
" Apa yang terjadi pada teman saya Dokter " ucap laki laki yang langsung beranjak menuju pintu tempat dokter yang baru keluar dari dalam ruang rawat pasien .
" Teman anda baik baik saja tuan , dia hanya kelelahan dan terlambat makan, dan kami juga sudah memasukkan cairan vitamin pada tubuhnya , dan sekarang dia hanya tertidur karena pengaruh obat yang kita masukkan kedalam cairan infus " jelas Dokter " Terimakasih dokter , apa saya sudah boleh melihatnya "
" Tentu , silahkan tuan , jika ada yang anda butuhkan , anda bisa menghubungi perawat yang bertugas " kata Dokter dan laki laki bertubuh tinggi itu mengangguk.
" Mungkin setelah ini aku akan mati di bunuh " gumamnya dengan tertawa kecil dan menatap pada wajah pucat Elin yang masih belum sadarkan diri .
****
Setelah mobilnya terparkir dengan baik , Meili segera keluar dari dalam mobil dengan handphone yang terus ia arahkan pada telinga,
ia mencoba untuk kembali menghubungi Elin , namun nampaknya panggilannya pun ikut di abaikan " Please lin , jawab teleponnya " gumam Meili yang terus menatap pada layar handphone.
Pintu lift yang membawa meili ke Lobby terbuka dan ia segera berlari menuju meja reseptionis meminta bantuan pada pelayan yang betugas untuk membawanya menuju lantai apartemen Elin .
Berulang kali ia menekan tombol bel pintu namun tidak kunjung ada jawaban " maaf nona , tapi sejak tadi pagi kami belum melihat pemilik hunian ini pulang " jelas petugas apartemen yang menemani Meili.
" Benarkah " tanya Meili semakin panik .
Drrrrtttt drrrrttt " handphone Meili tiba tiba berdering , membuat pemiliknya terkejut.
" emmm.. ya Daniel " jawab Meili berusaha tenang.
" Bagaimana Meil , apa kau sudah bersamanya " tanya Daniel yang sejak tadi sudah tidak sabar menunggu kabar dari adiknya itu.
" Aku sedang berada di depan pintu apartemennya .. " kata Meili menggantung dengan berpikir bagaimana cara menyampaikan kondisi yang sebenarnya pada Daniel " Apa dia disana ? " tanya Daniel semakin tidak sabar .
"Dia belum membuka pintu , aku akan menghubungimu lagi nanti " sahut Meili dan segera menutup panggilan telepon bersama Daniel .
" Apa bisa saya melihat cctv ini " tunjuk Meili pada camera yang berada di depan pintu apartemen Elin " Bisa nona , tapi anda harus menemui atasan kami terlebih dahulu " jawab petugas .
" Baik , segera temui aku padanya " ujar Meili tidak sabar , yang ia pikirkan sekarang adalah dimana Elin dan apa yang sudah terjadi pada perempuan itu.
****
Daniel berada di dalam pertemuan Klien dengan pikiran yang tidak berada pada tempatnya , berulang kali Reza menegur Daniel karena begitu tidak fokus pada pembicaraan.
" Maaf menyela sebentar , saya harus ke toilet dan kalian bisa melanjutkannya pada asisten saya " ucap Daniel yang tiba tiba memotong pembicaraan dan segera meninggalkan meja bundar itu tanpa menunggu jawaban dari klien pentingnya.
" Maaf Mr. apa bisa kita mulai kembali " ucap Reza mengalihkan , karena klien mereka terlihat sedikit kesal dengan sikap seenaknya Daniel.
****
Hannah menatap layar handphone yang baru bisa ia pegang setelah seharian ia meninggalkannya, karena sibuk membereskan sedikit pakaian dan barang barang yang akan ia bawa kerumah vale , tempat tinggalnya sementara waktu.
" Ada apa " tanya Vale membuyarkan lamunan Hannah yang menatap pada handpone , Hannah segera menggelengkan kepalanya dan tersenyum " tidak ada apa apa Vale , ternyata aku meninggalkan handphoneku di sini " kata Hannah berkilah .
Drrrttt drrrrttt " Handphone di tangannya berdering , membuat pandangan Vale ikut fokus pada benda pipih di tangan Hannah " Siapa ? " tanya Vale , Hannah tidak menjawab ia masih menatap fokus pada layar handphone yang masih berdering .
" Sebentar Vale " ucap Hannah sebelum menjawab panggilan telepon " Hay Meili " sapanya setelah panggilan itu tersambung ,
" oh hay Hannah , apa aku mengganggumu "tanya Meili dari seberang telepon.
" Tidak Meil , ada apa ? "
" Apa Elin bersamamu " tanya Meili membuat Hannah terdiam sesaat " tidak , dia tidak sedang bersamaku " jelas Hannah dengan kebingungan.
" Apa yang terjadi , dan emmm... kenapa kau bisa tahu kalau aku berteman dengan Elin " tanya Hannah terkejut " Ya , aku juga tidak menyangka dunia akan sekecil ini , tapi aku tahu dari pancake yang kau buat di apartemen Elin dan sebelum itu kita sudah bertemu di lobby Apartemennya " Jelas Meili
" Apa Elin tahu ? " tanya Hannah menjadi panik.
" Sepertinya iya , dia menghilang setelah beritamu tadi malam dan aku pikir dia sedang menemuimu "
" Dia memang menghubungiku tadi , tapi aku tidak bisa menjawabnya karena handphoneku tertinggal di tempat temanku dan aku cukup takut untuk berbicara padanya " Jelas Hannah dengan jantung berdebar " Elin menghilang Hannah , dan sekarang aku sedang mencarinya " ucap Meili lirih.
" Benarkah , di mana kau sekarang ? " tanya balik Hannah " masih di apartemennya , aku bingung harus mencarinya kemana , dia tidak kembali setelah keluar tadi pagi "
" Tenang Meili , tunggu aku di sana " kata Hannah yang sudah bergegas mengambil outer tebal untuk menutupi baju tipis yang ia gunakan.
" Ada apa ? " tanya Vale ikut panik , karena sejak tadi ia juga menyimak pembicaraan Hannah di telepon.
" Tidak , terimakasih Vale " sahut Hannah tersenyum " Istirahatlah , kau sudah terlalu banyak membantuku " sambung Hannah.
" Aku pergi dulu " pamitnya lagidan segera meninggalkan rumah Vale menuju apartemen Elin.
****
" Cepatlah sadar , kakak beradik ini mencarimu dan aku bingung apa yang harus aku lakukan " ucap Mike menatap pada Elin yang masih belum sadarkan diri dengan handphone yang terus berdering sejak tadi.
Mike kembali menatap pada layar handphone elin yang kembali berdering , setelah memikirkan begitu banyak kemungkinan dan menghela nafas yang cukup panjang , akhirnya ia memutuskan untuk menjawab panggilan itu.
" Hallo " ucap seseorang di seberang.
" emm ya hallo " sahut Mike
" Siapa kamu ? " tanya Daniel yang begitu terkejut mendengar suara laki laki pada panggilan contact Elin ,
" Dia sedang tidak sadarkan diri dan berada di rumah sakit sekarang , tadi aku menemukannya pingsan di taman Leonard " jelas Mike " jangan bercanda " ucap Daniel dengan emosi yang tertahan.
" Kau bisa memastikannya di Bellevue Hospital "
" Lalu siapa kau " tanya Daniel.
" Mike " jawabnya singkat , membuat Daniel semakin geram dengan rahang yang mengeras " jangan coba coba melakukan apapun pada wanitaku " ancam Daniel dari tempatnya.
" Jika aku mau , aku tidak akan mengangkat teleponmu " sahut Mike santai yang membuat Daniel semakin marah.
" Lakukanlah , untuk kali ini aku tak akan membiarkanmu hidup " ucap Daniel serius.
" ceh , ternyata kau begitu trauma padaku "
" Jangan kau pikir aku sedang bercanda Mike , aku benar benar tidak akan mengampunimu kali ini " ucap Daniel tanpa ampun " terserah , seharusnya tadi aku membiarkan saja wanitamu ini pingsan atau memilih untuk tidak memberitahumu " kata Mike menantang.
" ******* , aku benar benar akan membunuhmu " geram Daniel yang tidak bisa lagi menahan amarahnya.
" Hallo "
" hallo " teriak Daniel dan menemukan layar handphone dengan panggilan yang tidak lagi tersambung pada Elin .
" Sial " kata Daniel geram dengan tangan yang mengepal.
~
" Kau dengar , aku akan di bunuh oleh kekasihmu " gumam Mike tertawa pada Elin yang masih terbaring di atas ranjang rumah sakit.
" Cepatlah bangu Elin , tolong kasihani aku , rahangku masih sulit begerak dan aku akan benar benar mati kalau Daniel kembali memukulku " Katanya lagi
****
" Mr . Daniel , selamat atas kerja sama kita dan anda memiliki asisten yang luar biasa " ucap klien yang baru saja keluar dari dalam ruangan bersama Reza dan beberapa orang orangnnya .
" Terimakasih Mr. fang , senang bekerja sama dengan anda " balas Daniel berusaha untuk terlihat tenang , " Baik saya permisi " pamit Mr.fang bersama rombongannya.
" Terimakasih Reza " ucap Daniel
" Siapkan jet pribadiku sekarang " perintah Daniel membuat Reza sedikit terkejut " Anda akan pergi "
" Ya , aku harus pulang ke New York sekarang dan kau urus sisanya di sini " jelas Daniel , Reza tidak bisa membantah selain mengangguk dan menuruti permintaan tuannya itu.
" Apa terjadi hal yang mendesak tuan ? " tanya Reza dengan hati hati karena wajah Daniel yang kembali terlihat tidak bersahabat " ini lebih dari mendesak " sahut Daniel.
" Baik tuan , pesawat anda sedang dalam persiapan dan kita bisa menuju bandara sekarang " jelas Reza .
" Kerja bagus Reza , dan urusan di sini aku serahkan padamu " ucap daniel yang langsung bergegas menuju mobil yang akan membawanya ke bandara , ia sudah tidak sabar ingin melihat kondisi Elin dan melayangkan pukulan pada wajah Mike yang terdengar sangat menantang dari panggilan telepon mereka tadi.
jangan lupa vote , like dan coment🤗
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚