
• Flashback
" Selamat pagi " ucap hangat seorang wanita pada putri kecilnya yang baru bangun. " Ayo bangun " pintanya tersenyum manis.
" Mau pergi kemana kita, Ibu ? " tanya gadis kecil yang masih menggeliat di atas tempat tidurnya, " kita jalan-jalan " jelasnya singkat, dengan garis senyum yang terus melengkung.
" Horee... " teriak putrinya begitu senang. dan begitu bersemangat bangun dari pembaringannya
" Sekarang ayo kita mandi " ajaknya, dan putri kecilnya begitu bersemangat mengangguk, " ayo ibu " balasnya sambil menari jemari ibunya menuju kamar mandi.
Garis senyum Merry terus melengkung. Pagi ini, ia seperti tidak ingin kehilangan bayangan putrinya dari pandangannya.
" Putri Ibu sudah cantik " serunya tersenyum senang, setelah selesai mempercantik putri kecilnya. di pasangkan dress kecil pada tubuh putrinya dengan model yang senada dengannya. Dan rambut panjang yang ia kuncir, lalu di perindah dengan jepitan yang di hiasi bunga Rose warna merah muda, warna yang senada dengan baju yang mereka gunakan.
" Sudah cantik ibu ? " tanya lucu putrinya.
" Sudah dong. Putri ibu pasti sangat cantik " balasnya seraya mencium gemas pipi chubby putri kecilnya.
" Ayo. Ayah sudah menunggu " ajaknya lagi dan Elin kecil mengangguk.
Tubuh Elin kecil kini berpindah ke dalam gendongan ayahnya. Karena Merry harus merapikan semua bekal yang harus mereka bawa, " mau pergi kemana putri ayah ? " tanya manja Gunawan pada putrinya.
" Kata Ibu kita mau pergi jalan jalan ayah "
" Benarkah ?, tapi ayah capek. Bagaimana kalau jalan jalannya besok saja.. "
" Ayah, jangan menggodanya " seru Merry dari meja makan, sementara Elin kecil sudah mengerucutkan bibirnya karena ingin menangis dan saat itu Gunawan langsung tetawa, lalu mencium gemas pipi putrinya, " kenapa gadis kecil ayah begitu cengeng huh " ucapnya gemas.
" Jadi kita tidak jadi pergi ayah ? " tanya Elin kecil dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
" Tentu jadi sayang. Ayah sudah janji kalau hari ini kita akan pergi jalan-jalan "
Mendengar itu sekejap saja mata Elin kecil berbinar dengan senyum yang merekah. Memperlihatkan sederetan gigi susunya yang kecil.
" Memangnya putri kecil ayah mau kemana hemm.. "
" Lihat Gajah " sahut Elin kecil begitu polos.
Membuat Gunawan kembali tertawa, " terus apa lagi ? ".
" Aku mau makan es Krim ayah "
" Oke. Nanti kita makan es Krim ya "
" Janji Ayah "
" Janji nak "
" Selesai, Ayo kita berangkat " seru Ibu Elin.
" Yeaayy " teriak Elin kecil begitu girang. Ia terus tersenyum di dalam gendongan ayahnya menuju Mobil.
" Jadi mau jalan jalan kemana kita nak ? " tanya Merry pada putri kecilnya yang kini berdiri di kursi belakang, " lihat gajah " sahut Elin kecil.
~
Tanpa terasa waktu begitu cepat berlalu. Matahari mulai merunduk saat tubuh kecil Elin terlelap di dalam gendongan ayahnya.
Hari ini tidak ada satu pun kemauan Elin kecil yang terlewatkan. Dari mulai memberi makan Gajah, Jerapa, Kudanil dan hampir semua hewan yang ingin ia temui tidak ada satu pun yang terlampaui.
Lalu menikmati makan siang dari bekal yang mereka bawa, serta bermain kesana kemari di sepanjang taman. Gunawan seperti tidak ada kata lelah untuk menyenangkan putri satu satunya hari ini.
" Ayah itu " tunjuk Elin kecil pada tempat Es krim.
" Ayo " ajak Gunawan dengan bersemangat membawa putrinya berjalan menuju tempat es Krim, " Yah jangan memberinya berlebihan " seru Merry mengingatkan.
" Biarkan saja bu. Hari ini biarkan dia makan apa saja yang ia mau. Kita tidak tahu lagi kapan bisa membawanya lagi kemari " sahut Gunawan tersenyum pada istrinya. Meski Merry mencebir tapi akhirnya ia tersenyum, " kau yang harus bertanggung jawab kalau nanti putrimu sakit perut " peringatnya dan Gunawan dengan cepat mengangguk, " bukannya kalian memang tanggung jawab aku " katanya dengan tertawa, lalu berlalu untuk membawa putrinya menuju tempat es Krim, karena Elin kecil memang sudah tidak sabar.
" Astaga dia tertidur " Kata Merry menunjuk pada Elin kecil yang masih memegang Es Krim dengan mata yang sudah terpejam.
Mereka tertawa saat itu, menyaksikan tingkah gemas putrinya, sambil Merry membersihkan sisa es Krim yang menempel pada wajah Elin kecil.
Mereka masih belum beranjak dan membiarkan putri kecil mereka tertidur dengan tenang oleh semilir angin di bawah pohon rindang yang menjadi tempat mereka beristirahat dan liburan hari ini, bersama karpet yang di bentang sebagai alas mereka.
dan cuaca hari ini seperti mendukung untuk sebuah acara piknik sederhana untuk keluarga kecil mereka. Langit begitu cerah, bersama suara kicauan burung yang saling bergantian.
Mata mereka tidak pernah beralih dari menatap putrinya yang tertidur begitu lelap di dalam pangkuan Gunawan, " Aku seperti ingin terus melihatnya " ucap Merry, seraya mendekat untuk mengecup pipi putrinya dan ia melakukannya dengan lebih lama dari yang biasa ia lakukan, sampai membuat putri kecilnya terkesiap dari tidurnya. Namun, kembali lagi tertidur.
Kembali di tatapnya dengan begitu dekat wajah tidur putrinya, " lindungi dia selalu Tuhan. Kami begitu mencintainya " ucapnya serak. Ntah mengapa ia begitu emosional saat mengatakan itu, hingga membuat matanya kini berair.
" Bu.., putrimu akan terbangun kalau kau terus menciumnya " protes Gunawan. Namun, tak berusaha mencegah setiap kali istrinya bergerak untuk kembali mencium wajah Elin kecil, " aku sangat menyayanginya ayah " ucapnya lemah.
Mendengar itu Gunawan sedikit tertawa, " kau pasti sangat menyayanginya sayang, dia putrimu " ucapnya. Walau ia tertawa tapi sebenarnya hatinya cukup terenyuh oleh ucapan istrinya, " Dan dia begitu mirip denganmu " tambahnya lagi.
" Bahkan aku tidak kebagian apa-apa darinya "ucap Gunawan kembali tertawa, " parasnya memang menuruniku tapi sifat dan sikapnya jelas dia menurunimu " balas Merry yang sedikit tertawa, tapi matanya tidak berhenti menatap pada putri kecilnya.
" Dia banyak bicara sepertimu " tambah Merry. Lalu kembali ia dekatkan wajahnya, di tatapnya dengan lamat mata bulat yang masih terpejam dengan bulu mata yang lentik.
" Ayo kita pulang Ayah " ajaknya pada Gunawan. Lelaki itu mengangguk, lalu mengangkat tubuh kecil putrinya ke dalam gendongan. Sementara Merry merapikan kembali barang-barang yang mereka bawa.
Sinar matahari sore semakin turun. Sebelum pergi, mereka masih sempat berdiri di sisi Danau kecil yang berada tidak jauh dari tempat mereka piknik.
Lama keluarga kecil itu terdiam disana, menatap ke arah Danau yang jernih dengan kilau pantulan sinar matahari sore.
Gunawan merengkuh tubuh istrinya sambil menggendong putrinya yang masih tertidur, " apa hari ini kau senang ? " tanyanya pada Merry. Dan wanita itu mengangguk pelan, " akhirnya kita bisa membawa dia jalan jalan " kata Merry tersenyum sambil melihat pada putrinya, " dia pasti sangat senang ayah " katanya lagi.
" Aku akan selalu berusaha menyempatkan waktu untuk membawa kalian jalan jalan seperti ini " ucap Gunawan. Dan ntah kenapa, mendengar ucapan itu membuat Merry menghela nafas, " itu pun jika masih mempunyai waktu " ucapnya. Mungkin untuk yang mengartikan ucapannya saat itu, mereka hanya berpikir itu hanya ungkapan kecewa seorang istri pada suami yang sangat sibuk bekerja.
Ya semua orang tahu, Gunawan Fahlendra adalah lelaki pekerja keras. Lelaki yang akan lupa waktu setelah berhadapan dengan layar komputer. Namun, ia sosok lelaki yang begitu mencintai keluarganya dan selama ini pula Merry tidak pernah protes untuk itu. Dan ntah apa sebabnya jika hari ini, ia bisa bicara seperti itu.
" Aku akan selalu mengusahakannya " sahut Gunawan tersenyum, sambil mengusap lembut sisi pundak istrinya.
" Ayo " ajaknya untuk benar benar pergi dari hadapan Danau.
Mobil yang membawa keluarga kecil Gunawan telah melaju untuk kembali pulang, dan saat itu bersamaan hujan deras turun. Padahal sejak tadi tidak ada sedikit pun awan mendung yang berada di langit.
Sementara Elin kecil semakin tertidur lelap di dalam pelukan ibunya.
" Yah pelan pelan " pinta Merry, Karena hujan begitu deras turun, sampai hampir menutupi kaca mobil.
Gunawan mengangguk, sambil melepas kaca mata yang sedikit berembun karena udara dingin.
Dan ntah kenapa tiba tiba kaca mata itu terjatuh. dan dengan terpaksa Gunawan harus merunduk untuk mengambil benda yang sangat penting untuknya itu, karena ia tidak mungkin terus melajukan mobilnya tanpa kaca matanya.
Ia memperlambat laju mobilnya, sembari mencari dimana jatuh kaca matanya, dan saat itu mata Merry ikut terpejam bersama putrinya.
Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi pada suaminya, sampai mobil yang membawa mereka tiba tiba terbentur, hingga membuat tubuhnya terhempas dan saat itu Elin kecil terlepas dari pelukannya.
Matanya kini telah terbuka dengan posisi tubuh yang terbalik, bahkan ia mengetahui saat darah menetes deras dari kepalanya.
Tapi Merry tidak bisa melakukan apapun, tangan kirinya telah terhimpit di sela pintu mobil, sementara kakinya tidak bisa bergerak karena posisi tubuh yang terbalik.
Dengan memaksakan diri ia menjangkau tubuh putrinya yang kini tengah menangis di langit langit mobil yang terbalik.
" Ayah, bangun " panggilnya pelan.
" Ayah selamatkan putri kita ayah. Aku tidak bisa bergerak " serunya dengan air mata yang menetes, sambil menatap pada putri kecilnya yang kini berbalik menatapnya dengan tubuh yang tidak bergerak.
Merry masih berusaha bergerak di tengah sebelah tangan yang hancur dan darah segar terus meneteskan dari kepalanya. Namun, usahanya sia-sia, tubuhnya tidak bergeser sedikit pun.
Ia sangat kesakitan saat itu tapi dengan setengah mati ia tidak ingin menangis di hadapan putrinya, dan terus tersenyum dengan satu tangan yang terus mencoba menjangkau tempat putrinya., " nak ayo bangun " pintanya dengan suara yang hampir tenggelam.
" Tolong, tolong selamatkan putriku " teriaknya dan saat itu, ia tidak bisa menahan tangisannya lagi, " aku mohon tolong, siapa pun selamatkan putriku, aku mohon " serunya. Tangisnya pecah saat itu. dan terus berteriak meski ia tahu suaranya tidak mungkin terdengar oleh orang lain.
" Aku mohon selamatkan putriku " teriaknya, tubuh terlukanya semakin bergetar menahan ketakukan. Ia tidak lagi peduli pada kondisinya, yang ia inginkan saat itu hanya putrinya selamat. Tapi suara hujan seperti menenggelamkan teriakannya.
Perlahan tubuh Gunawan mulai sedikit bergerak, " Ayah, ayah bangun " seru Merry pada suaminya. Namun lelaki itu hanya menatapnya dengan diam.
Air mata Merry semakin deras mengalir saat menyadari suaminya juga tidak lagi bisa melakukan apapun. Darah segar juga mengalir deras dari kepala suaminya dan sayup mata Gunawan perlahan mulai tertutup.
" Ayah bangun ayah. Tolong selamatkan putri kita " teriak Merry dan saat itu mata Gunawan perlahan kembali terbuka.
Ia seperti tidak ingin menyerah dengan hidupnya meski sebuah luka telah merobek isi kepalanya.
Dan air mata mulai terjatuh dari matanya yang sayup, " Tuhan tolong selamatkan putri dan istriku. Aku mohon biarkan mereka tetap hidup " mohon Gunawan dalam batinnya. Karena bibirnya sudah tidak cukup mampu untuk bergerak.
Air matanya tidak berhenti menetes, menatap pada putrinya yang terbaring lemah di hadapannya. Sementara dia tidak bisa melakukan apapun.
" Tuhan aku mohon. Selamatkan mereka, aku mohon Tuhan " ulangnya dengan air mata yang semakin deras mengalir. Namun, sorot matanya tidak mampu bertahan lebih lama, setelah itu, ia tidak lagi tahu apa yang akan terjadi. Tapi sampai akhir hidupnya ia masih berusaha untuk menyelamatkan keluarganya, meski hanya lewat doa.
" Ayah " teriak Merry histeris, saat mengetahui kalau Gunawan tidak lagi membuka matanya, " ayah bangun " teriaknya tertahan oleh suara yang mulai semakin dalam.
" Bagaimana putri kita ayah " serunya dengan tangisan pilu, " aku mohon bangun ".
Merry hanya bisa menangis sejadi-jadinya dengan terus berteriak di tengah suara hujan, " nak bangun nak. Ibu mohon keluar dari sini " pintanya pada Elin kecil. Namun gadis kecil itu tidak bereaksi apa-apa. Hanya mata terbuka yang terus menatap padanya tanpa berkedip.
" Ya Tuhan aku mohon selamatkan putriku " teriaknya dalam tangis.
" Siapapun, tolong selamatkan putriku "
Dan bersamaan tiba-tiba sepasang tangan menjangkau dari balik jendela mobil, " siapapun tolong selamatkan putriku " teriak Merry pada seseorang yang datang.
Dengan kepala yang berdarah seorang wanita masuk ke dalam mobil mereka yang terbalik, " tolong tolong selamatkan putriku " pinta Merry pada wanita itu.
Tanpa menjawab wanita itu menggapai tubuh terbaring Elin kecil di tengah kaca yang berserakan dimana-mana.
" Terimakasih, terimakasih " ucap serak Merry
" Tunggu sebentar " ucap wanita itu sambil membawa tubuh Elin kecil keluar dari dalam mobil. Dan saat itu juga Merry menangis sejadi-jadinya, " Terimakasih Tuhan, Terimakasih karena kau telah mendatangkan seseorang untuk menyelamatkan putriku " ucapnya dengan suara yang terdengar semakin dalam. Setelah menarik nafas yang cukup dalam, sayup pandangan mata Merry mulai gelap, bahkan telinganya tak cukup mampu lagi untuk mendengar suara rintik hujan. Namun, seiring mata yang terpejam hatinya begitu bahagia karena harapan terakhirnya yang perpenuhi. Yaitu putri kecilnya selamat.
" Ibu menyayangimu " ucap Merry terakhir kalinya, sebelum matanya benar benar tertutup.
Wanita yang membawa tubuh Elin kecil kini kembali untuk mencoba menyelamatkan tubuh Merry. Namun, ia begitu terkejut saat dirinya menemukan Merry tidak lagi membuka matanya dan saat itu juga ia berteriak sekencang-kencangnya dengan histeris, " Tuhan aku mohon, maafkan kesalahanku " teriaknya di tengah suara deru hujan dan ia menangis sejadi-jadinya disana. " Aku mohon maafkan aku " ucapnya dan kali ini ia tunjukkan pada sepasang manusia yang terpenjam dengan damai di bawah mobil yang terbaik.