
Semua orang menundukan kepalanya saat perempuan muda berjalan dengan begitu cepat masuk kedalam gedung perusahaan milik keluarga Remkez.
" Selamat sore Nona ? " sapa salah satu karyawan dan Meili hanya tersenyum lalu kembali melanjut kan langkahnya menuju pintu lift.
" Nona muda " panggil seseorang lagi dan Meili segera membalikan tubuhnya karena sangat mengenali suara itu " Baguslah aku bertemu denganmu disini " ucap Meili mengehela nafas saat mengetahui yang menyapanya adalah Reza.
" Ada apa Nona datang kemari ? " tanya Reza berjalan mendekat pada Meili.
" Dimana Daniel ? " tanyanya.
" Tuan , sedang bertemu kliennya Nona "
" Kapan pertemuan itu berakhir ? " tanyanya lagi
" Mungkin satu jam lagi "
" Aku akan menunggu di ruangannya " ujar Meili yang kembali berjalan menuju lift.
" Baik Nona muda , saya akan meminta petugas untuk membawakan makanan untuk anda "
" Ide bagus Reza , aku memang sedang sangat lapar " sahut Meili tersenyum " Apa ada makanan yang anda inginkan " tanya Reza kembali.
" Bisa berikan aku Kuah Kerang Mahattan ? "
" Baik Nona "
" Terimakasih Reza " ucap Meili kemudian melanjutkan langkahnya menuju ruang kerja Daniel.
" Ada apa ini ? " gumam Reza yang masih melihat ke arah punggung Meili meski hampir menghilang dari balik pintu lift , sesaat Reza masih terdiam sambil terus berpikir apa yang sedang terjadi antara kakak beradik itu , karena sangat jarang Meili datang ke kantor , apalagi hanya datang karena alasan ingin bertemu dengan Daniel , namun Reza kembali melanjutkan langkahnya dan tidak memperdulikan masalah orang lain , meski sebenarnya dia masih begitu penasaran.
~
Daniel baru saja menyelesaikan pertemuan pentingnya bersama klien , walau sepanjang pertemuan tadi , ia terus berusaha menyimak dengan baik , apa yang sedang di bicarakan dan itu juga terbantu karena keberadaan Reza , yang mengerti kalau kondisi Tuannya sedang tidak baik.
" Nona Meili sedang menunggu anda di ruangan " ucap Reza dengan hati hati " Meili " ulang Daniel dan Reza mengangguk.
" Mau apa dia datang kemari ? " gumam Daniel , lalu berjalan lebih cepat menuju ruang kerjanya dengan Reza yang setia mengikutinya di belakang.
~
Daniel baru saja masuk ke dalam ruang kerjanya , namun satu benda kecil hampir saja menghatam kepalanya dan beruntungnya bisa ia hindari ,
" Apa yang kau lakukan Meili " teriak Daniel begitu kesal.
" Kau yang kenapa ? " balas teriak Meili.
Reza yang baru saja masuk , tak kalah terkejut dengan apa yang baru saja ia saksikan , " keluar Reza " ucap Daniel.
" Baik Tuan " jawabnya dengan segera pergi meninggalkan kakak beradik itu.
" Aku harap tidak terjadi pertumpahan darah " gumam Reza bergidik seraya menutup kembali pintu ruang kerja Daniel , dan memilih menunggu di depan ruangan.
~
" Apa maksudmu mengabaikan Elin ? " tanya Meili , sambil terus memperhatikan Daniel yang sedang berjalan menuju meja kerjanya " itu bukan urusanmu "
" Itu jelas urusanku , apa kau lupa ? Elin temanku " jelas Meili menjadi geram.
" Pergilah , aku sedang tidak ingin berdebat " ucap Daniel sambil menyadarkan tubuhnya di kursi dengan mata terpejam , " Memalukan " geram Meili.
" Jangan mencampuri urusan orang lain Meili " ucapnya lagi , dan membuka matanya , menatap pada Meili.
" Aku tidak akan mencampuri urusanmu , kalau saja itu tidak menyangkut sahabatku "
" Kau tidak ada urusan disini "
" Daniel " teriak Meili yang tidak lagi bisa menahan kesabarannya.
" Apa kau serendah ini sekarang ? " lanjutnya , dan semakin menajamkn tatapannya pada Daniel.
" Jangan berteriak ini bukan hutan Meili dan sekarang pergilah , aku masih mempunyai urusan yang lebih penting "
" Jelaskan padaku , Kenapa kau mengabaikan Elin , Daniel ? "
" Sudah aku katakan itu bukan urusanmu , dan jangan mencampuri urusanku " ucap Daniel yang sekarang ikut berteriak karena terpancing emosi.
" Ceh , kau sungguh memalukan " geram Meili .
" Kau pikir hebat menyakiti perasaan orang lain , tidak Daniel , justru yang kau lakukan lebih rendah dari apa yang di lakukan oleh Mike terhadapmu "
" Diam " teriak Daniel semakin murka , terlebih karena mengungkit Mike di dalam pembicaraan itu.
" Kau tidak tahu apa apa Meili " lanjutnya.
" Aku tahu segalanya , kau sangat mencintai Elin , dan sekarang mencoba menjadi pengecut dengan menghindarinya " sahut Meili tanpa ampun .
" Tidak ada lagi cinta itu " ucap Daniel pelan , namun sangat mengejutkan untuk Meili yang mendengarnya.
" Apa kau gila , siapa yang ingin kau bohongi "
" tidak ada , memang seperti itu sekarang , tidak ada lagi perasaan seperti itu terhadapanya " jelas Daniel " pergilah , aku sungguh sangat sibuk , dan jangan coba coba mengangguku lagi "
Meili masih terdiam di tempatnya dan menatap tak habis pikir pada Daniel " Apa yang kau katakan itu benar Daniel ? " tanya pelan namun pasti.
" Kau tahu aku tidak pernah berbohong " ucap Daniel.
" Aku benar benar membencimu Daniel , kau tidak ada bedanya dengan papi " ucap Meili menahan emosi namun butiran bening jatuh tanpa pamit di wajahnya " Pergi Meili " teriak Daniel.
" Jika aku tahu kau tidak pernah besungguh sungguh terhadap Elin , mungkin aku tidak akan pernah membiarkan dia untuk dekat denganmu dan membuatnya sedih seperti "
" Oh aku tahu sekarang , apa kau sedang membuatnya sebagai pelarian dari kekecewaanmu terhadap Hannah " lanjut Meili membuat Daniel terdiam.
" Sangat memalukan " Ucapnya lagi tanpa ampun dan di iringi senyuman dingin dari ujung bibirnya " benar benar sangat memalukan seorang Tuan Muda Remkez bertingkah laku begitu rendah dengan menyakiti perasaan wanita yang tidak bersalah "
" Kau tahu rasanya di kecewakan , lalu kenapa kau melakukannya pada orang lain "
" Aku tidak pernah membuatnya kecewa " bantah Daniel.
" Apa sekarang kau begitu bodoh , kau pikir meninggalkan begitu saja orang yang mencintaimu itu bukan sesuatu yang mengecewakan Daniel ? " kata Meili yang membuat Daniel benar benar terdiam.
" Kau salah , dia tidak mencintaiku , bahkan aku tidak akan pernah memiliki tempat di hatinya "
kata Daniel dengan penuh kecewa.
" Kalau dia tidak mencintaimu , dia tidak akan mencarimu dan tidak akan sedih hanya karena kau tidak memberi kabar padanya " jelas Meili semakin emosi.
" Aku sungguh kecewa padamu dan jangan pernah menyesal Daniel " ucapnya lagi, yang kemudian pergi begitu saja dari hadapan Daniel , bahkan ia membanting pintu dengan sangat keras sebelum benar benar meninggalkan ruangan itu.
Daniel benar benar terdiam setelah Meili pergi dari ruangnya , pikirannya saat ini benar benar berkecamuk , di penuhi dengan perkataan Meili.
" Tuan " panggil Reza yang baru saja masuk kedalam ruangan.
" Batalkan semua jadwal hari ini " pinta Daniel sambil melonggarkan ikatan dasi di kerah kemejanya " Baik Tuan " ucap Reza tanpa membantah , karena ia tahu saat ini kondisinya sangat tidak baik untuk bernegosiasi masalah pembatalan rencana bersama Daniel , jadi tidak ada pilihan lain selain menurutinya.
" Pergilah , tinggalkan aku sendiri " ucapnya lagi dengan kembali menyadarkan tubuhnya di kursi.
Setelah menatap sesaat pada Daniel , Reza segera pergi sebelum semuanya semakin runyam karena ia terlambat menuruti perintah Tuannya itu.
****
Meili yang masih berjalan dengan penuh emosi harus menghentikan langkahnya karena deringan telepon yang tiba tiba berbunyi dari benda pipih miliknya.
" Apa yang harus aku katakan padanya " gumam Meili setelah melihat nama panggilan Elin dalam layar handphonenya. " Ya lin " jawabnya dengan sedikit cemas.
" Kau dimana Meili ? "
" Emmm.. aku baru saja tiba dirumah " ucap Meili berbohong karena ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kalau dirinya masih berada di kantor Daniel.
" Ada apa ? " tanyanya lagi.
" Meili .. " panggil Elin menggantung dan membuat Meili semakin cemas " Ya , apa yang ingin kau katakan "
" Kau tahu.. " katanya lagi dengan menggantung.
" Ayolah Elin , apa yang sebenarnya ingin kau katakan padaku , jangan membuatku takut " ucap Meili kembali panik.
" Aku lulus " teriak Elin dari balik telepon.
" Maksudmu ? "
" Astaga , kau sungguh menyebalkan Meili " ucap Elin kecewa.
" Apa hasil dari Mr.Lois sudah keluar ? "
" Ya , tapi aku sudah tidak bersemangat untuk membahasnya " ujar Elin yang terdengar sangat kecewa dari balik telepon.
" Ayolah jangan seperti itu dan maafkan aku" ucap Meili bernafas legah karena ternyata kekhawatirannya salah.
" Kalau begitu mari kita berpesta untuk merayakannya "
" Itu berlebihan Meili "
" Tidak , tidak , segala keberhasilan harus di rayakan , jadi kau harus bersiap malam ini karena aku akan menjemputmu dan kita berpesta " kata Meili dengan begitu senang.
" Apa yang kau katakan ini benar Meili ? "
" Ya kita akan berpesta untuk merayakan hari keberuntunganmu dan ku harap kau tidak menyianyiakannya " jelas Meili bersemangat.
" Baiklah , Terimakasih Meili " ucap Elin yang tersenyum di balik telepon.
" Pestanya belum terjadi , jadi jangan dulu mengatakan terimakasih " ucap Meili tertawa.
" Itu bukan ucapan karena pesta , tapi ucapan karena kau sudah begitu baik untuk menjadi temanku " jelas Elin , membuat hati Meili menghangat " Tentu , orang baik akan di pertemukan dengan orang yang baik "
" jadi secara tidak langsung kau sedang mengatakan kalau dirimu orang baik " sambung Elin ikut tertawa.
" Ya , karena aku memang tidak pernah menyakiti orang lain " ucapnya pelan seraya menghela nafas.
" Baiklah sampai bertemu nanti malam , Bye Elin " Katanya lagi.
" Bye , Meili " balas Elin dengan sambungan telepon yang baru saja berakhir.
" Kau tunggu pembalasanku Daniel , kau memang kakakku tapi sahabatku tidak kalah penting " gumam geram Meili , lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju tempat mobilnya terparkir.
jangan lupa vote , like dan coment🤗
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚