
Setelah kurang lebih delapan belas jam berada di udara, tepat pukul empat sore, pesawat pribadi milik keluarga Remkez tiba di bandara John F. Kennedy.
Saat itu, Elin menghela nafas panjang. Tak butuh waktu satu hari untuk dia mempunyai jarak bermil-mil jauhnya dengan orang-orang yang ia cintai.
Bukan tak senang, saat menyadari ia telah kembali lagi ke New York. Hanya saja perasaannya masih gundah memikirkan, bahwa mulai hari ini, kota ini lah yang menjadi tempatnya kembali, bukan lagi Jakarta. Kota yang menjadi tempat tinggalnya lebih dari dua puluh tahun.
Daniel mengulurkan tangan dengan tersenyum," kita sudah sampai sayang", ucapnya, dan Elin hanya bisa membalasnya dengan tersenyum hambar saat itu. Tapi ia tak menolak uluran tangan lelaki itu.
" Ayo ", ajak Daniel, memintanya untuk bangun dari kursi yang menjadi tempatnya memandang awan selama berjam-jam.
" Ayo ", ajak Reymond menimpali. dan ia kembali tersenyum untuk lelaki paruh baya itu, " ya Papi ", katanya membalas, dan mulai ikut beranjak.
" Selamat datang Mrs. Remkez ", ucap beberapa orang bersamaan, yang tengah berdiri berjejer di hadapan Elin, saat itu baru satu langkah kakinya menyentuh anak tangga, dan ia mendapati semua orang tersenyum padanya. Suasana hatinya sedikit berubah oleh itu, dan ia tersenyum, tersenyum dengan manis. Dan untuk pertama kalinya, ia melakukannya setelah beberapa hari kelabu yang ia lewati.
" Selamat datang juga Mr. Remkez", ucap beberapa orang itu kemudian.
Seorang perempuan datang mendekatinya dan Daniel, tepat setelah mereka tiba di bawah kaki tangga pesawat. Lebih tepatnya perempuan itu mendekat padanya, " selamat datang Nyonya muda ", ucapnya begitu ramah. Perempuan setengah baya yang baru pertama kalinya ia lihat hari ini, senyumnya mengembang, memberikan sebuket mawar merah padanya, " selamat untuk pernikahan kalian ", ucapnya lagi. Saat itu, Elin tersenyum dan menoleh pada Daniel, yang kini membalasnya dengan tersenyum.
" Terimakasih ",balasnya.
Sepanjang jalan menuju Mansion tempat tinggal mereka, Daniel tak berhenti menggengam tangan Elin. Dengan sesekali mencium punggung tangan perempuan itu. Ia terlalu memahami perasaan istrinya kini, yang tengah gundah, tengah bersedih karena berada jauh dari orang-orang terdekatnya.
Ia bahkan mengerti, ketika sepanjang jalan perempuan itu tak bicara sedikit pun, hanya tersenyum, setiap kali ia mencium punggung tangannya. Dan terus seperti itu, sampai mobil yang membawa mereka tiba di halaman Mansion, " kita sudah sampai sayang ", katanya memberitahu, meski saat itu, mata Elin sudah memandangi beberapa orang yang tengah berdiri di ambang pintu utama.
Dan ia kembali tersenyum, menyambut tangan Daniel yang mengajaknya keluar dari mobil.
" Selamat datang Tuan, Nyonya Muda ", ucap seorang wanita paruh baya menyambut. Umurnya terlihat lebih tua dari Nyonya besar dalam rumah mewah itu, dan ia menjadi pemimpin dari beberapa orang yang masih berada di ambang pintu.
Elin tidak membalas ucapan itu. Ia terlihat lebih tertarik memandangi wajah wanita paruh baya di hadapannya, wajah yang baru ia temukan di rumah itu. Dan sejenak ia menoleh pada Daniel. Dahinya sedikit berkerut, tapi Daniel justru tersenyum padanya. Ia kembali melihat pada wanita di hadapannya, mengamati baik-baik wajah wanita itu.
" Dia seperti bibi Jamie ", katanya pelan pada Daniel, dan sekali lagi, laki-laki itu hanya tersenyum. Dan saat itu mata Elin langsung membesar, " jadi dia benar, bibi Jamie ! ", katanya berseru, dan masih tak percaya.
" Selamat datang nak ", ucap wanita itu sekali lagi. Senyumnya merekah, dan Elin tak lagi meragukan tebakannya, " Bibi Jamie ", pekiknya begitu senang, ia tak bisa menahan diri untuk memeluk wanita itu, " aku hampir tak mengenali bibi ", katanya dalam pelukan.
" Apa bibi begitu cantik ? " tanya Jamie tertawa dan Elin mengangguk, " sangat cantik ", katanya menyetujui, meski sebenarnya Jamie sendiri hanya bergurau dengan ucapannya.
Elin melepas pelukannya, dan mengamati sekali lagi tubuh Jamie. Wanita itu, memang terlihat jauh berbeda. Rambutnya tertata begitu rapi, dengan hiasan anting bermata satu di telinganya, " Bibi menjadi kepala pelayan ? ", katanya menebak, dan setelah itu ia menoleh pada Daniel.
Lelaki itu mengangguk. Dan matanya berbinar medapati berita itu.
Ia kembali memeluk tubuh Jamie, " aku sangat senang bibi disini ", ucapnya. Bahkan Jamie dapat merasakan jantungnya yang berdebar saat mengucapkan kalimat itu.
" Nyonya besar yang meminta Bibi disini nak ", kata Jemie memberitahu," Ibu mertuamu sangat menyayangimu ", tambahnya.
" Tapi itu saran dariku Bi ", kata Daniel menimpali. Elin melepas pelukannya, dan Jamie tertawa kecil mendengar kalimat protes dari lelaki itu, protes karena namanya tak sebut menjadi andil dari keberadaannya disana.
Elin menatapnya terharu, dan tak malu untuk bergantian mengecup bibir lelaki itu, meski masih berada di hadapan Jamie, " terimakasih sayang ", katanya bersungguh-sungguh. Dan Daniel mengangguk.
Reza datang mendekat, memberikan pada Jamie, buket mawar merah yang tadi Elin dapat dari penyambutan kedatangannya di bandara.
" Astaga aku hampir melupakannya ", sergah Elin, seraya ingin bergerak mengambil bunga itu. tapi, Jamie malah menjauhkan buket itu darinya, " biar saya yang membawanya Nyonya ",katanya pada Elin. Dan saat itu, kedua alis Elin langsung bertaut. dan melempar tatapan tak suka, " kenapa bicara formal seperti itu Bibi ", katanya memprotes.
Ia menoleh pada Daniel, " aku tidak suka bibi bicara dengan seperti padaku ".
" Bi bicaralah seperti sediakala padanya ", kata Daniel pada Jamie.
" Tapi saat ini aku sedang bekerja Tuan ".
" Tapi anda keluarga disini, bukan pelayan sungguhan ", balas Daniel, menepis jawabannya.
" Sungguh aku tidak suka bibi bicara seperti itu padaku ", kata Elin menimpali. Saat itu, Jamie tidak lagi protes. Meski sebenarnya, ia benar-benar tak setuju. Hal itu terlalu tak sopan untuknya yang sudah di berikan tempat terbaik, dalam posisi pekerja di rumah itu.
" Baiklah, aku tidak bisa membantah jika itu keinginan Nyonya Muda ", katanya dengan tertawa, dan Elin langsung berdelik.
" Ayo masuk ", ajak Daniel, begitu pun Jamie, yang mempersilahkan Elin untuk kembali berjalan.
" Berikan bunganya padaku Bibi ", sergah Elin. Dan Jamie tetap menjauhkan buket bunga itu, saat Elin kembali ingin menjangkaunya, " tanganmu tak akan cukup, jika memegang buket ini ", kata Jemie menolak. Dahi Elin sedikit berkerut, ia sungguh tak mengerti apa maksud dari perkataan wanita itu. Namun, ia tak lagi berusaha untuk kembali merebut buket bunga itu ke tangannya.
Dengan kembali bergandengan dengan Daniel, ia berjalan masuk ke dalam rumah besar yang menanti di hadapannya. Rumah mewah yang akan menjadi tempat tinggalnya dan menjadi tempatnya pulang. Dan ia menghela saat kembali menyadari hal itu.
Satu langkah kakinya mengijak anak tangga di rumah itu. Saat itu, ia merasa dirinya sedang berada di negeri dongeng. Seperti seorang Cinderella, yang datang kembali kekerajaan. Setelah sebelah pasang sepatu kaca, di temukan oleh Pangeran padanya.
Walau sebenarnya tidak ada sepatu kaca, tapi kenyataanya persis seperti itu.
Setiap langkah kakinya bergerak menaiki anak tangga, setiap itu, ia menyadari hidupnya seperti mimpi. Ia baru merasakannya sekarang, bahwa jalan hidupnya tak ubah seperti wanita dalam negeri dongeng. Perempuan biasa yang di nikahi seorang pangeran.
Seorang pelayan memberinya setangkai mawar merah, " selamat datang Nyonya Muda, dan selamat untuk pernikahan kalian ", ucapnya dengan sangat lembut. Itu ucapan pertama yang ia dapatkan, dari belasan pelayan yang berdiri berjejer di sepajang tangga masuk pintu utama. Semuanya mengucapkan kalimat yang sama, dan memberikan satu tangkai mawar merah yang sama.
Saat itu mata Elin kembali berair. berbedanya kali ini, ia menangis karena terharu. Terharu akan sesuatu yang luar biasa ia dapatkan. Sesuatu yang tak pernah ia sangka seumur hidupnya.
Jika beberapa jam yang lalu ia menangis karena kesedihan, saat ini ia juga menangis, tetapi kali ini, tangisnya karena kebahagiaan.
Bahagia menyadari ia mempunyai garis hidup yang istimewah, garis hidup yang tak disangka-sangka. Seperti kisah di negeri dongeng, tapi kisah ini kenyataan yang ia dapatkan di hidupnya. Ia bukan seorang Cinderella seperti di cerita, tapi Merlinda, perempuan yang juga di nikahi oleh seorang pangeran.
Kini air matanya sudah mengalir dari matanya yang masih sembab, dan saat itu ia langsung memeluk tubuh lelaki di sampingnya, lelaki yang terus menggenggam erat tangannya, seperti kisah pangeran di dongeng. Yang menggenggam erat tangan Cinderella, saat melangkah menaiki tangga Kastil.
" Aku masih punya kejutan lain untukmu ", ucap Daniel saat itu, dan bersamaan pintu besar di hadapan mereka terbuka lebar.