
Elin, memilih dress berwarna merah muda, di antara semua pakaian miliknya yang tergantung. " apa ini bagus ? ", katanya menunjukan pada Green, perempuan itu menanti di balik layar handphonenya, selama dia memilih pakaian." Sangat cocok untuk situasimu ", ucapnya.
" Apa ini tidak berlebihan. Aku hanya pergi untuk melihat hadiah pemberian Ayah mertuamu ", tukasnya,dan Green menggeleng, " bahkan, aku baru ingin menyarankan, kau menggunakan Bumper di kepalamu ", katanya, lalu kemudian tertawa.
" Aku yakin saat itu, aku lebih memukau dari Kate Middelton ", timpal Elin, yang kemudian ikut tertawa. Green mengangguk, " aku juga sangat yakin begitu ", katanya, sebelum mereka tergelak bersama.
Amel datang bergabung, " warna yang cantik ", ucapnya pada baju berwarna merah muda pilihan Elin, " kau menyukainya ? ", tanyanya perempuan itu, dan ia mengangguk. Tapi Green menoleh padanya, " sejak kapan kau menyukai warna muda, Nyonya Muda ", tukasnya.
Mata Elin membesar, " sepertinya, anaknya perempuan ",katanya menerka isi dalam perut buncit Amel.
" Aku menyukai apa saja. Mau itu perempuan, atau lelaki ", kata Green menimpali, " Hanya saja, kalau itu perempuan. Aku akan bingung membela siapa, ketika dia bertengkar dengan Naina ", katanya lagi. Amel tertawa mendengar itu, dan Elin pun begitu, " aku tidak terbayang situasinya seperti apa ? ".
" Apalagi kalau anakmu nanti juga perempuan ", tambah Green, di tunjukan pada Elin. Perempuan itu terdiam sejenak, " sungguh aku belum memikirkan sejauh itu ", katanya sedikit lebih pelan, dari nada bicara sebelumnya.
" Kenapa ? ", tanya Green dan Amel bersamaan.
" Kak Daniel, belum ingin punya anak ? ", kata Green bertanya, dan Amel mengangguk, seolah itu juga pertanyaannya.
Elin menggeleng cepat," dia pasti sangat mau, tapi kami belum membicarakan hal ini ",
" Kenapa harus di bicarakan ", kata Amel menyeletuk, " tidak ada sesuatu yang perlu di pikirkan ketika kau hamil ". katanya lagi, dan Green mengangguk, " semua orang akan memperhatikanmu ", katanya menyambung.
Elin tersenyum, " tentu, kedua mertuaku sangat menyayangiku.. ".
" Kami juga ", potong Amel, dan Elin tertawa. sedangkan Green bergerak menoyor kepala perempuan itu, " kau seperti tidak mau kalah ", ucapnya.
" Aku tahu, tanpa kau sebut ", sergah Elin, " aku hanya ingin fokus menyelesaikan sekolahku ", katanya memberitahu.
Sorot mata coklat Green seolah baru tersadar sesuatu, " sungguh aku lupa, kalau kau masih kuliah Elin ", pekiknya dan Amel mengangguk, " aku juga ".
" Besok aku akan kembali ke kantor Daniel, sebagai karyawan magang, berada disana sampai akhir bulan, lalu sibuk menyusun tugas akhir sebelum sidang ", katanya menjabarkan.
" Aku tahu bagaimana repotnya itu ", timpa Green.
" Jadi pikirkan, bagaimana aku bisa hamil, di saat situasi seperti ini ", kata Elin. Amel dan Green menghening sejenak, " sungguh aku tidak suka dengan alasanmu, tapi aku tahu sulitnya menjadi mahasiswi akhir ", ucap Green, bahkan saat ini, ia berada di fase itu, " aku tidak sedang hamil saja, kelimpungan ", katanya lagi.
" Aku juga masih ingin mengejar cita-citaku. Aku ingin menjadi desainer sukses lebih dulu... ".
" Elin... ", potong Green, dan perempuan itu mengatup bibir yang ingin kembali bicara, dan menatap padanya, " aku mendukung semua keinginanmu, tapi kau juga harus mengerti. Umur Kak Daniel jauh lebih tua darimu, dan ia butuh keturunan untuk menerusi semua usahanya.. ". katanya, ia menjeda bicaranya sejenak, saat melihat Elin tertegun.
" Aku juga masih ingin seperti itu, Elin ", Amel menimpali. " Mengejar cita-citaku, Melakukan banyak hal, sebelum aku mempunya anak ", ia menjeda saat bicaranya, " tapi keluarga ini butuh keturunan. Green atau pun aku, harus siap menghadirkannya ", katanya lagi. Dan Elin masih terdiam.
" Kita punya cita-cita, tapi kedudukan kita tidak lebih tinggi dari seorang suami ", kata Green menimpali, " ini sulitnya kita di nikahi pria kaya, tidak ada alasan untuk bersikuat untuk mengejar cita-cita. Kebutuhan kita terpenuhi. cita-cita semasa muda dulu, akan terlengser oleh status istri, kita harus menurut, dan kita harus mengutamakan apa yang suami mau dan butuhkan. Makanya sangat beruntung, ketika perempuan mempunyai suami yang mendukung cita-citanya ".
" Kita beruntung.. " sambung Green, " tapi kita berbeda. Melahirkan seorang keturunan, jauh lebih penting dari hal itu ". katanya lagi. Elin tak bergeming, ia menelan ludahnya, dengan masih terdiam. Tidak ada yang salah dengan kalimat yang di ucapkan Green, justru itu kebenarannya. Setiap keluarga kaya raya, menikahi anaknya untuk keturunan mereka. Menjadi pewaris dari kekuasaan dan harta benda mereka. Tapi saat ini, Elin tak menyukai hal itu. Meski kedua mertuanya tak pernah terdengar membicarakan hal itu di hadapannya.
Kedatangannya ke New York, bukan untuk hal itu. Bukan untuk di nikahi pria kaya raya. Ia ingin mengejar cita-citanya, dan ia tidak rela itu terkubur begitu saja. Dan bukan pula, ia menjadi tidak bersyukur. Hanya saja semua yang di katakan Green, bergejolak di hati kecilnya, dan ia hampir menangis, membayangkan semuanya yang menjadi impiannya selama ini akan terkubur sia-sia, karena statusnya yang kini menjadi istri dari pria kaya raya.
" Kau masih ingin menjadi desainer ? ", tanya Green. Elin tersentak dari lamunannya, lalu mengangguk.
" Kau benar, mungkin kalian harus membicarakannya lebih dulu ".
sebersit garis senyum hadir di bibir Elin. " bantu aku, dengan doakan Daniel bermurah hati untuk mendukung keinginann istrinya ", pintanya tersenyum.
" Tapi pastikan kau sudah menggunakan pil KB saat ini ", kata Amel menyeletuk. Green menolej cepat padanya, sedangkan Elin sudah terdiam dengan mata yang membesar.
" Tunggu, apa kau belum menggunakannya ? ", sergah Green.
" Bahkan aku lupa dengan hal itu ", sahut Elin lemah. Amel langsung tergelak, sedangkan Green, menepuk dahinya sendiri, " kalau begitu kubur semua keinginan yang ingin kau lakukan ", tukasnya. Mata Elin memandang tak terima dengan ucapannya, " mau bagaimana lagi huh. Satu ****** saja berhasil membuahkan rahimmu, apa lagi sudah jutaan yang masuk kesana tanpa henti ", sergah Green, Elin terdiam.
" Astaga aku menjadi pusing karena kebodohanmu ", katanya lagi. Sementara Amel masih terus tertawa. " dia hanya mempunyai angan, tapi tidak mengkondisikan situasinya ", katanya.
" Jadi aku harus bagaimana ? ", tanya Elin hampir menangis.
" Kapan kalian terakhir kali melakukannya ? ", tanya Green.
" Pasti setiap hari Green ", celetuk Amel, " kau seperti tidak pernah menjadi pengantin baru ".
" Tadi malam ", jawab Elin lemah, dan Amel kembali tergelak.
" Kalau begitu tunggu satu minggu kemudian. Kalau kau tidak hamil, kau bisa berbicara pada kak Daniel, untuk menggunakan pil KB, atau alat kontrasepsi lainnya ".
" Harus menunggu satu minggu ? ".
" Ya ", jawab Green tegas, " harus di pastikan satu minggu setelah berhubungan, kau tidak hamil ".
" Bagaimana kalau kami melakukannya setiap hari. Apa itu berarti harus menundanya seminggu kemudian lagi setiap harinya ", kata Elin. Tawa Amel pecah saat itu juga, sedangkan Green sudah putus asa untuk bicara, " aku tidak tahu kau ini polos atau memang bodoh ", katanya geram.
" Apa yang salah dari ucapanku ", kata Elin bergumam.
" Apa yang dia katakan benar, Green. Kau yang salah menjabarkan kalimatmu ", ucap Amel menimpali, dengan terus tertawa tanpa henti. Bahkan ia sudah memegang perutnya, saat melihat wajah memelas Elin. Di tengah rambutnya yang sedang di tata oleh seorang pelayan.
Dan Daniel datang saat itu, " kau belum selesai sayang ? ", tanyanya, membuat Elin terkejut. " kau sudah datang ? sedikit lagi ", katanya, meminta lelaki itu menunggu sebentar saja.
" Aku sedang melakukan video call bersama Green dan Amel ", katanya memberitahu. Daniel mendekat, dan bergabung ke hadapan layar. " hai kak ", kata Amel menyapa, lalu Green.
" Ada apa denganmu ",tanya Daniel, saat melihat wajah Green yang di tekuk. Perempuan itu menggeleng, " istrimu membuatku gemas ", katanya. Membuat Amel kembali tertawa.
Saat itu Elin sedang beranjak dari tempat duduknya di hadapan layar handphone. Lalu beberapa detik kemudian, ia kembali dengan dress warna merah muda yang tertambat dengan sangat anggun di tubuhnya. Rambutnya tergerai sangat indah ke belakang. Seorang pelayan membantunya menggunakan high heels berwarna merah muda senada dengan bajunya.
Di balik layar handphonenya, Amel dan Green menatap terkagum padanya. Elin, saat ini jelas berbeda, dengan Elin lima tahun yang lalu, ketika masih menjadi murid Darmabangsa. Melihatnya sekarang, tidak akan ada yang menyangka, jika dia pernah menjadi remaja pemberontak dengan kedua sahabatnya. Auranya seperti Kate Middleton. Saat ini, Green tak menyesal, karena tak menyangkal ucapannya tadi. Kini ,perempuan itu memang terlihat seanggun istri dari pengeran inggris itu.
" Otak bodohnya tertutup oleh keanggunannya ", kata Green bergumam, tapi Amel mendengarnya dan tertawa, " tapi dia sangat cantik Green ", katanya menepis.
" Kau suka ? ", tanya Elin, pada Daniel. Memperlihatkan penampilannya. Sayangnya lelaki itu, terlalu terpukau, dan tidak langsung bicara ketika dia bertanya. " kau tidak suka ? ", tanyanya lagi.
" Kau lihat, dia selalu begitu bodoh ", umpat Green, " bagaimana bisa di bilang tidak suka, saat air liur kak Daniel hampir saja menetes karena memandangnya ".
" Kau sangat cantik sayang ", balas Daniel, beberapa detik kemudian.
" Sungguh ? ".
" Hemmm ".
" Kalau begitu ayo kita pergi sekarang ", ajaknya. Amel dan Green berdecih dari balik layar, " kadang dia seperti anak kecil ", ucap Amel.
" Aku pergi dulu. Kalau sudah tiba, aku akan menelpon kembali ", katanya pada kedua menantu keluarga Vernandes. dan dua perempuan itu mengangguk, " hati-hati di perjalanan kalian ", tutup Green.
" Sampai bertemu kak Daniel ", kata mereka bersamaan.
" Sampai bertemu ", balas Daniel tersenyum manis.
" Ayo ", katanya sembari mengulurkan tangan, dan Elin menyambutnya dengan tersenyum.
" kau sungguh tidak kerepotan karena ini ? ", tanyanya, sambil mereka melangkah. Daniel menggeleng, " itu lebih baik, dari pada aku tidak tenang memikirkanmu pergi sendiri ", sahutnya menatap serius.
" Ceh, padahal aku sudah mahir di jalanan kota ini ".
" Aku tetap tidak yakin ", ucap Daniel.
~
Senyum di bibir Meili masih mengembang saat mengirim gambar hasil masakannya kepada Jerry. Aku berhasil melakukannya. Tulisnya pada foto itu. Opor Ayam, hasil jerih payahnya hari ini berhasil. Seenak harapannya. Kiasan kalimat, tak akan ada usaha yang mengkhianati hasil, ia percayai hari ini.
Semua usahanya tak sia-sia. Opor Ayam buatan pertamanya terlalu menakjubkan. Walau sebenarnya ia tak melakukannya sendiri. Sepanjang berada di dapur, Viona juga tak pernah beranjak dari sana. Dan beberapa pelayan, yang siap membantunya setiap saat.
" Aku berkhayal kau orang pertama yang mencobanya Jerry ", tulisnya lagi, dengan mengirim emoticon berharap di ujung kalimatnya. " Kau pasti belum bangun ", tulisnya lagi. Angka waktu yang tertera di sudut kiri layar handphonenya, masih menunjukkan pukul empat sore di New York, dan itu berarti pukul lima pagi di Indonesia. Ketika merindukan lelaki itu, ia membenci perbedaan waktu yang mereka miliki. dan saat itu dia rindu.
Di letakkan tubuh lelahnya ke sandaran kursi panjang di tengah taman. Hal itu seperti berkat tersendiri untuknya. Ia baru menyadari, semenyenangkan itu, saat tubuh lelah bertemu tempat yang nyaman. Enteng memang sebab ia kelelahan, tapi membuat opor ayam, bukan usaha yang mudah untuknya.
Ia mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya, " mam jangan mengangguku ",tukasnya.
" ini aku ".
Meili membuka matanya cepat, saat mendengar suara kakak iparnya. " kau sungguh tidak akan pergi bersama kami ? ", tanya perempuan itu.
Ia menggeleng tersenyum. " maaf, tapi hari ini aku sangat lelah ", katanya sungkan. " kau sangat cantik ", tambahnya memuji. Wajah Elin merona. Ini pujian kesekian kalinya hari ini.
" Kau tidak apa, tinggal sendiri ?. Mami dan Papi ikut bersama kami ", ucap Elin dan Meili menggeleng. " aku sungguh hanya ingin tidur. Tidak apa kan.. ? ".
" Tentu, aku hanya khawatir, karena kau akan sendiri saat kami pergi ".
Meili berdecih, " aku malah masih asing dengan kondisi sekarang Elin. Aku masih tidak percaya, kalau kau sudah tinggal disini..., dan juga papi ".
" Selama ini aku selalu sendiri disini ", tambahnya. Tak ada sirat kekecewaan di wajahnya. " tapi walau aku terbiasa sendiri. Aku jauh lebih suka kondisi rumah sekarang ini ", katanya tersenyum.
" Bye " serunya pada Elin.
" Kau mengusirku ".
" Tidak ", balasnya dengan menggelengkan kepala. " tapi Nyonya Besar Remkez pasti tidak sabar untuk pergi ", katanya lagi. Mendengar itu, Elin bergegas meninggalkannya. " dia benar-benar menantu yang baik ", gumamnya.
Dan bersamaan, handphone yang baru di letakan ke meja disisinya, beberapa yang lalu. Kini berdering. Ia terperanjat dari duduknya dan bergerak tidak sabar untuk melihat siapa yang menghubunginya. Dan saat itu, ia terlalu berharap itu, Jerry.
Ia tak kecewa ketika harapannya tak sesuai. Nama Jerry, tak ada di layar benda pipihnya, tapi Brian. Nama lelaki itu tertulis disana. Dan ia tertegun karena itu.
Kini jantungnya berdegub cepat. Ia tersadar, semenjak kembali ke New York, ia melupakan lelaki itu. Ia tak pernah menghubunginya sekali pun. Dan ia tak punya alasan, ketika lelaki itu bertanya kenapa itu terjadi.
Handphone yang sudah berada di tangannya, kembali berdering. dan itu untuk kedua kalinya.
Ia menghela, sebelum jemarinya menyentuh layar handphonenya untuk menjawab panggilan lelaki itu.
" Ya Brian ", jawabnya pelan. Berusaha membuat nada suaranya senormal mungkin.
Dari seberang, laki-laki itu terdengar berdecih, " kau membuatku benci Meili ", ucap lelaki itu pertama kali. Dan Meili tak berniat menyela ucapannya. Dia pantas mengatakannya, " kau sungguh melupakan aku. Kau sudah pulang, dan tidak memberi kabar sama sekali padaku...".
" Kau sangat keterlaluan Meili ", kata Brian melanjutkan. Nafasnya terdengar menderu menahan emosi.
" Maafkan aku Brian ", kata Meili akhirnya bicara. Dan suasana menghening.
" Kita bertemu malam ini. Katakan semuanya padaku Meili. Apa yang terjadi, dan apa yang kau inginkan ". titah Brian, Meili terhenyak.
" Temui aku di rumahku ", tambahnya.
" Aku tidak bisa kesana Brian ", sergah Meili, " tidak di rumahmu jika ingin bertemu ".
Brian terdengar mendengus, " padahal dulu kau tidak pernah ingin bertemu dimana pun, selain disini ", katanya begumam, tapi masih terdengar sampai di telinga Meili.
" Disini, atau aku yang kerumahmu. Hanya dua itu pilihanmu Meili ".
" Brian.. ", seru Meili tersentak. Lelaki itu memberi pilihan yang begitu sulit untuknya, " kita harus bertemu sekarang Meili. Kau tidak bisa mencampakkan aku seperti ini ".
" Ya kita bertemu. Tapi tidak disini atau di rumahmu ".
" Baiklah kau bisa memilih tempat lain. Tapi kau harus tahu Meili, pada saat kita bertemu nanti, lelaki yang menjadi tunanganmu itu juga akan tahu, kalau kau sedang bertemu denganku. Jadi silahkan pilih ", sergah Brian, lalu menutup teleponnya tanpa menunggu Meili bicara. Ia sungguh tak memberi kelonggaran pada perempuan itu. Sikapa Meili belakangan ini terlalu menyakiti hatinya.