Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Tidak Bisa Memaksakan Hatimu


" Daniel " panggil Meili pelan sambil ikut duduk di samping laki laki itu.


" Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya padaku " lanjutnya , Daniel menghela nafas " Semua sudah berlalu " jawab Daniel dengan kedua tangan yang ia dekapkan pada wajah dan ujung siku yang bertumpu pada ke dua pahanya.


" Seharusnya aku sudah tahu sejak awal " ucap Meili .


" Sudahlah Meili , semua sudah terjadi dan aku tidak ingin kembali mengingatnya "


" Sebaiknya kau kembali " lanjut Daniel.


" Ya , kau juga harus pulang , kau benar benar terlihat kacau Daniel "ujar Meili yang tidak berhenti menatap pada kakaknya.


" Beritahu aku kabar apapun tentang Elin " kata Daniel yang sudah beranjak dari kursi.


" Ceh , kau masih saja memikirkan wanitamu , pulanglah , jangan khawatir aku akan menjaganya " sahut Meili yang ikut beranjak dari kursi , mereka berjalan berdampingan sambil berbincang bincang santai untuk mengalihkan suasana dingin yang baru saja terjadi " Apa kau mau pergi ? " tanya Daniel karena melihat Meili terus mengikutinya.


" Selamat siang Nona Meil " ucap sopir yang berdiri di sisi mobil Daniel.


" Siang pak " jawab Meili tersenyum.


" Ya , aku akan pergi membeli beberapa makanan untuk Elin " Jelas Meili pada pertanyaan Daniel.


" Baiklah , urus dia dengan baik dan terima kasih Meil " ucap Daniel.


" Kau membuat aku geli , masuklah " ujar Meili tertawa.


" Beritahu aku...


" ya ya ya , aku paham dan kau benar benar sangat cerewet Daniel " ucap Meili yang mendorong pelan tubuh kakaknya untuk masuk ke dalam mobil " Pak bawa tuan muda kerumah besar " pintanya pada pak sopir.


" Mami merindukanmu dan rumah itu adalah tempat terbaik kau untuk pulang " jelas Meili karena melihat dahi Daniel yang berkerut.


Daniel terlihat pasrah tanpa membantah , dan Meili menganggukkan kepalanya pada sopir yang sedang menatap ke arah mereka karena menunggu kepastian kemana sebenarnya ia akan melajukan mobil membawa tuannya itu.


" Hati hati pak " ucap Meili dan pak sopir menganggukkan kepalanya.


" Kau seperti sedang menitipkan anak kecil ke pada sopirmu" ujar Daniel dengan wajah datar ,


" karena kau memang anak kecil " sahut Meili tertawa dan langsung menutup pintu mobil , supaya tidak lagi mendengar teriakan kesal Daniel.


" Bye " ucapnya tertawa dengan tangan yang melambai pada kaca mobil , setelah mobil yang membawa Daniel berlalu ia segera berjalan menuju letak mobilnya.


~


"Apa bibirmu masih sakit ? "


" Sedikit , tapi ini jauh lebih baik " jelas Hannah.


" Terima kasih Elin " ucapnya.


" Suster yang mengobatimu Hannah , bukan aku " sahut Elin sedikit tertawa , " tapi kau yang meminta mereka mengobatiku " kata Hannah yang membuat mereka saling tertawa.


" Maafkan aku lin " ucap Hannah tiba tiba.


" Berhenti meminta maaf Hannah , kau tidak memiliki kesalahan padaku "


" Tapi.." ucap Hannah menggantung , ia sedikit berat menjelaskan maksud dari permintaan maaf yang sebenarnya , tentang scandal orang ketiga yang di beritakan oleh media dan mungkin Elin belum mengetahui tentang itu.


" Sudahlah Hannah , semua sudah terjadi dan berhenti untuk meminta maaf "ucap Elin.


" Tapi lin , aku sudah membuat namamu...


Drrttt drrtt " Handphone Hannah berdering , memotong pembicaraan serius di antara mereka.


" Ya Vale " jawab Hannah dengan handphone yang mengarah pada telinganya.


" Ya aku akan pulang sebentar lagi , aku harus menunggu..


" Pulanglah Hannah , aku tidak apa apa sendiri " potong Elin yang mendengar pembicaraan Hannah di telepon , " baiklah vale , aku akan segera pulang "


" ya , Terimakasih Vale " ucap Hannah yang kemudian menutup pembicaraan di telepon bersama Vale.


" Kau sungguh tidak apa apa aku tinggal Elin ? " tanyanya dan Elin mengangguk.


" Aku bukan anak kecil Hannah , pergilah temanmu sudah menunggu "


" Maafkan aku , tapi kau harus memberi kabar padaku nanti " ucap Hannah yang begitu berat meninggalkan Elin sendiri.


" Iya , aku sudah baik baik saja dan mungkin hari ini aku akan pulang "


" Baiklah , aku pergi " ucap Hannah sambil mencium pipi Elin.


" Bye " ucap balik Elin sambil menatap pada tubuh Hannah yang sudah beranjak meninggalkannya.


****


" Kau pulang ? " ucap tak percaya Viona saat melihat anak sulungnya masuk.


" Ya mam " sahut Daniel dengan ujung bibir yang tersungging " Kau terlihat begitu lelah " ucap Viona.


" Mandilah , Apa kau sudah makan ? "


" Aku tidak lapar mam , biarkan aku istirahat sebentar " ucap Daniel.


" Baiklah , katakan jika nanti kau menginginkan sesuatu " kata Viona dan Daniel mengangguk seraya berjalan meninggalkan maminya.


" Apa Nona Muda belum pulang ? " tanya Viona pada pelayan yang berjalan melewatinya.


" Aku memintanya untuk menemani Elin di rumah sakit Mam " sambung Daniel yang belum melangkah jauh dari Viona "Ada apa dengan teman kalian , emm..maksud mami teman wanitamu ? "


" Dia sedang di rawat di rumah sakit karena kelelahan dan dia tidak memiliki siapa pun di sini" Jelas singkat Daniel , " apa kau membutuhkan bantuan Mami ? " tanya Viona , sesaat Daniel tersenyum " Terimakasih mam , tapi dia sudah terlihat membaik dan mungkin akan segera pulang " jelas Daniel.


" Baiklah , katakan jika kau membutuhkan bantuan Mami untuk menjaga wanitamu atau kau bisa membawanya kemari , rumah ini masih sangat luas untuk menampungnya di sini " ucap Viona tersenyum.


Daniel memutar tubuhnya dan berjalan lebih cepat menuju Viona " Terimakasih Mam " ucap Daniel yang kini telah memeluk tubuh ibunya.


" Karena telah menerima Elin " Jelas singkat Daniel.


" Ceh , kau mengejutkan mami Daniel dan Mami belum mengatakan menerimanya "


" Mami pasti akan menerimanya "


" Apa yang membuat kau sangat yakin ? " tanya Viona di iringi senyuman dari bibirnya.


" Karena dia perempuan yang baik dan mami bisa melihat itu dari pertama bertemu dengannya " jelas Daniel sambil melepas pelukkan pada Viona " Kalau begitu pertemukan Mami dengannya "


" Nanti , Daniel pasti akan membawanya ke hadapan Mami "


" Jangan terlalu lama , Mami sudah begitu tidak sabar untuk bertemu dengannya "


" Sekarang aku sedang berusaha Mam " ucap Daniel seraya kembali berjalan meninggalkan Viona dan menaiki anak tangga untuk menuju kamar tidurnya.


" Kau sungguh terlihat mencintainya " gumam Viona tersenyum seiring terus melihat pada punggung Daniel yang berjalan meninggalkannya.


****


" Lin " panggil Meili , ia baru saja kembali ke dalam kamar rawat Elin dengan membawa berbagai macam makanan di tangannya " Lin " panggilnya lagi , karena tidak menemukan perempuan itu.


Tok tok tok " Meili mengetuk pintu kamar mandi.


" Lin, apa kau di dalam ? " tanyanya lagi.


" Ya Meil , tunggu sebentar aku akan segera keluar " teriak Elin dari dalam kamar mandi.


Tidak lama pintu kamar mandi sudah terbuka dengan Elin yang keluar dengan balutan kimono mandi , " Kau sudah kembali ? " tanya Elin sambil berjalan menuju Meili.


" Apa dokter sudah mengijinkan kau untuk mandi ? " tanya balik Meili.


" ceh , kau berlebihan Meil " ujar Elin tertawa , " kau lihat jarum infus di tanganku sudah di lepas berarti aku sudah baik baik saja dan dokter baru saja bilang kalau aku sudah boleh pulang sore ini " jelas Elin sambil melihat lihat apa yang di bawa oleh Meili.


" Makanlah , aku membawakan ini untukmu " ucap Meili yang mengerti dan menyodorkan makanan yang ia bawa pada Elin " Kau memang yang terbaik , dan mengerti di waktu yang tepat " ujar Elin tersenyum.


" Ceh , kau yang berlebihan " balas Meili tertawa.


" eiiittt , tunggu dulu Nona , aku harus memastikan pada Dokter kalau kau benar sudah bisa memakan makanan ini " lanjutnya sambil kembali mengambil makanan di hadapan Elin.


" Kau sungguh sangat mirip dengan kakakmu , sama sama berlebihan " ucap Elin dengan bibir yang mengerucut karena kesal.


" Tentu , aku adiknya dan kami sama sama menyayangimu " ucap Meili tertawa dengan telepon yang berada di telinganya untuk menghubungi Dokter.


~


" Hallo , Kau dimana ? " tanya Meili yang sedang berbicara di telepon dengan satu tangan memegang pada stir mobil.


" Ada apa ? " Tanya Daniel di balik telepon dengan suara serak karena baru saja terbangun dari tidur , " Aku sedang berada di jalan menuju apartemen Elin , dan dia sedang tertidur sekarang "


" Apa dia sudah di bolehkan pulang ? "


" Iya Daniel , aku tidak mungkin membawanya lari dari rumah sakit " jelas meili kesal.


" dan Kau harus menuju apartemennya sekarang juga "


" Ada apa ? " tanya Daniel lagi.


" Kau terlalu banyak bertanya " geram Meili


" Wanitamu sekarang sedang tertidur dan tenagaku tidak cukup untuk menggendongnya masuk ke dalam apartemen " jelas Meili menahan kesal pada kakaknya.


" Baiklah tunggu aku di sana "


" Lebih cepat " ucap Meili kemudian menutup teleponnya pada Daniel.


" Seharusnya aku yang menjadi kakaknya bukan dia yang menjadi kakakku " gerutu Meili dan sesekali melihat pada Elin yang tertidur begitu nyenyak " Apa tadi aku membeli makanan yang mengandung obat tidur ? " gumamnya lagi karena sejak tadi keluar dari rumah sakit , Elin terus terlihat mengantuk dan langsung tetidur saat sudah berada di mobil Meili.


~


" Kau sangat lama " ucap Meili pada Daniel yang baru saja datang.


Daniel langsung membuka pintu mobil dari sisi Elin , dan mengangkat tubuh perempuan itu ke dalam gendongannya.


" Kau terlihat begitu gagah Daniel " goda Meili tertawa yang berjalan mengikuti dari belakang " Apa kau bisa diam " geram Daniel dan Meili segera melipat bibirnya untuk menahan agar tidak kembali tertawa.


~


" Letakkan dia di tempat tidurnya , aku akan membuatkan makanan untuknya " ucap Meili yang berlalu menuju dapur dan membiarkan Daniel membawa tubuh Elin ke dalam kamar tidur.


Setelah bersusah paya membuka pintu akhirnya Daniel bisa meletakkan tubuh Elin di atas tempat tidur " Apa begitu nyaman dengan mimpimu hingga tidak sadar kalau tubuhmu sudah berpindah " gumam Daniel yang tersenyum memandang wajah damai tidur Elin , sambil mengibas anak rambut yang sedikit menutupi wajahnya.


Tatapan mata Daniel terhenti pada bingkai foto yang di letakan di atas nakas kamar tidur Elin , ia menarik nafasnya dan memberanikan diri untuk melihat lebih dekat pada gambar berbingkai itu.


" Kau terlihat begitu bahagia di sini " ucap Daniel dengan suara bergetar , dadanya menjadi sesak saat melihat gambar Elin yang terlihat bahagia bersama seorang laki laki yang Daniel sendiri tahu siapa laki laki di foto itu.


" Aku mohon jangan pergi Gery " ucap Elin tiba tiba dengan mata yang masih terpejam namun air mata yang ikut menetes di wajahnya.


Daniel terdiam sesaat menatap begitu lama pada wajah Elin dan kembali meletakkan bingkai foto di atas nakas.


" Mungkin aku memang tidak bisa memaksakan hatimu untuk menerimaku " ucap Daniel menahan rasa sesak di dadanya dan menghapus sisa air mata yang masih mengalir pada wajah Elin.


Daniel kembali menghela nafas namun terdengar sangat berat " Seharusnya dari sejak awal aku sudah menyerah " ucapnya lagi yang kemudian beranjak meninggalkan kamar tidur Elin.


" Hey , kau mau kemana ? " tanya Meili saat melihat Daniel keluar dari kamar tidur Elin dan berjalan menuju pintu " Aku harus pergi , dan kau harus tetap di sini menjaganya " jelas Daniel.


" Baiklah segeralah kembali " kata Meili dan Daniel melanjutkan langkahnya menuju pintu tanpa melihat ke arah adiknya


" Apa yang terjadi ? " gumam Meili menatap bingung punggung Daniel yang sudah menghilang dari balik pintu.


jangan lupa vote , like dan coment🤗


dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚