyum bangga dari bibirnya.


" Setelah ini jangan pernah berkhayal untuk lebih dari sekedar mengagumi kekasihku " gumamnya kesal namun terus tersenyum dengan memperat pelukannya , wanita polos itu akan benar benar berubah ketika miliknya mencoba di ganggu orang lain.


jangan lupa vote , like dan coment🤗


dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚