
Telepon Green baru saja berakhir. Namun tidak dengan kecemasan Elin.
Handphone masih terus di tangannya, tidak sedikit ia berniat meletakkan benda itu.
Drrttt drrttt
Benda pipih itu kembali berdering, membuat sang pemilik dengan cepat melihat ke arah layar.
" Ya Green " jawabnya lemah, mengetahui yang kembali membuat handphonenya berdering adalah perempuan itu, " kau yakin aku tidak kesana ? "
" Ya Green, aku sungguh baik-baik saja "
" Baiklah, tapi kau harus berjanji. Jika membutuhkan sesuatu kau akan menghubungiku ".
" Ya.. "
" Istirahatlah, jangan terlalu di pikirkan. Oke " kata Green sebelum kembali mengakhiri teleponnya, " semua pasti akan baik-baik saja " tambahnya lagi. Dan Elin mengangguk tanpa bersuara.
Baru saja Elin menjauhkan handphonenya dari kupingnya. Benda pipih itu kembali berdering, " ya Green " jawabnya tanpa melihat ke layar handphone.
" Green.. " ulang suara berat dari balik telepon. Dan itu berhasil membuat mata sendu Elin kini terbuka lebar, " sayaaaang " pekiknya begitu girang.
" Akhirnya kau menghubungi aku " sambungnya menahan tangis.
Daniel yang berada di balik telepon kini terkekeh, " apa kau segitunya menunggu kabar dariku ".
" Tentu " sahut Elin cepat, " kemana saja ?, Kenapa baru sekarang menghubungiku huh. Aku disini tidak bisa tenang karena kau belum menghubungiku " cercahnya tanpa henti. Membuat garis senyum Daniel melengkung dengan sempurna, meski tak terlihat dari Elin.
" Maaf sayang. Pesawatku harus berhenti sebentar di Singapore karena ada masalah di mesinnya dan selama disana aku terus menyelesaikan pekerjaanku, jadi... "
" Tapi kau baik-baik saja ? " potong Elin, nada suaranya kembali terdengar cemas.
" Aku baik-baik saja sayang " sahut Daniel begitu lembut.
" Ah syukurlah " seru Elin dengan menarik nafas legah, " aku hanya takut terjadi apa-apa denganmu ".
" Aku baik-baik saja sayang " sambung Daniel, " maaf aku harus menutup teleponmu, pertemuan sudah menungguku ".
" Ya tidak apa-apa, jaga dirimu "
" Kau juga, disaat waktu senggan aku akan menghubungi ".
" Yaaa "
" I love you " ucap Daniel, yang terdengar begitu lembut.
" I love you to Daniel, jaga dirimu dan jangan melewati waktu makanmu. Aku tidak ingin kau terlihat kurus di hari pernikahan kita "
" Kalimat itu membuat aku begitu bersemangat " sahut Daniel begitu senang. dan Elin tersenyum dari tempatnya, " Bye sayang ".
" Bye sayangku " tutup Daniel.
Ting
Elin tersentak saat tiba-tiba sebuah pesan masuk ke dalam handphonenya, ketika telepon bersama Daniel baru saja berakhir.
Namun bibir seksi miliknya kembali melengkung saat mendapati bahwa lelaki itu lah yang baru saja mengirim pesan padanya.
" Ceh " decihnya tertawa kecil saat melihat lelaki itu mengirim gambar wajahnya sendiri, " kenapa dia begitu narsis ".
" Aku sungguh merindukanmu " tambahan pesan dari Daniel.
Bibir Elin melengkung sempurna, serta perasaan yang begitu gemas, " aku juga merindukanmu, bahkan sangat " tulisnya pada gambar dirinya yang baru saja di kirim pada Daniel, " cepat kembali, oke " tambahnya lagi.
****
Beberapa hari sudah berlalu sejak Daniel Remkez kembali ke New York, dengan semua orang yang kini terlihat semakin sibuk untuk meyiapkan rencana mendadak pernikahan pangeran kota itu.
Dan selama itu juga Elin terkurung di rumah tanpa di izinkan untuk kemana-mana lagi, bahkan untuk mengunjungi menantu keluarga Vernandes pun kini sudah tidak lagi di izinkan, hanya Green yang terus datang dengan sesekali bersama Amel.
Terkecuali hari ini, dimana Elin harus mengujungi desainer yang akan merancang kebaya pernikahannya, dan itu pastinya akan di temani oleh kedua menantu keluarga Vernandes.
" Bu, apa Elin ada di kamarnya ? " seru Green pada Mala.
" Hemm ya. Apa kalian sudah akan pergi ? " tanya Mala mendekat.
" Ya bu, lebih cepat lebih baik "sahut Green.
" Hemmm.., berhati-hatilah membawa mobilnya Green ".
" Tentu Bu, yang aku bawa adalah calon permainsuri pangeran kota New York " sahut Green terkekeh, membuat Mala ikut tertawa, " kau baik baik saja hari ini mel ? " tanyanya pada perempuan yang berdiri di belakang Green, " hari ini baby ku sepertinya bersahabat bu " balas Amel tertawa kecil.
" Itu karena dia tahu, bahwa memilih baju adalah hobi ibunya " timpal Green mendengus, membuat Amel semakin tertawa.
" Kalian sudah datang ? " sery seseorang, bersama suara anak langkah menuruni anak tangga, " apa kau bisa mencium kedatangan kami ? " balas Green. Membuat Mala yang mendengar menggelengkan kepalanya.
" Kau kira aku kucing " cercah Elin, " Volume suaramu itu yang membuat aku tahu " tambahnya.
" Benarkah ? " sahut Green dengan santai, " apa kau sudah siap ? "
" Apa kau tidak melihat, bahkan aku sudah menenteng tasku ".
" Sengaja saja ingin basa-basi " sahut Green, " tapi kau kenapa menjadi begitu sewot akhir-akhir ini huh ".
" Itu karena aku lagi mens "
Mendengar itu mata Green membesar dengan bibir yang menahan senyum, " wah kasih sekali kak Daniel " ucapnya, membuat Amel juga tertawa.
" Apanya yang kasihan, beberapa hari lagi juga sudah selesai " sahut Elin tanpa sadar, " Eh.. " pekiknya ketika menyadari Mala masih berada di antara mereka. Dan itu membuat Green dan Amel tertawa dengan keras, begitu pun Mala. Berbeda dengan Elin yang kini sudah mematung dengan wajah yang memerah padam.
" Jangan khawatir Ibu sudah memaklumi saat ini " ucap Green menggoda Elin, membuat Mala akhirnya benar-benar tertawa.
" Bu, kami pergi dulu " pamit Elin dengan sisa perasaan malu pada wanita paruh baya itu, " hemm.. berhati-hatilah. Jangan lagi kemana-mana jika sudah selesai oke " ucap Mala.
" Apa kalian dulu seperti aku ini huh ? "
" Maksudmu ? " tanya Amel.
" Terkurung tidak bisa kemana-mana ? " katanya menjelaskan.
" Tentu, bahkan kita tidak bisa bertemu beberapa hari saat itu " sahut Green dan Amel mengangguk, " aku juga "
" Jangan mengeluh, ikuti saja " ucap Green dengan bibir yang menahan untuk tertawa.
****
Amel begitu bersemangat ketika mobil Green telah terparkir di sebuah gedung mewah milik salah satu perancang terkenal negara ini.
" Aku tidak sabar " ujarnya tersenyum senang, wajahnya berbinar, sangat berbeda dengan kondisinya beberapa jam yang lalu, yang terlihat lunglai dan pucat.
" Hati-hati Mel. Aku yang akan di marahin semua orang kalau terjadi apa-apa denganmu " seru Green ketika perempuan itu begitu tergesa-gesa turun dari dalam mobil.
" Berat sekali beban aku hari ini " ratapnya dengan menghela nafas, membuat Elin yang masih berada di kursi belakang tertawa, " Resiko menjadi yang tertua ya seperti itu, Green " ujar Elin, sambil ikut bergerak keluar.
~
Elin terdiam sejenak, menatap dirinya di dalam balutan kebaya putih di hadapan cermin. Tiba-tiba ada perasaan berbeda yang tidak bisa ia ungkapkan saat ini.
Detak jantungnya berdebar lebih cepat, " benarkah aku akan menikah " gumamnya pelan, dengan bibir yang tersenyum begitu teduh.
Perlahan langkah kakinya bergerak dari hadapan cermin, lalu keluar dari dalam ruang ganti, " Green, Mel " panggilnya pada dua perempuan yang tengah sibuk dengan urusannya masing-masing.
" Liiin... " panggil Green dan Amel bersamaan, Mata coklat milik Green kini membulat, menatap penuh kagum pada Elin, " kau begitu cantik " pujinya, dengan Amel mengangguk, menyetujui apa yang di ucapkan saudara iparnya itu, " sangat cantik " tambahnya.
" Kalian yakin ? " tanya Elin dengan tertawa.
" Hemmm..., Model seperti ini sangat bagus di tubuhmu " kata Green mendekat, " dan aku yakin kak Daniel juga pasti akan suka " tambahnya lagi.
Mendengar itu Elin terkesiap, " kalau begitu tolong fotoin aku. Aku ingin tahu bagaimana pendapatnya " pinta Elin, sambil menyodorkan handphonenya pada Green.
" Kau duduk saja Mel " sambungnya. dan tentunya perempuan itu setuju.
Beberapa menit sudah berlalu dari Elin mengirim gambar dirinya kepada Daniel. Namun tak kunjung ada balasan, " sepertinya dia begitu sibuk " gumamnya dengan sedikit menghela nafas.
" Apa kata kak Daniel ? " tanya Green ikut tidak sabar.
" Dia saja belum membaca pesanku "
" Tunggu saja kalau begitu. Kalau nanti dia tidak setuju kita tinggal kembali lagi " sahut Green, dan Elin mengangguk,sambil beranjak untuk kembali menuju ke kamar ganti.
Drrrttt drrrttt
Handphone Elin berdering, membuat pemiliknya kini tersenyum sambil bergerak cepat menjawab panggilan video yang masuk, " hai sayang " sapanya, dengan langkah yang kini berhenti.
" Hai cantik " balas Daniel tersenyum manis.
Pipi Elin sekejap memerah, " apa kau sudah melihat pesanku ? "
" Tentu, itu sebabnya aku langsung menghubungimu "
" Kau suka ? " tanya Elin langsung.
Lelaki itu terdiam sejenak dengan gaya sambil berpikir, " Emmm... ".
" Apa kau tidak suka. Aku bisa mengganti dengan model yang lain ? ".
" Sangat suka ? " balas Daniel cepat, " bahkan aku sampai ingin kembali ke Indonesia sekarang juga ".
" Ceh " decih Elin tersenyum, " Kau sungguh suka ? " tambahnya, untuk meyakinkan bahwa pilihan untuk baju pernikahannya nanti, benar-benar di sukai oleh lelaki itu, " sangat sayang " balas Daniel bersungguh-sungguh.
" Baguslah kalau kau suka. Jadi aku tidak perlu mencari model yang lain ".
" Hemm... "
" Apa kau di kantor ? " tanyanya lagi, saat kembali mengamati keadaan tempat Daniel berada, " ya sayang, tapi sebentar lagi aku harus pergi ".
Elin kini kembali terdiam, " ya, jaga dirimu baik-baik " ucapnya lemah, dengan perasaan yang tiba-tiba menjadi begitu khawatir, di tatapnya lebih lamat pada wajah yang berada di balik layar benda pipih di tangannya, " apa kau tidak tidur ? " tanyanya lagi, " kau terlihat begitu lelah sayang " sambungnya dengan menatap penuh cemas. Namun lelaki yang berada di seberang panggilan justru tersenyum manis padanya, " aku biak-baik saja sayang. Memang sedikit melelahkan, tapi tak apa. Demi aku cepat kembali dan kita segera menikah " katanya, dengan senyum yang semakin mengembang.
" Jangan begitu. Justru kau membuatku khawatir disini.. " ucap Elin lemah.
" Aku baik-baik saja sayang " ulang Daniel sangat lembut, " dan aku punya berita yang baik " sambungnya lagi, dengan senyum yang tersimpul dengan semakin manis.
" Apa ? "
" Emmm.. sepertinya aku akan kembali besok lusa sayang "
Mendengar itu mata Elin membulat sempurna, " kau yakin ? ".
" Hemm.., tentunya jika tidak ada hambatan, tapi aku sangat yakin "
Elin menarik nafas dengan tersenyum manis, " semoga memang begitu " katanya, wajah sendunya kini berbinar.
" Ya itu berarti, tinggal menghitung hari kita akan segera menikah " ucap Daniel dengan wajah yang tak kalah bahagia, bahkan sangat bahagia, " kalau begitu sampai bertemu sayang, jaga dirimu baik-baik dan jangan terlalu lelah ".
" Hemm.. kau juga, sampai bertemu disini sayang " balas Elin tersenyum, lalu mengakhiri sambungan panggilan mereka.
Green dan Amel merapat pada Elin ketika perempuan itu telah selesai menerima panggilannya, " kak Daniel sudah akan pulang ? " tanya Green dan Elin mengangguk dengan garis senyum yang belum memudar dari bibirnya.
" Syukurlah " ucapnya lagi, " kalau begitu kita benar-benar tidak punya waktu lagi " cercahnya menjadi kalang kabut.
" Kenapa kau yang menjadi begitu repot Green. Yang mau menikah saja masih begitu santai " sergah Amel tertawa. Sementara Green sudah membesarkan kedua matanya, " Bagaimana bisa santai kalau pernikahannya tinggal berapa hari lagi huh, mana mungkin aku bisa duduk dengan tenang disini " pekiknya.
" Beruntungnya kau tengah hamil " sambungnya pelan. dan tiba tiba Elin memeluknya begitu erat, " Terimakasih sudah mau di repotkan Green.. " ucapnya begitu lembut, dengan bibir yang tersenyum sangat manis pada perempuan itu.
" Ceh, menggelikan " sahutnya, " merepotkan memang, bisa bisanya kau membuat pernikahan mendadak seperti ini " sambungnya lagi. Namun dengan bibir yang ikut tersenyum.