
" Hannah " panggil Elin yang baru saja keluar dari balik pintu lift , ia berjalan lebih cepat menuju Hannah yang sudah beranjak dari duduknya setelah mendengar namanya di panggil.
" Hannah " panggil Elin lagi sambil memeluk tubuh perempuan berambut pirang itu dengan erat " kau terlihat begitu bahagia " ucap Hannah membalas pelukan Elin.
" Ya itu karena bertemu denganmu " kata Elin tertawa dan melepas pelukannya.
" Ayo , kau terlihat begitu lelah Hannah " katanya lagi karena menatap wajah Hannah yang terlihat begitu sendu.
" Apa kau sakit ? " tanya Elin sambil memegang langsung pada dahi Hannah.
" Tidak Elin , aku sungguh baik baik saja " sahut Hannah tersenyum.
" Akhir akhir ini aku memang sedikit kerepotan dengan pekerjaanku " jelasnya lagi.
" Baiklah , ayo " ajak Elin menarik tangan Hannah menuju pintu lift untuk kembali ke apartemennya.
~
" Masuklah , aku akan membuatkan minuman hangat untuk mu " kata Elin sambil berjalan menuju Coffee shop kecil di bagian dapur.
" Hannah kau mau.. "
" Capucinno " potong Hannah tersenyum , Elin juga ikut tersenyum namun bukan karena membalas Hannah tapi karena mengingat seseorang yang juga menyukai Capucinno buatannya , bahkan otaknya langsung mengingat kembali pada kejadian beberapa jam lalu , dimana Daniel kembali hanya untuk menghabiskan Capucinno yang masih tersisa di dalam gelas.
" Ada apa denganku ? " tanya Elin tersenyum setelah menyadari tingkah anehnya.
~
Hannah menghela nafas begitu berat dengan kedua tangan yang ia dekapkan pada tubuhnya , mata yang menatap kosong pada pemandangan malam kota New York dengan pikiran yang kembali pada kejadian beberapa jam yang lalu sebelum ia putuskan untuk berada di apartemen Elin.
flashback
" Apa anda mencari saya ? " tanya Hannah sambil berjalan masuk menuju meja kerja dalam ruangan yang berukuran 8 x 6 meter.
" Duduklah " pinta Caren menatap sekilas ke arah Hannah lalu kembali fokus pada layar computer di hadapannya.
Hannah duduk di kursi yang menghadap Caren dengan jari tangan yang mengetuk pelan pada bagian meja sambil menunggu perempuan dingin di hadapannya ini berbicara.
" Apa yang sedang terjadi pada hubunganmu dengan Tuan Muda Remkez " tanya Baren yang kini sudah beralih menatap Hannah.
" Hubungan kami sudah berakhir " jelas Hannah singkat.
" Apa " teriak Caren begitu terkejut.
" Apa , apa yang membuat hubungan kalian berakhir , apa karena wanita yang di beritakan itu " tanyanya lagi.
" Tidak , dia tidak ada hubungannya dengan perpisahan kami " jelas Hannah yang begitu malas menatap Caren.
" Lalu apa ?, apa penyebabnya ?, katakan padaku " tanya Caren meninggikan suaranya.
" Apa kau juga ingin ikut campur dalam urusan pribadiku Caren ? " tanya Hannah dengan nada yang ikut meninggi.
" Tentu , kau tahu semua yang kau lakukan harus dengan sepengetahuanku , apa yang terjadi denganmu juga akan ikut bersangkutan dengan kariermu dan itu sangat jelas akan berhubungan denganku , apa sampai disini kau paham Nona Hannah " bentak Caren menatap tajam.
" Kau harus kembali pada Tuan Muda Remkez " katanya lagi.
" Itu tidak mungkin Caren " jawab Hannah , Caren menghela nafas dan semakin menajamkan tatapannya pada Hannah.
" Kau memang begitu bodoh " ucap Caren dengan menekankan perkataannya.
" Kau tahu , kenapa akhir akhir ini karirmu begitu cemerlang , kau tahu kenapa Hannah ?
" Itu karena kamu kekasih dari seorang Daniel Remkez , Daniel Remkez yang kau tahu sangat jelas pengaruhnya bagi negara ini " lanjut Caren semakin emosi.
" Apa kau pikir setelah hubunganmu berakhir dengan Tuan Muda itu kariermu akan baik baik saja , tentu tidak Hannah , orang tidak akan lagi memandangmu , mereka hanya akan kembali melihatmu sebagai model biasa di negeri fashion ini "
" Dia sudah mempunyai penggantiku Caren " ucap Hannah lemah.
" Persetan dengan itu , kalau kau tidak bisa kembali dengannya , minimal biarkan berita tetap seperti ini , biarkan perempuan itu terlihat menjadi orang ketiga di antara kalian "
" Astaga Caren kenapa kau begitu kejam , perempuan itu tidak salah , dia tidak pantas mendapat perlakuan ini " kata Hannah menolak, dengan nafas yang menjadi sedikit sesak karena rasa emosi di dadanya " ceh , kau terlalu naif Hannah " ucap Caren dengan senyum yang tersungging dari bibirnya.
" Tidak ada kata kejam dalam pekerjaan , seperti ini lah cara mainnya , kau harus bisa memanfaatkan sesuatu yang bisa mempertahankan kariermu " jelas Caren dengan menyunggingkan senyumnya.
" Salah atau tidak salah perempuan itu , semuanya sudah tidak berguna , dia sendiri yang menjatuhkan dirinya dengan masuk ke hubungan kalian " lanjut Caren.
" Hubungan kami sudah berakhir Caren " jelas Hannah menatap Caren.
" Media tidak tahu tentang itu Hannah , dia tetap akan terlihat sebagai orang ketiga dari semua orang " jelas Caren.
" Dan biarkan tetap seperti itu , karena yang akan di untungkan dari berita ini adalah kamu sendiri , kamu sebagai wanita yang tersakiti dan semua orang akan memberi dukungan padamu " sambung Caren tanpa perasaan.
" Kau memang perempuan kejam dan tidak punya hati Caren " ucap Hannah yang sudah beranjak dari duduknya.
" Terserah , aku tidak akan peduli pada apapun selama itu masih menguntungkan untukku " kata Caren dengan tertawa licik.
Hannah menarik nafasnya begitu dalam untuk meredahkan rasa emosi yang hampir saja meluap pada perempuan yang tidak punya hati di dahadapannya ini , setelah melemparkan tatapan yang begitu tajam pada Caren , Hannah memutar tubuhnya untuk melangkah keluar dari ruangan yang membuat nafasnya semakin sesak.
" Ingat jangan pernah melakukan hal bodoh , sekali saja kau melakukannya , aku akan pastikan kau akan kembali ke flat kumuh lamamu " ucap Caren begitu tajam , Hannah tidak peduli ia terus melanjutkan langkahnya menuju pintu , dan menutupnya dengan begitu keras hingga menimbulkan suara bantingan.
Caren menatap tajam ke arah pintu sambil menghela nafasnya " kalau bukan karena kau menguntungkan , sudah sejak lama aku membuangmu " ucap Caren yang masih menatap pada pintu.
****
" Hannah " panggil Elin untuk ke berapa kalinya.
" Hannah " ulangnya lagi dengan sedikit berteriak.
" emm .. ya " jawab Hannah begitu terkejut dengan panggilan Elin yang membuyarkan lamunannya.
" Ini " kata Elin memberikan secangkir Capucinno panas pada Hannah.
" Terimakasih " ucap Hannah sedikit menyunggingkan senyumnya , Elin mengangguk namun matanya menatap bingung pada wajah sendu Hannah.
" Ada apa Hannah ? " tanya Elin yang tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya dan sebagai teman memang seharusnya seperti itu , bertanya ketika melihat ada yang tidak beres ,
selanjutnya serahkan pada temanmu biarkan dia yang memilih menjelaskan atau menyimpannya sendiri ,
yang terpenting kita sudah bertanya yang mengartikan kalau kita peduli pada masalahnya ,
seperti yang biasa ia lakukan pada Green dan Amel.
Hannah menggelengkan kepalanya dengan seyum yang ia paksakan untuk bisa terlihat biasa biasa saja di hadapan Elin.
" Capucinomu sangat enak " ucap Hannah setelah selesai menghirup pelan pada minuman yang panas di tangannya.
" Apa kau sudah makan ? " tanya Elin dan tanpa sadar Hannah menggelengkan kepalanya , " aku akan menyiapkan makanan untukmu " kata Elin yang sudah ingin beranjak.
" Jangan , aku sungguh tidak lapar " kata Hannah dengan menarik tangan Elin.
" Hannah sebenarnya apa yang terjadi , kau tidak terlihat baik baik saja Hannah " tanya Elin yang tanpa sadar meninggikan suaranya.
" Ceritakan padaku apa masalahmu , kau yang bilang kalau aku adalah temanmu Hannah , dan sekarang tolong buat aku berguna dengan status itu " lanjut Elin sambil memegang pada kedua lengan Hannah.
Hannah menarik nafas dan memalingkan wajahnya dari tatapan Elin.
" Aku tidak tahu harus memulai dari mana ? " kata Hannah pelan dan duduk di sofa yang memang sudah di sediakan untuk menikmati kota New York.
" Aku sudah begitu jahat Elin " ucap Hannah yang sudah mulai terisak dengan kedua tangan yang menutup pada wajahnya.
" Kau tidak mungkin seperti itu Hannah " kata Elin tidak percaya " tapi itu yang terjadi , aku menghancurkan hidup orang lain karena kesalahanku " jelas Hannah semakin terisak , Elin terdiam ia tidak bisa lagi berkata apa apa , karena memang tidak mengerti seperti apa masalah sebenarnya.
" Kau ingat tentang laki laki yang pernah aku ceritakan ? " kata Hannah yang sudah membuka kedua tangan yang menutupi wajahnya , " ya , laki laki yang begitu kau cinta i" sahut Elin
Hannah tertawa begitu kecut mendengar perkataan Elin " ya , cinta gila yang justru menyakitinya " kata Hannah yang kembali menatap kosong.
" Sekarang dia sudah bahagia dengan kekasih barunya " lanjut Hannah.
" Secepat itu dia menggantikanmu " kata Elin tak percaya " memang seperti itu seharusnya , dia harus bahagia Elin , dia harus menemukan perempuan yang jauh lebih baik dariku " jawab Hannah menatap Elin.
" Walau kau harus menderita " sambung Elin.
" Tidak , selama ini dialah yang lebih menderita Elin , aku mengkhianatinya , aku berselingkuh dengan sepupunya sendiri " jelas Hannah yang kembali menangis , Elin terdiam dengan menatap dalam pada Hannah.
" Aku perempuan yang begitu jahat Elin " katanya lagi di dalam isak tangisnya.
" Ya , kau memang sangat jahat Hannah , tapi aku yakin kau punya alasan atasan perbuatanmu "
" Aku begitu serakah Elin , aku begitu tidak puas dengan cinta yang sudah dia berikan dengan tulus , bahkan alasanku begitu naif saat menghianatinya , menyakitinya hanya karena aku merasa perhatian yang dia berikan tidak cukup untukku "
" dan kau tahu , aku masih begitu tidak tahu malu dengan datang kehadapannya dan meminta dia untuk melupakan kesalahanku untuk bisa kembali seperti semula "
" Ceh , kau memang begitu murahan Hannah " ucapnya pada diri sendiri.
" Walau semua memang terlihat begitu salah , tapi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri Hannah , semua sudah terjadi dan dia sudah menemukan perempuan yang mungkin memang lebih baik , berdoalah untuk kebahagiaannya karena hanya itu yang bisa di lakukan untuk orang yang kita cintai dalam diam " kata Elin menenangkan Hannah.
" Semua tidak semudah itu Elin , kau tahu , dan sekarang aku masih menjadi penghalang untuk kebahagiaannya "
" Maksudmu " tanya Elin semakin bingung.
" Aku tidak bisa menjelaskan padamu , kau tidak akan mengerti seperti apa hidup yang aku jalani , sampai saat ini dia masih saja harus menderita karena aku , bahkan kebahagiaannya terhalang karena aku , dan wanita itu , wanita itu harus ikut menderita karena aku " kata Hannah semakin terisak dalam tangisannya.
" Aku begitu jahat Elin " katanya lagi , Elin mendekap tubuh Hannah ke dalam pelukannya.
" Cintaku benar benar menyakitinya " ucap Hannah dengan air mata yang tidak berhenti mengalir.
" Aku tidak bisa melakukan apapun untuknya , semua begitu rumit " sambung Hannah.
" Tenanglah Hannah , semua masalah pasti memiliki jalan keluarnya , kau harus yakin meski harus ada yang di korbankan untuk itu " kata Elin menenangkan dengan mengusap lembut punggung Hannah " percayalah , semua akan baik baik saja " sambung Elin.
Sesaat Hannah terdiam karena perkataan Elin namun otaknya masih tidak menemukan solusi apapun ,
ia senderkan kepalanya di pundak Elin dengan menghela nafas begitu pelan.
Hatinya sedikit menghangat setelah menyadari kalau sekarang ia sudah tidak sendiri , ia memiliki Elin , sahabat yang tetap memeluknya dan masih bisa mengatakan kalau semuanya akan baik baik saja meski nampak begitu mengecewakan dan itu cukup membuat hati Hannah kembali menghangat , setelah semua rasa sesak karena perkataan Caren padanya.
" Terimakasih Elin , aku begitu beruntung memilikimu " ucap Hannah yang memeluk Elin begitu erat dan Elin hanya tersenyum dengan tangan yang menepuk lembut pada pundak Hannah .
jangan lupa vote , like dan coment🤗
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚