Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Berciuman


Setelah semua orang pergi, Daniel kini terdiam dengan menatap lamat pada wajah kekasihnya, " ada apa ? " tanya Elin begitu lembut.


Namun lelaki itu menggelengkan kepala, " aku terlalu beruntung memilikimu " ucapnya menatap serius.


" Ceh " seru Elin berdecih, sambil bergerak bangun dari pembaringannya, lalu duduk menyandarkan tubuhnya disisi ranjang dan dengan sigap Daniel bergerak membantu, " apa kepalamu masih begitu sakit ? " tanyanya dengan kembali menjadi cemas.


" Sedikit " jawab singkat Elin dengan dua garis bibir yang sedikit terangkat, " katakan apa yang ada dalam pikiranmu ? "


Daniel terdiam sejenak, " Sungguh. Kemaren aku sudah menyerah karena aku sangat yakin kau tidak mungkin akan memaafkan kesalahan Mami... "ucap Daniel.


" Ternyata kau meragukan cintaku Daniel " potong Elin.


" Bukan meragukan. Tapi dalam hal ini beda masalahnya. Bahkan mungkin jika aku menjadi dirimu, aku pasti akan sulit untuk memaafkan Mami ".


Elin menghela nafas pelan, " semua memang masih menyakitkan, tapi juga sudah berlalu Daniel ".


" Semua orang benar. Walau mereka tidak tahu seperti apa yang aku rasakan, tapi semua sudah berlalu dan tidak akan merubah apapun lagi " sambungnya dengan menatap searah pada kaca besar di dalam ruangan.


Daniel kembali bergerak lalu memeluk tubuh tak berdaya calon istrinya. Di rengkuhnya tubuh itu dengan begitu hangat dan tanpa sadar air mata Elin kembali menetes, meski dengan cepat ia menyekanya, " kemarin, ingin sekali aku melakukan ini. Tapi aku yakin kau pasti tidak ingin bertemu denganku " ucap Daniel begitu dalam. Sementara Elin masih diam dengan air mata yang menetes tanpa sepengetahuan lelaki itu.


" Aku yakin kau pasti marah dan Kecewa pada semuanya " ucapnya lagi, lalu melepas pelukannya dan menatap dengan seksama pada wajah dengan mata yang sedikit berair, " yakinlah padaku Elin. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, bahwa saat ini tujuan hidupku adalah kembahagiakanmu " ucapnya dengan bersungguh-sungguh.


Mendengar itu tentu Hati Elin menghangat. Dan ia bisa melihat tidak ada kebohongan disana. Kembali di peluknya tubuh gagah Daniel dan ia menangis sejadi-jadinya disana, " jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku Daniel " racaunya.


" Apa yang sedang kau katakan sayang. Meski aku tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari, tapi yang aku inginkan sampai saat ini, hanya ingin kita terus bersama sampai menua "


" Aku tidak pernah ingin kehilanganmu " tambahnya begitu serius.


Elin masih menangis sesegukan di dada Daniel, " Terimakasih telah begitu mencintaiku. Kau salah satu alasan yang membuat aku tetap harus kuat dan bertahan Daniel. Aku seperti sudah kehilangan diriku sendiri. Aku tertekan dan sesungguhnya aku benci hidupku " racaunya di tengah tangisan.


" Tuhan seperti membuat jalan hidupku tidak adil. Aku pikir masalah ini juga akan membuat aku kembali kehilangan dirimu Daniel. Aku kehiilangan harapan untuk hidup, semua yang aku miliki seolah semua di renggut dariku ".


" Kalau bukan hari itu Green dan Amel datang kerumahku. Mungkin aku akan benar-benar kehilangan harapan dan putus asa. Dan Tuhan membuat kita kembali bertemu di ruang ini ".


" Sungguh aku marah Daniel. Aku kecewa, tapi saat kembali melihat wajahmu kemarin. Semua kecewaku selama puluhan tahun seperti tidak berarti dan aku menyadari bahwa cintaku padamu lebih besar dari sakit yang aku rasakan selama ini "


Daniel mempererat pelukannya, tanpa sadar air matanya ikut menetes, " aku pun mencintaimu lebih dari apapun Elin " ucapnya begitu dalam.


Di lepasnya pelukan hangat antara mereka, Lalu kembali menatap wajah Elin.


Melihat bola mata yang sedikit berair milik wanitanya itu berhasil membuat Daniel hilang kendali dan tak sabar ingin mengecup bibir merah Elin yang sedikit memucat.


Elin memejamkan matanya, saat bibir halus Daniel menyentuh bibirnya.


Ia seperti ikut hilang kendali dan seakan lupa dimana mereka berada saat ini.


Rasa rindu dan cinta yang begitu besar kini seperti menyatuh oleh bibir yang saling *******.


" Eh maaf " teriak panik dari dua orang bersamaan dan kembali menutup pintu ruangan.


Mata Elin membesar dan dengan cepat melepas bibirnya dari bibir Daniel.


" Shiitt " umpatnya dengan pipih yang sudah memerah padam.


" Ada apa ? " tanya Daniel bingung. Dan Elin menatapnya lekat, " apa kau tidak tahu jika baru saja ada yang datang ? " tanyanya dan laki laki itu menggelengkan kepala.


" Astaga. Bagaimana bisa kau tidak sadar sayang. Bahkan Green dan Amel berteriak tadi "


" Tidak. Aku tidak tahu. Aku memang selalu lupa apapun jika sudah mengecup bibirmu " balas Daniel dengan kembali mendekatkan bibirnya pada Elin. Namun, dengan cepat perempuan itu menjauhkan wajahnya, " sepertinya apa yang di katakan bunda benar. Kalau setan akan bekerja dua kali lipat pada pasangan yang mau menikah "ucapnya mendengus.


" Maksudmu sayang ? "


" Pikir saja sendiri "


" Aaaaahhh " teriak Elin tiba-tiba, yang membuat Daniel terkejut, " Ada apa sayang ? "


" Mereka pasti akan terus mengoda aku " seru Elin dengan setengah menangis.


Bukannya prihatin, Daniel justru tertawa begitu kencang, " biarkan saja " ucapnya enteng.


" Dasar gila "


~


Sementara di luar ruangan dua manusia kini tengah tertawa.


" Seharusnya kau ketuk dulu pintunya Mel " seru Green di sela tawanya.


" Mana aku tahu mereka akan berciuman " sahut Amel dengan terus tertawa, " Aku yakin pasti sekarang Elin sangat kesal. Apa menurutmu kita masuk saja sekarang ? ".


" Jangan gila. aku belum siap melihat wajahnya yang sekarang pasti sedang memerah ".


" Lagi pula ini salah kita. Seharusnya kita tahu akan ada adegan seperti ini " ucap Green sambil berusaha menghentikan tawanya.


" Kalian kenapa disini ? " tanya seseorang tiba tiba, " ayo masuk " ajaknya lagi pada Green dan Amel.


" Mam.. " teriak Green dan Amel bersamaan saat Viona baru saja ingin menekan knop pintu di ruang rawat Elin.


" Kita disini dulu " pinta Green sambil menarik tangan Viona untuk duduk di kursi tunggu.


" Kenapa? , ada apa Green ? " tanya Viona menjadi panik.


" Anak dan calon menantu Mami sedang bermadu kasih di dalam. Jadi sementara kita disini dulu. Kita harus membiarkan mereka untuk saling melepas rindu Mam ".


Mendengar itu Viona langsung mengangguk, tanpa protes atau masuk ke dalam ruangan. Dan itu cukup membuat Green dan Amel melihat heran, " Mam.. " panggil Amel pelan.


" Hemmm.. ya "


" Apa mami engga takut terjadi apa apa sama mereka ? "


" Mami percaya anak mami. Lagi pula terjadi pun juga tidak apa apa. Sebentar lagi mereka akan menikah dan Mami tidak masalah jika punya cucu dulu " Balas Viona dengan tertawa.


" Mam itu serius ? " seru Green dengan mata yang membesar.


" Tentu tidak. Mami bercanda " sahut Viona yang semakin tertawa dengan keras, " makanya sebelum itu tejadi kita masuk sekarang " ajaknya dengan menarik tangan Green dan Amel.


" Tapi Mam. Kasian mereka jadi terganggu karena ada kita "


" Kita memang harus mengganggu mereka. Kalau mereka mau bermadu kasih secara leluasa nanti saat sudah menikah. Kalau sekarang belum boleh " sergah Viona dengan langsung membuka pintu ruangan.


" Mam.. " seru Elin dengan mata membesar saat melihat Viona ikut masuk ke dalam ruangan.


" Tenang saja Lin. Tadi yang melihat cuma aku dan Amel. Mami engga kok " ucap Green dengan santai. Sementara wajah Elin semakin memerah karena malu.


" Justru sekarang kau terdengar seperti memberitahunya Green " seru Elin berdelik.


Sedangkan Green dan Amel kembali tertawa, " maafkan kami sudah mengganggu kalian berciuman " ucap Amel tanpa rasa bersalah.


" Mel... " teriak Elin.


" Santai saja nak. Mami bukan wanita kolot kok. Asal tidak lebih dari itu saja " ucap Viona dengan santai.


" Thanks Mam " balas Daniel dengan tersenyum sambil melihat pada Elin yang kini melotot padanya.