Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Tidak Ada Pesan


Elin tersentak dari tidurnya oleh benda pipih di atas nakas yang berdering. Setengah tersadar ia menggapai benda itu, " hemm... " jawabnya tanpa melihat siapa yang tengah menghubunginya.


" Ya ampun maafkan Mami. Sepertinya mami mengganggu tidurmu " ungkap dari balik telepon. Mendengar suara itu mata Elin terbuka begitu lebar. Dengan cepat ia beranjak dari duduknya, sembari menormalkan keadaannya, " memalukan " umpatnya, mengutuk diri sendiri. Bagaimana tidak, jam sudah menunjukan pukul hampir jam sembilan pagi. Sementara ia masih tidur, sementara yang berbicara dari balik telepon adalah wanita paruh baya yang akan menjadi mertuanya.


Viona terdengar tertawa dari balik telepon, " jangan sungkan seperti itu nak. Mami sungguh tidak akan mempermasalahkan, jika kau bangun sedikit siang ".


" Sedikit. Tapi sepertinya ini terlalu banyak " balas Elin begitu jujur, membuat Viona semakin tertawa dari balik telepon, " sungguh. Mami tidak akan apa-apa " katanya menegaskan.


" Hemm.. Terimakasih Mam. Ada apa Mami menelponku ? "


" emm.., apa hari ini kau punya rencana ? " tanya Viona begitu hati-hati.


" Sepertinya tidak Mam. Ada apa ? "


" Apa kau mau menemani Mami nanti. Bundamu hari ini sibuk. Green, hari ini sepertinya dia harus bersama Naina. Sementara Amel, dia masih..."


" Aku pasti mau Mam. Memangnya Mami mau kemana ? " potong Elin.


" Hemmm.. , Hanya ingin jalan-jalan. Mami mulai sedikit bosan akhir-akhir ini "


" Baiklah. Jam berapa Mam ".


" Jam tiga sore. Kau mau ? "


" Tentu ".


" Terimakasih nak ".


" Apa nanti Meili ikut mam ? " tanya Elin, sebelum Viona menutup teleponnya.


" Tidak. Sepertinya dia masih marah karena hal kemarin ".


" Apa dia masih ingin belum bicara Mam ? ".


" Sudah bicara, tapi begitu irit " balas Viona tertawa, " jangan khawatir dia pasti akan cepat membaik " katanya lagi.


" Hemm.. ".


" Baiklah Mami tutup teleponnya. Sampai bertemu nanti ya nak "


" Mam tunggu " seru Elin.


" Ya nak ".


" Emmmm. Daniel dimana Mam ? "


Viona terdiam sejenak, " apa dia belum memberi kabar ? "


" Hem.. " sahut Elin lemah dan sedikit malu.


" Oh, itu mungkin karena dia begitu sibuk hari ini. Dari tadi Mami terus melihat dia terus terhubung bersama Reza " jelas Viona.


" Oh begitu. Baiklah Mam, sampai bertemu nanti sore "


" Oke. Mami tutup teleponnya "


" Ya Mam " balas Elin, lalu kemudian panggilan itu benar berakhir.


Dahi Elin mengkerut saat melihat tidak ada satu pun pesan masuk ke dalam handphonenya. Padahal setiap kali terbangun ia selalu mendapati ucapan morning dari lelaki yang saat ini katanya begitu sibuk, " apa dia benar-benar sibuk, sampai tidak bisa mengirim pesan huh " gumamnya sedikit kesal.


Dan bersamaan handphone yang masih berada di tangannya kembali berdering, " Bimo " serunya dengan mata yang membesar. Ia cukup terkejut mendapati lelaki itu menghubunginya sepagi ini dan itu berarti waktu malam di New York.


" Hallo... " jawabnya sedikit cemas.


" Hai Nyonya Remkez. Apa sekarang kau sudah melupakan kami huh ? " cercah dari balik telepon.


Mendengar itu Elin langsung saja tertawa," mana mungkin itu terjadi " balasnya.


" Kalau begitu cepatlah kembali. Ah kalau pun kau sudah kembali. Kau pasti tidak akan bekerja bersama kami lagi "


" Jangan mengada-ada Bim. Aku akan kembali dengan keadaan yang sama, menjadi teman kerjamu ".


" Jangan bercanda Elin. Mana mungkin begitu ".


" Kenapa harus mana mungkin huh ? "


" Apa kau pikir itu lucu. Setelah kau kembali, statusmu jelas Nyonya Remkez. Apa kau pikir itu mungkin, kau masih akan berada di ruang editor bersama kami huh "


Elin semakin tertawa, " imajinasimu berlebihan. Sungguh tidak ada yang berubah, aku akan tetap kembali sebagai karyawan magang ".


" Kau gila " umpat Bimo tidak percaya.


" Aku masih normal Bim " sanggah Elin dengan masih tertawa, " Bagaimana kabar kalian ? " tanyanya kembali serius.


Bimo menghela nafas, " Huh. Ruang kerja itu benar-benar hampa tanpa kau,dan sedikit juga karena Cussy " jelasnya. Sesaat tawa Elin memudar saat mendengar nama seseorang yang akhir-akhir ini sedikit ia lupakan.


" Kira-kira bagaimana kabar dia ya Bim " .


" Ceh. Bisa-bisanya kau berucap seperti itu setelah dia begitu jahat padamu " cercah Bimo yang terdengar menjadi kesal.


" Tapi bagaimana pun dia tetap teman kita Bim. dan dia orang pertama yang menjadi temanku disana "


" Hemm.., susah memang, jika bicara dengan malaikat " ucap Bimo. dan Elin kembali tertawa.


" Tapi sungguh. Jika ada kesempatan aku ingin bertemu dengannya "


" Kau memang tidak ada jeranya Elin, eh maaf. Maksudku Nyonya Remkez "


" Bim, panggil aku Elin. Jangan merubah apapun "


" Aku sungguh heran, siapa sebenarnya kau ini. Aku rasa hanya kau satu-satunya perempuan yang bertingkah sepertimu ini ".


" Maksudmu ? "


" Aku yakin semua wanita di dunia ini akan begitu bangga menyandang nama keluarga Remkez di belakang namanya. Tapi kau terlihat tidak seperti itu, padahal kau satu-satunya wanita di dunia ini yang beruntung ".


" Satu-satunya ? " ulang Elin semakin bingung.


" Ya tentu kau satu-satunya. Bukankah keluarga Remkez hanya memiliki satu anak lelaki atau kau ingin Tuan Daniel menikah lagi huh.. " cercah Bimo, yang menjadi tertawa, berbeda dengan Elin yang kini menjadi sedikit memanas, " mana mungkin itu terjadi. Aku tidak begitu terlalu baik untuk berbagi suami " balasnya begitu ketus dan bergantian, kini Bimo yang semakin tertawa, " ternyata kau bisa juga marah ".


" Hewan saja marah jika kepunyaannya di ambil Bim.. "


" Waww.., santai Elin. itu sungguh tidak akan benar benar terjadi dan ternyata kau sungguh menakutkan... "


" Hemm aku mengerti. Aku rasa akan sama saja sekali pun saat ini kau tidak sedang akan datang bulan... " ucap Bimo begitu pelan.


" Apa yang kau katakan Bim.. ".


" Tidak, tidak. Kami semua merindukanmu ? "


" Oh ya. Bagaimana kabar Frans dan juga David ? "


" Frans tentu seperti biasanya, kalau David, beruntung dia tidak gila karena kau tinggal menikah " balas Bimo yang kembali tertawa.


" Jangan gila Bim. Mana mungkin sampai seperti itu ".


" Kau tidak melihat. Yang terus bersamanya itu aku. Dia benar-benar tidak lagi banyak bicara setelah mengetahui kau adalah kekasih Tuan Remkez. Aku rasa dia putus asa karena tidak mampu bersaing Elin ".


" Jaga bicaramu Bim. Itu tidak lucu " sergah Elin, yang justru saat ini menjadi kasihan pada David.


" Kau menjadi begitu serius. Padahal aku hanya bercanda ".


" Bukan, tapi itu sungguh tidak lucu. Kau justru membuatku merasa bersalah "


" Kenapa harus merasa bersalah. Kau tidak bisa mencegah orang lain menyukaimu Elin dan itu resiko yang harus di terima orang lain karena menyukaimu "


" Ceh. Sekarang kau terdengar menjadi begitu bijak "


" Itu karena akhir-akhir ini aku menjadi seperti Ibu di dalam ruangan. Mengurus dua manusia yang satu gila kerja dan satu putus asa karena cinta " cercah Bimo, membuat Elin kembali tertawa.


" Maka dari itu cepatlah kembali. Kami begitu kesepian di dalam ruangan. dan aku cukup bosan bersama dua manusia itu "


" Ya ya, setelah semuanya selesai disini. Kami pasti akan secepatnya kembali ".


" Baiklah aku menunggu. Kalau begitu aku tutup teleponnya Elin. Sampai bertemu nanti ".


" Ya Bim. Bye "


" Bye " tutup Bimo pada panggilan teleponnya.


~


Elin masih setia mengikuti langkah calon mertuanya mengintari lantai demi lantai di dalam salah satu Mall terbesar di Jakarta, dengan beberapa goddy bag di tangannya, " Mam, apa ini belum selesai ? " tanyanya begitu hati-hati.


Viona menghentikan langkahnya, "apa kau lelah ? " tanyanya dengan tersenyum.


" Hemm.. sedikit " sahut Elin lemah, " Mam. Bukankah Mami sudah mempunyai semua barang ini ? " tanyanya sambil melihat pada isi di dalam goddy bag di tangannya.


Dan Viona kembali tersenyum, " itu untuk Ibumu. Mami tidak membawakan apa-apa untuknya kemaren " jelasnya. Mata Elin membesar mendengar itu, " Mam... " panggilnya lemah.


" Barang-barang ini terlalu banyak " serunya lagi. Sementara Viona hanya terus tersenyum, lalu bergerak menggait tangannya, " itu tidak ada apa-apanya dengan apa yang akan di berikannya padaku " kata Viona.


Viona menatap dengan wajah yang memelas pada Elin, " maaf tapi kau harus bertahan sedikit lagi. Masih ada yang harus Mami beli ".


" Jika itu sesuatu yang bukan untuk Ibuku Mam. Ini sungguh sangat berlebihan " ungkap Elin. membuat Viona tidak berhenti tertawa, " tidak, tidak untuk saat ini, itu cukup untuk Ibumu. Mami ingin mencari sesuatu yang bisa di berikan pada calon besan Mami selanjutnya ".


" Calon besan Mam ? " ulang Elin bingung.


" Ya. Calon mertua Meili. Kau sudah tahu bukan, kalau besok malam mereka akan datang "


" Besok malam Mam ? " ulang Elin kembali, di sertai dengan mata yang sedikit membesar, " aku tahu itu akan terjadi, tapi aku baru saja tahu kalau pertemuan ini akan terjadi besok malam ".


" Ya Mami juga tidak menyangka. Mereka memberi kabar tadi malam, kalau mereka akan datang besok, karena kebetulan putra mereka memiliki waktu dua hari ini "


" Hemmmm " balas Elin sambil mengangguk.


Viona kembali mempererat pegangannya di tangan Elin, " ayo. Biar kita segera istirahat " ucapnya dan Elin kembali mengangguk.


~


Elin dan Viona kini tersandar di sofa di dalam sebuah restoran mewah, yang masih berada di dalam gedung yang sama di tempat mereka tadi belanja, " aku pikir nanti Daniel akan kewalahan karena memiliki istri yang senang belanja, tapi ternyata Ibunya lebih dari gila " ujar Elin tanpa sadar, dan membuat Viona tersedak karena tertawa.


" Astaga maafkan aku mam " ucapnya lagi, setelah menyadari perkataanya yang terdengar tidak sopan.


" Tidak, tidak. Mami justru lebih suka, saat kau bicara lebih santai ".


" Mami bukan hanya mencari menantu tapi juga teman bicara. Kau tahu sendiri seperti apa adik iparmu itu " lanjut Viona dengan tertawa, " tapi ucapanku tadi sedikit tidak sopan Mam ".


" Itu masih wajar. Dan Mami bukan orang tua kolot yang selalu ingin di hormati. Cobalah untuk menganggap Mami temanmu, dengan begitu kau akan lebih santai saat bicara " pintanya, dan perlahan Elin mengangguk, meski ia sedikit tidak memahami, " Teman " gumamnya tak habis pikir.


Viona kini sibuk dengan menu restoran di hadapannya, sementara Elin kini masih tersandar di sisi sofa sambil berkutat dengan benda pipih di tangannya.


Ia menghela nafas, saat kembali menyadari tidak ada pesan yang masuk di dalam hapenya. padahal saat ini sudah lebih dari setengah hari berlalu, bahkan sudah malam. dan perasaannya menjadi memanas karena pesan yang ia kirim juga tidak ada balasan.


" Apa dia begitu sibuk ? " gumamnya begitu kesal. Walau begitu, ia begitu berat untuk menanyakan perihal itu pada Viona.


Elin meletakkan handphonenya ke atas meja, sembari memandang kesal pada setiap sudut tempat di sekitarnya. Dan sejenak mata minus itu menyipit saat pandangannya kini menemukan seseorang yang ia kenal.


" Jerry " serunya. Membuat Viona yang masih fokus pada lembaran menu makanan di hadapannya ikut tersentak dan melihat pada arah mata ia memandang.


" Jerry " panggilnya pada laki-laki yang kini duduk sendiri tidak jauh dari tempat mereka.


" Mam dia temanku dan juga Green dan Amel " jelasnya pada Viona, sebelum wanita paruh baya itu menjadi salah paham.


Sambil tersenyum Jerry berjalan ke tempatnya, " kita bertemu kembali " serunya sambil mengulurkan tangan.


" Hemm..,apa pekerjaanmu di Lombok sudah selesai ? " tanyanya dan lelaki itu menggeleng, " aku hanya di minta pulang sebentar kemari dari orang tuaku. dan baru saja aku tiba disini ".


" Benarkah ? " tanya Elin.


" Hemm... "


" Oh ya Ger. Perkenalkan ini Ibu mertuaku dan juga Ibunya Meili " ujar Elin memperkenalkan Viona.


" Oh Hallo tante " sapa Jerry, " calon mertua tidak jadi " lanjutnya tertawa, membuat Elin berdelik padanya.


" Aku hanya bercanda Elin " ucapnya terkekeh.


" Hello " balas Viona dengan mata yang tidak berkedip menatap pada wajah Jerry, " dia temanmu nak ? " tanyanya pada Elin.


" Ya mam. Bahkan dia sahabat laki-laki kami " jelas Elin, mendengar itu ada seutas senyum dari bibir Viona, " Menakjubkan " gumamnya pelan.


" Senang bertemu denganmu nak " ucapnya pada Jerry dengan seutas senyum penuh arti.