
" Sayang ayo.. " seru Daniel di ujung pintu. Sudah hampir sepuluh menit ia bertahan disana, menanti permaisurinya yang tak kunjung berakhir dari hadapan cermin.
" sebentar", kata Elin membalas. Mendekatkan dirinya kehadapan cermin, untuk memastikan usahanya tak sia-sia.
" tolong jangan menampakan diri ", katanya lagi dengan sedikit menarik nafas, lalu beranjak dari hadapan cermin.
" Ayo " serunya seraya menggapai tangan yang sedang terulur ke arahnya.
" Apa yang kau lakukan ? ".
" Hmmm " Elin mendongak. Lalu melihat Daniel menunjuk ke arah lehernya. Ia berdelik, " kau meninggalkan noda disana. Aku tak cukup kuat mendengar Green dan semua orang menggoda kita, jika aku tidak menutupinya ", jelasnya, tersirat nada prustasi disana.
Bukannya ikut prihatin justru Daniel tergelak, " kenapa aku hanya meninggalkan satu ", katanya pelan, dan itu berhasil membuat dirinya menerima tatapan tajam, " aku hanya bercanda sayang ", katanya merayu seraya merangkul tubuh kecil istrinya.
" Bisakah, kita berjalan lebih pelan sedikit ? "
Daniel menoleh cepat mendengar itu," masih sakit ? " tanyanya.
" Emm, tidak begitu. Tapi sedikit tidak nyaman jika terus bergesek " sahut Elin menjelaskan. Ia mencoba untuk tidak membuatnya berlebihan, tapi sungguh rasanya tidak mengenakan. Ia benar-benar harus berupaya mengatur langkahnya pagi ini.
Daniel tiba-tiba berjongkok di hadapannya, " naiklah ", pintanya.
Elin terkekeh, " sungguh tidak lucu sayang. Semua orang akan menggoda kita sepanjang hari, aku tidak apa-apa ".
" Naiklah ! " pinta Daniel, yang terdengar sedikit lebih memaksa dari sebelumnya.
" Aku sungguh tidak apa-apa ".
Daniel seperti tak peduli. Ia menarik tangan Elin untuk tetap memaksa perempuan itu naik ke punggungnya, " semua orang akan mentertawakan kita ", ujar Elin, yang kini justru memeluk erat pundak suaminya.
" Aku tidak peduli. Yang terpenting istriku tidak kesakitan ".
" Aku tidak sesakit itu, Daniel ".
" Intinya kau sakit. Dan itu karena aku ".
" Kenapa karena kau saja. Bukankah kita berdua yang melakukan " balas Elin, yang kemudian tertawa. Dan Daniel ikut tertawa," Peluk aku lebih erat " titahnya.
Elin mengangguk, " sudah suami ", katanya lantang, setelah tubuhnya semakin merapat pada tubuh suaminya itu. Tangannya memeluk erat, sedikit lebih erat lagi. Di pastikan Daniel akan tercekik.
Mereka tidak berhenti bercanda, sepanjang Elin memeluk erat punggung besar suaminya itu. Tak ingat jika tempat yang sedang mereka tuju kini telah berada di hadapan mereka.
" Wow, mesra sekali pengantin baru ", seru seseorang yang membuat mereka seketika tersadar.
Elin menepuk kecil pundak Daniel, memberi isyarat untuk lelaki itu menurunkan tubuhnya saat itu.
Wajah paginya yang cerah, kini sedikit merona oleh rasa malu. hampir semua orang kini memandang kearah mereka, Dan lebih menyebalkan adalah senyuman semua orang itu.
" Kalian sangat terlambat bung ", seru Nathan, melayangkan tatapan jail pada Daniel. Dengan bibir yang terlipat menahan senyum.
" Kau seperti tidak mengerti saja Jo ", kata Alfin menyambung. Dua saudara yang begitu cocok memang. sedikit di sangsikan jika Alfin hanya anak angkat di keluarga Vernandes, jika mengingat ada banyak sifat yang sama antara dua saudara yang di pertemukan saat besar itu. Terutama dalam hal menggoda orang lain, itu kesamaan yang paling mencolok dari semuanya.
Hampir semua orang tertawa pada saat itu. Bahkan manusia-manusia yang datang dari New York seolah sudah begitu memahami bahasa Indonesia dengan baik, mereka tidak memandang heran ketika Vernandes Brother menggoda Elin dan Daniel. Justru ikut tertawa dengan kencang. Hanya satu dari semua orang yang tak tertawa, ia hanya tersenyum canggung dan melanjutkan makan paginya dengan damai.
" Apa makanan disini tak cukup membuat kalian kenyang huh ", pekik Elin memandang kesal. Bukannya mengibah, semua orang justru semakin tertawa melihat wajah cemberutnya. Dan tawa Green terdengar paling besar dari antara semuanya.
" Cup cup cup, kemarilah ", kata Green seraya melambaikan tangannya. Meminta sepasang pengantin baru itu untuk duduk di kursi yang kosong di meja yang sama dengannya dan Nathan, dan juga Amel dan Alfin. Serta putri kecilnya yang kini berada di dalam pangkuannya, untuk menikmati sarapan dari telapak tangannya.
Green memandang penuh selidik. Memperhatikan lekat-lekat pada setiap kaki Elin melangkah. Dengan bibir yang terkulum menahan senyuman, " yess ", serunya pelan.
" Kenapa ? " tanya Elin ketika ia telah berada di samping perempuan itu, lalu duduk setelah Daniel membukakan kursi untuknya. Jantungnya berdegub ketika Green mencondongkan tubuhnya begitu dekat, " fix perawanmu sudah jebol tadi malam ", bisiknya, membuat Elin yang baru saja meneguk air putih. Kini harus membiarkan air itu tersembur keluar.
" Greeeen.. " teriaknya begitu kesal. Di tengah hampir semua orang yang kini melihat ke arahnya. Dan Green tertawa tanpa rasa bersalah sedikit pun.
" Ada apa sayang ? ", kata Daniel bertanya, seraya menyapu dengan tissue sisa air di mulut perempuan itu. Bahkan ia tak peduli dengan lengan bajunya yang justru lebih basah karena hamburan air.
" Kau cukup beruntung karena pagi ini aku merasa mual dan pusing Lin ", ujar Amel dari tempat duduknya. Wajah pucatnya terlihat dengan jelas. Dengan tangan Alfin yang tak jauh dari puncak kepalanya.
Green semakin tertawa mendengar itu.
" Iya, aku berdoa semoga sepanjang hari kau terus seperti itu ", kata Elin tanpa sadar. Kekesalannya berhasil menyumpai sahabatnya itu. Tapi ia tak merasa bersalah melakukannya, rasanya itu cukup adil. Mengingat jika keadaan perempuan itu baik-baik saja. Tentunya, sepanjang hari akan menjadi neraka untuknya. Dua saudara ipar yang begitu cocok. Ntah garis kehidupan seperti apa yang Tuhan ciptakan untuk kedua sahabatnya itu, yang kemudian menikah dengan dua saudara yang juga mempunyai sifat yang sama dengan mereka. Sebuah keluarga besar yang menakjubkan memang.
Amel bangun dari duduknya, " sampai hati kau mendoakan aku begitu Elin ", katanya dengan suara yang begitu kecil. Padahal sebelumnya ia ingin berteriak, tak menerima sahabatnya itu menyumpainya. Tapi tenaganya tak cukup kuat untuk melakukan itu. Karena setelahnya ia beranjak dengan tergesa-gesa menuju wastafel.
Yang paling bahagia disini justru sepertinya Green. Ibu satu anak itu tak berhenti tertawa sejak tadi, di ikuti suaminya.
" Mama Yin " panggil Naina, yang bergerak turun dari pangkuan ibunya, lalu bergerak ke arah Elin. Meminta perempuan itu untuk membawanya ke dalam pangkuan, " kemarilah ", pinta Elin seraya menepuk pahanya.
" Jangan ", pekik Daniel tiba-tiba. Semua orang yang berada di meja yang sama dengan mereka kini menatap heran, " Naina jangan duduk di situ. Naina disini saja bersama papa ".
" Kenapa ? ", tanya polos putri kecil Green.
Elin menarik nafas dalam-dalam. Mencoba untuk tetap sabar berada di meja sarapan pagi ini. Dan pagi ini, kedua kalinya ia memandang hambar pada makanan enak di hadapannya. Pertamanya dulu, setelah ia merasakan rasa kehilangan yang luar biasa. Tapi saat itu memang tidak memiliki keinginan sama sekali untuk makan. Berbeda dengan hari ini. Perutnya lapar, tapi mendadak kenyang oleh godaan yang bertubi-tubi datang padanya.
Dalam hal ini, ia tidak bersyukur memiliki sahabat seperti Green dan Amel.
~
" Tidak bisakah satu hari lagi kalian disini " titah Elin, matanya sendu menatap beberapa orang yang sedang bersiap untuk pergi.
" Kalau bisa justru aku ingin satu minggu lagi ", seru Bim bim menyambung. Lalu tertawa ketika Daniel melihat ke arahnya, " aku hanya bercanda Tuan ".
" Kau sungguh akan bekerja lagi ? " tanyanya pada Elin.
" Tentu Bim. Kau jangan lupa, aku masih menjadi karyawan magang disana " ujarnya sembari memeluk tubuh lelaki sedikit kemayu itu, " sampai bertemu di kantor ", katanya lagi dan Bim bim mengangguk," kau memberikan jamuan yang luar biasa ", ucapnya, seraya melepas pelukan mereka.
" Itu sungguh bukan dari aku", jawab Elin menatap serius. Sungguh tidak ada kebohongan disana. Semua yang di hadirkan untuk para tamu undangan dari New York itu, adalah jamuan yang di hadirkan dari Viona. Ia sungguh tak punya waktu untuk menyiapkan itu semua. Tapi Bim-bim seakan tak percaya. Lelaki itu hanya mengangguk sambil mencebir bibirnya.
Lalu Elin memeluk singkat Frans. Mengucapkan kata terimakasih atas kedatangan lelaki itu dan kemudian berpindah pada seseorang yang sejak tadi sibuk dengan dunianya sendiri. Hanya tersenyum ketika di perlukan, " terimakasih David. Sampai jumpa nanti di tempat kerja " ucapnya tersenyum. ia tak punya keberanian untuk memeluk tubuh lelaki itu seperti yang lainnya. Ada beberapa alasan yang hampir semua orang disana cukup mengerti. Bahkan lelaki itu sendiri.
" Aku yang harusnya berterimakasih Elin. Sekali lagi selamat atas pernikahanmu ", kata lelaki itu membalas jabatan tangannya. dia tersenyum, senyum teduh yang bisa di artikan pengrelaan. Tersirat ada sesuatu yang sudah di ikhlaskan disana. Seperti itu lah saat ini Bim-bim mengartikan senyuman lelaki itu.
" Lin apa kau setuju jika aku bersamanya ? " pekik Sharen yang tiba-tiba bergabung. Dengan tangan yang merangkul tanpa permisi pada lengan David, " tentu", sahut Elin cepat. Meski sekilas ia mendapati tatapan terkejut dari lelaki itu sendiri.
" Kalian sangat cocok. Sama-sama pekerja kerasa. Cantik dan tampan " sambungnya. Sharen tertawa mendengar itu, " kau pintar sekali menyenangkan aku ", ujarnya, melepas tangannya dari lengan David, lalu memeluk tubuh Elin, " sayangnya dia tidak menyukaiku ", bisiknya tertawa.
" Berusahalah lebih keras kalau begitu ".
" Hemm " sharen mengangguk, " tapi sepertinya kau meninggalkan noda yang besar di hatinya ", sambungnya.
" Kalau begitu cari deterjen yang bisa melunturkannya ", sahut Elin. Sharen tergelak, lalu memeluknya semakin erat, " aku tidak sabar bertemu dirimu kembali ".
" Aku juga "
" Sampai bertemu di New York Sharen "
" Ya Mrs. Remkez ".
Hannah tidak kunjung melepas pelukannya pada Elin, setelah juga melakukan hal yang sama pada Green dan Amel.
" Sayang kalian akan bertemu lagi nanti ", ujar Mike, yang sedikit tertawa dengan tingkah perempuan yang sudah resmi menjadi tunangannnya tadi malam.
" Aku tahu. Tapi aku tidak ingin pergi. Disini terlalu menyenangkan ".
" Kalau begitu tinggalah " kata Elin menimpali.
" Perkataanmu membuatku hancur ", rengek Hannah yang kini kembali berurai air mata, " cup cup, kita akan segera bertemu lagi Hannah " balas Elin yang justru tertawa.
Semua orang kini sudah bersiap kembali ke New York. Setelah pelukan terakhir Elin di layangkan pada Vale. Dan sampai saat ini Hannah masih terus menangis.
" Sampai bertemu lagi semuanya ", ucap orang-orang itu, sebelum masuk ke dalam mobil yang akan mengantar mereka ke bandara. Dan saat itu semua orang hampir tersenyum. Namun dengan tatapan yang sendu. Bahkan Green berulangkali mengusap matanya. Memang setelah kebersamaan selalu menjadi hal yang paling di benci adalah ketika seperti ini. Berpisah.
" Kunjungi kami di New York " seru Bim-bim, Dan Green mengangguk dengan semangat. Ntah sejak kapan mereka menjadi begitu saling dekat. Tidak ada satu pun yang tidak menjadi teman setelah pertemuan di dalam pernikahan Elin.
" Sampai bertemu ", seru mereka saling membalas. Dengan semua mata yang hampir berkaca-kaca. Bahkan Elin sudah membenamkan wajahnya di dada Daniel. Tadi ia tidak merasa begitu sedih. tapi saat melihat semua orang masuk ke dalam mobil, perasaan itu membesar luar biasa.
" Tunggu. Bukannya hari ini kau juga pulang ? " ujar Daniel pada Meili yang berdiri di dekatnya.
" Adikmu membatalkan kepulangannya Daniel ", seru Viona. Melemparkan pandangan penuh arti dengan bibir yang terkulum. Berbeda dengan Meili yang kini hanya diam tanpa jawaban. Tapi yang jelas wajahnya memerah saat itu.
" Kenapa ? ",
" Kau mengusirku ? " sahut Meili, " memangnya kenapa kalau aku masih disini.. "
" Ada apa kau masih disini ? " kata Daniel penuh selidik, ia seperti tidak memahami apa yang tengah terjadi pada adiknya, bahkan sebelum Meili selesai berbicara. Perempuan itu terhenyak sesaat. Sementara semua orang kini tersenyum.
Dan tiba-tiba Hannah kembali dengan tergesa-gesa, " ada apa ?, apa kau melupakan sesuatu ?", kata Green bertanya.
Perempuan itu menggeleng dengan nafas yang tersengal, " ini bungamu " katanya pada Jerry. Memberikan bunga pengantin yang sudah rusak, bahkan nyari hancur.
" Aku memberikan kembali padamu ", sambungnya, yang kemudian tersenyum penuh arti. dan setelah itu ia kembali belari menuju mobil, " semoga bunga pengantin itu juga memberi keberuntungan untukmu ", serunya, sebelum akhirnya benar-benar menghilang masuk ke dalam mobil.
Jerry masih berdiri terpaku. Ia cukup terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Tapi pandangannya tanpa sadar mencari seseorang. Dan beruntungnya pandangannya saling bertemu, pada mata yang tepat.
Sesaat mereka saling menatap, lalu beralih ketika tak cukup sanggup menyembunyikan rona pada pipinya masing-masing.
Green selalu menjadi orang pertama yang menyadari sesuatu, " mawar akan tumbuh, meski di atas tanah perang sekali pun. Cocok sekali saat ini " katanya sambil berlalu di hadapan Jerry.
Kalimatnya benar-benar tepat, mengingat saat ini hampir semua orang menangis karena perpisahan. Sementara dua orang manusia, kini tengah merasakan jatuh cinta.