Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Memulai Mimpinya


" Selamat pagi Tuan " ucap para pelayan saat melihat Tuan mudanya berjalan melewati mereka .


" Daniel " panggil Viona.


" Dimana Meili Mam ? " tanya Daniel sambil berjalan menuju Viona , " mungkin sedang di kamarnya , ada apa Daniel ? " tanya Viona begitu penasaran karena terakhir kali yang ia tahu hubungan kakak beradik itu sedang tidak baik , " tidak ada apa apa mam , hanya ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padanya " kata Daniel menjelaskan yang mengerti maksud dari raut wajah khawatir Viona.


" Good Morning " sapa Meili yang baru saja bergabung.


" Ada apa kau mencariku ? " tanya Meili dengan melihat ke arah Daniel , " emm sebelum kau melanjutkan bicaramu , ucapkan terlebih dahulu Terimakasih padaku " lanjutnya , " Kenapa aku harus mengucapkan terimakasih padamu ? " tanya Daniel bingung ,


" Kau tanya kenapa emm..? "


" Apa kau lupa , kalau bukan karena rencanaku , kau dan Elin tidak akan memiliki hubungan apapun sampai saat ini " katanya menjelaskan , " ceh " desis Daniel dengan sedikit tertawa , " kau bisa membahasnya nanti , sekarang katakan padaku , apalagi rencanamu sekarang ? "


" Rencana , aku tidak sedang merencanakan apapun " sahut Meili tak mengerti ,


" benarkah ? , lalu apa maksudmu membantu Elin menemukan perusahaan tempat untuk ia magang , kenapa kau tidak memintanya langsung padaku ? "


" aaaahhh , itu sudah keinginanku membantunya , jauh sebelum kalian memiliki hubungan dan aku rasa ia juga menginginkan itu " jelas Meili.


" Maksudmu ? "


" Harusnya kau tahu siapa kekasihmu Daniel , bahkan sampai saat ini aku rasa dia belum mengetahui siapa keluarga kita " jelasnya lagi , " dia bukan tipe wanita yang bangga dengan kekayaan kekasihnya dan biarkan semuanya menjadi surprise untuknya nanti "


" Bicara yang jelas Meili " ucap Daniel yang masih belum mengerti arah pembicaran Meili terkecuali tentang kekasihnya yang begitu polos , " aku akan menempatakan dia di perusahaan cabang "


" Tidak tidak , aku tidak setuju , kekasihku harus berada di tempatku "


" Maksudmu aku harus menempatkannya di perusahaan induk ? " tanya Meili dan Daniel dengan cepat menganggukkan kepalanya.


" Tidak aku sudah menentukannya , dia akan magang di kantor cabang sebagai Fashion Designer sesuai jurusannya "


" Semua atas seijinku Meili , aku kekasihnya dan aku yang paling berhak menentukan dimana kekasihku akan di tempatkan " ucap Daniel tidak mau kalah , " dengarkan baik baik kakakku tercinta , yang pertama aku memiliki bagian saham di perusahaan , yang berarti aku memiliki hak untuk mengaturnya tanpa seijinmu , yang ke dua aku sahabatnya , aku sudah mengenalnya jauh sebelum kalian bertemu , yang ke tiga aku rasa dia akan kecewa dengan ke egoisanmu yang menempatkan dia di tempat yang tidak tepat , kau sangat tahu bukan menjadi Designer adalah impiannya dan aku sedang membuka peluang untuknya , aku tidak akan mencegah jika kau masih ingin bersikukuh menempatkan dia di perusahaan induk, tapi aku akan pastikan dia akan sangat kecewa padamu " jelas Meili dengan bangga karena ia sangat tahu kalau Daniel akan menyerah ,


" Baiklah , tapi pastikan dia berada di tempat yang tepat " ucap Daniel menyetujui walau penuh dengan keberatan , " kau tidak perlu khawatir tentang itu , tapi satu hal yang harus kau tahu , aku tidak akan membuka identitasnya nanti "


" Kenapa ? , semua orang harus tahu dia kekasih Daniel Remkez , supaya orang lain tidak ada yang berani mengganggunya "


" Kau salah Daniel , justru dengan begitu orang lain akan meremehkan ke ahliannya dan memujinya hanya karena dia kekasihmu namun tidak akan ada yang kagum dengan hasil desainnya , biarkan untuk kali ini dia menjadi dirinya sendiri Daniel , inilah alasannya berada di kota New York , dan aku yakin kau akan sangat bangga dengan kerja kerasnya nanti dan dengan begitu ia akan percaya diri untuk berada di sisi orang sepertimu " jelas Meili , membuat Daniel tidak bisa lagi membantah , dan tanpa mereka sadari sejak tadi Viona terus mengamati perdebatan merek , " untuk kali ini mami setuju denganmu Meili dan sekarang pikiranmu terlihat jauh lebih dewasa dari kakakmu " ucap Viona tiba tiba.


" Bukan seperti itu mam , aku hanya khawatir dengannya " ucap Daniel membela diri.


" Justru itu pilihan yang aman , menjadi kekasih seorang Daniel bukanlah hal mudah nak , kita mempunyai banyak musuh di dalam berbisnis dan takutnya ia yang akan menjadi imbasnya nanti , orang orang akan mengincarnya termasuk fans wanitamu yang belum terima kau memiliki kekasih "


" Apa yang di katan Mami itu benar "


" Baiklah aku sudah menyetujuinya " sahut Daniel menyerah dari perdebatan dua wanita di hadapannya , " Mami harus bertemu kakak ipar nanti " ucap Meili menyambung .


" Ya , harusnya kakakmu sudah memperkenalkannya pada mami "


" Akan ada waktunya mam , kita harus pelan pelan membuat Elin mengerti siapa keluarga kita , karena jika Daniel membawanya ke hadapan mami sekarang , aku rasa dia akan pingsan , karena begitu terkejut " ucap Meili tertawa sambil mengingat wajah polos Elin.


****


" Kau nampak begitu cerah pagi ini ? " ucap Vale yang sejak tadi terus mengamati wajah berseri Hannah , " benarkah ? , mungkin itu hanya perasaanmu saja Vale , aku sedang tidak mengubah Skincareku jadi semuanya masih seperti biasanya " kata Hannah membantah namun dengan bibir yang terus melengkung sepanjang pagi ini , " lalu makanan ini mau kau bawa kemana nona Hannah ? " selidik Vale .


" emmmm... untuk temanku "


" Teman tapi mesra ! " sambung Vale tertawa.


" Kau sudah seperti detektif Vale "


" Tidak aku tidak perlu mencari tahu , karena sudah pasti ini untuk tuan Mike " ucap Vale membuat mata Hannah sedikit membulat , " jangan coba membantahnya " sambungnya lagi.


" Apa kalian sudah pacaran ? "


" emmm.. aku harus pergi " ucap Hannah , berkilah dari pertanyaan Vale.


" kau sudah membenarkannya "


" Aku tidak mengatakan apapun " kata Hannah yang masih berusaha untuk menyangkal karena masih begitu malu , " aku sudah bilang jangan mencoba menyangkalnya "


" Jadi benar kalian sudah pacaran ? " tanya Vale tidak percaya dan Hannah mengangguk pelan , " mungkin " jawabnya.


" kenapa mungkin ? "


" Karena belum ada pembicaraan tentang bagaimana hubungan kami sekarang "


" Lalu ? "


" Kami hanya kembali berciuman " ucap Hannah tanpa sadar namun segera menutup mulutnya ketika menyadari kesalahan mulutnya berbicara " Bye " pamitnya langsung dengan kotak makan di tangannya.


" Jadi kalian sudah berciuman , dimana dan kapan ? , apa kemarin sore saat kau berada di apartemennya , astaga Hannah itu sangat seksi " kata Vale menutup mulutnya dengan membayangkan kejadian Hannah dan Mike.


" Dasar Nona mesum " ujar Hannah tertawa.


" Aku pergi dulu " pamitnya lagi , dan membiarkan Vale dengan pikirannya.


" Jangan menyia-nyiakan kesempatan Hannah , aku rasa untuk hari ini kau harus membawa kontrasepsi " goda Vale , membuat Hannah kembali membulatkan matanya ,


" Kau benar benar Nona mesum " ucapnya pada Vale , sebelum kembali melanjutkan langkahnya menuju pintu.


****


" Meili , apa pakaianku berlebihan ? " tanya Elin yang baru saja keluar dari dalam kamar tidurnya , " tidak , kau masih tetap sangat cantik walau dengan pakaian formal seperti ini "


" Meil aku serius ? "


" Aku lebih serius , ayolah kau sudah hampir terlambat "


" benarkah ? , tunggu sebentar aku harus meminum obat penenang terlebih dahulu " ucapnya sambil menuju keran air minum di sisi dapurnya , " apa kau begitu gugup ? " tanya Meili tertawa dan Elin menganggukkan kepalanya.


" Ceh " desis Meili karena merasa begitu lucu dengan tingkah Elin , " ayo " ajaknya setelah merasa begitu siap dan selesai meminum obat penenangnya.


" Kau seperti ingin pergi perang " ujar Meili yang tidak berhenti tersenyum , " ini pertama kalinya untukku Meil , dan aku sangat gugup "


" Kau tenang saja , semuanya sudah sangat siap , selama menjadi karyawan magang kau hanya perlu melakukan tugasmu dengan baik "


" Terimakasih Meil , kau benar benar membantuku " ucap Elin.


" Your Welcome kakak ipar " sahut Meili tertawa membuat Elin menatap terkejut kearahnya , " ayo " ajak Meili dan Elin segera menyusul langkahnya.


~


Mata Elin menatap bingung saat melewati orang orang yang tiba tiba menundukan kepala ke arah mereka yang sedang berjalan di lobby sebuah kantor , " bisa bertemu Ms. Laurent " ucap Meili di meja resepsionis , " Ms.Laurent sudah menunggu ke datangan anda Nona "


" Baiklah terimakasih " ucap Meili yang kembali berjalan dengan begitu leluasa , berbeda dengan Elin yang terlihat begitu gugup dengan mata yang menatap bingung.


" Ayo Elin " ajak Meili saat melihat perempuan itu masih belum beranjak dari hadapan meja resepsionis.


" Selamat pagi Nona Laurent " ucap Meili tanpa mengetuk pintu dan segera masuk kedalam ruangan berukurang 5 x 6m , " Oh hay Nona mu.. " balas Laurent yang menggantung karena menatap mata Meili yang membesar ke arahnya.


" Elin perkenalkan ini teman saya Laurent yang akan menjadi pimpinanmu di sini " kata Meili memperkenalkan siapa Laurent , namun mata perempuan itu ikut membesar karena begitu terkejut saat Nona mudanya itu menyebut dirinya teman.


" Laurent ini Elin temanku yang akan menjadi anak didikmu nanti " katanya lagi pada Laurent.


" Laurent " ucap Laurent sambil mengulurkan tangannya pada Elin , " Elin " jawab Elin dan membalas uluran tangan Laurent , " mohon bimbingannya " lanjut Elin tersenyum.


" Perlakukan dia dengan baik di sini , kau tentu sudah tahu siapa dia dan tolong rahasiakan itu " bisik Meili di telinga Laurent , saat Elin sedang sibuk menatap ke arah dinding yang di penuhi dengan gambar desain hasil gaun terbaik , bahkan ia sangat tahu kalau salah satu di antara gambar desain itu di miliki oleh perancang terkenal dunia.


" Baik Nona mu.. " sahut Laurent yang kembali menggantung karena sekarang bukan lagi sebuah tatapan tajam yang menghentikannya namun satu cubitan yang siap mendarat di pinggangnya , " jangan memanggilku seperti itu jika di hadapannya " ucap Meili dan Laurent hanya bisa menganggukkan kepalanya.


" Aku rasa tugasku sudah cukup , selanjutnya aku serahkan padamu Laurent , tolong bimbing nona Elin dengan baik di sini "


" Baik Nona mu.. emm maksudku Meili " ucapnya begitu canggung.


" Apa sebaiknya sekarang kita menuju tempat yang akan menjadi ruangan anda nona Elin " ajak Laurent , " ide yang bagus " sambung Meili yang lebih bersemangat dan Elin hanya mengikuti dengan pasrah dengan jantung yang masih berdegub cepat karena begitu nervous dan itu sangat wajar karena ini untuk pertama kalinya ia menghadapi urusan seperti ini dan yang paling tepat karena ini awal dari memulai mimpinya.


jangan lupa vote , like dan coment🤗


dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚